Janda Bersegel

Janda Bersegel
Balik ke Surabaya


__ADS_3

"Sudah malam, kamu tidur sana. Bilang sama Dion, jodoh itu sudah diatur. Gak perlu sibuk mikirin jodoh orang," ucap Tuan Wira.


"Iya Pah. Mia permisi dulu ya!" ucap Mia.


Mia pergi ke kamarnya. Namun sebelumnya, ia mendengar suara orang bercerita di dalam kamar bayi kembarnya.


"Sindi?" tanya Mia.


"Eh, kamu belum tidur Mi?" tanya Sindi.


"Ini baru mau tidur, kamu lagi ngapain di sini?" tanya Mia.


"Kalau tahu kamu belum tidur, tadi aku ngobrol sama kamu aja. Aku gak bisa tidur. Kebetulan mereka belum tidur. Jadi ngobrol sebentar," ucap Sindi.


"Ayo mau ngobrol dulu?" tanya Mia.


"Udah malam Mi. Kamu tidur aja. Nanti Tuan Dion marah kalau kamu masih di luar jam segini," jawab Sindi.


Mia melihat jam. Ini memang sudah malam. Biasanya jam segini Mia sudah ada di kamar menemani Dion.


"Aku tidur duluan gak apa-apa?" tanya Mia.


"Gak apa-apa. Aku juga sebentar lagi mau tidur Mi," jawab Sindi.


Setelah pamit, Mia kembali ke kamar lebih dulu. Ia melihat Dion sudah tidur nyenyak. Perlahan Mia merangkak naik ke atas ranjangnya. Tidur di sebelah Dion dan memeluknya. Setelah sebelumnya mengecup hangat kedua pipi dan dahi suaminya.


"Selamat tidur A," ucap Mia.


Malam ini tidak ada hal romantis yang mengantarkan Mia ke dalam mimpi indahnya. Suasana hati Dion yang tidak terkontrol membuat Mia sedih. Namun Mia yakin, Dion sangat menyayanginya. Sikapnya saat ini hanya sebuah ketakutannya kehilangan Mia.


"Pagi," ucap Dion dengan bibir tersenyum menyambut Mia yang baru bangun.


"Jam berapa ini?" tanya Mia.


Mia mengucek matanya. Memastikan angka yang ditunjuk jam di dinding kamarnya.


"Masih jam enam. Kalau kamu masih ngantuk, tidur lagi." Dion sibuk mengancingkan kemejanya.


"Aa mau kemana?" tanya Mia.


"Kerja," jawab Dion.


"Sepagi ini?" tanya Mia.


Mia duduk dan menatap Dion penuh tanya. Sejak kapan Dion serapi ini saat jam masih menunjukkan pukul enam?


"Sayang, hari ini aku meeting siang. Tapi masih ada berkas yang belum aku siapkam. Jadi hari ini aku berangkat lebih pagi ya!" ucap Dion.


Dari nada bicaranya, Dion memang sudah tidak berapi-api. Namun Mia yakin Dion sedang menyembunyikan kebohongan. Tidak mungkin Dion belum menyiapkan berkas untuk meeting siang ini.


Mia yakin apa yang dilakukan Dion hanyalah sebuah alasan agar tidak bertemu dengan Sindi. Sebenarnya Mia tidak setuju dengan langkah Dion ini, tapi apa boleh buat. Mungkin ini langkah tepat dari pada Dion harus membuat masalah lagi di ruabg makan.


"A, Mia bungkus sarapannya ya!" ucap Mia.


Dion mengangguk.


Mia segera turun dari ranjangnya dan mencuci muka. Belum mandi, karena ia takut Dion menunggunya terlalu lama.


"Gak mandi?" tanya Dion saat melihat Mia begitu cepat keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Nanti aja A. Takut Aa kesiangan," ucap Mia.


Mia nampak tergesa-gesa. Meyakinkan Dion kalau ia percaya dengan apa yng dikatakan suaminya. Dan ternyata Mia berhasil membuat Dion merasa tidak enak dengan Mia yang nampak sibuk sepagi ini.


"Santai saja," ucap Dion.


"Sebentar A, gak lama. Mia melambaikan tangannya dan menutup pintu kamar. Meninggalkan Dion yang masih memegang dasinya dengan perasaan bersalah.


Tidak lama, Mia sudah kembali dengan sebuah wadah berisi sarapan.


"Lama ya?" tanya Mia.


"Gak," jawab Dion.


Dion menerima sarapan yang sudah disiapkan istrinya dan mengusap kepala Mia.


"Terima kasih ya," ucap Dion.


"Sama-sama A," ucap Mia.


Dion berangkat bahkan disaat Tuan Wira dan Nyonya Helen belum turun dari kamarnya.


"Kamu kalau cape istirahat ya!" ucap Dion.


"Mana ada Mia cape. Mia gak kerja apapun kecuali menyusui Narendra sama Naura," ucap Mia.


"Menyusui mungkin gak cape. Tapi nutrisi kamu harus diperhatikan. Biar ASInya banyak dan berkualitas juga," ucap Dion mengingatkan.


"Siap, 86 Ndan." Mia menghormat pada Dion.


Dion tertawa dan menurunkan tangan Mia yang tengah menghormat padanya. Membawa tangan itu ke depan bibirnya dan mengecupnya penuh kasih sayang.


"Mia juga cinta sama Aa," ucap Mia.


"Jangan pernah berpikir ingin pergi dariku. Karena aku tidak mungkin membiarkan semua itu terjadi," ucap Dion.


"Jangankan kepikiran untuk pergi ninggalin Aa, semalam Aa marah aja bikin Mia gak enak tidur." Mia memeluk Dion.


"Sudah pintar gombal kamu ya!" ucap Dion.


"Kok gombal?" tanya Mia sembari menjauhkan tubuhnya dari Dion.


"Kamu bilang gak enak tidur? Tapi kok bangunnya duluan aku," goda Dion.


"Ya ampun A, itu karena Mia semalaman gak bisa tidur. Jadi tidurnya pas udah mau pagi. Makanya jam enam baru bangun," ucap Mia membela diri.


Dion hanya terkekeh melihat tingkah Mia yang kesal karena Dion menggodanya pagi ini. Paling tidak ini menjadi salah satu semangat baru bagi Dion di pagi ini.


Setelah mengantar Dion, Mia kembali ke kamarnya dan mandi. Lalu melakukan rutinitas seperti biasa. Menyusui dan memompa ASI untuk kedua anak kembarnya.


Kali ini Narendra menyusu lebih lama hingga seorang pelayan mencari Mia dan menyampaikan apa yang dikatakan Nyonya Helen.


"Bilang sama Mama, sarapan duluan aja. Narendra masig menyusu," ucap Mia.


"Baik Nyonya. Saya permisi," ucap pelayan.


Setelah selesai menyusui Narendra, Mia segera menyusul ke ruang makan. Kedua mertuanya serta Sindi sudah menunggunya di sana.


"Belum sarapan?" tanya Mia.

__ADS_1


"Nunggu kamu sama Dion. Biar enak sarapan bareng. Dionnya mana?" tanya Nyonya Helen.


"Aa udah berangkat Ma," jawab Mia.


Perasaan Mia kacau. Ia takut kalau sampai Nyonya Helen curiga dan menjadi terbebani dengan semua masalah ini. Namun Mia beruntung. Tuan Wira yang sudah mengerti keadaan Dion, segera menenangkan istrinya.


"Dion lagi sibuk-sibuknya. Tapi kamu gak lupa siapin sarapan buat Dion kan?" tanya Tuan Wira mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Udah Pah," jawab Mia.


"Bagus," ucap Tuan Wira mengangkat kedua jempol tangannya.


"Pah, jangan begitu dong. Kasian tahu Dion, masa tega sih sama anak sendiri," ucap Nyonya Helen.


"Kok tega? Harusnya Mama itu bangga Dion lagi benar-benar berkembang. Biarkan Dion melebarkan sayapnya. Mia saja mendukung. Masa Mama gak dukung karir Dion sih?" ucap Tuan Wira.


"Iya sih, tapi kan Mama belum terbiasa seperti ini Pah." Raut kecewa dan sakit hati nampak jelas pada wajah Nyonya Helen.


"Mama ini gimana sih? Dulu katanya pengen Dion sukses. Sekarang kok malah begini," ucap Tuan Wira.


"Papa gak ngerti perasaan Mama," ucap Nyonya Helen.


Mia dan Sindi nampak canggung saat melihat Tuan Wira dan Nyonya Helen berdebat di ruang makan.


"Ma, ayo makan! Jangan marah-marah sama Papa dong. Kan Dion ngambil keputusan itu dengan berbagai pertimbangan. Salah satunya untuk membuat Mama bangga," ucap.Tuan Wira.


"Ah, Dion. Kamu sweet banget sih," ucap Nyonya Helen.


Papa yang sweet Ma. Kan Papa yang mikirin cari pemilihan kata yang tepat biar Mama seneng.


Mia tersenyum saat melihat Nyonya Helen sudah tidak khawatir lagi. Mereka melanjutkan sarapan. Sampai akhirnya Nyonya Helen mengantar Tuan Wira untuk pergi ke kantor.


"Mi," ucap Sindi.


"Ya," jawab Mia.


"Aku kalau balik ke Surabaya boleh gak sih?" tanya Sindi.


"Hah? Apaan sih Sin? Kamu gak betah di sini?" tanya Mia.


"Gak begitu Mi. Aku cuma kadang kesepian aja. Apalagi semalam Rian video call sama aku. Dia lagi belajar. Rian udah punya aktivitas yang menyenangkan. Masa aku cuma begini-begini aja?" ucap Sindi.


"Kamu mau kerja? Nanti Mia bicara sama A Dion atau sama Papa ya!" ucap Mia.


"Memangnya aku bisa kerja apa di sini? Aku mau kerja di pabrik lagi aja. Tuan Reza juga bisa nerima aku kerja lagi. Boleh ya Mi!" bujuk Sindi.


"Gak," jawab Mia.


Sindi hanya bisa pasrah saat mendengar jawaban Mia. Wajahnya yang serius membuat Sindi enggan untuk mengulang pembahasan yang sama.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍

__ADS_1


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR*.


__ADS_2