Janda Bersegel

Janda Bersegel
Belajar lagi


__ADS_3

"Saya akan pulang setelah Nyonya selesai," ucap sopir pribadinya.


"Baiklah," jawab Mia pasrah.


Karena percuma saja mereka berdebat. Mia akan tetap kalah. Sopir pribadinya tetap tidak akan mau pulang. Ia akan tetap menunggunya di sana sampai Mia selesai.


"Tapi tunggu di sini saja ya! Aku mau beli barang pribadi, aku malu kalau kau mengikutiku." Mia mencoba agar sopir pribadinya tidak mengikutinya di dalam mall.


"Maaf, Nyonya tapi aku harus memastikan keselamatan Anda." Sopir itu bersikeras ingin mengikuti Mia.


"Aku ada di dalam dan membawa ponsel. Kalau ada apa-apa aku pasti menghubungimu. Apa kau tidak percaya padaku? Kau takut aku kabur? Mana mungkin aku kabur, padahal setiap orang berlomba untuk masuk ke dalam keluarga Ferdinan." Mia masih terus membujuk sopirnya agar ia bisa bertemu dengan Arumi.


Setelah perdebatan yang cukup panjang, akhirnya sopir itu memberikan waktu selama tiga puluh menit. Kalau sampai selama waktu itu Mia belum juga keluar, maka sopirnya akan masuk untuk mencari Mia.


"Deal," jawab Mia sambil mengulurkan tangannya.


Sopir pribadi itu menatap tangan Mia lalu menganggkat wajahnya untuk melihat wajah Mia. Berjabat tangan? Semenjak ia bekerja opada kelaurga Tuan Ferdinan, tak pernah seorangpun diantara ketiganya yang mengulurkan tangan seperti Mia.


"Kenapa? Tanganku bersih. Aku sudah mencuci tanganku," ucap Mia bingung karena melihat sopir itu hanya menatapnya.


"Maaf, Nyonya muda. Tangan saya yang kotor," jawab sopir itu.


"Kau jorok sekali. Kenapa tidak cuci tangan?" tanya Mia.


Mia segera meraih tangan sopirnya untuk bersalaman dengannya. Dengan cepat sopir itu melepaskan tangannya karena takut jika sampai ada yang melihatnya.


"Bukan seperti itu Nyonya. Tapi orang rendahan seperti saya tidak pantas untuk berjabat tangan dengan Anda," ucap sopir itu menunduk hormat.


"Kau pasti tidak lulus sekolah ya?" tanya Mia.


"Maaf, maksud Anda bagaimana Nyonya?" tanya sopir itu tidak mengerti dengan pertanyaan Mia.


"Kau bilang lebih rendah dariku. Padahal aku saja sampai harus mengangkat kepalaku saat bicara denganmu. Kalau aku rendah, berarti aku apa? Kurcaci?" tanya Mia.


Saat sopir pribadi itu akan meluruskan kesalahpahaman Mia, namun Mia memotongnya karena dering ponsel yang menunjukkan nama Arumi membuat Mia harus segera mengakhiri perdebatannya.


"Nanti aku ajari matematika ya! Kau harus bisa membedakan mana yang tinggi dan rendah," ucap Mia menepuk tangan sopirnya lalu pergi untuk menemui Arumi.


"Daaah," lanjut Mia sambil melambaikan tangannya pada sopir itu.


Daaah? Setelah melihat Mia menjauh, sopir itu mengangkat tangannya.


"Daaah, Nyonya." Sopir itu tersenyum senang saat melihat setiap tingkah dan ucapan dari Nyonya muda yang selalu membuatnya merasa percaya diri.


Ini pertama kalinya sopir itu bersama dengan Mia. Pengalaman pertama ini sangat mengesankan dan menyenangkan. Mia tidak menganggapnya sebagai teman, bukan pekerja. Tapi dibalik rasa bahagianya, sopir itu takut dengan tanggapan Danu terhadapnya.


Sopir itu setia menunggu Mia yang sedang shopping di area parkir, sambil sesekali tersenyum jika mengingat kelakuan Mia padanya. Nampaknya Mia berhasil membohongi sopirnya. Pura-pura masuk ke sebuah toko lalu setelah sopirnya keluar, Mis segera menemui Arumi.


"Kau kena macet?" tanya Arumi.


"Tidak. Memangnya kenapa?" tanya Mia.


Arumi adalah seorang dokter, ia tidak biasa dengan keterlambatan. Hingga ia merasa waktunya terbuang sia-sia saat Mia telat menemuinya.


"Tidak, kau hanya perlu lebih menghargai waktu saja." Arumi mengingatkan Mia.


Mia mengangguk dan meninta maaf. Setelah basa basi, Mia mulai menanyakan tentang suaminya. Arumi menatap seorang pria yang ia sebut sebagai suaminya itu. Suami Arumi mengangguk. Arumi mulai menjelaskan semua tentang Danu. Mia menyimak dengan baik setiap kalimat yang terucap dari bibir Arumi.


Arumi, Danu, dan Reki adalah tiga orang yang bersahabat baik sejak mereka kecil. Setelah menginjak masa puber, Danu dan Arumi saling mencintai dan menjalin hubungan. Reki selalu menjadi wasit keduanya sedang kencan. Namun seiring berjalannya waktu, Arumi meminta kepastian pada Danu usianya sudah menginjak 25 tahun. Danu tak menjawabnya. Ia hanya menghubungi Reki dan bercerita semuanya tanpa sepengetahuan Arumi. Danu bermasalah dengan saluran reproduksinya. Danu tidak ingin menikahi Arumi karena takut tidak bisa membahagiakannya. Hingga ia meminta Reki untuk menikahi Arumi, karena Danu tahu Reki juga diam-diam mencintai Arumi.


Danu pernah beberapa kali memeriksakan dirinya kepada dokter. Tapi tidak berhasil. Sampai sekarang Danu masih menderita dengan penyakitnya itu. Danu bisa mudah menerima sentuhan dan menikmatinya, namun benda pusakanya sulit sekali untuk bangun. Ketika bangun, sekali sentuhan saja akan membuatnya tidur kembali karena sudah mencapai puncak kejayaan tanpa beroprasi terlebih dahulu.


Danu secara terbuka menceritakan semua itu pada Arumi dan Reki. Sampai saat ini saja, Danu masih sering berkonsultasi dengan Arumi dan Reki. Namun kenyataannya sampai saat ini, Danu belum juga sembuh. Beberapa obat dan terapi sudah Danu lakukan tapi hasilnya sama.


Danu juga tertekan saat orang tuanya memintanya segera menikah. Menikahi wanita dengan perjanjian pra nikah adalah saran dari Reki. Namun Reki mengingatkan agar mencari wanita yang akan bisa menjaga rahasinya pada siapapun.

__ADS_1


"Saat itu, Tuhan mengirim kamu untuk Danu. Namun kesalahan Danu adalah ia tidak bisa jujur padamu. Danu terlanjur mencintaimu dan takut kehilanganmu," ucap Arumi.


Mia tidak sadar telah meneteskan air matanya. Ucapan Arumi sangat menyentuh hatinya. Danu mencintainya? Mia merasa hatinya berbunga. Mia tidak peduli kalaupun penyakit Danu tidak sembuh seumur hidupnya. Mia tidak menuntut suaminya untuk memberinya anak. Mia hanya ingin hidup bahagia dengan Danu.


"Mia, jangan pernah berhenti memberikan dukunganmu untuk Danu! Jangan sampai Danu semakin sakit karena kehilanganmu. Kalau boleh aku tahu, bagaimana isi surat perjanjianmu?" tanya Reki.


Mia menjelaskan bahwa pernikahan mereka pura-pura meskipun tidak ada hitam di atas putih. Pernikahan mereka hanya sebatas simbiosis mutualisme. Mia mendapat keuntungan untuk bisa mewujudkan semua cita-citanya dan Danu aman dari tuntutan orang tuanya agar segera menikah.


"Hanya itu? Kamu tidak mendapat harta apapun selain bekerja?" tanya Arumi tidak percaya.


Mia mengangguk. Mia juga jujur atas perasaanya sekarang. Entah sejak kapan namun Mia cemburu saat melihat Arumi menghubunginya.


"Lalu setelah kamu tahu semua ini? Apakah kamu akan meninggalkan Danu?" tanya Reki yang khawatir karena tidak ada perjanjian yang sangat menguntungkan untuk Mia.


Mia menggeleng. "Aku tidak ingin menjadi janda untuk yang keduakalinya. Danu sudah cukup menerima semua kekuranganku. Maka aku juga akan menerima semua kekurangannya," ucap Mia.


Reki dan Arumi saling menatap. Mereka tersenyum bahagia. Ternyata rencana Tuhan begitu indah. Buah kesabaran Danu, akhirnya ia bisa menikah dengan wanita yang tepat.


"Sudah tiga puluh menit. Aku takut kalau sopirku mencariku. Aku permisi. Terima kasih atas semua informasi yang sangat berharga ini," ucap Mia kemudian pamit ada Arumi dan Reki.


Sebelum menemui sopirnya, Mia segera masuk ke dalam toko dan memilih pakaian serta tas dan belanjaan lainnya. Bukan boros, tapi Mia butuh bukti kalau ia sudah belanja. Lagi pula, belanjaan yang Mia bawa pulang meskipun sangat banyak namun tidak akan menguras tabungan suaminya.


Saat Mia belum selesai, sopirnya sudah mencarinya dan mendapati Mia sedang membayar barang belanjaannya. Beruntunglah Mia karena bukan tipe wanita yang lama ketika berbelanja, hingga sopirnya tidak curiga saat tiga puluh menit berlalu Mia masih berdiri di depan kasir. Sopirnya segera menghampiri Mia dan membawakan barang belanjaannya.


Mia segera pulang dengan pikiran yang sudah sangat berat. Mia tak menyangka kalau selama ini Danu menyimpan beban yang sangat besar itu sendirian. Bahkan kedua orang tuanya juga tidak Tahu. Mungkin karena Danu merasa ini aib, hingga Danu tak ingin banyak orang yang tahu.


Mia sudah kembali ke rumahnya. Namun ternyata siang ini Danu dan Tuan Ferdinan sudah ada di rumah. Mereka tersenyum bahagia saat melihat sopirnya mengikuti Mia dengan membawa banyak sekali barang belanjaan.


"Tapi itu top kan? Gak norak kan?" tanya Tuan Ferdinan.


"Top dong pi. Ini belanjanya dari mall, bukan dari pasar minggu." Mia menajwabnya dengan sangat bangga.


"Saya permisi Nyonya," ucap sopir itu.


"Oh, ya. Nanti kalau ada waktu luang kita belajar matematika ya!" ucap Mia.


"Aku dan papi mau ke luar kota menyusul Mami. Apa kau mau ikut?" tanya Danu.


"Bukan begitu. Cepat ganti bajumu dan siapkan semuanya. Kita akan menyusul Mami," ucap Tuan Ferdinan.


"Mia diajak?" tanya Mia kegirangan.


"Cepatlah!" ucap Danu.


Mia segera membawa barang belanjaannya ke dalam kamar. Danu mengikuti Mia setelah Tuan Ferdinan memberi kode.


Danu tak banyak bicara. Entah mengapa Danu menjadi merasa sangat canggung pada Mia. Sementara Mia tak banyak bicara dulu karena takut salah dan menyinggung perasaan Danu.


"Sudah mas?" tanya Mia sangat antusias.


"Sudah," jawab Danu singkat.


Ketiganya berangkat untuk menemui Nyonya Natahalie. Wanita cantik itu tengah mengembangkan sayapnya untuk membuat hotel mewah di kawasan pangandaran. Hotel mewah yang langsung berhadapan dengan pantai tentu akan sangat menarik minat pengunjung.


Ini juga kesempatan agar Mia dan Danu bisa berbulan madu. Mereka akan melakukan double date antara orang tua dan anak. Tuan Ferdinan akan menunjukkan bagaimana menjadi suami yang baik. Bagaimana caranya bersikap romantis dan menyenangkan hati wanita. Tuan Ferdinan merasa kesal saat Danu dan Mia tidak pernah terlihat romantis.


Sebuah kamar hotel sudah disiapkan oleh Nyonya Nathalie. Meskipun awalnya ia akan menyewa sebuah villa agar bisa mengintip Danu dan Mia, namun idenya ditolak oleh suaminya. Tuan Ferdinan ingin membiarkan Danu dan Mia berbulan madu tanpa diganggu oleh istrinya.


"Papiiii," panggil Nyonya Natahalie saat melihat Tuan Ferdinan sudah datang.


Rentangan tangan istrinya disambut oleh Tuan Ferdinan yang mengecup singkat bibir istrinya. Mia menutup wajahnya dengan sebelah tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menutupi wajah Danu.


"Mia, kamu apa-apaan sih?" tanya Danu menurunkan tangan Mia.


"Tutup mata, jangan ngintip! Nanti mas bintitan. Mau?" ucap Mia. Danu menggeleng dan pasrah saat tangan kanan Mia kembali menutupi wajah tampannya.

__ADS_1


Makan malam sudah di siapkan. Lagi-lagi Danu dan Mia harus menyaksikan keromantisan orang tuanya yang sengaja ditunjukkan agar Danu mengikuti apa yang dilakukannya.


Nyatanya Danu dan Mia malah sibuk menyantap sajian makan malamnya Rasa laparnya mengalahkan semuanya, hingga membuat Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan merasa kesal. Selesai makan, dua pasangan itu kembali ke kamar hotel yang masing-masing.


"Tunjukkan kemampuanmu. Buktikan kalau kamu bisa mengalahkan Mia," bisik Tuan Ferdinan sebelum Danu masuk ke kamarnya.


"Papiiii," ucap Danu geram.


Tuan Ferdinan segera masuk ke dalam kamar hotelnya yang bersebelahan dengan kamar Danu dan Mia.


"Ayo mas!" ajak Mia menarik tangan suaminya.


Danu tak berani menatap Mia. Ia hanya berjalan menuju ranjang untuk segera beristirahat. Namun langkahnya terhenti saat Mia memeluknya dari belakang.


"Mia," ucap Danu.


"Iya mas," jawab Mia.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Danu.


"Ini namanya dipeluk. Mas gak tahu? Nanti Mia ajarin ya!" ucap Mia yang tak kunjung melepaskan pelukannya.


Danu merasa dadanya berdebar. Berada dalam dekapan Mia membuat Danu menegang. Perlahan Mia melepaskan pelukannya dan itu membuat Danu lebih Lega. Namun Danu kembali menegang saat Mia justru memeluknya dari depan dan berjinjit untuk mengecup singkat bibir Danu.


"Mia," ucap Danu tak percaya.


"Itu namanya ciuman mas. Kan kita pernah belajar waktu itu. Belajar lagi yuk mas!" ajak Mia sambil menarik tangan Danu agar segera naik ke atas ranjangnya.


"Mia," ucap Danu yang sempat menolak karena tak ingin mengecewakan Mia.


Namun Mia kepalang tanggung. Mia mulai mempraktekkan apa yang sudah Danu ajarkan waktu itu. Danu hanya diam saat melihat Mia semakin membuatnya bergejolak. Danu menelan salivanya saat Mia berbisik di telinganya.


"Aku sudah lulus belum?" tanya Mia.


Hembusan napas Mia membuat lidah Danu kelu hingga ia hanya bisa menganggukkan kepalanya dan segera mengambil alih pembelajaran malam itu. Meskipun benda pusakanya belum siap, namun darahnya sudah mengalir dengan cepat. Tubuhnya sudah terasa sangat panas. Danu akhirnya melanjutkan pembelajaran malam itu dan memberi materi baru. Tidak terlalu sulit, namun Mia cukup lambat untuk mempelajarinya. Titiknya masih di sana namun caranya yang berbeda.


Dalam pertengahan pembelajaran Danu merasa ini bukan waktu yang tepat. Danu menjauhkan tubuhnya dan ingin mengakhiri semuanya sebelum terlambat. Namun Mia yang sudah mengerti keadaan Danu justru menariknya dan melanjutkan pembelajarannya. Tak perlu waktu lama, Danu terlihat pucat. Mia melepaskan Danu dan turun dari ranjang.


"Kebelet pipis," ucap Mia sambil lari ke kamar mandi.


Danu menghela napas panjang dan turun dari ranjang. Ia harus membersihkan tubuhnya karena benda pusakanya terendam banjir. Setelah Mia keluar, Danu masuk ke kamar mandi.


"Sebentar ya! Nanti dilanjut lagi," ucap Danu.


"Mas mandi saja. Mia ngantuk. Lanjutnya besok aja ya! Mia takut gak hapal kalau terlalu banyak cara. Mia bobo duluan ya mas!" ucap Mia.


Danu menatap Mia tak percaya. Danu merasa sangat diuntungkan dengan sikap Mia yang seperti itu. Namun di sisi lain, Danu mencurigai sikap Mia.


Setelah mandi, Danu melihat Mia sudah tidur. Selimut putih itu menutupi tubuh Mia. Danu mengusap kepala Mia dan mengecup keningnya.


"Selamat tidur, sayang. Terima kasih untuk malam ini," ucap Danu.


Sepertinya Danu salah karena telah menganggap Mia tidur. Padahal Mia masih bangun dan mendengar setiap ucapan Danu. Sayang? Danu memanggil Mia sayang? Mia bahagia bukan kepalang. Mia merasa semakin yakin untuk tidak pernah melepaskan Danu apapun yang terjadi. Bagi Mia, Danu adalah pria yang bisa membuat hatinya berbunga. Mungkin Danu adalah pria pertama yang membuatnya jatuh cinta.


Cinta? Benarkah Mia jatuh cinta pada Danu? Entahlah. Yang pasti, Mia merasa sangat bahagia saat bersama Danu dan cemburu saat Danu berhubungan dengan wanita lain.


Danu merebahkan tubuhnya di samping Mia dan memejamkan matanya. Danu merasa sangat puas malam ini. Kini ia bisa tidur puas setelah benda pusakanya melakukan ritual bersama Mia.


#################


Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.


Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.

__ADS_1


Terima kasih..


__ADS_2