Janda Bersegel

Janda Bersegel
Tidak ada wanita matre


__ADS_3

"Gak jadi beli hadiah buat Kalin A?" tanya Mia saat mobil sudah melaju meninggalkan parkiran.


"Jadi dong. Aku mau bilang terima kasih, sekaligus menitipkan kamu sama Kalin. Kamu akan tinggal di Jakarta. Jadi suatu saat, ketika aku gak bisa bantu kamu, mungkin Kalin akan membantu kamu." jawab Dion.


"Tapi kok Aa malah keluar?" tanya Mia.


"Males aku ketemu sama dia. Masih banyak mall yang lain. Mending belanja di pasar dari pada harus ketemu sama dia. Lagian aku heran deh, kenapa ya kok aku bisa ketemu terus sama dia? Bikin kesel deh," ucap Dion yang uring-uringan.


"Udah dong A, jangan marah-marah terus. Nanti cepat tua. Mau?" ucap Mia.


Dion menghentikan mobilnya. Menatap Mia dengan tatapan tajam.


"Apa? Katakan sekali lagi," ucap Dion.


Mata Mia membulat sempurna.


"Aa jangan marah-marah, nanti gantengnya ilang." Mia mencari kata lain agar Dion tidak marah padanya.


Mata Dion masih menatapnya tajam. Mia mengerti kalau Dion memang menginginkan jawaban yang lain.


Ayo Mia. Lebih cerdas lagi. Cari jawaban yang bisa menyenangkannya.


"Tapi meskipun Aa udah tua, gantengnya luntur, cinta Mia sama Aa gak akan pernah barubah. Mia mencintai Aa hingga akhir nafas Mia," ucap Mia sambil tersenyum manis.


CUP.


"Pintar sekali. Belajar gombal dari mana sih? Bikin gemes aja kamu," ucap Dion.


Eummm, baru segitu udah klepek-klepek. Tenang A, masih banyak banget stok Gombalan Mia. Dijamin Aa nyungseb deh pokoknya.


"Dari google," jawab Mia sambil menutup wajahnya.


Dion mengusap lembut kepala Mia, lalu melanjutkan perjalanannya. Sebelum bertemu dengan Kalin, Mia dan Dion mampir untuk membelikan kado tanda terima kasih untuk Kalin.


"Maaf ya telat!" ucap Mia sambil memeluk Kalin.


Raut bahagia jelas tergambar di wajah Mia. Dion tahu kalau Mia benar-benar merindukan


sahabatnya itu. Dion tidak terlalu banyak bicara saat itu. Bahkan jika saja boleh, Dion ingin memberikan Mia waktu untuk berdua dengan Kalin. Tapi Mia menolaknya. Menurut Mia, Dion berhak tahu semua tentang Mia. Termasuk tentang bahasan yang akan mereka bicarakan siang itu.


"Santai aja Mi. Kamu sehat?" tanya Kalin.


"Sehat," jawab Mia. "Kenalin, ini suami aku." Mia memperkenalkan Dion pada Mia.


Keduanya saling berkenalan. Ya, Kalin memang pernah bertemu dengan Dion saat menghadiri pernikahan Mia. Namun mereka tidak saling mengenal. Baru kali ini mereka berkenalan.


"Oh ya ini buat kamu. Terima kasih sudah menjadi teman yang baik untuk Mia. Terima kasih sudah membuat Mia menjadi wanita yang sangat kuat, hingga akhirnya aku bertemu dengannya. Sekali lagi, terima kasih." Dion menyerahkan sebuah goodie bag pada Kalin.


"Wah, ini terlalu merepotkan Tuan. Aku juga tidak berbuat apapun untuk Mia. Mia memang sudah terlahir dengan tangguh," ucap Kalin.


"Itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan semua kebaikanmu sama Mia, Kalin. Semoga kamu suka ya," ucap Mia penuh harap.


"Apapun dari kamu, aku pasti suka. Terima aksih banyak ya Mi, Tuan." Kalin mengangguk hormat.


"Jangan panggil aku Tuan. Panggil aku Dion saja. Kamu temanku," ucap Dion.


Akhirnya aku nambah teman lagi. Dulu kan cuma si Reza. Maaf ya Za, sekarang kamu ada saingan nih. Heheh


"Baik, Dion." Kalin mengucapkannya dengan sangat canggung.


"Oh ya mana Dev?" tanya Mia.


"Lagi di luar kota. Dia titip salam buat kamu," ucap Kalin.


Mata Dion sudah tidak bersahabat. Ia menatap tajam pada Mia. Kalin menyadari semua itu, hingga langsung mengenalkan siapa Dev pada Dion.


Oh, suaminya Kalin. Aku pikir teman kerjanya dia dulu. Selamat kamu Mi. Kalau salam-salam itu dari teman kamu, aku kirim santet dia.


Dion mengangguk dan tersenyum. Berpura-pura tidak ada masalah sama sekali. Padahal hatinya jelas-jelas sedang senang, karena merasa lega dengan jawaban Kalin tentang Dev.


"Dion, apa aku boleh bicara berdua dulu dengan Mia?" tanya Kalin.


Dion merasa curiga saat kalimat itu keluar dari mulut Kalin. Pasti akan membahas Danu. Karena Kalin tidak mau Dion tahu tentang pembicaraan mereka. Namun Dion mengalah. Tidak apa-apa, karena nanti Mia pasti akan menceritakan semuanya padanya.


"Baik, aku tunggu di sana saja." Dion menunjuk salah satu meja yang kosong.

__ADS_1


Mia menarik tangan Dion dan meminta Dion untuk duduk kembali.


"Tidak, Aa di sini saja. Kalin, kamu boleh cerita apapun di hadapan suami Mia. Dia berhak tahu apapun tentang Mia, termasuk masa lalu. Kamu mau bahas mas Danu kan?" tanya Mia pada Kalin.


Heeemmmm, bahas dia lagi. Tuhaaaaan, kenapa sih manusia yang satu itu kayak hantu. Gentayangan terus deh perasaan.


"Tapi Mi," ucap Kalin ragu.


"Kalin, jangan ragu. Sekarang ataupun nanti, Mia pasti akan cerita sama A Dion. Makanya mending sekalian aja sekarang, biar A Dion percaya kalau Mia gak menambahkan atau mengurangi ceritanya." Mia meyakinkan Kalin untuk menyampaikan semuanya.


Kalin diam. Sebelum mulai bercerita, Kalin nampak gelisah. Mungkin merasa menyesal telah meminta waktu untuk bercerita dengan Mia. Mulutnya komat kamit, ia berdoa semoga apa yang akan ia lakukan ini tidak akan merusak hubungan keduanya.


"kalin," panggil Mia.


"Eh, iya. Tapi sebelumnya maaf ya Dion. Aku tidak bermaksud buruk. Aku hanya menyampaikan amanat saja. Ini," ucap Kalin mengeluarkan sebuah cek.


Bukan Mia, tapi Dion yang justru terlihat antusias dengan apa yang Kalin tunjukkan.


"Apa ini?" tanya Dion.


Bukan tidak tahu, hanya Dion tidak faham maksud cek itu apa. Dari nada bicaranya, Dion terlihat sudah emosi. Menyikapi suaminya, Mia segera mendekat dan menggenggam tangan Dion. Mia menjelaskab maksud cek sebesar dua milyar yang diberikan oleh keluarga Danu.


"Jadi mereka membayarmu dengan ini? Harga dirimu dibayar dengan ini?" tanya Dion sambil mengangkat cek itu.


Seketika hatinya sakit. Sangat sakit. Harga dirinya memang sudah ia lupakan sejak dulu. Bahkan sebelum menikah dengan Dion, Mia merasa kalau ia memang orang yang sudah tidak punya harga diri sama sekali. Bahkan untuk menikah dengan Dion saja, Mia merasa tidak ada harganya. Karena awalnya pernikahan Mia dan Dion hanya karena sebuah taruhan konyol saja.


"Mia, maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya kesal karena ada orang yang berani merendahkan kamu seperti ini. Biar aku buat perhitungan dengan mereka," ucap Dion.


Emosi Dion kembali membuncah saat melihat wajah sedih yang nampak nyata. Jujur, saat itu Mia sudah tidak bisa menyembunyikan lagi kesedihannya.


"Tidak perlu A. Mia gak mau masalah ini menjadi rumit lagi. Mia hanya ingin hidup bahagia," ucap Mia.


"Mia, Dion. Maafkan aku. Aku sudah membuat Mia sedih. Tapi aku tidak bisa menyimpan itu lebih lama lagi, karena..." Kalin menggantungkan ucapannya.


"Karena mereka selalu menuduh Mia menghabiskan uang itu? Hingga ia merendahkan Mia di hadapanmu? Begitu?" tanya Dion.


Kalin menunduk. Seolah mengiyakan, namun Kalin tidak sanggup mengatakan semua itu.


"Kalin, kembalikan ini pada mereka. Katakan kalau istriku tidak membutuhkan ini semua. Cek ini tidak ada apa-apanya dibanding dengan rekening yang dipegang oleh Mia," ucap Dion.


"Tidak A. Mia yang akan mengembalikannya pada Nyonya Nathalie. Mia ingin meluruskan kalau Mia bukan wanita yang selalu mengincar harta pria yang Mia nikahi. Cek ini jadi bukti untuk membantah semua tuduhan Nyonya Nathalie pada Mia," ucap Mia mengambil cek itu.


"Kau mau menemuinya?" tanya Dion.


"Kalau Aa izinkan, Mia mau menemui Nyonya Nathalie." Mia menunduk dan mengepalkan tangannya.


Mia kesal dan merasa kesabarannya sedang benar-benar diuji. Mia akan membuktikan kalau Nyonya Nathalie tidak bisa merendahkan Mia terus. Dulu, mungkin Mia bisa pasrah. Tapi sekarang, Mia sudah menikah dan resmi menjadi istri Dion. Mia tidak mau kalau Dion merasa sakit saat istrinya direndahkan seperti itu.


"Tidak perlu. Berikan itu pada Kalin saja Mia," ucap Dion.


"A, Mia mau mengingatkan Nyonya Nathalie kalau ia tidak berhak menyudutkan Mia terus. Ada hati Aa yang harus Mia jaga. Mia yakin Aa akan sakit, setiap kali Mia direndahkan kan? Mia gak mau masalah ini berlarut-larut," ucap Mia.


Mia, disaat seperti inipun kamu masih saja memikirkan perasaanku. Padahal aku tahu kalau kamu jauh lebih sakit. Terima kasih telah mengisi hati dan hari-hari ku Mia.


"Aku akan mengantarmu. Ayo berangkat sekarang!" ajak Dion.


"Aku ikut!" pinta Kalin.


"Tapi kamu kan sibuk, Kalin. Aku tidak mau kamu meninggalkan pekerjaanku hanya karena aku," ucap Mia.


"Kamu jauh lebih penting Mia. Dion, aku boleh ikut kan?" tanya Kalin.


"Kalau kamu mau, boleh." Dion mengangguk.


Ketiganya menuju rumah Nyonya Nathalie.


"A, bawa mobilnya yang fokus ya! Kasihan adek bayi di perut ketakutan," ucap Mia mengingatkan.


Mia hanya khawatir saat melihat Dion masih diliputi rasa kesal. Hanya bayi yang ada dalam perutnya yang bisa menjadi jurus andalan Mia.


"Kamu tenang aja. Aku gak apa-apa kok," ucap Dion.


Ya, memang kalau saja Mia tidak mengingatkan mungkin Dion memang sudah tidak fokus dengan jalanan. Kepalanya sudah dipenuhi rasa benci, kesal, dan amarah. Ingin rasanya menutup mulut Nyonya Nathalie dengan caranya sendiri.


"A, Mia yang bicara ya! Aa cukup di belakang Mia aja. Bisa kan?" tanya Mia mengingatkan.

__ADS_1


Mia tahu persis sifat suaminya. Dion akan lebih mudah marah jika sudah berhubungan dengan Mia. Tapi Mia mengerti kalau apa yang dilakukan Dion adalah salah satu bentuk cinta untuknya. Pria mana yang akan rela jika wanita yang dicintainya direndahkan di hadapannya.


"Iya," jawab Dion malas.


Maaf Mia. Tapi aku gak bisa janji. Aku akan bertindak sesuai dengan situasi yang terjadi nanti. Aku tidak akan membiarkan air mata kesedihan membasahi pipimu. Cukup air mata bahagia saja, Mi.


"Permisi," ucap Mia.


"Nyonya?" ucap security yang berjaga itu tidak percaya.


"Bisakah Mia bertemu dengan Nyonya Nathalie?" tanya Mia.


"Sebentar, Nyonya. Silahkan duduk dulu di sini Nyonya!" ucap security itu dengan sangat sopan.


Dion memperhatikan sikap security itu. Hampir saja Dion marah saat melihat Mia harus menunggu di luar. Tapi melihat sikapnya pada Mia, amarahnya Dion timbun kembali.


"Mari masuk, Nyonya. Nyonya Nathalie sudah menunggu di dalam," ucap security itu mengantarkan Mia dan yang lainnya untuk masuk.


"Angin apa yang membawa kalian ke sini?" tanya Nyonya Nathalie saat melihat kedatangan Mia.


Mia menenangkan Dion dengan menggenggam tangannya.


"Oh, aku tahu. Kalian ke sini karena mau minta undangan dari perniakahan Danu kan? Mia, tenang saja. Aku siapkan undangan khusus untukmu. Oh ya Dion, kamu harus tahu kalau anakku sudah move on dari istrimu itu. Kamu catat itu baik-baik ya!" ucap Nyonya Nathalie.


Mia semakin menggenggam erat tangan Dion. Jangankan Dion, Mia pun merasa kesal mendengar ocehan Nyonya Nathalie. Mia berusaha terus menenangkan Dion, tapi Mia lupa kalau Kalin ada di sana. Tanpa disangka ternyata Kalin juga terpancing emosi.


"Nyonya, sepertinya Anda harus belajar cara menghargai tamu. Anda sama sekali tidak terlihat seperti Nyonya Ferdinan," ucap Kalin.


Dion sengaja menunjukkan kalau ia sedang. menahan tawa dengan ucapan Kalin. Ucapan dan sikap Dion membuat Nyonya Nathalie menjadi sangat marah.


"Aku tidak pernah berharap sedikitpun untuk kedatangan kalian. Jadi jangan pernah berharap diperlakukan seperti tamu, karena kalian bukan tamu bagi ku. Mengerti?" ucap Nyonya Nathalie.


Tuhaaaan, tolonglah. Jangan biarkan mereka sampai tidak bisa mengendalikan diri begini. Mia tidak mau urusan dengan Nyonya Nathalie semakin panjang dan rumit.


Ya, Mia lupa memberi tahu kalau untuk mengalahkan Nyonya Nathalie hanyalah dengan sebuah ketenangan. Nyonya Nathalie tidak bisa dilawan dengan arus yang kencang Cukup air tenang yang dalam, yang akan membuat wanita itu tenggelam dengan sendirinya.


Melihat Kalin dan Dion semakin tersulut emosi, Mia segera mengambil alih perhatian Nyonya Nathalie.


"Tidak perlu menganggap kami tamu, karena kami juga tidak nyaman sebenarnya jika bertamu ke sini. Sebenarnya kami sangat terpaksa menginjakkan kaki di rumah ini. Kalau tidak ada yang penting, kami juga tidak akan sudi masuk ke dalam rumah mewah ini." Mia mengedarkan pandangan matanya ke setiap sudut ruangan.


"Benarkah? Aku pikir kamu merindukan rumah ini. Ya, setidaknya kami pernah memungutmu saat itu." Nyonya Nathalie berusaha memancing emosi Mia.


Tanpa memberi kesempatan Kalin dan Dion untuk menjadi lebih emosi lagi, Mia segera menjawab pancingan Nyonya Nathalie.


"Jangan terlalu percaya diri, Nyonya. Mia tidak mungkin merindukan rumah mewah Anda, karena rumah Mama Helen jauh lebih mewah dari rumah ini," ucap Mia sambil berputar melihat ruangan itu.


Sayang, kamu benar-benar pintar menjawab setiap pertanyaan wanita ular itu. Sekarang aku tahu cara mengalahkan wanita itu. Tenang, buat dia masuk ke dalam permainan kita. Ya, seperti yang kamu lakukan. Tapi sepertinya saat ini aku cukup menjadi penonton saja.


"Dasar wanita matre. Kau dengar ucapan istri tercintamu itu? Dia hanya mengincar hartamu," ucap Nyonya Nathalie.


Setelah mengincar emosi Mia dan gagal. Kini Nyonya Nathalie berusaha memancing emosi Dion.


Dengan senyum sinisnya, Dion menjawab dengan enteng. Jauh lebih tenang dari biasanya.


"Tidak ada wanita matre.Kalau Anda berpikir masih ada wanita matre, maka artinya keluarga Anda masih kurang mampu. Wanita itu realistis. Tentu saja wanita akan selalu menginginkan yang terbaik. Kalau Mia memilihku, berarti aku lebih baik dari pada aanak Anda. Aku rasa, kalau ada pria yang jauh lebih kaya dan lebih menyayangi Anda, Anda pun akan meninggalkan Tuan Ferdinan." Dion bicara setenang mungkin.


"Aku bukan Mia. Aku tidak mungkin meninggalkan suamiku hanya karena pria lain," ucap Nyonya Nathalie.


Kedua kalinya Dion menimbun amarahnya yang membuncah. Meniru Mia, ia melakukan hal yang sama untuk mengalahkan Nyonya Nathalie.


"Itu karena tidak ada pria lain yang bisa menerima Anda. Aku rasa, Tuan Ferdinan juga sudah ingin mengganti Anda. Hati-hati Nyonya, di kantor banyak sekali wanita muda, seksi dan jauh lebih menarik. Jangan sampai Tuan Ferdinan mengganti posisi Nada hanya karena Anda sangat menyebalkan," ucap Dion.


"Kurang ajar. Tutup mulutmu! Keluar dari sini sekarang juga!" teriak Nyonya Nathalie.


Hahaha... Kena juga Anda. Ternyata cukup asyik ya untuk mengalahkan wanita ular seperti Anda. Aku hanya tidak tahu rumusnya saja. Kalau sudah tahu rumusnya begini sih, ketemu tiap hari juga aku jabanin. Biar aku bikin kamu naik darah tiap ketemu sama aku. Stroke, stroke deh Anda. Hahah


#################


Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.


Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.

__ADS_1


Terima kasih..


__ADS_2