Janda Bersegel

Janda Bersegel
Workshop. Papa work, mama shop.


__ADS_3

"Mia, aku pamit dulu ya!" ucap Dion yang siap dengan tas laptopnya.


"Ikuuut," bujuk Mia.


"Mama dan papa gak ngasih izin, Mi. Mungkin mereka khawatir kalau kamu diapa-apain sama aku kali, Mi. Kamu di sini aja. Ya?" goda Dion dengan gerakan alis matanya yang membuat Mia bergidik.


"Lama gak kamu ke Surabayanya?" tanya Mia.


"Kenapa? Takut kangen ya?" tanya Dion.


"Ish, males." Mia cemberut.


"Ya sudah, aku berangkat!" ucap Dion.


Mia mencium tangan Dion yang sudah melengkung di hadapannya.


"Tuan," panggil Mia.


"Apa lagi? Mau peluk?" tanya Dion penuh harap.


"Salam sama Sindi ya!" ucap Mia.


"Apa aku harus membawanya ke sini?" tanya Dion.


"Memangnya boleh?" tanya Mia antusias.


"Lihat dulu sikap kamu. Kalau kamu tidak banyak melakukan pelanggaran, tidak menutup kemungkinan aku bawa Sindi ke sini!" ucap Dion.


Dion melihat senyum bahagia dan penuh harap dari Mia. Dion juga berjanji akan membawa Sindi saat mereka menikah. Paling tidak, hanya Sindi satu-satunya orang yang ia anggap sebagai keluarganya. Sedih memang kalau membahas keluarga Mia. Benar-benar sendiri.


"Dion sudah berangkat Mi?" tanya Nyonya Helen.


Ehh, keluarga macam apa ini? Masa anaknya berangkat kerja, gak bilang dulu sama emaknya? Malah emaknya nanya sama Mia sih? Menyedihkan sekaliii.


"Sudah Nyonya," jawab Mia.


"Kamu siap-siap ya! Jam dua kita berangkat ke salon ya! Aku mau mengubah gaya rambutmu," ucap Nyonya Helen.


"Baik Nyonya," jawab Mia.


Ini baru jam satu siang. Masih ada waktu satu jam lagi. Kalau mandi dari sekarang, mungkin Mia bisa kucel lagi pas jam dua. Jadi Mia memilih untuk memainkan ponselnya dan menghubungi Sindi. Tapi tidak diangkat. Mungkin dia sedang tidur, karena yang Mia tahu hari ini Sindi masuk shift dua.


Main game, mungkin pilihan tepat untuk mengusir sebuah kejenuhan yang Mia alami. Hingga akhirnya alarm berbunyi jam dua kurang dua puluh menit. Mia menyudahi game dan segera mandi. Merias wajahnya sewajarnya saja. Sementara untuk pakaian, Mia membuka lemari dan ada beberapa baju baru di sana. Sepertinya sengaja disiapkan oleh Dion untuknya.


"Terima kasih Tuan," gumam Mia sambil membawa satu dress selutut berwarna maroon. Simple namun terkesan sangat mahal. Itulah selera Dion. Tidak perlu glamour, karena Mia akan terlihat mahal walaupun dengan model simple seperti pilihannya.


"Mia," panggil Nyonya Helen.


"Iya Nyonya," jawab Mia.


"Ayo!" ajak Nyonya Helen.


Mia mengangguk dan mengikuti Nyonya Helen. Di dalam mobil, Mia tidak banyak bicara. Mia hanya menjawab apa yang ditanyakan oleh Nyonya Helen. Sepertinya Nyonya Helen tertarik dengan kehidupan Mia, hingga ia terus mengorek tentang Mia.


Namun saat bertanya tentang alasan perceraiannya, Mia bungkam. Setelah didesak, Mia hanya berkata kalau sudah tidak cocok saja. Mia bukan tipe orang yang mengumbar kesalahan atau kelemahan orang lain. Cukup hanya suaminya saja yang tahu tentang masa lalunya. Itu juga kalau Dion bertanya. Kalau tidak, Mia tidak perlu menceritakan semua itu.


Seperti halnya Haji Hamid, Mia hanya menceritakan tentang Haji Hamid saat Danu yang berstatus sebagai suaminya bertanya tentang masa lalunya. Dan tentang Danu, hanya Dion yang berhak tahu. Karena bagi Mia, itu adalah aib. Tidak semua orang tahu tentang kelemahan Danu. Kecuali jika nanti Dion sudah menjadi suaminya, karena Mia tidak boleh menyembunyikan apapun tentang masa lalunya pada suaminya.


"Mia, kamu gak pernah selingkuhkan?" tanya Nyonya Helen yang mulai khawatir.


Wajar saja, Mia masih sangat muda. Mungkin saja banyak pria yang menyukainya, wajah Mia sangat cantik. Meskipun memang tersembunyi dibalik kemalasannya dalam merawat diri. Lagi pula, dari cerita Mia kedua suaminya berada di atas usia Mia. Sementara alasan bercerai hanya karena tidak cocok. Jujur saja, membuat sedikit rasa khawatir di hati Nyonya Helen.


Dion yang tidak pernah mengenalkan wanita manapun padanya, cukup terkejut sebenarnya saat mengetahui status Mia. Tapi semua kembali pada Dion. Jika Dion menerima Mia, tidak ada alasan bagi Nyonya Helen ataupun Tuan Wira untuk menolak Mia. Pilihan Dion pasti tepat. Sampai saat itu, Nyonya Helen hanya meyakini semua itu.


"Mia ayo turun!" ajak Nyonya Helen saat mobil sudah terparkir di salah satu salon ternama.


Mia mengekor kemanapun Nyonya Helen berjalan. Selama di salon, Mia bertindak layaknya boneka yang pasrah diperlakukan ini dan itu. Mia benar-benar percaya pada Nyonya Helen urusan ini.


"Miaaaaa, kamu cantik sekaliii." teriak Nyonya Helen sambil memutarkan tubuh Mia.


Akhirnya setelah berjam-jam Mia menghabiskan waktu di sana, akhirnya bisa membuat Nyonya Helen puas. Yang Mia khawatirkan adalah Nyonya Helen kecewa dengan penampilan Mia yang baru. Sedangkan untuknya sendiri, Mia hanya bisa pasrah saja. Apapun bentukannya senyum saja.


"Terima kasih, Nyonya." Mia tersenyum manis pada Nyonya Helen.


"Kamu mau kemana setelah ini?" tanya Nyonya Helen.

__ADS_1


"Mia ikut saja. Terserah Nyonya mau kemana," jawab Mia.


"Kita ke mall yuk! Kamu harus beli baju, sepatu, make up, dan masih banyak lagi yang lainnya. Ayo Mia berangkat!" ajak Nyonya Helen menggandeng lengan Mia.


Kembali ke dalam mobil dan menuju mall. Mia yang akan belanja tapi Nyonya Helen yang terlihat sangat bahagia dan antusias.


"Mia, ayo kamu suka yang seperti apa?" tanya Nyonya Helen.


"Ah, Mia terserah Nyonya saja." jawab Mia.


"Eh iya, selera kamu kan jelek. Ya sudah gimana aku aja ya!" ucap Nyonya Helen.


Heemmmm.. Terserah emak aja lah. Yang penting Mia gak keluar duit. Kalau Mia yang milih sendiri, nanti Mia yang suruh bayar. Heheh


"Nyonya," panggil Mia sambil menarik tangan Nyonya Helen yang masih sibuk dengan baju-baju pilihannya.


"Kenapa? Kamu gak suka yang ini?" tanya Nyonya Helen saat menunjuk salah satu baju.


"Bukan begitu Nyonya. Ini sudah sangat banyak sekali," ucap Mia menunjuk barang belanjaannya.


"Kamu itu kan ke sini gak bawa baju. Jadi harus banyak baju ganti," jawab Nyonya Helen.


"Tapi ini sudah lebih dari cukup Nyonya. Mia shock lihat barang belanjaannya," ucap Mia pelan.


"Kamu tenang aja. Prinsip di keluarga kita itu workshop. Papa work, mama shop. Kamu juga harus belajar mengaplikasikan prinsip itu, Mia. Ingat ya! Pria itu cari duit, kalau bukan kita yang ngabisin duitnya, bahaya." bisik Nyonya Helen.


"Kok bahaya?" tanya Mia.


"Bisa-bisa ada wanita lain yang menghabiskan uang suami kita. Ngerti kamu?" tanya Nyonya Helen.


Mia tersenyum kecut.


Prinsip apaan itu? Setahu Mia hemat pangkal kaya. Gak ada prinsip workshop begitu. Tapi terserah deh ah. Duitnya udah gak ketampung kali ah, makanya dibuang-buang begitu.


"Mia, ini cukup?" tanya Nyonya Helen.


"Lebih dari cukup Nyonya," jawab Mia.


Mia membantu Nyonya Helen untuk membawa barang belanjaan ke kasir. Karena banyak barang yang dibeli, Mia harus menunggu cukup lama untuk membayar barang belanjaannya. Tiba-tiba saja seorang wanita cantik datang menghampiri mereka berdua.


Mia memegang pipinya yang memerah karena ditampar wanita yang tidak dikenalnya sama sekali. Tidak terima diperlakukan seperti itu, Mia segera menampar kembali wanita itu.


PLAAAAK


"Berani kamu ya?" bentak wanita itu.


"Kenapa tidak berani?" tanya Mia dengan segala keberaniannya.


Mia yang selama ini hanya diam, kini memberanikan diri untuk membela dirinya. Mia sudah lelah harus diinjak-injak terus. Sekarang saatnya Mia harus melawan dan tidak membiarkan dirinya tertindas.


"Kamu tidak tahu kan kalau aku adalah calon istri Dion yang sebenarnya. Aku pacar Dion. Niki, namaku Niki. Kamu tanya sama Dion siapa aku. Aku yakin kamu hanya dijadikan pelarian saja sama Dion. Nanti juga kalau kita sudah baikan kamu pasti akan ditendang begitu saja. Jadi aku sarankan, mundur dari sekarang. Biar gak terlalu sakit," ejek Niki.


Ya, Anda memang cantik. Tidak heran jika Tuan Dion mencintai bahkan memilih Anda dibanding Mia. Tapi maaf, Mia tidak bisa membiarkan Anda bersikap seenak jidat begini mak lampir. Mia harus memberi Anda pelajaran.


"Oh ya? Siapa yang peduli? Yang Mia tahu, kami akan menikah. Kamu kalau mau, nanti ya jadi yang kedua saja. Itu juga kalau kamu mau. Kalau gak, aku ingetin mending kamu siapin hati kamu dari sekarang deh ya!" ucap Mia sambil menepuk bahu Niki.


"Kurang ajar," ucap Niki emosi.


Tangan Niki sudah melayang siap menampar Mia untuk yang kedua kalinya. Namun kali ini Mia lebih sigap. Mia menangkap tangan Niki yang sudah melayang di udara. Mencengkram tangan Niki sekuat tenaganya hingga Niki mengaduh. Setelah puas, Mia melepaskan tangan Niki sari genggamannya dan menyisakkan tanda merah di pergelangan tangan Niki yang putih mulus.


"Awas kamu ya! Aku gak akan tinggal diam. Aku akan buat perhitungan sama kamu," teriak Niki.


"Boleh. Silahkan mau bikin perhitungan macam apa juga Mia jabanin. Pertambahan, pengurangan, perkalian, pembagian. Asal jangan logaritma aja, Mia pusing." Teriak Mia.


Mia melihat sosok wanita yang mengenalkan dirinya sebagai Niki itu tidak ada lagi dari pandangannya. Kini Mia melihat sekelilingnya yang ternyata sedang menatapnya dengan tatapan tajam.


Ada apa ini? Kenapa mereka melihat Mia seperti ini? Kan bukan Mia yang memulai keributan. Ini lagi calon mertua kok matanya begini amat ya! Duh, Tuhaaaaan. Tolongin Mia. Gimana ini? Jangan sampai baju yang bejibun ini, suruh Mia yang bayar. Bisa mgepel tujuh hari tujuh malem kalau begitu ceritanya.


"Mia?" ucap Nyonya Helen tidak percaya.


"Maaf Nyonya. Tapi dia yang mulai. Mia gak mungkin kurang ajar sama orang, kalau orang itu gak kurang ajar sama Mia. Maaf ya kalau Mia bikin Nyonya malu," ucap Mia sambil menunduk.


PROK.. PROK.. PROKK


Tepuk tangan dari Nyonya Helen membuat Mia mengangkat wajahnya dan menatapnya heran.

__ADS_1


"Kamu hebat Mia. Aku tak menyangka kalau kamu bisa seberani itu. Aku pikir kamu bakal minder Mi," ucap Nyonya Helen.


Hemmmm, tahu. Mia juga sadar diri dia jauh lebih cantik. Tapi Mia gak mungkin biarin orang itu bersikap kurang ajar sama Mia.


"Ya memang minder sih Nyonya. Tapi kan dia juga gak perlu bersikap seperti itu. Kalau dia masih ada hubungan sama Tuan Dion, harusnya dia selesaikan baik-baik sama Tuan Dion dong. Jangan nyerang Mia tiba-tiba begitu. Dia gak tahu wajah Mia baru di elap-elap di salon, eh maen tabok aja. Kan kurang ajar itu namanya," ucap Mia kesal.


Nyonya Helen hanya bisa menahan tawanya. Ia hanya memberi kedua jempol tangannya, tanpa mengomnetari ucapan Mia. Setelah selesai membayar barang belanjaannya, Nyonya Helen kembali mengajak Mia untuk pulang. Dengan perasaan bangga, Nyonya Helen menggandeng Mia. Seolah ia ingin mengumumkan kalau wanita berani ini adalah calon menantunya.


Barang dibawaan di bawa oleh sopir dan dimasukkan ke dalam bagasi. Mereka kembali tanpa obrolan apapun. Mia hanya melihat Nyonya Helen sibuk menggunakan ponselnya dan sesekali terlihat tersenyum dengan layar ponselnya.


Ini emak-emak gak ada pedulinya sama Mia. Bukannya nolongin, malah nontonin Mia waktu dimaki-maki sama wewe gombel tadi. Apa karena Mia bukan calon menantu yang diharapkan kali ya? Makanya Mia, kamu itu harus berani. Kamu harus bisa membela diri kamu sendiri. Kalau bukan kamu, gak ada yang bakal belain kamu. Semangat Mia.


"Pak, antar semua barangnya ke kamar Mia ya!" ucap Nyonya Helen pada sopirnya.


"Mia, istirahat ya! Kamu pasti cape. Akunjuga mau balik ke kamar ya!" ucap Nyonya Helen.


"Baik Nyonya. Terima kasih untuk hari ini," ucap Mia.


Tanpa jawaban, karena calon mertuanya itu sudah kembali ke kamarnya saat Mia belum selesai mengucapkan kata terima kasih.


"Mau saya panggilkan pelayan untuk merapikan barang belanjaannya, Nona?" tanya sopir.


"Oh tidak perlu pak. Terima kasih. Biar Mia yang selesaikan semuanya sendiri," ucap Mia.


Sopir itu mengangguk hormat dan pamit. Mia menutup pintu kamarnya dan membuka barang belanjaannya. Seumur hidupnya, ini pertama kalinya ia belanja begitu banyak. Mungkinkah ini pertanda kalau hidupnya akan semakin bahagia di sini?


Apapun yang terjadi dengan keluarga ini. Mia hanya ingin kalian jangan membuang Mia. Mia lebih rela jika kalian menganggap Mia pembantu dari pada kalian membuang Mia. Mia sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain kalian.


Kriiiing.. Kriiing.. Kriiiing


Mia tersadar dari lamunannya. Melihat ponselnya yang berdering tiada henti.


"Tuan Dion?" tanya Mia.


Mia segera menjawab panggilannya. Tidak ingin menambah masalah jika telat menjawab panggilannya.


"Ya Tuan," jawab Mia.


"Kamu baik-baik saja kan? Apa yang sakit? Ada yang terluka? Katakan padaku? Mia ku mohon tetaplah baik-baik saja demi aku!" ucap Dion.


"Tuan," ucap Mia.


"Kenapa Mia? Apa apa? Katakan padaku," ucap Dion.


"Tuan nanyanya jangan banyak-banyak. Mia jadi lupa pertanyannya. Satu-satu dong. Jangan kayak anak STM lagi demo begitu," ucap Mia.


"Mia, ini bukan waktunya untuk becanda. Tolong serius," ucap Dion.


ia juga serius. Tuan ada apa? Kenapa panik begitu?" tanya Mia.


"Kamu tadi ketemu sama Niki?" tanya Dion.


Wah, dia tahu dari mana? Antara dia kerja sama dengan cicak atau memang dia itu paranormal. Jadi bisa tahu semua tentang Mia. Bahaya iniii, jangan-jangan setiap Mia mandi dia juga tahu? Ihh ngeri.


"Mia, halo. Apa kamu mendengarku?" tanya Dion.


"Eh iya, Tuan. Gimana?" tanya Mia.


"Gimana-gimana. Kamu yang gimana? Kau gak apa-apa kan?" tanya Dion.


"Gak. Tuan nemu calon istri galak begitu dari mana sih?" tanya Mia.


Hah? Dia bahkan gak cemburu? Apa dia benar-benar gak mencintaiku? Mia benarkah?


"Dari selokan. Sudah ah aku sibuk mau kerja lagi," ucap Dion yang kemudian mengakhiri panggilannya.


"Yeeeey, orang aneh. Dia yang panik dia yang gak jelas. Jadi herman deh Miaaaa," gumam Mia sambil menatap layar ponselnya.


##################


Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.


Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.

__ADS_1


Terima kasih..


__ADS_2