Janda Bersegel

Janda Bersegel
Surat dari Mama


__ADS_3

"A udah ya!" ucap Mia dengan tenaga sisa.


"Tapi nanti malam lanjut lagi ya!" ucap Dion.


Gak janji A. Mia lemes banget. Kamu serem.


"Mia, jawab. Ngapain malah lihat aku begitu? Katanya udah, kok kayak yang mau nambah?" tanya Dion.


"Ish, pede kok sampe tingkat internasional begitu sih?" ucap Mia kesal.


Mia turun dari ranjangnya dan membersihkan diri.


"Mia, buka. Mandinya bareng dong," pinta Dion.


"Gak mau," jawab Mia.


Mi, kmu takut ya? Maafin aku yang gak bisa mengendalikan diriku. Percayalah aku melakukan semua ini karena aku sudah tidak sabar menunggu. Sebulan aku hanya bisa membayangkan semua ini. Dan saat waktunya tiba, aku memanfaatkan semuanya sebaik-baiknya. Aku tidak ingin waktu denganmu terbuang sia-sia.


"Mi? Kamu kok gak mau lihat aku?" tanya Dion saat melihat Mia keluar dari kamar mandi.


"Mia gak apa-apa kok A," jawab Mia.


"Kamu marah ya?" tanya Dion.


"Gak A, Mia gak marah. Mia cuma cape. Mia takut kalau lihat wajah Aa, nanti disangkanya minta nambah." Mia tetap menunduk saat menjawab pertanyaan Dion.


"Hahaha, Mia kamu menggemaskan sekaliiii." Dion segera memeluk Mia dan mencium pipinya berkali-kali.


"A, Mi gak ngajak kok. Kenapa Aa malah meluk dan cium Mia lagi?" tanya Mia.


"Ini bonus," jawab Dion sambil tertawa keras dan masuk ke dalam kamar mandi.


Mia bergidik saat mendengar jawban dari suaminya.


"Mia?" panggil Dion.


Saat keluar dari kamar mandi, Dion tidak mendapati Mia di kamarnya.


"Miaaaa," teriak Dion.


"Lagi makaaaan," teriak Mia dengan mulut penuh dengan makanan. "Uhuk, uhuk, uhuk," Mia tersedak sesaat setelah berteriak menjawab Dion.


"Mia? Kamu kenapa? Minum, minum," ucap Dion sambil memberikan segelas air minum untuk Mia.


"Aduh, makasih A. Sampe sakit perut Mia," ucap Mia.


"Kenapa sakit? Bayi kita sakit? Ayo ke dokter!" ajak Dion menarik tangan Mia.


"Aa ngapain sih?" tanya Mia.


"Kamu sakit perut kan?" tanya Dion.


"A, Mia sakit karena keselek tadi. Jadi gak perlu ke dokter," jawab Mia.


"Makanya kalau makan jangan sambil ngomong. Apa lagi sampai teriak-teriak begitu," ucap Dion.


"Kan Aa juga teriak-teriak panggil Mia. Kalau Mia Jawabnya pelan nanti disangka Mia gak jawab. Aa marah lagi. Panjang kan urusannya?" tanya Mia.


"Bukannya kamu suka yang panjang?" tanya Dion sambil menggoda Mia dengan matanya.


"Dihh, jangan macam-macam ya! Mia lagi makan. Kalau sampai nafsu makan Mia hilang, Aa yang salah ya!" ucap Mia.


"Tapi nafsu yang lain gak hilang kan?" goda Dion.


"Aaaaa," teriak Mia.


"Mau keselek lagi?" tanya Dion.


"Ya udah makanya diam dong. Mia kan lagi makan," ucap Mia.


"Ya sudah cepat makan yang banyak. Aku yakin kalau soal nutrisi, makanan di sini tidak usah diragukan lagi tentang kualitasnya." Dion mendekatkan beberapa sajian pada Mia.


"Gak ah, udah kenyang A. Maaf ya Mia gak nunggu Aa makannya. Mia udah gak kuat lapar," ucap Mia.


"Gak masalah. Ayo makan lagi ah, jangan malu-malu!" ucap Dion.


"Siapa yang malu sih? Mia cuma udah kenyang aja A. Udah gak muat ini," jawab Mia.


"Makan yang banyak biar nanti malam aku yang memakanmu," bisik Dion.


"Ish, Aa apaan sih?" ucap Mia dengan raut wajah yang memerah.


Dion hanya tertawa keras sambil menggelengkan kepalanya. Dion mulai makan dengan lahap. Karena ia sudah kehilangan banyak sekali energi setelah pertempuran tadi pagi.


"A Mama sama Papa udah berangkat ya?" tanya Mia.


Dion melihat pergelangan tangannya. Sudah jam sepuluh.


"Sudah. Memangnya kenapa?" tanya Mia.


"Kita bahkan masih di kamar waktu Mama berangkat. Mia gak enak A. Ini namanya Mia jadi menantu kurang ajar. Ini semua gara-gara Aa," ucap Mia kesal.


"Loh kok aku yang disalahin?" tanya Dion.


"Ya kan gara-gara itu tadi, makanya kita baru keluar kamar sesiang ini. Mia kan jadi malu A," ucap Mia smbil cemberut.


"Aduh sayang, jangan marah. Nanti cantiknya hilang loh," goda Dion.


"Cantiknya udah bawaan lahir, jadi gak mungkin hilang." ucap Mia.


"Dih, ditinggal sebulan percaya dirinya naik 1000 kali lipat ya?" goda Dion.


"Ih, Aa. Oh ini bukan percaya diri. Memang begitu kenyataannya kok," ucap Mia.


"Kata siapa?" tanya Dion.


"Kata almarhum ibu dulu," ucap Mia dengan polosnya.


Emak mana yang bilang anaknya gak cantik sih? Miaa, Miaa.


"Aa, ngapain lihat Mia sampe begitu? Naksir?" tanya Mia.


Eh ini dia kenapa sih? Dia tanya naksir? Kalau aku gak naksir gak mungkin aku sampai hamilin kamu Mi. Ada-ada aja deh kelakuan kamu.


Dion tidak menjawab, ia hanya senyum sambil menggelengkan kepala lalu melanjutkan makannya.


"A, ngomong dong. Kenapa sih diam aja? Sedang mengagumi kecantikan Mia ya?" goda Mia sambil mencolek dagu Dion.


Ya Tuhaaaan, ini kenapa sih? Kesambet jin apaan sih dia? Untung cantik. Kalau jelek, udah aku lempar kamu. Haha

__ADS_1


"Ah, Aa gak asik." Mia cemberut.


"Kata ustadz kalau lagi makan jangan ngomong," jawab Dion.


"Eh iya. Kata dokter juga gak baik kalauakan sambil ngomong," ucap Mia.


"Nah itu tahu. Makanya aku dari tadi gak ngomong," ucap Dion.


"Nah itu Aa ngomong?" ucap Mia sambil menunjuk Dion dengan menahan tawanya.


Adooooh. Ini istri kenapa ngeselin banget sih? Gak ngomong di omelin. Giliran ngomong di katain. Aku kudu piyeee iki? Kamera mana kamera? Aku gak kuat. Mau lambaikan tangan aja ke kamera.


Selesai makan, Dion mengajak Mia untuk istirahat di kamar. Mia sempat menolak karena bosan kalau harus di kamar terus.


"Aku janji gak akan ngapa-ngapain kamu kok. Ini beneran istirahat, Mi." Dion membujuk Mia.


Dion merasa kehamilan Mia sudah semakin besar. Kehamilan Mia baru tiga bulan memasuki bulan ke empat. Tapi Dion sudah merasa engap sendiri kalau lihat perut Mia. Makanya Dion selalu meminta Mia untuk istirahat di kamar saja.


Dengan bujukan Dion, Mia mengikuti suaminya untuk masuk ke dalam kamar. Namun langkah Mia terhenti di ambang pintu.


"A, ini kertas apa?" tanya Mia.


"Gak tahu," jawab Dion.


Dion mengambil kertas itu dari Mia. Ia membuka lipatan kertas itu. Mia dan Dion saling menatap saat melihat kalau itu adalah sebuah surat. Mereka membacanya bersamaan.


'Mama berangkat ya! Tadi mau peluk kamu dulu Mi. Mama kangen sama cucu Mama, tapi kalian lagi asyik. Jadi Mama berangkat gak bilang dulu sama kalian. Gak enak ganggu yang lagi jenguk anak kesayangannya. Lain kali jangan keras-keras ya suaranya, kan Mama jadi gemeteran dengarnya. Heee


Salam sayang dari Mama,'


"Aaaaaaaaa," teriak Mia.


Mia masuk ke dalam kamar. Duduk di tepi ranjang dan menutup wajahnya dengan bantal. Bayangan wajah Nyonya Helen tergambar jelas. Mia merasa sangat malu. Sementara Dion menelan salivanya dengan susah payah. Ia masih mematung di ambang pintu.


Benarkah Mama mendengar suara pertempuran aku dan Mia tadi pagi? Oh muluuuut, kenapa kamu tidak bisa diajak kompromi sih? Aku jadi penasaran, seberisik apa sih aku dan Mia pagi tadi?


"Ah, Mia gak mau ketemu sama Mama. Mia malu. Aa tanggung jawab dong jangan cuma diam di sana," ucap Mia kesal.


"Ya sudah, kita nginap di hotel saja yuk!" ajak Dion.


Sebenarnya ini bukan ide untuk menjauhkan Mia dari ibunya, tapi otak nakal Dion yang tiba-tiba meresponnya. Ya anggap saja ini bulan madu untuk kedua kalinya.


Berbicara bulan madu, Dion merasa bersalah pada Mia. Dion belum sempat mengajak Mia untuk berbulan madu. Saat itu, bulan madunya hanya di hotel teman Tuan Wira.


"Gak mau ke hotel, Aa pasti mau nyerang Mia terus-terusan kan?" ucap Mia.


"Dih, suka bener deh kalau ngomongnya. Heheh," jawab Dion.


"Ya sudah lah Mi. Kenapa kamu mesti malu? Kita kan suami istri, berarti boleh dong. Gak masalah dong kalau kita tempur pagi-pagi," ucap Dion menenangkan Mia.


Ya, Dion hanya menenangkan Mia, karena dalam hatinya ia sendiri juga merasa sangat malu. Sama seperti Mia, Dion enggan bertemu dengan Nyonya Helen. Ini pasti akan menajdi pembahasan yang memalukan.


"Tapi kan harusnya jangan sampai ada yang dengar jejak kita A. Ah pokonya Mi malu," ucap Mia.


Mia kembali menutup matanya dengan bantal. Dion melihat kelakuan istrinya. Dion ikut menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Kamu pikir cuma kamu? Aku juga malu, Mia.


"Mi, dari pada mikirin Mama terus mending kita ke mall yu! Aku mau beliin kamu lipstik baru," ucap Dion.


"Gak ah, lipstik masih banyak." Mia menolak, karena kepalanya masih memikirkan surat dari Nyonya Helen.


"Jelek? Enak aja. Lagian ini juga dari Aa kok," jawab Mia.


Mia berjalan dan duduk di depan cermin, memastikan lipstiknya benar-benar bagus.


"Itu jelek Mia," ucap Dion.


"Bagus Aa. Warnanya lucu. Bikin bibir lembab, gak kering. Ini bagus A," ucap Mia.


"Kalau bagus, masa pas abis tempur lipstiknya abis?" tanya Dion.


"Iya kan Aa nyosor-nyosor. Ya abis lah. Kalau mau yang gak luntur, pakai cat tembok. Awet sampai setahun gak bakal luntur," jawab Mia.


Dion tertawa keras saat mendengar jawaban Mia.


"Eh tapi, tunggu dulu. Kok lipstiknya nempel-nempel di muka aku? Berarti yang nyosor-nyosor itu siapa ya?" goda Dion.


"Aaaaa, bikin kesal deh ah." Wajah Mia memerah.


"Sayang, semakin kamu nyosor semakin aku bahagia. Mau kan lihat aku bahagia?" tanya Dion.


Mia mengangguk.


"Berarti kamu tahu apa yang harus kamu lakukan?" tanya Dion.


Mia mengangguk lagi.


"Apa?" tanya Dion.


"Nyosor lagi," jawab Mia.


"Anak pintar," ucap Dion sambil tertawa keras dan mengusap kepala Mia.


"Ah, pertanyaan macam apa itu? Aa jangan ngerjain Mia terus dong," ucap Mia.


"Iya gak lagi deh. Tapi keluar yuk! Kita jalan-jalan. Mumpung aku lagi di Jakarta," ucap Dion.


Mia menatap Dion. Benar apa kata Dion. Mungkin paling lama juga satu minggu Dion sudah harus berangkat lagi ke Surabaya. Mia harus memanfaatkan momen ini dengan sebaik-baiknya.


"Aa mau jalan kemana?" tanya Mia.


"Ke mall yuk! Belanja baju bayi, terus kita makan. Gimana?" tanya Dion.


"Aa, ini baru mau empat bulan. Kalau kata ibu, pamali. Nanti saja kalau hamilnya sudah tujuh bulan," jawab Mia.


"Pamali siapanya kamu sih? Nurut banget sama dia," ucap Dion.


Ya, Mia dan Dion berasal dari latar belakang yang berbeda. Wajar jika Dion asing pada kata pamali.


"Ish, orang lagi serius juga. Masih aja becanda," ucap Mia kesal.


"Ini juga serius," ucap Dion.


"Males ah," ucap Mia.


Mia menjauh dari Dion dan naik ke atas ranjang lalu merebahkan tubuhnya.


"Loh, kok malah tidur sih? Ayo jalan," ajak Dion.

__ADS_1


"Gak mau," jawab Mia.


"Ya sudah iya aku minta maaf. Aku tahu pamali kok. Belanja lipstik gak mau, belanja baju bayi pamali, ya sudah belanja baju kita aja yuk! Cari yang saman, buat foto. Kita foto sama calon anak kita," ucap Dion.


"Ah mauuuu," ucap Mia dengan senyum lebar.


Mia memang sering melihat beberapa orang yang sedang hamil, memamerkan perut besarnya dalam unggahan instagram. Dan kali ini, suaminya yang mengajaknya untuk mewujudkan impiannya.


"Berangkat sekarang yuk!" ajak Dion.


"Ganti baju dulu," ucap Mia.


"Jangan lama-lama. Aku sudah gak sabar," ucap Dion.


Dengan pakaian yang dipilihkan oleh Dion, Mia terlihat sangat cantik. Tubuhnya yang lebih mengembang tidak menghilangkan kecantikannya. Auranya terlihat semakin cantik. Mia memang selalu membuat Dion tergila-gila.


Tuhaaaan, wanota di hadapan aku ini sangat cantik. Nyaris sempurna. Jaga selalu dia, aku sangat mencintainya.


"A, ayo!" ajak Dion.


"Eh iya. Ayo!" Dion menggenggam tangan Mia.


Sepanjang perjalanan, Dion beberapa kali melihat ke arah Mia. Mengagumi ciptaan Tuhan yang kini menjadi istrinya.


"Aa kenapa sih? Fokus dong A bawa mobilnya," ucap Mia.


"Iya ini juga fokus. Tapi kan kalau lihat terus ke depan nanti lehernya sakit. Ya wajar lah kali-kali aku lihat ke samping. Lagian kenapa sih pelit banget? Gak tahu orang lagi kangen apa?" ucap Dion.


Mia tidak menjawab. Ia hanya tersenyum malu sambil memalingkan wajahnya. Ini adalah kedua kalinya Mia jatuh cinta. Dan Dion membuatnya selalu jatuh cinta. Mia yang jarang sekali mendapat perhatian, hingga saat Dion memperhatikannya, membuat Mia merasa sangat bahagia.


Nyesel aku gak bawa sopir. Padahal harusnya aku hanya duduk memegang tangan Mia dan menatapnya sepuas hati.


"Mi, mall ini aja ya!" ucap Dion.


"Dimana saja boleh mas," jawab Mia.


Mall manapun tidak penting untuk Mia. Bahkan belanja di pasar saja tidak masalah. Bagi Mia, yang penting adalah apa yang akan dibelinya. Brand? Mia bukan penikmat brand mahal seperti Dion. Barang-barang branded yang berjejer di kamarnya sekarang adalah pemberian dari Dion.


"Mi, kamu mau baju couple kita warna apa?" tanya Dion.


"Warna biru dong A. Kan warna kesukaan Mia," jawab Mia.


Biru? Kesukaan? Jangan bilang kita pakai baju doraemon Mia. Gak mau. Bukan couple alay seperti itu yang aku maksud.


"Gak maroon aja Mi?" tanya Dion.


"Biru ah A," jawab Mia.


Aku tidak boleh salah toko. Jangan sampai ada baju doraemon yang dijual di sana.


Tak ingin berdebat terlalu lama, Dion segera masuk ke toko dan memilihkan beberapa baju warna biru yang senanda untuk keduanya.


"Mau biru yang mana?" tanya Dion.


Mia memilih baju-baju itu, namun matanya mengedar ke setiap sudut toko.


Dari roman-romannya sih lagi nyari baju doraemon sih ini. Tenang Dion, kamu aman. Di sini gak ada baju doraemon. Maaf ya Mi, tapi ini demi kabaikan semuanya.


"Yang mana jadinya?" tanya Dion.


"Mia suka yang ini. Aa suka gak?" tanya Mia.


"Bagus," jawab Dion.


Sesuai dengan kesukaan Mia, Dion memilih baju biru pilihan istri tercintanya itu.


"A, ayo pulang!" ajak Mia


"Mau kemana sih buru-buru banget? Santai dong Mi," ucap Dion.


Aduh, alasannya apa ya?


"Mia udah gak sabar mau foto A," jawab Mia.


"Ya sabar dong sayang. Aku kan mau bayar dulu," ucap Dion.


Setelah semuanya selesai, Mia manarik tangan Dion dari toko. Langkahnya lebih cepat dari biasanya.


"Mi, pelan-pelan dong. Kasihan bayi kita. Kamu kenapa sih?" tanya Dion heran.


Belum juga Mia menjawab, apa yang Mia takutkan menjadi kenyataan. Nyonya Nathalie menghadang langkah Mia dan Dion. Tidak sendiri, Nyonya Nathalie bersama dengan Danu dan seorang wanita.


Aduh, wanita ini benar-benar seperti hantu. Tahu aja kalau aku ada di sini. Bisa-bisanya dia ada dimana-mana.


"Kenapa buru-buru?" tanya Nyonya Nathalie.


Tuh kan? Telat kabur.


Mia sama sekali tidak cemburu saat melihat Danu dengan seorang wanita cantik. Hanya saja Mia tidak ingin kalau Dion berdebat dengan Nyonya Nathalie. Namun belum juga Mia menjawab, Dion lebih dulu merespon Nyonya Nathalie.


"Niki?" tanya Dion refleks.


"Kalian saling kenal?" tanya Danu.


"Ya pasti kenal dong sayang. Niki ini kan wanita cantik, terpelajar, dan dari keluarga kelas atas." Nyonya Nathalie dengan bangganya mengenalkan Niki sebagai calon menantunya.


"Waw, aku sangat senang mendengarnya. Selamat karena telah mendapatkan calon menantu yang sangat sempurna, menurut Anda." Dengan sinis, Dion menatap tajam ke arah Niki.


Tanpa pembelaan, Niki hanya menunduk dengan menggulung tangannya ke ujung dress. Sangat terlihat kalau Niki sedang tegang.


"Iya dong. Kamu pasti nyesel kan karena sudah menikah dengan Mia? Masih banyak wanita yang jauh lebih baik dari Mia. Kalau kamu mau, kamu bisa cari lagi kok," ucap Nyonya Nathalie.


Dion menghela nafas panjang. Berusaha menenangkan hatinya. Ia mengingat kembali rumus untuk menghadapi Nyonya Nathalie.


"Aku sudah menemukan yang lebih baik. Untuk apa aku mencari sampah?" ucap Dion dengan sinis.


"Apa maksudmu?" tanya Nyonya Nathalie kesal.


Niki, apa aku harus membongkar semuanya di sini?


#################


Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.


Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.

__ADS_1


Terima kasih..


__ADS_2