Janda Bersegel

Janda Bersegel
Semoga Papa tidak kecewa


__ADS_3

Saat tiba di negeri tujuan, hal pertama yang dilakukan oleh Nyonya Helen adalah menelepon Mia. Menantu kesayangannya. Memastikan Mia dan bayi dalam perutnya tetap baik-baik saja.


"Mau oleh-oleh apa?" tanya Nyonya Helen.


"Jangn repot-repot Ma. Mama yang sehat aja ya! Semoga urusannya lancar dan pulang dengan selamat," jawab Mia.


Ah, Mia benar-benar wanita tulus. Mana mau di minta. Biar nanti aku carikan sesuatu buat Mia. Si wewe gombel pasti nyesel tuh ngelepas Mia. Biar kata janda, Mia kan janda berkelas. Makanya wewe gombel, kamu kalau nilai orang jangan cuma dari satu sisi.


Mia memang tidak sendiri, ada seorang pelayan wanita yang bertugas menemani Mia. Namun Mia masih tetap kesepian. Mia mencoba menghubungi Dion.


Sekali, tidak diangkat. Dua kali, masih juga belum diangkat.


"Aa kemana sih? Kok telepon Mi gak diangkat ya?" gumam Mia.


Seorang wanita yang menemani Mia tidak berkomentar. Sebenarnya ia ingin sekali menenangkan Mia, namun rasanya ia tidak memiliki kebernian.


"Nyonya mau saya pijat? Kata orang, pijatan saya lumayan enak. Siapa tahu Nyonya suka dengan pijatan saya," ucap pelayan itu.


"Apa tidak merepotkan Mba?" tanya Mia.


"Tentu tidak. Kalau Nyonya merasa tidak enak, nanti saya akan berhenti. Mari kakinya, Nyonya!" pelayan wanita itu meminta kaki Mia.


"Ah jangan! Tangan saja Mba," ucap Mia.


Rasanya Mia masih merasa canggung. Namun memang tubuhnya terasa sangat pegal. Biasanya Dion yang membantunya saat tangan dan kakinya terasa pegal.


"Nyonya tidak usah sungkan pada saya. Saya ini kan pelayan Anda. Nyonya bebas meminta saya untuk melakukan apapun," ucap pelayan itu.


"Jangan begitu. Kita ini sama. Mba harus tahu kalau Mia juga dulu pekerja keras seperti Mba. Hanya saja, setelah menikah dengan Aa, Mia jadi pemalas. Mia tidak boleh melakukan ini dan itu," ucap Mia.


"Itu karena Tuan sangat menyayangi Anda Nyonya," ucap pelayan.


"Tapi kadang Mia merasa tidak nyaman. Hidup Mia sekarang berbanding terbalik dengan hidup Mia dulu. Kadang Mia merasa ini semua adalah mimpi," ucap Mia.


"Ini semua nyata Nyonya. Dan saya rasa hal yang sangat wajar jika ini semua terjadi pada Anda. Anda itu orang yang sangat baik," ucap pelayan itu.


"Ah, Mba berlebihan. Oh ya, ini enak sekali. Belajar pijat dari mana Mba?" tanya Mia.


"Nyonya suka pijatan saya?" tanya pelayan.


"Tentu! Ini enak sekali," ucap Mia sambil memejamkan matanya.


"Kalau Anda mau, saya bisa memijat Anda setiap hari." Pelayan itu menawarkan diri.


"Ah, Mia tidak mau merepotkan." Mia menolak.


"Tidak merepotkan sama sekali. Justru saya merasa senang. Karena memijat adalah pekerjaan saya sebelum kerja di rumah ini. Memijat juga pekerjaan turun temurun di keluarga saya. Hanya saja, saat itu ada tawaran bekerja di sini. Uangnya lebih besar dari biaya memijat. Jadi saya memilih untuk tidak memijat lagi. Kalau Nyonya mau dipijat, berarti Nyonya membantu saya untuk mengobati rindu saya sebagai tukang pijat. Lagi pula, kata orang dengan dipijat itu membantu kita agar lebih tenang," ucap pelayan.


Mba benar. Sekarang Mia menjadi lebih tenang walaupun Aa tidak mengangkat telepon Mia. Mungkin Aa sibuk. Ya, walaupun ini tidak seperti biasa, tapi Mia yakin Aa pasti punya alasan tersendiri untuk semua ini. Tenang Mia. Aa pasti setia Jangan banyak pikiran. Ah, Sindi. Kenapa aku tidak tanya Sindi ya?


Mia segera menekan nomor Sindi dan menghubunginya.


"Halo Mi, eh Nyonya Dion. Maaf Nyonya," ucap Sindi panik.


"Kamu ini, panggil Mia saja. Mia lebih suka kamu sebagai menganggap Mia teman, dari pada Nyonya Dion. Kamu sibuk gak?" tanya Mia.


"Iya, aku juga lebih nyaman panggil Mia. Tapi apapun keadaannya sekarang kamu adalah istri dari bos besar. Rasanya gak sopan dong. Oh ya ada apa?" tanya Sindi.


Sindi yang selalu serba salah ketika akan memanggil Mia. Di satu sisi, Mia. adalah sahabat yang cukup dekat dengannya. Namun, di sisi lain, Mia adalah istri dari pemilik pabrik tempat ia bekerja.


"Pokoknya kalau gak ada orang kamu panggil Mia aja ya! Kamu gak kerja Sin?" tanya Mia.


"Okay siappp Mi. Tapi kalau ada orang aku tetap manggil kamu Nyonya Dion ya! Soalnya aku menghargai Tuan Dion. Aku kerja. Ini lagi istirahat. Kenapa?" tanya Sindi.


"Iya udah ah terserah kamu aja, Sin. Oh ya A Dion ngontrol ke pabrik gak?" tanya Mia.


"Gak ada, Mi. Memangnya kenapa?" tanya Sindi.


"Kamu gak lihat dia ke kantor?" tanya Mia.

__ADS_1


"Ada. Tadi aku lihat Tuan ke kantor. Cuma gak lama. Tuan pergi buru-buru. Aku juga gak tahu ada apa. Tapi kemungkinan besar, Tuan menemui tamunya. Sudah, jangan berburuk sangka ya! Percaya saja sama Tuan," ucap Sindi.


Sindi benar. Mia jangan berburuk sangka. Aa pasti setia. Aa lagi kerja, makanya gak angkat telepon aku. Tenang ya Mi.


"Sebelumnya, maafkan saya Nyonya jika terlalu lancang. Tapi sepertinya Anda tidak punya alasan untuk berburuk sangka pada Tuan," ucap pelayan setelah melihat Mia mengakhiri panggilannya.


"Oh ya? Apa alasan Mba berargumen seperti itu?" tanya Mia.


"Selama saya bekerja di rumah ini, Anda adalah satu-satunya wanita yang dikenalkan kepada Tuan dan Nyonya besar. Selain itu, saya juga melihat bagaimana Tuan Dion memperlakukan Anda," ucap pelayan.


"Benarkah? Memangnya cara A Dion memperlakukan Mia itu seperti apa, Mba?" tanya Mia.


"Benar Nyonya. Perihal perlakuan Tuan, saya melihat segala sesuatu yang berhubungan dengan Anda selalu Tuan lakukan dengan penuh cinta. Semoga apa yang saya pikirkan sama dengan yang Anda rasakan," ucap pelayan itu.


Mia tersenyum. Pelayan itu benar. Bahkan Dion sendiri juga pernah mengatakan hal yang sama. Mia adalah wanita satu-satunya yang dibawa oleh Dion ke rumah itu. Kemudian tentang cinta juga tidak salah. Dion selalu memperlakukannya sangat spesial. Buka. hanya Dion, tapi Nyonya Helen dan Tuan Wira juga sangat baik padanya.


"Mia hanya takut, kalau Mia kehilangan pria yang nyaris sempurna seperti Aa." Mia menatap pelayan itu dengan mata berkaca.


"Nyonya jangan bicara hal yang tidak baik. Seucap kata adalah doa. Lebih baik Nyonya berucap hal yang baik, agar menjadi kenyataan. Saya yakin Tuan Dion adalah pria yang sangat baik. Tidak mungkin Tuan menyakiti hati Anda, Nyonya." Pelayan itu kembali menenangkan Mia.


"Terima kasih ya Mba. Ternyata Aa benar. Mia memang butuh Mba. Mia butuh teman. Terima kasih sudah menjadi teman Mia," ucap Mia menggenggam tangan pelayan.


Pelayan yang sedang memijat itu menghentikan pijatannya lalu menatap tangannya. Tangan itu disentuh oleh Nyonya Dion. Betapa hangat dan penuh ketulusan.


"Maaf, Nyonya. Anda berlebihan. Saya adalah pelayan Anda," ucap pelayan itu sembari melepaskan tangan Mia.


"Mba, kenapa sih gak mau dipegang sama Mia? Mia gak corona kok," ucap Mia.


"Ah Maaf Nyonya. Tidak seperti itu. Hanya saja saya merasa tidak pantas jika terlalu dekat seperti ini," ucap pelayan.


"Berapa kali Mia harus bilang? Kita ini sama," ucap Mia.


Kali ini nada bicara Mia lebih tinggi dari biasanya. Sampai pelayan itu langsung menunduk dan meminta maaf berkali-kali. Mia menjadi panik sendiri. Bahkan Mia tidak menyadari kalau apa yang ia lakukan itu akan membuat pelayannya sangat takut.


"Mba, maafkan Mia. Tidak ada maksud Mia untuk marah sama Mba. Mia hanya tidak sika kalau Mba terus membahas strata sosial," ucap Mia.


Pelayan itu sudah tidak menjawab apapun. Ia hanya menunduk dan mengangguk. Mia merasa sangat tidak nyaman dengan perubahan sikap pelayan itu yang jauh lebih berhati-hati Bahkan ia sudah tidak berbicara apapun.


'Maafkan aku. Hari ini aku sibuk sekali. Nanti aku telepon.'


Sebuah pesan yang Mia terima justru membuatnya semakin penasaran. Kesibukan macam apa yang membuat Dion sampai tidak punya waktu untuk menelepon Mia.


'TELEPON SEKARANG!'


Sebuah pesan yang Mia kirim nampak seperti ultimatum tersendiri bagi Dion. Tidak lama, dalam selang waktu lima menit, apa yang Mi harapkan sudah terwujud. Dion menelepon Mia. Dari nada suaranya, Mia mendengar ada hal yang berbeda dari suaminya.


Dion menjelaskan semuanya pada Mia. Memang pada awalnya, Dion tidak ingin menyembunyikan apapun. Hanya saja tadinya Dion takut jika hal ini akan mengganggu pikiran Mia. Tapi semuanya sudah terlanjur. Mia juga sudah curiga.


"Lalu jasadnya sudah dibawa ke keluarganya?" tanya Mia.


Orang suruhan yang sudah dipercaya oleh Tuan Wira untuk meeting penting itu kecelakaan, saat akan mengambil berkasnya.


"Sudah. Aku sedang mengurus semuanya. Rekan meeting Papa ingin meetingnya tetap berjalan. Tapi apa boleh buat. Papa juga sedang di luar negeri. Aku tidak bisa pulang mendadak," ucap Dion sedih.


"Lalu konsekuensinya?" tanya Mia.


"Ya, kerja samanya batal. Padahal kalau kerja samanya berjalan, aku bahkan bisa pindah ke Jakarta. Tapi ya sudahlah. Mungkin belum rejeki," jawab Dion.


"Memangnya tidak bisa diwakilkan?" tanya Mia.


"Bisa. Hanya saja tidak ada yang mengusai berkas itu kecuali dia," ucap Dion.


Dia yang dimaksud Dion adalah orang yang meninggal karena kecelakaan itu. Karena hanya dia yang paling berkompeten dan bisa dipercaya. Padahal, besar harapan Dion untuk kerja sama itu bisa berjalan sukses. Jika saja semuanya berjalan, Tuan Wira akan mendapat kerja sama yang sangat bagus untuk perusahaannya di Surabaya. Hingga Tuan Wira akan menugaskan seorang ahli di Surabaya untuk membantu Dion. Karena Dion akan ditarik ke Jakarta untuk pengerjaan kerja sama yang lebih besar.


Dion adalah otak yang akan menjadi pengendali perusahaan di surabaya, sedangkan Dion sendiri akan tinggal di Jakarta untuk memudahkan pengembangan kerja sama itu. Jadi Dion hanya sesekali ke Surabaya untuk mengontrol proyeknya.


"Aku ngerti loh A tentang berkas itu," ucap Mia.


Konyol mungkin bagi Dion. Namun Mia berharap Dion bisa memberinya kesempatan untuk menemui rekan meeting Tuan Wira. Apa yang Mia pikirkan benar-benar terjadi. Dion sama sekali tidak mengizinkan Mia untuk keluar rumah.

__ADS_1


"Mia, tugas kamu adalah menjaga anak kembar kita. Jangan biarkan mereka stres," ucap Dion.


"Mia justru akan stres kalau Mia tidak bisa berbuat apa-apa saat Aa susah begini. A, Mia tidak yakin kalau meeting ini akan menghasilkan keputusan yang diharapkan. Tapi paling tidak, kesannya tidak terlalu buruk. Karena itu akan berakibat buruk juga kan pada perusahaan papa?" tanya Mia.


Dion diam. Mia benar. Jika tidak ada yang mewakilkannya, maka sudah dipastikan kalau nama baik perusahaan Tuan Wira akan buruk. Hal itu bisa merusak citra perusahaannya, dan tidak menutup kemungkinan akan berpengaruh pada produksi perusahaannya.


"Itu bukan urusan kamu Mi. Kamu tenang saja," ucap Dion.


"A, ayolah. Paling tidak kita sudah berusaha," ucap Mia.


"Papa juga sudah bilang biarkan saja. Semua itu memang konsekuensinya," Ucap Dion.


"Tapi selama masih ada kesempatan, kita masih bisa mencoba A." Mia masih terus membujuk Dion.


"Tidak Mia. Bukan hanya aku, tapi Papa dan Mama juga tidak akan setuju." Dion juga masih terus menolak.


"Memangnya Aa gak mau ya punya banyak waktu sama Mia? Bisa lebih sering jenguk bayi kembar. Apalagi kalau sudah hamil besar, katanya harus sering dijenguk. Kalau jarang dijenguk, takut pas lahir gak kenal sama bapaknya. Kan bahaya," ucap Mia.


Dion tersenyum saat mendengar ucapan Mia. Ia menggelengkan kepalanya.


Bisa-bisanya kamu membahas jenguk bayi kembar disaat genting begini, Mi.


"Keputusanku tidak akan berubah Mi," jawab Dion.


"Ya sudah," jawab Mia.


Setelah panggilan itu berakhir, Mia keluar kamar untuk melihat berkas yang pernah ia baca. Kepalanya berpikir untuk membujuk Tuan Wira dan Nyonya Helen.


Sempat berdebat alot saat Mia membujuk mertuanya, hingga akhirnya Mia nyaris menyerah.


"Padahal Mia cuma takut kalau sampai Papa bangkrut," ucap Mia.


"Husst, kamu ini kok malah nyumpahin sih. Bukannya doa yang baik-baik," ucap Tuan Wira.


Meskipun dalam hatinya ia sangat membenarkan ketakutan Mia. Ada perasaan yang sama dalam diri Tuan Wira. Namun tidak mungkin mereka mengiyakan keinginan Mia jika Dion saja tidak mengizinkannya.


"Bukan nyumpahin Pa. Tapi Mia hanya takut masa depan bayi kembar ini bagaimana?" tanya Mia.


Sebenarnya Mia terlalu berlebihan. Karena kalaupun sampai mengalami kerugian, tidak mungkin bayi kembar Mia sengasara. Masih sangat banyak harta yang dimiliki oleh Tuan Wira. Namun jika kerja sama itu bisa berlangsung, perusahannya akan jauh lebih maju dan berkembang. Tentu semua itu untuk masa depan bayi kembar yang ada dalam perut Mia.


Setelah berdebat kembali, akhirnya Mia menggabungkan panggilan itu. Setelah Mia tetap dengan keinginannya, ayah mertua dan suaminya sempat diam beberapa detik. Dengan beberapa pertimbangan akhirnya Mia akan diutus untuk jadi pewakilan perusahaan Tuan Wira.


Masih ada waktu untuk meeting. Mia sebenarnya tidak percaya diri, namun paling tidak Mia hanya ingin menyelamatkan nama baik perusahaan Tuan Wira.


Mia dikawal oleh empat orang bodyguard dan seorang pelayan yang selalu menemani Mia. Namun saat meeting, mereka semua menunggu di luar ruangan. Mia masuk sendiri dan cukup terkejut. Mia membutuhkan waktu untuk menguasai dirinya. Ia menarik nafas panjang dan membuat bibirnya tersenyum walaupun dirinya sedang tegang.


Rekan meetingnya mengerutkan dahi saat melihat kedatangan Mia. Orang yang ia tunggu ternyata seorang wanita hamil.


"Selamat datang! Silahkan duduk Nyonya," ucap pria bertubuh tinggi besar dengan jas hitammya itu.


Mia memperkenalkan diri sebagai perwakilan dari perusahaan Tuan Wira. Lalu duduk dan berusaha agar tetap tenang. Mia sangat panik saat melihat suasana meeting. Ia pikir meetingnya hanya dengan satu perusahaan saja. Nyatanya ini dihadiri oleh beberapa perusahaan besar, termasuk perusahaan Tuan Ferdinan.


Mia ikut menyimak saat melihat beberapa presentasi dari perwakilan perusahaan lain. Nampak sangat bagus dan Mia mendadak tidak percaya diri. Keringat dingin sudah mulai bercucuran. Mia menggenggam berkas yang ada ditangannya dengan erat. Meyakinkan dirinya sendiri kalau semuanya akan baik-baik saja.


"Silahkan Nyonya! Sekarang giliran Anda," ucap seseorang.


Mia mengangguk dan mulai menjelaskan apa yang ia kuasai dalam berkas itu. Semuanya hening. Mia bahkan sempat menatap raut wajah dari setiap orang yang menghadiri meeting itu secara bergantian.


Ia menelan ludahnya dan menghela nafas.


Papa, maafkan Mia. Mia hanya bisa memberikan semua ini. Semoga Papa tidak kecewa.


#################


Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.


Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍

__ADS_1


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


Terima kasih..


__ADS_2