Janda Bersegel

Janda Bersegel
Bikin lagi


__ADS_3

"Ma," panggil Dion.


Suasana di dalam mobil begitu hening Tidak satupun yang berani membuka mulut. Dion berusaha memecah keheningan, membuka percakapan yang entah akan seperti apa jadinya.


"Hemm," jawab Nyonya Helen.


Pandangannya tidak berpaling, masih fokus menatap jalanan yang dilalui lewat kaca. Dion menatap Mia. Ia mencari bantuan. Namun Mia menggeleng. Sepertinya Mia ciut. Sudah tidak ada lagi keberaniannya walau hanya sekedar menyapa.


"Maafin aku ya Ma. Aku tahu aku salah," ucap Dion untuk yang ke sekian kalinya.


"Hmmm," jawab Nyonya Helen.


Masih jelas terlihat raut kecewa dalam wajah Nyonya Helen. Melihat Dion gelisah, Mia tidak bisa diam. Ia mengumpulkan keberanian untuk mulai membuka mulutnya.


"Ma, Mia cuma gak mau Mama terus-terusan marah kalau ada Nyonya Nathalie ke rumah. Mia juga udah bilang sama Nyonya Nathalie buat gak nemuin Mia lagi di rumah," ucap Mia.


"Baguslah. Biar dia tahu rasa atas apa yang sudah dia lakukan sama Mia. Menyesal kan dia akhirnya?," ucap Nyonya Helen.


"Iya lah namanya juga penyesalan makanya di akhir, kalau di awal namanya pendaftaran. Hehe," ucap Dion mencoba mencairkan suasana.


"Hehe, terserah." Dengan tawa garing dan mengejek, Nyonya Helen membalas candaan Dion.


Meskipun masih belum merespon Dion sepenuhnya, tapi itu jauh lebih baik. Mia dan Dion masih merasa bersalah atas sikap Nyonya Helen yang menjadi dingin padanya.


"Ma, mama mau makan apa?" tanya Mia.


"Gak lapar," jawab Nyonya Helen.


"Kalau Mia yang masak, Mama mau makan gak?" tanya Mia.


"Mama gak lapar," jawab Nyonya Helen.


"Tapi Mama belum makan," ucap Mia.


"Memangnya kalau Mama belum makan kenapa?" tanya Nyonya Helen.


"Mia takut Mama sakit. Kalau Mama sakit, yang perhatian dan sayang sama Mia siapa?" ucap Mia.


"Kamu butuh Mama?" tanya Nyonya Helen.


"Tentu. Mama tentu butuh Mama," ucap Mia.


"Makasih ya Mi," ucap Nyonya Helen.


Pelukan hangat nan erat dari Nyonya Helen mendarat di tubuh Mia yang masih mengembang. Wajahnya kini sudah kembali tersenyum meskipun masih ada air mata di pipinya.


"Ma, maafin Mia ya!" ucap Mia.


Tangan Mia menyentuh pipi Nyonya Helen dan mengusap pipi ibu mertuanya itu.


"Mungkin Mama terlalu mengekang kehidupanmu Mia, tapi semua Mama lakukan karena Mama sayang sama kamu. Mama takut kehilangan kamu," ucap Nyonya Helen.


"Mia gak pernah merasa dikekang. Mia juga tahu maksud Mama seperti apa. Mia juga melakukan semua ini karena Mia sayang sama Mama. Maafkan Mia kalau masa lalu Mia membuat Mama gak nyaman," ucap Mia.


"Mama egois. Padahal setiap orang punya masa lalu, tidak terkecuali Mama. Tapi entah kenapa Mama takut saat masa lalumu seolah ingin merampasmu dari Mama. Mama takut kebahagiaan Mama hilang," ucap Nyonya Helen.


"Ma, Mia gak mungkin ninggalin Mama. Ada Narendra dan Naura antara aku sama keluarga Mama. Kita sudah menjadi satu karena mereka. Seandainya Mia atau A Dion berfikir buruk, maka kita harus siap dampak buruk itu akan dirasakan oleh Narendra dan Naura. Dan kita gak mungkin siap Ma," ucap Mia.


"Iya. Kamu harus ingat itu Mia. Selalu ingat Narendra dan Naura kalau sampai ada hal yang sekiranya mengganggu rumah tangga kalian. Ingat Mia, pernikahan itu tidak melulu soal bahagia, garam dan duri kadang menjadi bumbu di dalamnya. Tergantung bagaimana kita menyikapi semua itu dengan pasangan," ucap Nyonya Helen.


"Iya Ma. Mia akan selalu ingat itu dan belajar untuk menjadi istri, ibu, dan menantu yang baik untuk kalian semua." Mia menggenggam erat tangan Nyonya Helen.


"No. Jangan bilang menantu. Kamu anak Mama. Kamu sama seperti Dion. Kamu akan mendapat hak yang tidak berbeda sedikitpun dengan Dion. Kamu anak Mama sayang," ucap Nyonya Helen.


"Mamaaaaa," ucap Mia penuh haru.


Cekiiiit,


"Aw," teriak Nyonya Helen dan Mia bersamaan.


Mereka berdua yang sedang bicara dari hati ke hari dibuat terkejut saat mobil yang dikemudikan Dion berhenti tiba-tiba.


"Dion kamu kalau bawa mobil yang bener dong. Ada apa sih?" tanya Nyonya Helen.


"Ini juga udah bener Ma. Ya kalau udah sampai aku rem dong. Masa iya aku gas terus. Mau kemana kita?" ucap Dion.


"Udah sampai?" tanya Nyonya Helen tidak percaya.


Nyonya Helen dan Mia yang bicara dari hati ke hati merasa kalau waktu terasa sangat cepat. Mereka bahkan tidak sasar kalau ternyata mobil sudah terparkir di depan rumah.


"Iya. Kalau masih mau dilanjut ya terserah. Aku turun duluan," ucap Dion kesal.


Nyonya Helen mengajak Mia untuk segera keluar dari mobil. Entah langkah Dion yang terlalu cepat atau justru Nyonya Helen dan Mia yang terlalu lelet, mereka sudah tidak menemukan sosok Dion.


"Bujuk suami kamu yang manja itu. Bilangin, jangan gampang marah, nanti cepat tua." Nyonya Helen menepuk bahu Mia lalu meninggalkannya ke kamar.


Mia menarik nafas dan menggelengkan kepalanya.


Tuhaaaan, tadi emaknya, sekarang anaknya. Kenapa mereka begitu kompak? Baru aja Mia berhasil ngebujuk Mama, sekarang suami sendiri yang marah.


"A," panggil Mia saat membuka pintu kamarnya.


Dion tidak terlihat, namun suara gemericik air sudah menjawab pertanyaannya atas keberadaan Dion. Mia menunggu Dion keluar dari dalam kamar mandi, sembari memijat kepalanya. Ia juga masih berfikir tentang cara untuk membujuk Dion agar tidak marah lagi padanya.


"A," panggil Mia lagi saat melihat Dion keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Apa?" tanya Dion.


Terkesan dingin, karena saat menjawab pertanyaan Mia, Dion tampak sudah fokus pada layar ponselnya.


"Jangan marah dong A. Mia itu cape. Baru aja Mia bahagia karena Mama udah gak ngambek lagi, eh sekarang malah Aa yang ngambek. Aa itu kenapa sih? Kalau kesel sama Mia ya Aa bilang dong. Biar Mia ngerti. Jangan begini, Mia kan jadi bingung sendiri." omelan Mia mengimbangi kecepatan 120 kilometer per jam.


Dion yang mendengar omelan Mia mengangkat wajahnya yang fokus ada layar ponsel itu. Menatap istrinya yang nampak cemberut dengan nafas memburu.


"Kamu kenapa?" tanya Dion dengan dinginnya.


Kenapa? Dia tanya kenapa? Mia gak yakin kalau A Dion sehat.


"Aa kenapa? Kok malah tanya sama Mia sih?" tanya Mia.


"Aku gak kenapa-kenapa. Kamu yang tiba-tiba masuk terus ngomel. Ada apa? Kamu kenapa? Kamu sehat kan, Mi?" tanya Dion sembari menggelengkan kepalanya.


"Aa," teriak Mia.


"Kamu kenapa Mi?" tanya Dion masih dengan wajah tak berdosa.


"Ah, Aa bikin kesel. Mia cape," ucap Mia.


Mia masuk ke dalam kamar mandi dan mengganti bajunya. Saat ia keluar dari kamar mandi, Dion masoh sibuk dengan ponselnya. Mia berjalan dengan hentakan kaki yang kuat. Berharap Dion membujuknya agar tidak marah. Namun Dion hanya menatap Mia sebentar, menggelengkan kepala dan kembali ke layar ponselnya.


Nyebeliiin.


Mia berbaring dan membelakangi Dion. Masih berharap kalau Dion membujuknya dan meminta maaf. Namun ia malah mendengar suara pintu yang terbuka lalu tertutup kembali.


Apakah itu Mama?


Batin Mia menduga. Namun sampai saat ini hening. Perlahan Mia membalikkan badannya dan betapa terkejutnya Mia, saat tahu kalau Dion justru pergi meninggalkannya.


"Aa kamu kenapa? Udah jadi bapak-bapak kok malah makin nyebelin sih?" gerutu Mia.


Mia menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Ia turun dari ranjangnya dan keluar. Saat marah dan kesal seperti ini, Narendra dan Naura adalah obat yang paling mujarab.


"Mereka tidur?" tanya Mia pada kedua perawat yang sedang bermain ponsel.


"Eh iya Nyonya," jawab salah satu perawat.


Kedua perawat itu salah tingkah saat kepergok bermain ponsel. Mereka segera memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya dan menunduk serta meminta maaf.


"Kalian gak perlu minta maaf. Kalian boleh kok memainkan ponsel kalian kalau Narendra dan Naura sedang tidur. Tapi jangan sampai kalian lengah saat mereka bangun. Mengerti?" tanya Mia.


"Iya Nyonya, kami mengerti. Terima kasih," ucap salah satu perawat itu. Sedangkan perawat yang lain ikut menunduk hormat dan tersenyum pada Mia.


Mia mengangguk dan tersenyum pada mereka. Terlihat sangat ramah dan membuat perawatnya malu sendiri dengan sikap Mia yang sangat baik.


Mia melihat box bayi Narendra. Mengusap pipi anaknya yang semakin gembil. Senyumnya mengembang.


"Bujangan Mama," ucap Mia penuh rasa bahagia.


"Gadis Mama," ucap Mia dengan senyum yang menghiasi bibirnya.


Mia bersandar pada tembok dan melamun. Secara tak sadar ia mengucapkan apa yang ada di kepalanya.


"Andai Papa kalian melihat tenangnya kalian saat tidur Nak," ucap Mia.


"Nyonya, tadi Tuan dari sini." Salah satu perawat itu berhasil membuyarkan lamunan Mia.


"Apa?" tanya Mia tidak percaya.


"Tuan Dion dari sini. Beliau melakukan persis dengan apa yang sudah Nyonya lakukan," jawab salah satu perawat itu.


Mia diam. Benarkah? Pertanyaan seperti itu mungkin yang ada di kepala Mia.


"Terima kasih," ucap Mia.


Dengan cepat Mia keluar dan mencari Dion. Tidak terfikir dalam kepala Mia kalau saat ini Dion sedang menatap layar laptop dengan sebuah berkas yang terbuka di sampingnya. Ponselnya yang tergeletak di atas meja terhubung dengan earphone bluetooth yang terpasang di telinganya.


Saat melihat kehadiran Mia, Dion mengangkat tangannya. Seolah dia sedang berkata, tunggu sebentar. Mia yang mengerti dengan kode itu langsung mengangguk dan duduk di depan Dion. Mengamati Dion yang masih berbincang dan sesekali mengetik sesuatu pada laptopnya.


"Ada apa Mi?" tanya Dion saat sudah mengakhiri panggilannya.


"Aa ngapain?" tanya Mia.


"Kerja. Memangnya kenapa?" tanya Dion.


"Kerja?" tanya Mia.


Dion mengerti dengan pertanyaan Mia. Bukan tidak percaya, tapi Mia menuntut tentang penjelasannya tentang jawaban Dion.


"Tadi aku hampir mengecewakan partner aku karena ada meeting dadakan pas kita di rumah sakit. Untungnya lagi-lagi Reza yang nyelametin aku," ucap Dion.


Mia tidak percaya kalau ternyata selama Dion menggunakan ponselnya, ia sedang memantau pekerjaannya yang Reza kirimkan. Mia merasa bersalah karena gagal mengerti keadaan suaminya sendiri.


"Maafin Mia ya A," ucap Mia.


"Kamu gak salah. Kamu istirahat aja. Aku gak mau kamu banyak fikiran. Tugas kamu fokus sama Narendra sama Naura aja ya! Biar urusan kerjaan sepenuhnya tanggung jawab aku," Ucap Dion.


"Jadi Aa gak marah sama Mia?" tanya Mia.


"Gak dong. Memangnya aku marah kenapa coba?" tanya Dion.


"Tadi buktinya Aa pergi gitu aja ninggalin Mia," jawab Mia.

__ADS_1


"Ya ampun Mi, tadi aku tuh mules. Kalau aku nunggu kamu keluar sama Mama, keburu keluar di celana dong Mi." Dion menjelaskan semua yang terjadi padanya.


"Jadi bukan karena marah sama Mia?" tanya Mia.


"Bukan," ucap Dion meraih tangan Mia dan menggenggamnya.


"Terus kenapa gak jelasin sama Mia?" tanya Mia.


"Gimana aku mau jelasin sama kamu Mi? Kamu ngomongnya ngebut banget. Udah melebihi kecepatan motor matic keluaran terbaru. Kalau aku paksain, keserempet aku." ucap Dion.


"Hahaha," Mia tertawa geli mendengar jawaban Dion.


"Kenapa ketawa? Lucunya dimana?" tanya Mia.


"Gak, lucu aja dengar jawaban Aa. A, kalau Mia masih ngomong dengan kecepatan tinggi, Aa masih bisa tenang. Tapi kalau Mia udah diam seribu bahasa, baru Aa harus khawatir." ucap Mia.


Iya memang selama menikah, kebiasaan marah Mia memang seperti itu. Jadi Dion tidak merasa aneh dengan sikap Mia. Hanya perlu sabar dan menunggu waktu, nanti juga Mia kembali normal lagi.


Laksana magnet rejeki, setelah kelahiran bayi kembarnya, Dion mengakui kalau rejekinya terus mengalir. Ada saja proyek yang ingin bekerja sama dengannya. Semua rencana pekerjaannya berjalan dengan lancar. Ada saja orang yang membantunya, termasuk Reza.


"Besok aku mau bahas pekerjaan di Surabaya itu sama Reza, Mi. Menurut kamu gimana?" tanya Dion.


Bukan karena Mia cerdas, tapi karena Dion menganggap Mia adalah seorang partner. Ia kana selalu bicara dengan Mia dan meminta saran istrinya untuk setiap keputusannya. Dion tidak hanya menganggap Mia sebagai istri, sebagai wanita yang pekerjaannya hanya mengurus anak dan urusan rumah tangga. Mia sebagai istrinya berhak tahu apa yang terjadi pada pekerjaannya.


"Menurut Mia sih Aa harus bicara di depan Maya. Ya paling tidak Maya bisa memberikan dukungan untuk Reza. Gimana kalau pulang kerja Aa ke rumah Reza dulu?" tanya Mia.


"Gitu ya Mi?" tanya Dion.


Mia menjelaskan alasannya. Reza bisa saja menolak permintaan Dion karena satu dan hal lain. Salah satunya Reza mungkin tidak mau meninggalkan Jakarta. Apalagi setelah saat itu keluarganya sempat menemui Reza dan Maya di rumah sakit. Bisa jadi Reza memang memilih Maya tapi ia juga tidak ingin jauh dari keluarganya.


Sesuai saran Mia, Dion menemui Reza di rumahnya. Menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan. Mia memang benar. Reza menolaknya. Beruntunglah Dion menemuinya di rumahnya. Maya memang membantu Dion untuk membujuk Reza.


"Di, memangnya kamu gak bisa ngasih aku kerjaan di sini? Ku gak yakin sama kinerja aku ya?" tanya Reza.


"Gak. Bukan gitu Za," sangkal Dion.


"Terus kenapa kamu gak ngasih aku kesempatan di sini?" tanya Reza.


"Za, justru karena aku yakin kalau kamu bisa makanya aku minta kamu ke Surabaya. Banyak proyek baru yang harus dituntaskan di sana. Sementara, gak ada orang yang cocok. Kamu tahu sendiri orang kepercayaan Papa meninggal," ucap Dion.


"Ah, entahlah. Aku bingung," jawab Reza.


Dion melihat ke arah Maya yang duduk di samping Reza sejak tadi. Dion berharap kalau apa yang Mia ucapkan bisa menjadi doa. Dan tenryata benar, Maya mulai membujuk Reza.


"Mas, yang pertama anggap ini sebagai cara kita berterima kasih pada Mas Dion. Kedua, ini kesempatan Mas untuk nunjukkin kalau Mas itu memang mampu berdiri di atas kaki sendiri. Ketiga, setelah Mas berhasil, kita akan kembali ke keluarga Mas. Kita akan membuktikan kalau kita bisa sukses dan mandiri. Keluarga Mas pasti akan bangga dan mudah menerima Mas kembali. Karena Mas bisa membuktikan, meskipun saat itu Mas memilih aku tapi aku bisa membuat Mas bertahan bahkan berkembang," ucap Maya panjang lebar.


Reza belum mengambil keputusan. Ia masih ragu dengan jawabannya sendiri. Akhirnya Dion memberinya waktu untuk bisa mengambil keputusan itu dengan kepala dingin.


"Ya sudah kalau kamu belum yakin dengan jawaban kamu, aku pulang dulu. Aku tunggu jawaban bahagia dari kamu, Za." Dion pamit pada Reza dan Maya bergantian.


Dion pulang dengan perasaan gelisah. Ia khawatir jika seandainya Maya tidak berhasil membujuk Reza. Kepalanya mulai berputar mencari orang yang akan siap ditugaskan ke Surabaya. Tapi sampai saat ini, kepala Dion buntu. Ia tidak bisa berfikir lagi. Belum ada yang tepat selain Reza saat ini.


"Gimana?" tanya Mia.


"Masih nunggu. Kayakny Reza memang ragu. Bener kata kamu itu, Mi." ucap Dion.


Mia segera memberikan segelas air minum agar Dion tidak terlalu gelisah dengan jawaban Reza.


"Makasih ya Mi," ucap Dion.


Dion meneguk air yang ada pada gelas itu hingga kandas dan memberikan kembali gelasnya pada Mia.


"Sama-sama. Udah aa tenang aja. Jangan banyak fikiran. Yakin aja kalau niat kita baik. Masalah hasilnya biar Tuhan yang atur. Jadi Aa bahagia ya!" ucap Mia.


"Tapi kalau Reza gak mau, sepertinya aku harus kembali ke Surabaya. Biar aku yang bolak balik Jakarta buat proyek barunya. Kasihan kalau harus Papa yang ngurus perusahaan di Surabaya," ucap Dion.


"Ya sudah nanti kita semua pindah ke Surabaya ya!" ucap Mia.


"Mana bisa?" tanya Dion.


"Kok mana bisa? Ya bisa lah," jawab Mia.


"Mama dan Papa pasti gak izinin Narendra sama Naura dibawa pergi dari rumah ini," ucap Dion.


"Ya sudah kalau gitu Narendra sama Naura di sini aja. Biar nanti kita bikin lagi di sana," jawab Mia.


"Bikin lagi, kamu fikir cilok," ucap Dion.


Mia tertawa. Tak lama Dion juga ikut tertawa dengan jawaban Mia.


"Kamu memang selalu bisa bikin aku bahagia Mi," ucap Dion.


"Masih ada yang paling mujarab," ucap Mia.


Mia menarik tangan Dion dan membawanya ke kamar Narendra dan Naura. Kadar semangat Dion memang langsung naik berkali-kali lipat saat melihat kedua bayi kembarnya tersenyum padanya.


"Mereka yang akan selalu setia mendukung Aa dan pasti selalu menjadi sumber kebahagiaan Aa. Makanya Aa tetap semangat. Ada mereka di sini," ucap Mia.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..

__ADS_1


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


__ADS_2