
Suasana di rumah itu terasa sangat hangat dan dipenuhi rasa bahagia. Tidak hanya Nyonya Helen dan Tuan Wira yang merasa bahagia atas kehamilan Mia, semua yang Bekerja di rumah itu juga turut bahagia. Mia yang menganggap mereka saudara, membuat yang bekerja di rumah itu merasa sangat betah dan sangat nyaman dengan kehadiran Mia.
Ucapan selamat terucap dari semua yang mengetahui kabar gembira ini. Termasuk Sindi, Dokter Leoni dan Kalin. Mia rupanya mengabari mereka dan memberi tahu kabar bahagia ini. Bagi Mia, kabar bahagia ini juga harus dirasakan oleh semua sahabatnya. Orang-orang yang selama ini menyayanginya, berhak tahu kabar bahagia ini.
"Mia, kamu sibuk sekali dengan ponselmu." Tuan Wira menatap Mia dengan sorot tidak suka.
"Mia mengabari teman-teman Mia pa," jawab Mia.
"Tapi ini sudah malam, kamu harus istirahat. Cucuku harus istirahat. Besok siang, aku tidak akan melarangmu untuk memainkan ponsel sesukamu," ucap Tuan Wira.
"Ba-baik pa," jawab Mia dengan gugup.
Melihat raut wajah Mia yang ketakutan dan tegang, membuat Tuan Wira tidak enak sendiri dengan ucapannya.
"Mia," panggil Tuan Wira.
"Iya," jawab Mia.
"Apa kamu marah sama papa?" tanya Tuan Wira.
"Marah kenapa?" tanya Mia.
"Ya, papa merasa mungkin sikap paa keterlaluan sama kamu. Tapi kamu harus tahu kalau apa yang papa lakukan untuk kebaikanmu juga. Papa ingin yang terbaik untuk kamu dan kehamilanmu. Maafkan jika setelah tahu kamu hamil, mungkin kami akan lebih protektif padamu. Semua kami lakukan karena kami sayang sama kamu," ucap Tuan Wira.
Ya, Mia merasa sangat tidak enak dengan ucapan dari ayah mertuanya itu. Namun setelah Tuan Wira menjelaskan alasannya, itu semua membuat Mia mengerti. Mungkin ini belum seberapa. Mia harus siap dengan banyak sekali larangan dan aturan baru. Apalagi jika nanti kehamilannya semakin membesar.
"Mia harusnya berterima kasih untuk semua perhatian papa. Maafkan Mia jika Mia belum terbiasa dengan kasih sayang dari papa," ucap Mia.
Mata Mia berlinang. Berusaha menahan air matanya agar tidak membasahi pipinya. Namun ia gagal. Bulir bening itu berjatuhan hingga membentuk aliran di pipinya.
"Kamu kenapa?" tanya Tuan Wira.
"Pa, apa yang papa lakukan pada Mia?" tanya Nyonya Helen saat keluar dari kamarnya dan melihat Mia sedang menangis.
"Gak begitu ma. Papa juga gak tahu kenapa Mia bisa nangis gitu. Ini Papa baru nanya sama Mia," jawab Tuan Wira panik.
"Gak ma. Bukan karena papa. Mia nangis karena Mia terharu," jawab Mia sambil mengusap pipinya yang sudah banjir dengan air mata.
Nyonya Helen segera mendekati Mia dan memeluknya. Mengusap kepala dan punggungnya. Berusaha menenangkan Mia. Kalau ada Nyonya Helen yang siap melindungi Mia.
"Ma, makasih ya!" ucap Mia disela isak tangisnya.
"Kamu kenapa Mia? Kamu jangan banyak menangis. Kasihan nanti bayi kamu juga ikutan sedih loh," ucap Nyonya Helen.
"Hey, ada apa ini?" tanya Dion panik saat melihat Mia.
Belum sempat ada yang menjawab, Dion menarik Mia dari pelukan Nyonya Helen.
"Kamu kenapa? Apa yang sakit? Ini, ini, atau ini?" tanya Dion menunjuk kepala, perut dan tangan Mia.
"Gak mas. Mia gak apa-apa. Mia hanya terharu saja," ucap Mia.
Menyadari semuanya panik, Mia berusaha menenangkan dirinya. Perlahan menghentikan tangisnya dan mulai menjelaskan alasan tangisannya.
Mia merasa terharu dengan perhatian Tuan Wira. Bagi Mia, Tuan Wira adalah sosok ayah yang sangat penyayang dan perhatian. Mungkin karena Mia sedang hamil, Mia jadi sensitif. Perlakuan Tuan Wira yang begitu perhatian, membuatnya mengingat Baskoro. Ayahnya yang tidak pernah memberikan sedikitpun perhatian padanya.
"Ya ampun Mia, tutup semua cerita buruk di masa lalumu. Kami ini keluarga kamu yang baru. Ada papa yang siap. menggantikan peran si baskom itu," ucap Tuan Wira.
"Baskoro pa, bukan baskom." Nyonya Helen tertawa saat mendengar kata baskom yang keluar dari mulut suaminya.
Mia dan Dion juga jadi ikut tertawa. Akhirnya mereka semua tertawa.
"Maaf, ya Mia. Mama tidak bermaksud mengejek ayahmu," ucap Nyonya Helen.
"Tidak apa-apa ma," jawab Mia.
Tuan Wira melirik jam di pergelangan tangannya.
"Sudah malam. Ayo istirahat dulu! Besok kita lanjutkan lagi ya ngobrolnya," ucap Tuan Wira.
Wadooooh. Harap-harap cemas aku. Apa mungkin papa juga mau tidur di kamarku? Jangan sampai. Papa kan kalau tidur ngoroknya kenceng banget. Bisa begadang aku.
"Ayo sayang," ajak Dion merangkul bahu Mia. "Aku sama Mia tidur duluan ya. Selamat tidur, ma, pa," lanjut Dion.
Semoga ini berhasil Tuhan. Jangan sampai ada kesematan mama dan papa tidur di kamar. Pokoknya jangan.
"Mau kemana pa?" tanya Dion saat melihat Tuan Wira dan Nyonya Helen mengikuti Dion dan Mia.
"Mau tidur," jawab Tuan Wira.
"Kamar mama sama papa itu di sebelah sana," tunjuk Dion pada sebuah kamar yang tidak terlalu jauh dari kamarnya.
"Loh, kamu kok pilih kasih sih sama papa?" tanya Tuan Wira.
__ADS_1
"Pilih kasih apa sih pa?" tanya Dion yang sudah mulai kesal.
"Mama kemarin malam dibolehin tidur sama kamu. Masa papa gak boleh sih?" protes Tuan Wira.
Tuhaaaaan, bagaimana ini?
"Pa, kalau kita tidur berempat, bisa ambruk ranjang aku. Papa mau Mia celaka?" tanya Dion.
"Ya jangan dong. Lagian memangnya kamu beli kasur murah ya? Kok bisa ambruk," ucap Tuan Wira.
Astagaaa, sabar Dion.
"Pa, semahal apapun kita beli tapi kan ada kapasitas maksimalnya," jawab Dion.
Mia hanya bisa menahan tawanya. Mia tidak menyangka, sesayang itu Tuan Wira padanya. Ia benar-benar menganggap dan menyayangi Mia layaknya anak sendiri.
"Ya sudah kalau begitu papa tidur di sofa deh gak apa-apa. Asal papa tidur di kamar kamu deh," bujuk Tuan Wira.
Ya ampun Pa. Sampai segitunya papa ingin tidur dengan calon cucu papa. Mia benar-benar terharu.
"Tapi kan papa kalau ngorok keras banget. Berisik pa. Kalau Mia gak bisa tidur, nanti Mia pusing lagi, dirawat lagi. Papa mau?" ancam Dion.
Nyonya Helen dan Mia hanya bisa menahan tawanya.
"Tapi kalau mama gak masalah kan, sayang? Mama kan gak ngorok," ucap Nyonya Helen.
"Mas, jangan begitu. Papa sama mama boleh kok tidur di sini. Gak apa-apa, Mia bisa tidur walaupun papa ngorok. Tenang saja mas," ucap Mia.
"Tuh kan. Kamu dengar sendiri kan Dion?" ucap Tuan Wira dengan sangat senang. "Permisi papa mau masuk ah. Ayo ma!" lanjut Tuan Wira.
Miaaaa, kamu kenapa sih? Kamu gak tahu aja gimana kerasnya suara ngorok papa. Ah, aku kan jadi gak bisa meluk kamu Mi. Masa iya aku harus tidur meluk kamu di depan kedua orang tuaku?
"Ya sudah deh terserah," jawab Dion pasrah.
Mereka berempat sudah ada di dalam kamar yang sama. Dion segera mengambil posisi, takut kalau tiba-tiba Tuan Wira naik ke atas ranjang. Dion, Mia dan Nyonya Helen tidur di atas ranjang, sedangkan Tuan Wira sesuai perjanjian tidur di atas sofa kamar.
Mia beberapa kali melihat ke arah sofa. Memastikan kalau Tuan Wira tidur nyenyak meskipun di atas sofa. Bagaimana Mia tidak terharu dengan pengorbanan Tuan Wira. Ditengah kesibukannya, Tuan Wira masih menyempatkan untuk menyusulnya ke Surabaya. Hal itu karena Tuan Wira cemas dengan keadaan Mia. Namun bahagia saat tahu Mia hamil. Hingga membuat Tuan Wira menyusul Nyonya Helen ke Surabaya.
Sekarang, demi tidur bersama calon cucunya Tuan Wira hingga rela tidur di atas sofa. Padahal Mia tahu bagaimana kayaknya seorang Tuan Wira. Mana mungkin Tuan Wira mau tidur di atas sofa kalau bukan demi calon cucunya.
Saat mulai mendengar dengkuran Tuan Wira, Mia baru bisa tidur. Karena Mia yakin kalau ayah mertuanya itu sudah bisa tidur nyenyak. Mungkin karena lelah perjalanan hingga membuat Tuan Wira tidur nyenyak meski di atas sofa.
Berbeda dengan Mia yang tidur saat sudah mendengar dengkuran Tuan Wira, Dion justru terbangun saat dengkuran itu makin lama makin keras.
Dion sudah menutup telinganya, namun Dion benar-benar tidak bis tidur. Melihat Mia dan Nyonya Helen tidur nyenyak walaupun diiringi suara dengkuran Tuan Wira, Dion hanya menggelengkan kepalanya.
Kalian ini manusia super. Hebat sekali. Mia, terima kasih ya sudah bisa tidur nyenyak. Tapi maaf, malam ini aku tidak menemanimu tidur. Aku mau pindah kamar saja. Nanti kalau mama dan papa sudah kembali ke Jakarta, aku janji tidak akan meninggalkanmu begini. Maaf ya sayang. Semua gara-gara papa sih.
Dion mencium dahi Mia sebelum akhirnya ia benar-benar pindah kamar.
Paginya, Mia bangun lebih pagi dari Nyonya Helen dan Tuan Wira. Mia terkejut saat tidak mendapati Dion di sampingnya. Mia bangun dan membuka kamar mandi. Tidak ada. Mia keluar dari kamarnya dan mencari Dion. Dengan menahan tawanya, Mia mendekati Dion saat menemukannya di kamar tamu.
Mas, kamu gak bisa tidur ya? Maaf ya, bukannya aku bela papa. Tapi aku gak tega lihat papa kecewa karena tidak bisa tidur bersama kita.
Saat mengusap kepala Dion, suaminya itu hanya sedikit bergerak lalu tidur kembali dengan nyenyak. Mia tidak ingin mengganggu suaminya, hingga ia keluar dari kamar tamu.
Meminta mba untuk membuatkan segelas susu hangat. Duduk di meja makan dengan memainkan ponselnya sambil menikmati segelas susu.
"Mia, kamu kok ninggalin mama sih?" tanya Nyonya Helen.
"Maaf ma, tapi Mia merasa lapar." Mia mencoba menutupi kenyataannya.
Untung saja ada segelas susu di hadapannya, hingga Nyonya Helen lebih mudah untuk percaya kata-kata Mia.
"Mana Dion?" tanya Nyonya Helen.
"Mas Dion tidur lagi di kamar tamu ma. Gak enak katanya kalau tidur bertiga sama mama dan papa," jawab Mia.
Maaf ya Ma, Mia bohong. Mia gak mau papa dan mama sakit hati dengan sikap mas Dion.
"Halah, jangan bohong kamu. Dion pindah pasti gak bisa tidur karena suara ngorok papa yang menggelegar itu. Kamu jangan bohong Mia, mama sudah tahu Dion seperti apa." Nyonya Helen meninggalkan Mia dan melihat Dion di kamar tamu.
Oh iya, Mia lupa kalau Mama jauh lebih tahu tentang mas Dion dibanding Mia.
Dion, Mia dan Nyonya Helen sudah duduk di ruang makan. Namun Tuan Wira masih belum bangun.
"Ma, gak nunggu papa dulu sarapannya?" tanya Mia.
"Papa gak tahu bangun jam berapa. Lagian mau dibangunin juga kasihan. Papa pasti cape banget," jawab Nyonya Helen.
"Ya ampun, papa ditinggal sendirian." Tuan Wira muncul saat ketiganya sedang sarapan.
"Ayo pa, duduk. Sarapan bareng," ucap Mia.
__ADS_1
Dengan wajah cemberut, Tuan Wira langsung luluh dan ikut bergabung untuk sarapan.
Siang ini Tuan Wira dan Nyonya Helen akan kembali ke Jakarta. Drama yang cukup heboh saat Tuan Wira harus membujuk Nyonya Helen agar ikut kembali ke Jakarta. Dengan pelukan erat sebagai salam perpisahan, Nyonya Helen akhirnya ikut dengan Tuan Wira.
Baru sampai di Jakarta, hal pertama yang dilakukan oleh Nyonya Helen adalah menelepon Mia. Memastikan kalau Mia dan calon cucunya baik-baik saja.
Merasa kesepian di rumah karena tidak ada Mia, Nyonya Helen izin pada Tuan Wira untuk ke mall. Mungkin shopping adalah jalan untuk menghilangkan rasa kesepian Nyonya Helen.
Semua ekspektasi Nyonya Helen untuk menghilangkan rasa kesepian di mall, ternyata salah besar. Karena Nyonya Nathalie juga sedang menghabiskan waktunya di mall yang sama.
Melihat keberadaan Nyonya Nathalie, Nyonya Helen segera memutar arah. Ia lebih baik pindah mall saja dari pada harus berdebat dengan Nyonya Nathalie. Namun sayangnya Nyonya Nathalie mengejar Nyonya Helen dan mulai membuat kisruh.
"Mau kemana? Kok kabur?" tanya Nyonya Nathalie.
"Mau cari mall lain," jawab Nyonya Helen.
"Kenapa? Insecure ya ketemu sama aku?" ejek Nyonya Helen.
"Iya, aku insecure. Takut kalau menantu kesayanganku di ambil lagi sama kamu," jawab Nyonya Helen.
"Dih, mana mau aku? Aku itu bukan pemulung kayak kamu, jeng. Mana sekarang menantu kesayanganmu itu? Kok gak nemenin? Pasti dia males ya?" tanya Nyonya Nathalie.
"Sembarangan. Menantu kesayanganku itu lagi di Surabaya," jawab Nyonya Helen.
"Tuuuh, kan. Aku udah duga. Dia pasti mau senang-senang aja. Mau menikmati duit kamu, jeng. Mana mau dia nemenin mertuanya? Menantu macam apa itu?" tanya Nyonya Nathalie.
"Aduh jeng, jangan menerka-nerka deh ya. Menantuku itu sedang menemani dan melayani suaminya di perusahaan cabang. Lagi pula sekarang dia sedang hamil, jadi aku gak kasih izin untuk kembali ke Jakarta dulu. Takut ketemu mantan mertuanya yang sengklek ini," ucap Nyonya Helen.
Hamil? Mia hamil? Jadi semua tentang Danu itu benar? Tidak mungkin. Mia yang mandul, bukan Danu. Danu baik-baik saja. Mia yang mandul titik.
"Kenapa bengong? Kaget ya? Anak kamu masih betah ada jadi duda. Gak laku lagi ya?" ejek Nyonya Helen.
"Jangan sembarangan ya! Anakku mau nikah sebentar lagi," jawab Nyonya Nathalie.
"Ah dari dulu juga mau nikah tapi gak jadi-jadi. Cuma hayalan kamu aja kan? Tanyain sama anaknya, mungkin belum bisa move on dari Mia. Tapi maaf gitu ya, Mia sudah hamil. Gak bisa diambil lagi. Daaaah," ucap Nyonya Helen sambil tersenyum puas.
Kalah kan kamu? Sudah aku bilang jangan macam-macam sama aku.
"Hey, mau kemana kamu? Kok kabur?" teriak Nyonya Nathalie.
Kurang ajaaaaar. Danu, mami gak mau tahu pokoknya kamu harus menikah secepatnya. Mami gak mau tahu. Mia hamil? Kamu juga harus buktikan kalau kamu bisa punya anak dan hidup bahagia dengan istri barumu. Mami gak bisa biarin kamu berlama-lama jadi duda. Kamu harus menikah.
Nyonya Nathalie keluar dari mall dengan wajah kusut. Rasanya tidak terima dengan semua kenyataan yang sudah diucapkan oleh Nyonya Nathalie.
Kantor. Nyonya Nathalie tidak pulang ke rumah. Ia lebih memilih kantor dari pada rumah.
"Danuuuu," teriak Nyonya Nathalie setelah sampai ke kantor suaminya.
"Mami, ada apa?" tanya Tuan Ferdinan yang panik dengan teriakan istrinya yang datang tiba-tiba.
"Mana Danu pi? Mana Danu?" tanya Nyonya Nathalie.
"Danu sedang keluar sebentar Ada urusan. Mami ada apa? Kenapa cari Danu? Pakai acara teriak-teriak segala. Ayo masuk! Malu," ucap Tuan Ferdian menarik tangan Nyonya Nathalie masuk ke dalam ruangannya.
"Pi, Mami gak mau tahu pokoknya Danu harus menikah lagi titik," ucap Nyonya Natahlie.
"Mami kesambet setan apaaan sih ini siang-siang begini? Apa papi harus panggil ustadz biar mami di ruqiyah?" ucap Tuan Ferdinan.
"Papiiiii," teriak Nyonya Nathalie.
Ampuuuun. Baru saja kepala ini dingin. Sekarang sudah panas lagi. Mana kamera? Aku mau lambaikan tangan aja ke kamera. Nyerah aku.
"Papi kok diam saja?" tanya Nyonya Nathalie.
"Telepon. Suruh ke sini sekarang," pinta Nyonya Nathalie.
"Ustadznya? Mami mau di ruqiah di sini? Nanti saja di rumah. Malu kalau di sini," ucap Tuan Wira.
"Papiiiii, panggil Danu bukan panggil ustadz ih. Kesel deh," ucap Nyonya Nathalie.
Mami kesel? Mami pikir papi senang? Bahagia? Happy? Papi pusing. Suruh siapa gak jelas. Orang lagi bahas ustadz buat ruqiah tiba-tiba suruh telepon Danu.
#################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..
__ADS_1