Janda Bersegel

Janda Bersegel
Cemburu


__ADS_3

Mia terperanjat saat melihat jam sudah pukul 7 pagi. Belum pernah Mia bangun sesiang ini. Kantor masuk jam 8, sedangkan perjalanan kost ke kantor 30 menit. Masuh ada waktu 30 menit. Mia segera bergegas untuk mandi dan bersiap. Beruntung Mia yang belum pandai bermake up, hingga Mia hanya butuh waktu 15 menit saja untuk bersiap. Mia menyambar roti yang ada di kamarnya. Sambil menyiapkan barang yang akan dibawanya ke kantor, Mia memakan roti itu untuk mengganjal perutnya pagi ini. Setelah selesai dan memastikan tidak ada barang yang ketinggalan, Mia segera berangkat ke kantor.


Seperti biasa, motornya sudah terparkir di tempat biasa. Pemandangan seram nampak di depan mata. Kali ini, Tuan Besar datang lebih dulu dari Mia. Dengan hati yang berdebar, Mia segera menunduk hormat dan menuju ruangannya.


"Mia," panggil Tuan Ferdinan.


Mia menghentikan langkahnya dan memejamkan matanya beberala detik. Mia menghela napasnya dan mengisi paru-parunya dengan oksigen. Bersiap jika dadanya sesak dengan omelan Tuan Ferdinan.


"Mia, kau tak mendengarku?" ucap Tuan Ferdinan.


"Iya, Tuan." Mia segera mendekat ke arah Tuan Ferdinan. Mia menunduk, tak berani mengangkat kepalanya. Rasanya Mia tak kuasa melihat kumis Tuan Ferdinan bergerak aktif bak gadis yang sedang berzumba.


"Angkat kepalamu!" ucap Tuan Ferdinan.


DEG


Mia merasa benar-benar takut. Perlahan Mia mengengkat kepalanya sambil berpikir kata-kata apa yang bisa meluluhkan hati Tuan Ferdinan.


"Tuan Besar, Mia minta maaf. Mia tahu Mia datang lebih siang dari pada Tuan, tapi Mia tidak kesiangan. Masih ada 10 menit lagi. Mia janji ke depannya Mia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama," ucap Mia dengan satu tarikan napas.


"Mia, kau omonganmu seperti pembalap, kecepatanmu 120 km/jam. Aku bahkan tidak bisa mencerna apa yang kamu ucapkan," ucap Tuan Ferdinan. "Duduk!" lanjutnya.


"I-iya Tuan maaf," ucap Mia gugup saat melihat Tuan Besar.


Mia duduk di lantai, sedangkan Tuan Ferdinan duduk di sofa ruang tunggu. Belum sempat Tuan Ferdinan menyuruh Mia untuk duduk di sofa Danu datang dan melihat Mia yang sedang duduk di lantai.


"Pi, apa yang papi lakukan? Mia ini karyawan, bukan pembantu. Pembantu di rumah saja tidak pernah Papi perlakukan seperti ini. Aku kecewa Pi," ucap Danu pada Tuan Ferdinan. "Mia, ayo bangun dan masuk ke ruanganmu!" ucap Danu dengan nada bicara yang cukup tinggi, hingga beberapa karyawan melihat ke arah Danu. Namun setelah mata Danu menatap mereka dengan tajam, tidak ada karyawan yang berani melihat mereka.

__ADS_1


Mia segera bangun dan berlari ke ruangannya. "Ya Tuhan, ada apa lagi ini?" Mia dengan polosnya tidak mengerti pembelaan Danu untuk dirinya. Mia berpikir kalau Tuan Besar dan Danu sedang bertengkar urusan lain. Mia yang melamun, tidak bisa mencerna apa yang diucapkan oleh Danu.


Sementara di luar, Danu dan Tuan Ferdinan masih berdebat gara-gara Mia.


"Kau salah paham. Dengarkan aku dulu," ucap Tuan Ferdinan.


"Aku tidak butuh pennjelasan apapun Pi. Aky sudah melihat semuanya dengan mata dan kepalaku sendiri. Papi benar-benar keterlaluan," ucap Danu pergi meninggalkan ayahnya yang masih menatapnya dengan penuh kebingungan.


Ada apa dengan Danu? Tidak bisasanya Danu berani menentang dirinya saat di kantor. Bahkan di rumah saja, Danu takut pada Tuan Besar. Apakah semua ini karena pengaruh Mia? Haruskah Tuan Ferdinan memecat Mia, agar Danu tidak berhubungan lagi dengan Mia? Sikap menentang Danu membuat Tuan Ferdinan sangat tidak suka. Ini bukan Danu yang ia kenal. Bukan Danu yang selama 35 tahun di bawah doktrinnya.


Tidak! Mia tidak mungkin keluar dari kantor ini. Kemampuan dan kecerdasan Mia sangat dibutuhkan untuk kemajuan perusahaannya. Mia hanya butuh waktu untuk bisa beradaptasi. Mia yang biasa bekerja di kampung sebagai buruh cuci, selalu menganggap atasan itu layaknya Tuan yang harus di puja-puja. Hingga Mia merendahkan dirinya begitu. Padahal Mia yang berparas cantik dan otaknya yang cerdas, tidak seharusnya bersikap seperti itu.


Tuan Ferdinan tidak tahu kalau Danu sedang terbakar api cemburu, hingga Danu tak bisa menguasai dirinya. Danu yang berada di ruangannya, mengepalkan tangannya untuk menahan amarahnya agar tidak meledak. Menghirup oksigen sebanyak-banyaknya agar hatinya bisa lebih tenang.


Apa ini? Apakah ini cinta? Benarkah Danu mencintai Mia? Hanya karena sopirnya memberi tahu tentang Mia yang menelepon dengan sangat girang dengan seseorang yang dipanggil Pak Haji, Danu menjadi uring-uringan begitu. Padahal Danu ingin sekali meminta penjelasan pada Mia, tapi saat melihat Mia diperlakukan begitu oleh Tuan Ferdinan, justru Danu sangat iba dan tak bisa membiarkan Mia direndahkan.


Saat Danu akan keluar dari ruangan Mia, tiba-tiba langkahnya terhenti saat terdengar dering ponsel. Danu mencari ponsel itu. Ternyata ponsel Mia tertutup oleh berkas yang menumpuk di mejanya.


"Pak Haji?" ucap Danu.


Napas Danu tiba-tiba memburu, dadanya sesak. Cemburu itu kembali membakar hatinya.


"ARGH!" Danu kesal dan segera kembali ke ruangannya.


Kepala Danu sakit. Mia, wanita yang dianggapnya polos ternyata bisa berselingkuh. Eh nanti dulu! Selingkuh? Hubungan apa yang ada diantara Danu dan Mia? Yang mereka sepakati adalah untuk menikah dan saling membantu saja. Ya anggap saja simbiosis mutualisme. Danh bahkan tidak pernah berniat melibatkan hatinya bersama Mia. Tapi mengapa saat ada pria lain yang mendekati Mia, ada rasa sakit yang teramat dalam.


Danu tidak bisa membiarkan semua ini. Danu harus tahu semuanya. Danu kembali ke ruangan Mia untuk membawa ponsel Mia dan menunjukkan kepada Mia, apa maksud dari Pak Haji yang selalu menghubungi Mia. Namun saat akan masuk ke dalam ruangan Mia, Danu mendengar suara Mia sedang tertawa sangat bahagia.

__ADS_1


"Alhamdulilah ibu baik. Kapan-kapan kalau Pak Haji pulang, main ya ke rumah. Mia sama ibu kangen loh. Mia rindu melihat Pak Haji yang sering cemberut karena kebodohan Mia," ucap Mia.


Pikiran Danu travelling kemana-mana. Danu menarik kesimpulan kalau Pak Haji itu sering main ke rumah dan sudah akrab dengan Mia dan ibunya. Siapa dia? Apakah pacarnya? Atau Mia adalah simpanan om-om? Karena tidak mungkin mia memanggil pacarnya dengan sebutan Pak Haji. Terlalu formal bagi Danu.


"Mia," panggil Danu yang tiba-tiba masuk saat Mia sudah selesai menelepon.


"Ya, Tuan. Ada apa?" tanya Mia


Danu memperhatikan sikap Mia. Biasa saja, tak ada gugup atau terkejut saat Danu masuk ke ruangannya, walaupun Mia baru saja selesai menelepon pria lain. Atau justru karena Mia tidak punya perasaan pada Danu? Ah Danu tak bisa menerka apa yang sebenarnya terjadi.


"Kau ingat kalau kau akan membantuku untuk menikah denganku? Aku sudah menepati janjiku untuk memberimu pekerjaan sesuai dengan cita-citamu," ucap Danu.


"Saya ingat Tuan, tapi Tuan Besar tidak mengizinkan Tuan muda untuk menikah dengan saya," ucap Mia.


"Tak masalah soal restu. Yang penting aku ingin kau segera menepati janjimu. Kau harus menikah denganku," ucap Danu.


"Tidak masalah Tuan, saya hanya menunggu restu dari Tuan Besar saja." Mia terlihat sangat meyakinkan.


Mia sudah memikirkan tentang pernikahan itu. Sama sekali tidak ada niatan untuk mempermainkan pernikahan. Bagi Mia, menikah dengan siapapun tidak masalah asal pria itu baik dan peduli padanya. Dan semua itu ada pada Danu. Lagi pula tidak mungkin ada orang yang bisa menerima kondisi Mia dengan status janda, hanya Danu yang menerimanya dengan segala kekurangannya. Di kepala Mia, menikah hanya mengurus baju dan makan suaminya. Ya, layaknya pernikahannya dengan Haji Hamid dulu.


Danu memperhatikan sikap Mia. Memang tidak terlihat tegang. Lalu siapa dia? Siapa Pak Haji? Haruskah Danu bertanya langsung pada Mia? Ah tidak! Gengsi dong.


################


Like dan vote seikhlasnya kakak..


Makasiih.. 😍😍

__ADS_1


__ADS_2