Janda Bersegel

Janda Bersegel
Dion kenapa?


__ADS_3

Selama makan, tidak ada yang bicara. Semua makan dengan lahap. Sesekali Mia melihat Dion. Kepalanya terus menunduk. Dibanding yang lain, Dion adalah orang yang paling tidak berselera. Disaat yang lain sudah hampir selesai, makanan dalam piring Dion masih tersisa banyak.


"Dion, tumben kamu makannya lambat?" tanya Tuan Wira.


Mia menegang. Ia khawatir jika Tuan Wira menyadari perubahan sikap Dion. Yang lebih ditakutkan saat Dion membahas semua tentang Sindi dan Danu di meja makan.


Takut sama seperti Dion, Tuan Wira dan Nyonya Helen juga mungkin akan memberikan respon yang sama. Menganggap Sindi sebagai pengkhianat. Padahal Mia yakin Sindi tidak tahu masa lalu antara Mia dengan Danu. Mia pun meyakini jika Sindi pasti punya alasan tersendiri untuk merahasiakan semua ini dari semuanya.


"Gak selera makan," jawab Dion.


Suara sendok yang beradu dengan piring menjadi pusat perhatian, saat Dion menyimpan sendoknya dengan kasar. Mia gelagapan. Ia memegang tangan Dion dan berusaha menenangkannya.


"Aa mau istirahat? Ayo Mia antar!" ucap Mia.


Dengan bersusah payah Mia membujuk Dion agar segera ikut dengannya ke kamar. Beruntung Dion bisa diajak kerja sama.


"Sebentar ya! Mia antar Aa dulu ke kamar," ucap Mia.


Tidak seperti Mia yang pamit, Dion memilih untuk melenggang meninggalkan semuanya tanpa sepatah katapun. Mia berjalan lebih cepat, mengimbangi langkah Dion.


"A," panggil Mia saat sudah menutup pintu kamarnya.


"Hmmm," jawab Dion.


Dion langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Memejamkan matanya. Ia sendiri berusaha untuk menerima semua kenyataan ini. Tapi tidak gampang. Bahkan ia tidak habis pikir kenapa Mia bisa begitu sabar menghadapi semua ini.


"Mia boleh bicara?" tanya Mia.


"Aku ngantuk. Besok saja," jawab Dion.


"Ya sudah," ucap Mia.


Mia duduk di tepi ranjang. Ia memijat kaki Dion. Mungkin tidak hanya masalah Sindi. Dion juga lelah dengan pekerjaannya. Mia berusaha berpikiran positif. Ia yakin kalau Dion pasti akan menerima semua ini. Namun Mia sendiri masih tidak tahu kapan waktunya.


"Aa cape ya?" tanya Mia.


"Gak," jawab Dion.


Kaki Dion ditarik saat Mia berusaha memijat Dion. Mia melepaskan tangannya. Mia tahu ini bukan waktu yang tepat. Mungkin Dion butuh waktu untuk sendiri.


"Ya sudah Aa istirahat ya! Mia keluar dulu," ucap Mi.


"Hemmm," jawab Dion.


Mia keluar dengan perasaan tak menentu. Di satu sisi ia ingin menemani Dion. Menenangkan suaminya. Meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja. Tapi di sisi lain, Mia punya tanggung jawab untuk menenangkan mertua dan sahabatnya. Ia tidak ingin suasana semakin keruh.


"Mi, Dion kenapa?" tanya Nyonya Helen.


Benar dugaan Mia. Semuanya butuh penjelasan atas sikap Dion yang tidak biasa.


"A Dion kecapean Ma." Mia berusaha menjawab setenang mungkin.


"Memangnya lagi banyak kerjaan ya Pah?" tanya Nyonya Helen ada Tuan Wira.


Tuan Wira mengerutkan dahinya. Ia melihat ke arah Mia sebentar baru menjawab pertanyaan Nyonya Helen.


"Iya Ma. Di kantor lagi padat. Ketemu banyak orang mungkin membuat mood Dion sedikit berantakan. Benar kata Mia, dia lagi cape." Tuan Wira membela Mia.


Meskipun Tuan Wira sendiri tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, tapi membuat Nyonya Helen khawatir bukan ide yang baik. Setidaknya ia tidak pusing dengan pertanyaan dari istrinya. Tentang masalah Dion, ia akan mencari tahu sendiri nanti.

__ADS_1


"Memangnya gak ada yang bantuin Dion ya?" tanya Nyonya Helen.


"Dibantu Ma. Tapi kan yang sifatnya personal tidak bisa diwakilkan. Gak semua mampu mengerjakan apa yang Dion kerjakan," jawab Tuan Wira.


"Iya sih, memang Dion itu luar biasa sekali. Anak pinter sih memang," ucap Nyonya Helen dengan senyum bangganya.


Sepertinya Tuan Wira senang saat berhasil membuat Nyonya Helen keluar dari rasa khawatirnya. Setelah Nyonya Helen tenang, ia mengajak istrinya untuk segera tidur.


Hanya Mia dan Sindi yang tersisa. Mia ingin sekali bertanya tentang semua yang Sindi sembinykan. Apa alasan Sindi menyembunyikan semua itu? Apa dia benar-benar tidak tahu siapa Danu sebenarnya?


Mia tidak mempermasalahkan sama sekali tentang hubungan keduanya. Rasa untuk Danu kian pupus hingga lenyap tak bersisa seiring Dion yang memperlakukannya penuh cinta.


"Mi, sebenarnya Tuan Dion kenapa sih?" tanya Sindi.


"Kecapean," jawab Mia singkat.


Sebenarnya Mia enggan membahas tentang Dion. Ia takut jika Sindi terluka. Bagaimanapun, Dion yang meminta Sindi ke rumah itu.


"Selama aku di sini, aku belum pernah melihat Tuan Dion bersikap seperti itu. Memangnya baru sekarang ya Tuan Dion banyak kerjaan?" selidik Sindi.


"Ya gak begitu juga Sin. Mungkin karena biasanya ada yang bantu Aa. Tapi seminggu belakangan ini orang kepercayaannya ikut ke Surabaya sama Reza. Kamu tahu Reza kan?" tanya Mia.


"Oh Tuan Reza suaminya Nyonya Maya?" tanya Sindi.


"Iya," jawab Mia.


Dalam hal ini Mia tidak berbohong. Memang sudah seminggu orang kepercayaan Dion pergi ke Surabaya untuk membantu pekerjaan Reza di sana. Tapi kalau Dion kecapean karena tidak ada yang membantunya, jelas sebuah kebohongan.


Mia tahu betul bagaimana Dion. Ia bisa bekerja semaksimal mungkin. Selelah apapun Dion, tidak mungkin sampai uring-uringan sampai ke meja makan.


Saat Sindi mulai kembali ke topik Dion, Mia segera pamit ke kamarnya.


"Sebenarnya belum Sin. Tapi A Dion lagi badmood jadi Mia takut nanti Aa marah. Lebih baik mencegah dari pada nanti nambah masalah lagi," jawab Mia.


"Heheh, nikah itu rumit juga ya!" ucap Sindi.


"Ah gak juga. Masih banyak bahagianya juga kok dbanding sedihnya. Ini sih cuma bumbu aja," ucap Mia.


"Ya sudah sana tidur. Nanti Tuan Dion marah sama aku karena masih ngobrol sama kamu," ucap Sindi.


A Dion memang lagi marah sama kamu Sin. tapi bukan karena kita ngobrol. Dia kecewa atas kebohongan kamu. Kenapa kamu gak jujur sih?


"Haha, ah kamu ada-ada aja Sin. Mia ke kamar dulu ya!" ucap Mia.


Sindi mengangguk.


"Kamu istirahat," ucap Mia.


"Iya Mi," ucap Sindi.


Keduanya meninggalkan ruang makan dan kembali ke kamarnya. Namun sebelum ke kamarnya, Mia pergi ke kamar Narendra dan Naura. Memastikan kalau keduanya sudah tidur nyenyak.


"Nyonya," sapa kedua perawat yang sedang mencuci dot milik Narendra dan Naura.


"Narendra dan Naura gak rewel?" tanya Mia.


"Tidak Nyonya. Tadi langsung tidur setelah diberi ASi," jawab salah satu perawat.


Mia tersenyum dan mengsup pipi kedua anak kembarnya yang semakin hari semakin gembil. Mereka terlihat semakin lucu dan menggemaskan. Mereka salah satu cara Mia agar bisa tersenyum dan kuat menghadapi semua masalah dalam hidupnya.

__ADS_1


Cukup lama Mia di sana. Sampai akhirnya Mia melihat Tuan Wira masuk ke kamar bayi kembarnya.


"Pah," panggil Mia.


"Mia, bisa kita bicara?" tanya Tuan Wira.


"Bicara?" tanya Mia.


"Iya. Aku tunggu di ruang depan ya!" ucap Tuan Wira.


"Oh iya Pah," jawab Mia.


Mia sudah tahu apa yang akan dibicarakan oleh Tuan Wira. Pasti tentang Dion. Tuan Wira yang sudah membelanya tadi, ternyata menuntut penjelasan dari Mia.


"Papa rasa kamu tahu apa yang papa inginkan," ucap Tuan Wira saat Mia sudah duduk di hadapannya.


"Mia gak tahu harus dari mana jelasinnya. Tapi Mia mau ucapin terima kasih banyak karena Papa udah mau bantuin Mia tadi," ucap Mia.


"Tidak perlu berterima kasih. Papa cuma butuh penjelasan kamu Mia. Dion kenapa?" tanya Tuan Wira.


"Ini soal Sindi Pah," jawab Mia.


"Sindi?" tanya Tuan Wira terkejut.


"Hussssst, jangan keras-keras Pah. Nanti ada yang tahu. Ini cuma papa aja ya! Mia gak mau yang lain sampai tahu," ucap Mia.


Tuan Wira segera menutup mulutnya lalu mengangguk.


"Iya Papa janji gak bakal cerita sama siapapun," ucap Tuan Wira.


Mia mulai menceritakan semuanya dengan hati-hati. Ia juga terus mengamati perubahan sikap mertuanya itu. Takut jika Tuan Wira akan membenci Sindi dan menyalahkannya sepenuhnya.


"Pah," panggil Mia.


Mia heran saat melihat Tuan Wira hanya diam. Ia tidak mengomentari Mia sama sekali. Wajahnya jiga nampak sangat datar.


"Iya," jawab Tuan Wira.


"Papa kok diam aja?" tanya Mia.


"Terus Papa harus gimana? Loncat-loncat? Salto?" tanya Tuan Wira.


"Ya bukan begitu Pah. Tapi kalau Papa mau juga boleh. Lumayan Mia butuh hiburan nih," jawab Mia sembari tertawa.


"Kamu ini, sembarangan. Kualat tahu sama mertua!" ucap Tuan Wira.


"Hahah," Mia hanya tertawa puas melihat wajah Tuan Wira.


Ternyata ini adalah salah satu cara Tuan Wira untuk membuat Mia kembali tertawa. Ia kasihan melihat Mia yang nampak penuh beban.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍

__ADS_1


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR*.


__ADS_2