
Sudah waktunya pulang kantor, tapi Danu masih belum pulang. Beberapa kali Mia membuka ponselnya tapi tak ada panggilan atau sekedar pesan singkat dari Danu. Hatinya sakit, karena kepalanya membayangkan kalau saat ini suaminya sedang bersama wanita lain. Yang menyakitkan adalah Mia terlanjur memiliki perasaan lebih pada Danu.
"Mia, kemana Danu?" tanya Tuan Ferdinan saat melihat Mia keluar dari ruangannya sendirian.
Kemana Danu? Pertanyaan macam apa itu? Bukankah Danu anak dari Tuan Ferdinan? Mengapa Tuan Ferdinan bertanya tentang keberadaan anaknya, sedangkan anaknya berkata kalau ia akan meeting. Berarti benar dugaannya, suaminya meeting dengan wanita lain. Danu, mengingat nama itu hatinya sangat sakit bak d sayat sembilu.
"Mas Danu ada urusan sebentar pi," ucap Mia menutupi semuanya dari mertuanya itu.
Meskipun pernikahannya hanya sebuah kepura-puraan, tapi Mia tidak mau ayahnya tahu kebusukan Danu. Busuk? Ah mungkin juga tidak. Hanya saja saat ini Mia sedang berpikiran buruk tentang suaminya.
"Jam berapa dia pulang?" tanya Tuan Ferdinan.
"Mungkin sampai malam Pi," jawab Mia.
"Mungkin?" tanya Tuan Ferdinan sedikit curiga.
"Ya karena namanya juga urusan sama teman pi. Biasa kalau sudah ketemu jadi bahas yang lain-lain," ucap Mia sambil tersenyum.
Lagi-lagi Mia harus menyembunyikan rasa sakitnya. Cukup ia yang tahu semua perasaannya.
"Ya sudah, ayo pulang sama papi," ajak Tuan Ferdinan.
Mia mengangguk dan mengikuti mertuanya itu untuk pulang. Dalam perjalanan, Mia bertanya banyak hal tentang perusahaan pada mertuanya itu. Bukan hanya karena ia tertarik dengan perusahaan itu, tapi saat ini Mia hanya sedang mengalihkan pikirannya.
Mia pikir, dari pada memikirkan suaminya yang sedang asik dengan teman wanitanya, lebih baik ia mencari banyak hal yang bermanfaat darinya.
Mia mulai mempersiapkan diri lagi untuk menjadi seorang janda. Mia memang sering mendengar kalau suaminya berkata tidak akan pernah menceraikannya. Namun melihat kenyataan ini, Mia tidak akan kuat jika harus diduakan.
Mia merasa kalau statusnya tidak berguna sama sekali. Kehadirannya tidak berarti sama sekali. Saat bersama Haji Hamid, Mia masih merasa menjadi seorang istri karena ia melayani kebutuhan lahir Haji Hamid. Walaupun ia tidak pernah mendapat kebutuhan batin sama sekali, tapi Mia nyaman dengan posisinya. Sedangkan dengan Danu? Mia bahkan tidak melayani kebutuhan lahir suaminya sama sekali. Belum seminggu pernikahannya dengan Danu, Mia sudah merasa sangat tersiksa dengan rasa cemburu.
Ini baru seminggu, bagaimana jika sebulan? Setahun? Mia tidak yakin kalau pernikahannya akan bertahan lama dengan Danu. Astaga! Apa yang Mia pikirkan? Mia segera pergi untuk membersihkan tubuhnya.
Dalam kamar mandi pun, Mia tetap tidak bisa menyingkirkan pikiran buruknya. Di dalam bathtub, Mia merendam tubuhnya dengan air hangat. Mia memjamkan matanya untuk menenangkan pikirannya. Namun nyatanya rasa sakit itu tak kunjung pergi. Setelah selesai mandi Mia duduk di depan meja rias. Ia mengamati wajahnya pada pantulan cermin. Ia menyibakkan rambutnya yang masih sedikit basah dan mengusap pipinya.
Mia menunduk lesu meratapi nasibnya. Ingin rasanya Mia pergi saja untuk pergi menemui ibunya agar ia terlepas dari beban hidup yang tak kunjung usai.
Menikah dengan Danu ternyata tidak lebih baik. Mia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Ia merasa sangat lelah. Bukan karena pekerjaan, tapi pikirannya yang terasa sangat lelah. Mia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah jam setengah enam sore. Danu belum pulang juga. Ia melihat ponselnya, sama sekali tak ada kabar dari Danu.
Mungkin Mia harus membiasakan diri untuk tidak bersama Danu. Mia harus menerima kenyataan kalau mereka bukan suami istri yang sesungguhnya. Pernikahan mereka hanyalah sebuah perjanjian saja.
Waktu terus berlalu namun Danu masih belum juga pulang. Kesedihan Mia kian mendalam. Kerinduannya pada Danu terasa sangat menyakitkan bagi Mia.
Suara ketukan pintu kamarnya, membuat Mia terperanjat. Hatinya sedikit berbunga. Mungkinkah Danu sudah pulang? Namun bunga di hatinya harus layu seketika karena ternyata yang mengetuk pintu adalah Nyonya Nathalie yang mengajaknya untuk makan malam.
Mia mencoba untuk selalu tersenyum dan menyembunyikan beban di hatinya. Sampai akhirnya pertanyaan Nyonya Nathalie membuatnya kembali merasakan sesak.
"Danu ada urusan apa? Kenapa belum pulang?" tanya Nyonya Nathalie.
Mia menggeleng. Mia sudah tidak bisa berbohong lagi. Ia memang tidak tahu kenapa suaminya belum pulang.
"Mia, kamu kenapa?" tanya Nyonya Nathalie.
Mia berusaha menguatkan dirinya sendiri agar tidak terlihat lemah di depan mertuanya.
"Aku sedang tidak enak badan Mi," ucap Mia.
"Sebentar biar aku panggilkan dokter," ucap Nyonya Nathalie.
"Jangan!" ucap Mia panik.
"Kenapa? Kau harus sembuh," ucap Nyonya Nathalie.
"A-aku takut. Aku cukup minum mixagrif," ucap Mia gugup.
"Mixagrif?" tanya Tuan Ferdinan.
"Iya Pi. Memangnya di sini tidak ada?" tanya Mia.
"Obat apa itu?" tanya Tuan Ferdinan.
"Obat flu," jawab Mia.
__ADS_1
"Resep dari mana?" tanya Tuan Ferdinan.
"Dari almarhum ibu," jawab Mia.
Tuan Ferdinan dan Nyonya Nathalie saling menatap dengan dahi yang mengkerut. Mia menangkap sinyal itu dan segera menjelaskan tentang resep Mixagrif.
"Ibu selalu memberi Mia mixagrif kalau Mia sedang flu begini. Kata ibu, mixagrif itu obat yang mujarab dan Mia sudah membuktikan semua itu. Biasanya Mia minum dua kali sehari. Besoknya, Mia pasti sembuh." Mia panjang lebar menjelaskan tentang mixagrif.
Penjelasan Mia nyatanya tidak masuk di kepala kedua mertuanya itu. Mereka nampaknya tidak mengenal obat yang selalu menjadi andalan Mia itu.
"Panggil dokter saja!" pinta Tuan Ferdinan.
"Ja-jangan pi. Mia ada stok kok di kamar," ucap Mia. Mia tidak mau kalau sampai dokter memeriksanya dan ternyata tidak ada masalah apa-apa padanya.
Akhirnya Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan mengalah dan membiarkan Mia meminum obat andalannya itu karena tidak ingin berdebat dengan Mia.
Sampai makan malam selesai, Danu masih belum pulang. Kedua orang tuanya merasa cemas. Sejak mengenal Mia, Danu sudah jarang pulang malam seperti ini. Tapi kenapa justru setelah menikah dengan Mia, sekarang Danu pulang malam lagi. Apa mungkin Danu kembali ke club?
"Apa Danu bilang mau ke temannya yang mana?" tanya Nyonya Nathalie.
Teman yang mana? Mia bahkan tidak tahu pasti. Mungkinkah benar ia bertemu dengan dokter Arumi? Danu sendiri tidak memberi tahunya dengan siapa ia akan bertemu.
"Mia lupa Mi. Sudahlah, lagi pula mas Danu mungkin sudah lama tidak bertemu dengan temannya. Mia mengerti, mas Danu jenuh dengan pekerjaan. Ada kalanya teman bisa membuat beban mas Danu jadi hilang dan kembali semangat kerja lagi.
Nyonya Nathalie memberikan kode agar Tuan Ferdinan tidak menyanggah lagi ucapan Mia. Semakin disanggah, Mia akan semakin sedih dan menjadi berpikiran buruk tentang Danu.
Nyonya Nathalie sangat bahagia saat melihat Mia begitu percaya dan tidak mengekang Danu. Ia menyadari kalau Danu memang tidak bisa dikekang. Semakin dikekang, Danu akan semakin menjadi-jadi.
Mia pamit ke dalam kamarnya untuk beristirahat.
"Mi, kalau malam ini mas Danu tidak pulang, jangan dimarahin ya!" pinta Mia.
Nonya Nathalie mengangguk. Setelah Mia kembali ke dalam kamarnya, pasangan suami istri itu kembali membahas Danu. Tuan Ferdinan benar-benar kecewa dengan sikap Dnau. Keduanya berpikir setelah menikah, Danu akan menjadi lebih baik. Tapi nyatanya Danu justru kembali pada kebiasaan buruknya.
Waktu terus berlalu namun sosok Danu belum juga pulang dan ponselnya tidak aktif. Beberapa teman Danu sudah dihubungi dan tidak tahu tentang keberadaan Danu. Mereka semakin cemas saat jam sudah menunjukkan pukul satu malam.
"Pi, bagaimana ini?" tanya Nyonya Nathalie.
Terdengar suara gemuruh di luar kamarnya, Nyonya Nathalie lari dan melihat apa yang terjadi. Tuan Ferdinan mengikuti istrinya untuk memeriksa keributan apa yang terjadi di luar.
"Danu?" teriak Nyonya Nathalie.
Danu? Mendengar teriakan ibu mertuanya itu, Mia segera keluar untuk menemui suaminya. Namun langkahnya terhenti saat melihat ada sosok wanita yang mengantar Danu.
"Arumi, apa yang terjadi dengan Danu?" teriak Nyonya Nathalie.
"Danu mabuk, tante. Aku memaksanya untuk pulang meskipun Danu memaksaku untuk mengantarkannyanke hotel," jawab Arumi.
Arumi? Mabuk? Hotel? Seketika Mia kehilangan keseimbangan tubuhnya. Mia memegang dadanya dan ambruk. Dadanya terasa sesak dan sakit sekali. Mia sakit saat Danu bersama wanita lain. Mia menangis dan menyesali perasaannya. Kenapa Mia harus merasa peduli pada Danu? Kenapa harus cemburu? Apakah Mia mencintai Danu? Entahlah yang pasti Mia merasakan bahagia dan sakit jika itu berhubungan dengan Danu.
"Miaaaa," teriak Nyonya Nathalie.
Mia mengusap kedua pipinya dan menguatkan dirinya untuk menemui Danu.
"Mas," panggil Mia dengan suara lirih.
Melihat Danu sedang mabuk, Mia tak bisa menahan air matanya.
"Miaaa," panggil Danu dengan mata yang terpejam dan mulut bau alkohol.
"Iya mas. Ini Mia," ucap Mia memegang tangan Danu yang bergerak mencarinya.
"Mia, Mia," Danu terus memanggil Mia.
"Angkat dia ke kamarnya!" pinta Tuan Ferdinan pada security yang membantu Danu untuk masuk ke dalam rumah. Karena pada saat turun dari mobil, Danu sudah berjalan terseok-seok hingga harus dibantu oleh security.
Danu sudah terbaring di kamarnya. Kedua orang tuanya sudah kembali untuk beriatirahat. Hanya wanita yang bernama Arumi itu berdiri yang masih berdiri di ambang pintu menyaksikan bagaimana Mia sangat mengkhawatirkan Danu.
"Mia," panggil Arumi.
"Iya," jawab Mia.
__ADS_1
Mia menghentikan tangannya yang sedang memijat tangan Danu dan membalikkan badannya untuk melihat si pemanggil.
"Apakah aku boleh bicara sebentar?" tanya Arumi.
"Boleh. Silahkan duduk!" ucap Mia mempersilahkan Arumi untuk duduk di sofa.
"Apa kau mencintai Danu?" tanya Arumi.
"Apa maksudnya?" tanya Mia.
"Aku tahu semua tentang Danu. Kau tak perlu malu. Jujurlah padaku tentang perasaanmu!" ucap Arumi.
"Apa kau kekasihnya?" tanya Mia.
"Ya," jawab Arumi.
Mata Mia membulat sempurna. Ia tidak percaya kalau Arumi mengatakan hal yang di luar dugaannya.
"Tapi itu dulu. Sepuluh tahun yang lalu," lanjut Arumi saat melihat Mia sangat sakit mendengar jawabannya.
"Lalu?" tanya Mia yang tidak mengerti maksud dari pertanyaan Arumi.
Arumi melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya yang putih mulus. Sudah pukul dua malam. Sebaiknya besok saja, malam ini biarkan Mia menghabiskan waktu bersama Danu.
"Besok, saat kau ada waktu aku ingin kau menemuiku. Jangan sampai Danu tahu tentang pertemuan kita. Bisa?" tanya Arumi.
Mia menatap ke arah suaminya yang sudah tertidur pulas di bawah pengaruh alkohol. Lalu ia menatap ke arah Arumi yang masih menunggu jawabannya.
"Bisa," jawab Mia.
"Ini kartu namaku. Hubungi aku jika kau ada waktu," ucap Arumi sambil menyerahkan sebuah kartu nama.
Saat akan pamit untuk pulang, Mia menahan Arumi. Mia yang selalu saja berbaik sangka pada siapapun, merasa khawatir saat Arumi akan pulang. Padahal Arumi adalah wanita yang sudah mengantar suaminya dalam keadaan mabuk.
"Tidur di sini saja!" ucap Mia.
"Tidak usah, ada orang yang menungguku di mobil." Arumi tersenyum menanggapi kebaikan Mia.
"Oya? Siapa?" tanya Mia.
"Suamiku," jawab Arumi.
"Suami?" tanya Mia tak percaya.
"Besok aku ceritakan semuanya ya biar kamu tidak salah paham dengan hubunganku dan Danu," ucap Arumi.
Mia mengangguk. "Hati-hati," ucap Mia.
Arumi tak menyangka kalau istri Danu sangat cantik dan ramah. Jika dibandingkan dengan Arumi, gaya Mia memang terlihat kampungan. Namun Arumi mengakui kalau Mia pantas untuk bersanding dengan Danu.
Setelah kepergian Arumi, Mia menghampiri Danu dan berbaring di samping suaminya. Mia mengahadapkan tubuhnya melihat wajah Danu. Wajahnya sangat menenangkan hati Mia. Keberadaan suaminya membuat Mia merasa kalau cemburu itu telah sirna. Apalagi saat mendengar keterangan dari Arumi tentang statusnya yang sudah mempunyai suami. Setidaknya Mia bisa tenang, apalagi Arumi akan menjelaskan semuanya besok. Mia melihat kartu yang diberikan oleh Arumi. Ia masukkan ke dalam sakunya dan memejamkan matanya untuk tidur.
Tidur terlalu larut membuat Mia bangun kesiangan. Saat ia bangun, Danu sudah tidak ada di kamarnya. Mia mencarinya dan bertanya pada Bibi. Ternyata Danu dan Tuan Ferdinan sudah berangkat bekerja, sedangkan Nyonya Nathalie sedang pergi ke luar kota untuk proyek usaha barunya.
Mia rasa ini adalah kesempatan baik untuknya bisa keluar menemui Arumi. Mia menelepon suaminya untuk meminta maaf karena tidak bisa masuk kantor bahkan tidak menyiapkan pakaian kerjanya. Lalu Mia juga meminta izin untuk ke mall sebentar. Dengan alasan membeli pakaian kerja yang baru, Mia lebih mudah untuk keluar rumah.
Belanja adalah hal yang selalu Danu sarankan pada Mia. Karena menurut Danu, gaya hidup Mia terlalu mengirit. Danu tidak menyukai hal itu. Danu tidak mengajarkan Mia untuk menjadi orang yang boros, namun Mia juga harus menyesuaikan dirinya agar bergaya lebih sesuai dengan kelasnya.
Sekarang Mia bukan lagi orang kampung, tapi istri dari seorang anak tunggal pemilik perusahaan besar di Indonesia. Danu beberapa kali mengatakan semua itu, namun Mia tidak pernah menanggapinya. Hingga saat Mia mengatakan akan berbelanja, tentu disambut baik oleh Danu.
Setelah mendapat izin, Mia segera menghubungi Arumi. Arumi memberikan alamat untuk mereka bertemu, namun Mia menolak dan meminta bertemu di mall saja. Bukan tanpa alasan, Mia akan keluar diantar oleh sopir pribadinya. Jika di tempat lain, Danu bisa curiga. Mia harus mendapat semua informasi tentang Danu tanpa sepengetahuan suaminya.
#####################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..
__ADS_1