
Setelah kepergian Danu, suasana di rumah Dion terasa sangat kaku. Hening, tidak ada yang berani membuka mulutnya.
"Sayang, kamu antar Sindi istirahat ya!" ucap Dion.
Setelah cukup lama diam, akhrinya Dion memecah keheningan. Membiarkan Sindi beristirahat, karena Dion yakin Sindi sedang tidak baik.
"Iya A," jawab Mia.
Mia segera menggandeng Sindi dan mengajaknya ke kamarnya. Ada rasa sakit saat Mia memperlakukannya begitu baik.
"Mi, maafin aku ya!" ucap Sindi.
"Maaf untuk apa?" tanya Mia.
"Aku gak bisa bohong sama perasaanku sendiri. Padahal aku tahu ini semua salah," ucap Sindi.
Ujung telunjuknya yang menggulung ujung dress sangat jelas menggambarkan jika Sindi sedang gugup. Mia tahu apa yang Sindi rasakan.
"Sin, gak ada yang salah. Jangan selalu merasa bersalah begitu," ucap Mia.
"Seandainya aku bisa sedikit mengerti keadaan, mungkin aku tidak akan menyakiti banyak orang. Maafkan aku," ucap Sindi.
"Hey, berhenti berpikir seperti itu. Tidak ada yang disakiti," ucap Mia.
Mia meraih wajah Sindi, menatapnya dengan penuh ketulusan. Sindi memegang tangan Mia dan mulai menangis. Mia terus menenangkan Sindi jika semua akan baik-baik saja. Melihat Sindi sudah semakin tenang, Mia pamit. Ia membiarkan Sindi sendiri sementara waktu.
"Gimana Sindi?" tanya Nyonya Helen.
"Mama," ucap Mia.
Mia memegang dadanya. Ia terkejut saat mendengar pertanyaan Nyonya Helen. Pasalnya Mia tidak tahu jika ibu mertuanya itu sedang menunggu dirinya.
"Iya, gimana Mi?" tanya Tuan Wira.
Ternyata bukan hanya Nyonya Helen, tapi Tuan Wira juga ikutan kepo dengan keadaan Sindi. Mia pun menjawab dan menceritakan kegelisahan karena merasa bersalah atas perasaannya.
Tidak ada komentar apapun dari Nyonya Helen dan Tuan Wira. Mereka hanya diam. Mencerna dengan baik setiap kalimat dari Mia. Betapa Sindi tersiksa dengan perasaannya sendiri.
"Kasihan ya Sindi," ucap Tuan Wira.
"Iya," jawab Nyonya Helen dengan nada sedih.
Tuan Wira dan Mia saling beradu pandang lalu menatap wajah sedih Nyonya Helen. Mereka berdua tidak percaya jika Nyonya Helen begitu peduli dengan Sindi.
"Mia permisi dulu ya Ma," ucap Mia.
Mia pergi setelah mendapat kode dari Tuan Wira agar meninggalkan Nyonya Helen.
"Mama hibur Sindi sana!" ucap Tuan Wira.
"Gak ah," ucap Nyonya Helen.
"Kenapa?" tanya Tuan Wira.
"Mama gak tahu harus ngomong apa," jawab Nyonya Helen.
"Ya ngomong apa aja. Paling gak kan Mama bisa lihat kondisi Sindi secara langsung," ucap Tuan Wira.
Dengan dukungan dari Tuan Wira, Nyonya Helen masuk dan mengobrol hangat dengan Sindi. Hanya sepuluh menit.
"Kok udah balik Ma?" tanya Tuan Wira.
"Sindi harus istirahat pah. Dia kan cape," jawab Nyonya Helen.
"Gimana?" tanya Tuan Wira.
"Sindi memang mencintai Danu Pah. Tapi Mama takut Danu ngecewain Sindi," jawab Nyonya Helen.
"Ma, kalau Danu gak serius mana mungkin dia nyusul Sindi ke Surabaya. Dia juga begitu berani mengakui Sindi sebagai calon istrinya," ucap Tuan Wira.
"Iya sih Pah. Tapi Mama takut Sindi kecewa. Mama gak mau Sindi cuma jadi korban pelampiasan Danu aja," ucap Nyonya Helen.
"Hussstt, amit-amit ah. Mama kalau ngomong sembarangan deh," ucap Tuan Wira.
__ADS_1
"Ya kan Mama cuma takut pah. Mama gak mau lihat Sindi kecewa," ucap Nyonya Helen.
"Gak mungkin dong Danu jadiin Sindi pelampiasan. Kan Danu sendiri gak tahu kalau Sindi itu sahabatnya Mia," ucap Tuan Wira.
Nyonya Helen mengiyakan ucapan Tuan Wira. Mungkin karena rasa sayangnya pada Sindi yang berlebihan hingga membuatnya ketakutan. Belum lagi status Danu sebagai mantan suami Mia, menjadi salah satu keraguan di hati Nyonya Helen.
Saat Tuan Wira sudah tidur, Nyonya Helen nampak masih bolak balik di kamarnya. Ia gelisah. Hatinya memang sudah berusaha menerima Danu sebagai calon suami Sindi, namun rasa takut itu masih menyelinap dalam hatinya.
Beruntunglah Rian menghubunginya di saat yang tepat. Rian meyakinkan Nyonya Helen jika Danu adalah pria yang tidak tahu sama sekali hubungan Sindi dengan Mia sebelumnya. Nyonya Helen percaya karena Rian adalah saksi pertemuan antara mereka berdua.
"Apa jaminannya jika Danu tidak akan mengecewakan Sindi?" tanya Nyonya Helen.
"Aku tidak punya jaminan apapun Nyonya. Tapi yang aku tahu Nyonya Nathalie sangat menyayangi Kak Sindi. Bahkan Nyonya Nathalie benar-benar menerima Kak Sindi dengan segala keadaannya," ucap Rian.
Nyonya Helen tersenyum. Meskipun ia tidak menyukai Nyonya Nathalie, namun kalau musuh bebuyutannya itu bisa menyayangi Sindi dengan tulus, kenapa tidak.
Yang penting Sindi bahagia.
Panggilannya dengan Rian sudah berakhir. Namun ponsel itu masih dalam genggamannya. Berkat Rian, hatinya luluh. Betapa Rian berusaha mati-matian menjelaskan tentang kehidupan Sindi.
Sindi yang selama ini hidup dengan datar, tiba-tiba menjadi lebih indah. Banyak perjalanan yang dilalui Sindi dengan Danu yang berhasil mengubah hari-hari Sindi. Menurut Rian wanita yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri itu, jauh lebih bahagia menyambut hari-harinya setwlab bertemu dengan Danu.
Awas ya kamu wewe gombel. Kalau sampai kamu membuat Sindi sedih, aku akan buat perhitungan dengannmu.
Sementara di waktu yang sama namun tempat yang berbeda, Nyonya Nathalie nampak tengah membuka mulut dan matanya lebar-lebar. Ia memegang dadanya.
"Kamu jangan becanda Danu," ucap Nyonya Nathalie.
"Mami udah janji gak bakal marah," ucap Danu mengingatkan.
"Mami shock. Kamu bohong kan?" ucap Nyonya Nathalie.
Nyonya Nathalie masih berharap jika kabar yang disampaikan Danu adalah suatu kebohongan. Ia tidak menyangka jika Sindi adalah sahabat Mia.
"Jangan Danu. Tinggalkan Sindi," ucap Nyonya Nathalie.
"Mami," ucap Tuan Ferdinan.
"Jangan! Cari wanita lain," ucap Nyonya Nathalie.
"Mami, apa salah Sindi?" tanya Danu dengan anda mulai meninggi.
Tuan Ferdinan memegang dada Danu. Ia berusaha menenangkan Danu atas sikap istrinya yang berubah tiba-tiba. Tidak ingin berdebat dengan Danu, Nyonya Nathalie memilih pergi ke kamarnya.
Danu berniat menyusul Nyonya Nathalie, namun Tuan Ferdinan mencegahnya.
"Biarkan Mami tenang," ucap Tuan Ferdinan.
"Pi, tapi aku mau bicara dengan Mami. Aku janji akan lebih halus lagi," ucap Danu.
Tanpa mendengar jawaban ayahnya, Danu segera berlari mengerjar ibunya.
"Mami," ucap Danu pelan.
Kali ini Danu tidak ingin bertindak gegabah. Ia berusaha bersikap lebih lembut dan hati-hati.
"Jangan Sindi," ucap Nyonya Nathalie sambil menangis.
"Kenapa? Apa salah Sindi Mi?" tanya Danu.
Sindi mendekat dan duduk di samping Nyonya Nathalie. Ia menatap lekat wajah ibunya yang nampak ketakutan.
"Jangan," ucap Nyonya Nathalie.
"Mi, kenapa? Tenang. Ada aku di sini," ucap Danu.
Danu memeluk ibunya dan mengusap punggungnya. Menenangkannya dari rasa takut yang Danu sendiri tidak tahu apa yang ditakutkan ibunya.
"Mami takut kamu kecewa," ucap Nyonya Nathalie setelah lebih tenang.
"Aku kecewa kenapa Mi?" tanya Danu yang masih bingung.
"Mia pasti memberi tahu penyakitmu pada Sindi. Dia pasti akan menolakmu. Mami gak mau kamu kecewa, Danu. Sebelum itu terjadi, cari wanita lain. Jangan Sindi," ucap Nyonya Helen.
__ADS_1
Danu memegang dadanya. Bibirnya mulai tersenyum melebar. Ia senang apa yang ibunya takutkan, ternyata tidak seperti yang ia duga.
"Kok kamu malah senyum?" tanya Tuan Ferdinan.
Danu memang belum memberi tahu kesembuhannya. Terakhir kali saat Nyonya Nathalie ingin menjodohkannya dengan anak sahabatnya, Danu menolak dengan alasan penyakitnya.
"Aku sembuh," ucap Danu.
"Hah?" ucap Tuan Ferdinan dan Nyonya Nathalie bersamaan.
"Iya, aku sembuh." Danu tersenyum lebar.
Tanpa rasa malu, Danu membeberkan bahwa Sindi adalah obat paling mujarab. Ia yang membuat benda pusakanya berdiri untuk yang pertama kali. Danu bangga menceritakan semuanya. Ini adalah prestasi baginya, setelah beberapa tahun menjalani pengobatan yang luar biasa baginya.
"Bisa punya cucu dong Mami?" tanya Nyonya Nathalie penuh harap.
"Belum dicoba mi, nanti kalau udah sah siap gaspol." Danu dengan bangganya terlihat bersemangat.
Tuan Ferdinan hanya tersenyum. Antara bahagia dan malu sendiri dengan tingkah anaknya.
"Papi kenapa?" tanya Danu.
"Seneng aja mau dapat cucu," jawab Tuan Ferdinan.
Danu semakin semangat untuk mempersiapkan pernikahannya dengan Sindi.
"Eh tunggu dulu," ucap Nyonya Nathalie.
"Apa lagi Mi?" tanya Danu.
"Berarti nanti Nyonya Helen datang dong?" tanya Nyonya Nathalie.
"Datang. Kan Sindi udah dianggap anaknya sendiri sama Nyonya Helen. Bahkan sekarang, Sindi tinggal di rumah Nyonya Helen. Mami mau kan jemput Sindi buat tinggal di sini?" bujuk Danu.
Beberapa saat Nyonya Helen cemberut. Ia meringis saat membayangkan mereka berdua akan berfoto bersama, ketika acara pernikahan Danu dan Sindi.
"Mami kenapa?" tanya Tuan Ferdinan saat melihat Nyonya Helen bergidik.
"Ngeri Pi," jawab Nyonya Nathalie.
"Ngeri apanya?" tanya Tuan Ferdinan.
"Besanan sama dia," jawab Nyonya Nathalie.
"Oh, mau batal? Suruh Danu cari yang lain? Gimana kalau gak bangun? Kan bangunnya sama Sindi. Mau gagal dapat cucu?" desak Tuan Ferdinan.
"Eh, bukan begitu Pi. Mami mau punya cucu," jawab Nyonya Nathalie.
"Berarti?" tanya Tuan Ferdinan.
"Besanan sama dia," jawab Nyonya Nathalie.
"Ada masalah?" tanya Tuan Ferdinan.
Nyonya Nathalie menggeleng.
"Bagus," jawab Tuan Ferdinan mengangkat jempol tangannya.
Setelah semuanya aman, Tuan Ferdinan meminta Danu untuk segera istirahat. Danu pun keluar dari kamar itu dengan perasaan bahagia tidak terkira.
Terima kasih Pi. Begitu mungkin ucapan yang ingin Danu sampaikan saat ini. Ia benar-benar senang saat semuanya semakin nyata. Ia akan menikahi Sindi. Wanita yang bisa menghilangkan Mia dari kepalanya. Wanita yang mampu menggetarkan hatinya setelah cukup lama tidak terjamah.
#####################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
__ADS_1