Janda Bersegel

Janda Bersegel
Dukun


__ADS_3

Malam ini Dion dan Reza membahas tentang persiapan acara besok. Sementara Tuan Felix sibuk menelepon orang-orang di Jerman untuk mengetahui perkembangan perusahaannya setelah ia tinggalkan beberapa hari. Rian masih sibuk dengan beberapa tugas sekolahnya. Meskipun ia bolos, tapi urusan tugas selalu ia nomor satukan.


"Sayang, kamu kalau ngantuk tidur aja." Dion mengusap tangan kepala Mia.


"Jangan bikin aku ngiri. Dari tadi romantis terus udah kayak pengantin baru aja," ucap Reza.


"Sirik aja," ucap Dion.


"Udah tahu sirik masih aja diterusin," ucap Reza.


"Sengaja biar yang sirik makin panas," ucap Dion.


"Sialan," ucap Reza sembari melempar gulungan kertas ke arah Dion.


Mia hanya tersenyum melihat tingkah keduanya. Mia tiba-tiba rindu pada Sindi.


"A, Mia boleh ngundang Sindi gak besok?" tanya Mia.


"Boleh dong. Undang semua teman kamu," ucap Dion.


"Hah? Beneran A?" tanya Mia.


"Beneran dong. Masa bohong," jawab Dion.


"Kalin, Dev, Dokter Leoni, Pak Haji juga boleh?" tanya Mia.


"Boleh dong. Semuanya juga boleh Mi. Semua," jawab Dion menegaskan.


"Ah Aa terima kasih ya!" ucap Mia.


Rasa ngantuk Mia mendadak hilang. Ia segera ke kamar untuk menghubungi teman-temannya. Meskipun ini mendadak, namun Mia sangat berharap jika mereka bisa datang.


Mia kembali dengan wajah kecewa. Dion menatap Mia dengan bingung.


"Kamu kenapa, Mi?" tanya Dion.


"Mereka gak jawab panggilan Mia," jawab Mia dengan sedih.


Dion ikut sedih saat melihat mata Mia berlinang. Kalau saja tidak ada Reza, Dion yakin Mia pasti akan menangis sesenggukan. Namun ia berusaha menahan air matanya.


"Mungkin mereka sibuk, lelah, atau ada acara lain. Kabari saja lewat pesan. Nanti juga mereka baca," ucap Dion.


"Kalau besok gak bisa datang?" tanya Mia.


"Yang penting kan kita udah ngabarin. Masalah datang atau gak, itu hak mereka. Kita juga gak bisa maksain apa yang kita mau," ucap Dion.

__ADS_1


Saat ini secara tidak langsung, Dion tengah mengajari Mia untuk lebih menjaga emosinya. Sudah lama tidak berkecimpung di dunia kerja, Dion merasa Mia harus kembali belajar banyak hal.


Apalagi setelah melahirkan dan masih dalam masa menyusui, Dion merasa mental Mia belum stabil. Mia yang tegar kini menjadi lebih mudah menangis. Tak jarang Mia mengesampingkan logikanya dan hanya menggunakan perasaannya saja. Hal ini tentu tidak baik untuk Mia saat berada di dunia kerja. Apalagi posisi Mia saat ini bukan lagi sebagai karyawan.


"Tapi Sindi pasti datang kok. Mama udah ngundang dia tadi," ucap Nyonya Helen yang tiba-tiba ikut nimbrung.


"Beneran Ma?" tanya Mia.


"Iya Mi. Tapi, Mama ngundang semuanya," jawab Nyonya Helen ragu.


Nyonya Helen diam dan mengamati Dion. Tidak ada protes sama sekali. Namun tidak juga menampakkan respon baik dari anaknya itu. Nyonya Helen menatap Mia yang tengah menggigit bibir bawahnya sembari menggelengkan kepalanya.


"Kamu marah ya Di?" tanya Nyonya Helen.


"Mana mungkin Dion marah. Gak ada yang bisa bikin dia insecure. Dion itu lebih ganteng, lebih tajir, lebih baik, lebih oke, lebih kece, lebih...." Reza menutup mulutnya saat mata Dion menatapnya tajam.


"Masih kurang bonus naik jabatan? Masih perlu menjilat?" tanya Dion.


"Mana ada aku menjilat. Aku cuma menceritakan apa adanya tentang dirimu," jawab Reza.


"Dirimu, dirimu." Dion melempar bolpoin yang ia pegang pada Reza.


"Maafin Mama ya Di," ucap Nyonya Helen dengan perasaan bersalah.


"Mama janji gak akan ngelakuin kesalahan yang sama," ucap Nyonya Helen sembari memeluk Dion.


"Ma, gak usah lebay deh. Gak apa-apa. Ini juga bukan sebuah kesalahan kok. Dia kan suaminya Sindi. Sementara Sindi udah Mama anggap sebagai anak kandung Mama sendiri. Jadi udah seharusnya mereka juga ikut terlibat," ucap Dion sembari mengusap punggung Nyonya Helen.


"Terima kasih ya Di," ucap Nyonya Helen sembari tersenyum lebar.


Meskipun Dion berusaha menenangkan Nyonya Helen, tapi sebagai seorang ibu, ia tahu kalau anaknya sedikit kecewa. Akhirnya ia meminta Mia untuk membantu menjelaskan pada Dion agar tidak salah paham.


Saat malam, Dion sudah berbaring di atas ranjangnya. Mia beranjak mendekat dan mulai bicara.


"A, maafin Mia ya!" ucap Mia.


"Maaf buat apa?" tanya Dion.


"Karena Mia punya masa lalu," jawab Mia.


"Aku juga punya masa lalu. Sudahlah gak perlu bahas masa lalu," ucap Dion.


"Tapi Niki sudah pergi jauh dan gak ada dalam kehidupan kita. Tapi masa lalu Mia justru malah menjadi bagian di keluarga ini," ucap Mia.


"Terus maafnya kenapa? Masalahnya apa?" tanya Dion malas.

__ADS_1


Padahal Dion tahu kemana arah cerita Mia. Ia tahu kalau istrinya sedang membela ibunya. Dion terus mendengarkan penjelasan Mia. Bagaimana Mia meyakinkan Dion adalah hal yang membuatnya percaya, kalau wanita di sampingnya itu sangat mencintai keluarganya. Bukan hanya dirinya, tapi ibunya.


Kalau kamu sampai segininya ngebelain Mama, gak ada alasan buat aku cemburu lagi sama dia. Aku yakin akan menutup pintu hati kamu untuk yang lain, Mi.


Malam ini, Dion menyudahi obrolan malamnya. Ia mengingatkan Mia jika besok ada hal yang sangat mereka nantikan. Jangan sampai besok mereka bangun kesiangan.


Pagi hari saat matanya terbuka, hal pertama yang Mia lakukan adalah mengecek ponselnya. Masih dengan mulut yang menguap berkali-kali, Mia mencari kotak masuk dari sahabatnya. Berharap ada kabar baik dari salah satu sahabatnya.


Sayangnya Mia harus menelan pahit karena Dokter Leoni dan Haji Hamid tidak bisa menghadiri acaranya. Hatinya makin kecewa saat Kalin dan Dev sama sekali tidak membalas pesannya.


Mia harus tetap semangat. Ada Papa dan Mama. A Dion dan Sindi juga pasti semangatin Mia kok. Lagi pula mereka gak hadir karena sibuk kok, bukan gak peduli lagi sama Mia. Ayo Mia, tetap semangat ya!


Mia bangun dan mandi. Ia memilih salah satu pakaian kerjanya yang masih cukup. Sampai saat ini walaupun berat badannya sudah turun, tapi belum mencapai angka ideal. Ia juga tak lupa memilihkan pakaian untuk Dion yang senada dengan pakaiannya.


Setelah selesai mandi, Mia merias dirinya. Saat menatap cermin, air matanya turun begitu saja. Ia sangat sedih saat mendapati kenyataan jika hanya Sindi yang akan menghadiri acaranya.


Sebenarnya ada cukup banyak tamu undangan. Tapi semua itu kenalan Dion dan Tuan Wira. Mia mengusap dadanya. Ia berusaha menguatkan dirinya sendiri.


Tenang Mia. Kamu gak sendiri kok.


Berkali-kali Mia menguatkan dirinya sendiri, namun sebanyak itu pula ia merasa kecewa. Ia merasa sedih saat cita-citanya terwujud, justru semua sahabatnya tidak bisa menjadi saksi di hari bahagia itu.


"Mi," panggil Dion saat melihat Mia sedang melamun di depan cermin.


Mia tersentak dan segera menoleh.


"Aa udah bangun? Bajunya udah Mia siapin ya!" ucap Mia.


"Mereka gak bisa datang ya?" tanya Dion.


Mia menatap Dion dengan tatapan tidak percaya.


"Sejak kapan Aa jadi dukun? Kok Aa tahu sih mereka gak datang? Padahal kan Aa baru bangun. Mia belum cerita sama Aa," jawab Mia.


Dion hanya menahan tawanya dan menggelengkan kepalanya.


"Kalau kamu begini terus, aku gak yakin perusahaan bakal maju. Baru karena mereka gak datang aja sedihnya sampai kebaca gitu sama aku. Aku mandi dulu ah," ucap Dion.


Mia mengernyitkan dahinya dan menatap Dion sampai suaminya itu hilang dari pandangannya. Mia membalikan badannya dan kembali menatap cermin. Ia mengamati wajahnya dari segala sisi.


"Memangnya Mia kelihatan sedih ya?" gumamnya sembari menepuk-nepuk pelan pipinya.


Mia segera menyelesaikan persiapannya dan berusaha bersikap tenang. Paling tidak ia berusaha menyembunyikan rasa kecewanya. Bagaimanapun ia tidak boleh membuat kecewa Tuan Felix dan Dion yang sudah berjuang dan berkorban banyak demi perusahaan ini.


Mia bertekad untuk tidak cengeng lagi. Perlahan, cara Dion memperlakukan dan mengingatkan Mia membuat Mia mulai kuat lagi. Ia berangsur menjadi wanita kuat dan jauh lebih dewasa.

__ADS_1


__ADS_2