Janda Bersegel

Janda Bersegel
Tegang ya?


__ADS_3

"Mia," ucap Haji Hamid dengan suara pelan dan serak.


"Iya Pak Haji. Ini Mia. Pak Haji akhirnya sembuh juga," ucap Mia begitu girang.


Mata Haji Hamid menatap Dion. Mia pun jadi ikut menatap Dion. Ia lupa mengenalkan Dion pada Haji Hamid. Meskipun ia sudah pernah mengenalkan Dion di Singapura, tapi saat itu Haji Hamid belum sadarkan diri.


"Ini Dion. Suami Mia. Mia juga udah punya dua anak kembar. Nanti Pak Haji main ya ke rumah Mia. Ketemu sama Narendra dan Naura," ucap Mia dengan begitu bahagia.


"Dion," ucap Dion sembari mengulurkan tanganya.


Haji Hamid membalasan uluran tangan itu meskipun lemas. Akhirnya tangannya yang kurus itu menjabat tangan Dion.


"Jaga Mia," ucap Haji Hamid.


"Pasti. Mia adalah istriku. Aku pasti akan menjaga Mia," ucap Dion.


Haji Hamid mengangguk.


"Terima kasih," ucap Haji Hamid.


Dion memperhatikan perbincangan Mia dengan Hamid. Betapa Mia menghormati Haji Hamid seperti ayahnya sendiri. Padahal Mia adalah mantan istrinya, tapi Dion tidak cemburu melihat kedekatan itu.


"Mana Dev?" tanya Dion pada Kalin.


"Dia sedang ke luar kota. Ada pekerjaan yang harus diurus," jawab Kalin.


"Jadi kamu yang menunggu di sini?" tanya Dion.


"Aku hanya menunggu Mia saja. Kata Dev, Mia mau ke sini. Jadi aku ke sini," ucap Kalin.


"Lalu nanti, siapa yang akan menemani Haji Hamid?" tanya Dion.


"Ada perawat khusus yang standbye di sini," jawab Kalin.


Dion tidak mengerti dengan hubungan orang-orang yang ada di hadapannya. Kalin yang sekarang menjadi istri Dev, dimana Dev adalah mantan pacar Haji Hamid dulu. Tapi Kalin nampak baik-baik saja dan baik terhadap Haji Hamid.


"Sudah terlalu malam. Kamu pulang Mia. Kasihan bayimu," ucap Haji Hamid.


Dion melihat pergelangan tangannya. Sudah jam sembilan. Padahal sebenarnya Dion sama sekali tidak keberatan jika Mia masih mau di sana.


"Aku sama Mia pulang dulu ya! Besok sebelum ke kantor, aku akan ke sini lagi membawakan sarapan." Kalin ikut pamit.


"Gak usah. Ada sarapan dari rumah sakit kok," ucap Haji Hamid.


"Gak apa-apa. Aku bisa menyiapkan sarapan sebelum ke kantor kok," ucap Kalin.


Dev memberi tahu jika Haji Hamid tidak pernah mau makan jika makanan itu disediakan dari rumah sakit. Makanya ia meminta Kalin untuk mengirim sarapan.


"Maaf sudah merepotkan," ucap Haji Hamid.


"Tidak repot sama sekali. Ya sudah kami pulang dulu ya!" ucap Kalin.


Mia dan Kalin melambaikan tangan dan pergi dari ruangan itu. Meninggalkan Haji Hamid sendirian. Selepas pintu ruangannya tertutup, Haji Hamid menatap langit-langit ruangannya.


"Permisi Tuan," ucap perawat yang bertugas jaga malam ini.

__ADS_1


"Silahkan," ucap Haji Hamid.


Perawat itu seusia dengan Mia. Ia sebenarnya butuh teman cerita tapi bingung. Apa mungkin dia bisa sebaik Mia? Ah tidak! Tidak ada yang lebih baik dari Mia. Hanya Mia yang bisa menjaga rahasianya selama ini.


Mia memang selalu pandai menjaga rahasia. Ia bahkan hanya menceritakan tentang masa lalu Haji Hamid pada Danu dan Dion. Itu pun dengan tujuan agar mereka tahu rumah tangga seperti apa yang pernah Mia jalani selama itu.


Haji Hamid memejamkan matanya. Ia tenang saat melihat Mia bersama orang yang tepat. Ia yakin Dion akan selalu menjaga dan membahagiakan Mia.


"Kamu sayang sama dia?" tanya Dion pada Mia.


"Peduli mungkin ya A," jawab Mia.


Dion diam. Ia tidak melanjutkan bahasannya tentang Haji Hamid. Sampai akhirnya mereka sampai ke rumah dan tidur.


Hari demi hari berlalu penuh kebahagiaan di keluarga Dion. Perusahaannya yang kian berkembang pesat. Belum lagi kerja sama baru dengan Tuan Felix siap direalisasikan dalam waktu dekat. Persiapan pernikahan Sindi yang berjalan lancar. Serta perkembangan kesehatan Haji Hamid yang terus membaik.


"Mi, kok aku deg-degan ya?" tanya Sindi sembari memegang dadanya.


"Tegang ya?" goda Mia.


Pernikahan Sindi dan Dion akan digelar satu minggu lagi. Semua persiapan hampir rampung. Gedung sudah dipesan dengan WO ternama. Semua serba mewah dan mahal. Sidi takut jika dirinya akan terlihat kampungan di pestanya sendiri.


Mia terkekeh mendengar ketakutan Sindi. Dan hal itu memang pernah ia rasakan saat itu.


"Gak apa-apa kalau nanti kamu norak. Biar Mia ada temen," ucap Mia.


Sindi dan Mia kembali tertawa bersama. Hari ini mereka lewati dengan penuh kebahagiaan.


"Sin, Mia boleh ngundang teman-teman Mia gak?" tanya Mia.


"Beneran ya? Gak banyak kok, paling cuma Kalin sama Dev, Dokter Leoni, sama Pak Haji." Mia tersenyum lebar.


Mia akan menjadi orang yang paling bahagia dengan pernikahan Sindi. Selain melihat sahabatnya menikah dengan orang yang tepat, Mia juga akan berkumpul dengan teman-temannya.


"Semua. Siapapun itu, undang aja Mi. Minimal aku tahu mereka teman kamu. Dari pada nanti ku salaman sama orang-orang yang gak aku kenal?" ucap Sindi.


Pasti Sindi akan bingung saat bersalaman dengan orang-orang yang tidak ia kenal sama sekali. Sedangkan undangan yang disebar begitu banyak. Bukan hanya keluarga dan rekan kerja di dalam negeri, tapi undangan itu tersebar ke beberapa negara lain.


"Gak apa-apa Sin. Cuek aja," ucap Mia.


Padahal Mia sendiri begitu kelelahan saat berdiri dan bersalaman dengan begitu banyak tamu undangan. Matanya sampai berkunang-kunang melihat antrian tamu undangan yang sangat panjang.


Rupanya rasa tegang dan deg-degan tidak hanya dirasakan oleh Sindi. Danu juga merasakan hal yang sama. Padahal ini bukan pernikahannya yang pertama.


"Kenapa sih?" tanya Tuan Ferdinan.


"Gak Pi," jawab Danu.


"Dari tadi Papi perhatikan kamu melamun terus. Apa kamu kepikiran tentang pernikahanmu?" tanya Tuan Ferdinan.


"Kayaknya sih iya Pi," jawab Danu.


"Kamu gak perlu banyak pikiran. Semuanya udah ada yang urus. Tugas kamu cuma siapin mental buat jadi suami dan ayah yang baik. Sebentar lagi kamu akan jadi imam di keluarga kecil kamu," ucap Tuan Ferdinan.


"Iya Pi. Aku ngerti," ucap Danu.

__ADS_1


"Sama satu lagi," ucap Tuan Ferdinan.


"Apa?" tanya Danu.


"Hapalin ijab kabulnya. Jangan bikin malu Papi. Saksi nikah sama tamu undangannya gak kaleng-kaleng," ucap Tuan Ferdinan mengingatkan.


"Kirain apaan," ucap Danu.


"Apa harus Papi kasih tambahan soal ituan?" tanya Tuan Ferdinan.


"Gak perlu. Gak usah," jawab Danu dengan cepat.


Takut jika ayahnya mulai membahas hal itu, Danu segera membuka berkas yang ada di mejanya. Melihat Danu yang siap bekerja kembali, Tuan Ferdinan pamit untuk kembali ke ruangannya.


Danu sebentar lagi akan menikah. Semoga bayangan Mia sudah benar-benar hilang dari hidup Danu. Sindi terlalu baik untuk disakiti.


Sikap Sindi yang apa adanya dengan semua kebaikannya, membuat Tuan Ferdinan menyayangi calon menantunya itu. Beberapa kali ia sering mengingatkan Danu untuk selalu menjaga Sindi. Baginya, tidak peduli dengan masa lalu dan latar belakang Sindi. Karena yang terpenting adalah kasih sayangnya. Bukan hanya pada Danu, tapi juga pada dirinya dan istrinya.


Tuan Ferdinan dan Nyonya Nathalie yang kian menua, pasti akan merindukan kasih sayang tulus dari seorang anak. Danu, hanya Danu yang mereka punya. Maka ketika ada Sindi, Tuan Ferdinan tidak ingin menyia-nyiakan orang tulus sepertinya.


"Pi, pulang sekarang?" tanya Tuan Ferdinan.


"Eh ayo!" ucap Tuan Ferdinan terperanjat.


"Sekarang giliran Papi yang melamnun. Ada apa?" tanya Danu.


Melihat Tuan Ferdinan yang masih sibuk membereskan berkas yang ada di mejanya, Danu masuk dan duduk. Ia memperhatikan ayahnya. Berharap Tuan Ferdinan bisa menceritakan apa yang sedang dipikirkannya.


"Ayo!" ajak Tuan Ferdinan.


"Papi kenapa?" tanya Danu.


"Gak ada. Ayo pulang!" ajak Tuan Ferdinan.


Danu mengerutkan dahinya saat melihat Tuan Ferdinan meninggalkannya begitu saja. Tak lama ia pun ikut keluar. Tidak banyak bicara, hanya mengikuti langkah Tuan Ferdinan.


Bahkan di dalam mobil saja, suasana masih begitu hening. Danu tidak mau bertanya lagi. Ia membiarkan Tuan Ferdinan sibuk dengan perasaannya sendiri. Sampai akhirnya Tuan Ferdinan sendiri yang membuka pembicaraan.


"Kamu yakin setelah menikah akan pindah rumah?" tanya Tuan Ferdinan.


Danu diam. Kenapa Tuan Ferdinan mempertanyakan hal ini? Padahal jelas saat itu Tuan Ferdinan yang membelanya dari Nyonya Nathalie. Danu pikir Tuan Ferdinan sudah tidak akan membahas hal itu lagi.


"Apa Papi gak setuju?" tanya Danu.


"Papi setuju. Hanya saja Papi rasa berat jika kau harus pindah rumah. Rumah pasti sepi. Papi kan cuma punya Mami sama kamu. Nanti kalau kamu udah nikah, itu artinya Papi hanya berdua dengan Mami." Tuan Ferdinan menatap sedih Danu.


#####################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍

__ADS_1


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


__ADS_2