
Danu menatap Tuan Ferdinan dengan lekat. Ia menemukan sebuah permohonan dari seorang ayah pada anaknya.
"Nanti aku bicarakan sama Sindi ya!" ucap Danu.
Danu diam sebentar. Ia kembali bingung dengan perseteruan-perseteruan antara Nyonya Helen dan Nyonya Nathalie nanti.
Tuan Ferdinan mengamati Danu. Ia tahu apa yang ada di kepala anaknya itu.
"Kalau masalah Mami nanti Papi kasih penjelasan ya! Papi yakin Mami pasti ngerti. Lagi pula masa mereka mau berantem tiap kali ketemu?" ucap Tuan Ferdinan.
Danu tersenyum. Ia malu sendiri saat Tuan Ferdinan ternyata tahu apa yang sedang ia pikirkan. Setelah sampai di rumah, Danu segera menghubungi Sindi dan membahas masalah ini. Ia tersenyum bahagia karena ternyata Sindi tidak mempermasalahkan semua ini.
"Aku gak salah pilih istri," ucap Danu.
"Gombal," ucap Sindi sembari tersipu malu.
Semakin hari, Danu kian berani untuk menggoda Sindi. Dan itu membuat Sindi sudah tidak sabar menjadi bagian dari hidup Danu. Kurang dari seminggu, semua itu akan terwujud.
"Sin," panggil Mia.
Panggilan Mia menyudahi telepon antara Danu dengan Sindi.
"Iya Mi," jawab Sindi.
"Kau lagi sibuk?" tanya Mia.
"Gak," jawab Sindi sembari menggelengkan kepalanya.
"Baju buat acara nikahan kamu kapan di kirimnya? Mia sama yang lain mau coba dulu. Kalau bisa dikirimnya jangan mepet ya Sin," ucap Mia.
"Oh, iya nanti aku tanyain ya!" ucap Sindi.
Hanya itu saja. Mia pamit pada Sindi setelah selesai membicarakan semua itu.
"Gimana?" tanya Nyonya Helen.
"Katanya mau ditanyain Ma," jawab Mia.
"Oh begitu ya! Mia, maaf ya Mama ngerepotin." Nyonya Helen menggenggam tangan Mia.
"Gak kok Ma. Mama gak ngerepotin Mia sama sekali," ucap Mia.
"Abisnya kalau Mama yang tanya nanti Sindi mikirnya Mama cari gara-gara lagi sama si wewe gombel," ucap Nyonya Nathalie.
"Calon besan tuh. Katanya mau damai. Kok sekarang begitu lagi?" tanya Tuan Wira yang baru saja pulang dari kantor.
"Ya maaf. Sama dia maksud Mama," ucap Nyonya Helen.
"Dia siapa Ma?" tanya Tuan Wira.
"Papaaa," ucap Nyonya Helen kesal.
"Ya Papa kan cuma nanya. Dia itu siapa? Dia itu kan punya nama," ucap Tuan Wira.
"Papa mau Mama timpuk gak nih?" tanya Nyonya Helen sembari mengangkat ponselnya.
Mia tertawa melihat tingkah mertuanya. Namun dibalik tawanya, Mia ingin sekali bicara tentang hubungan antara Nyonya Helen dan Nyonya Nathalie.
Mia takut jika ini terus berlanjut, Sindi yang akan jadi korban perasaan. Apalagi saat ini Sindi sudah menganggap Nyonya Helen sebagai ibunya sendiri.
Sebagai istri yang baik, tentu Sindi akan mengikuti semua yang Danu inginkan. Tapi sebagai seorang anak, Sindi tentu ingin tetap bersama Nyonya Helen meskipun sudah menikah.
__ADS_1
Tapi kalau ibu dan mertuanya tidak akur, kasihan Sindi. Mia harus cari cara supaya keduanya tidak terus-terusan bertengkar begini. Mia yakin Mia bisa bantu Sindi. Semangat Mia!
Sepertinya ini memang kesempatan baik untuk Mia. Tuan Wira pergi karena ada telepon dari rekan bisnisnya. Hanya ada Mia dan Nyonya Helen di sana. Mia menarik napas panjang lalu membuangnya perlahan.
"Ma, Mia boleh nanya sesuatu gak?" tanya Mia.
"Apa?" tanya Nyonya Helen.
"Tapi janji ya Mama jangan marah," pinta Mia.
"Apa dulu," jawab Nyonya Helen.
"Ini soal Nyonya Nathalie," ucap Mia.
Mata Mia tidak lepas memandang ekspresi Nyonya Helen. Harap-harap cemas. Sampai akhirnya Mia benar-benar merasa bersalah.
"Ah, males. Kamu tanya masalah lain aja. Mama gak mau kalau bahas dia," ucap Nyonya Helen kesal.
"Ma, maafin Mia ya! Mia gak ada maksud bikin Mama kesal dan marah. Mia gak ada maksud bikin Mama kecewa," ucap Mia sembari memeluk Nyonya Helen.
"Kalau kamu takut Mama kecewa, jangan bahas dia. Kamu kan bisa cari bahasan lain. Udah tahu Mama gak suka sama dia," ucap Nyonya Helen.
"Iya Ma, Mia yang salah. Mia minta maaf ya!" ucap Mia.
Melihat Mia menyesali ucapannya, Nyonya Helen membalas pelukan Mia. Ia elus kepala Mia dengan penuh kasih sayang.
"Mama sayang sama kamu, Mi. Maafin Mama ya kalau Mama udah bikin kamu ketakutan begini. Mama harap kamu jangan bahas dia lagi ya! Mama suka kesal," ucap Nyonya Helen.
"Iya Ma. Tapi Mia cuma berusaha membuat Sindi bahagia aja. Maafin Mia kalau Mia lebih mementingkan Sindi," ucap Mia.
"Mementingkan Sindi? Apa maksudmu Mia?" tanya Nyonya Helen.
"Iya Mia cuma mikirin perasaan Sindi nanti setelah menikah. Tanpa nemikirkan perasaan Mama," ucap Mia.
"Gak Ma. Gak ada," jawab Mia panik.
"Mia, jawab! Mama mau tahu apa alasan kamu," ucap Nyonya Helen.
"Gak ada Ma," jawab Mia.
"Mia, Mama tahu kamu gak akan bahas masalah ini kalau gak ada alasan yang kuat. Ada apa Mi? Mama janji gak bakal marah sama kamu," ucap Nyonya Helen.
"Beneran?" tanya Mia.
"Iya," jawab Nyonya Helen.
Mia merasa mendapat jalan. Akhirnya ia bisa menyampaikan kegelisahannya selama ini. Setelah Mia selesai menyampaikan semua itu, Nyonya Helen diam. Tidak marah pada Mia, tapi ia berdiri dan meningglkan Mia.
"Mama butuh waktu untuk sendiri," ucap Nyonya Helen.
"Ma, mau kemana? Mama janji gak bakal marah sama Mia," ucap Mia panik.
"Mama sama sekali gak marah sama kamu Mi. Justru Mama berterima kasih karena kamu sudah mengingtkan Mama dalam hal ini. Tapi untuk saat ini, Mama benar-benar ingin sendiri." Nyonya Helen pergi.
Mia menunduk sedih. Tangannya memegang erat sofa. Menyesal karena ia sudah mengungkapkan semua ini.
"Gak usah khawatir Mi. Papa dukung apa yang kamu lakukan," ucap Tuan Wira.
"Papa," ucap Mia terkejut.
Ternyata sejak tadi, Tuan Wira mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.
__ADS_1
"Mama gak marah. Papa yakin Mama sedang merenung. Mama pasti mikir, bener juga ya apa kata Mia. Mama kan sayang banget sama Sindi. Pasti gak mau dong kalau sampai pernikahan Sindi kacau karena ulahnya," ucap Tuan Wira.
"Terima kasih ya Pah," ucap Mia.
Meskipun Mia tidak yakin apa yang disampaikan oleh Tuan Wira itu benar atau tidak, setidaknya Mia tenang. Tuan Wira masih mengnggap apa yang dilakukannya itu benar.
"Kamu istirahat aja sana!" ucap Tuan Wira.
"Iya Pah," ucap Mia.
Mia pamit untuk istirahat. Namun baru beberapa langkah, Mia sudah membalikkan badannya.
"Eh Mia, Mia," panggil Tuan Wira.
"Iya Pah," jawab Mia sembari kembali mendekat .
"Kamu kan udah berhasil bujuk Mama, nah PR kamu sekarang bujuk tuh Nyonya Nathalie. Papa yakin kalau kamu yang ngomong pasti nurut," ucap Tuan Wira.
"Hah?" tanya Mia terkejut.
"Udah, kamu usahain aja dulu. Papa yakin kamu bisa kok. Kan niatnya juga buat kebaikan Papa yakin bakalan ada jalannya kok. Papa dukung kamu. Semangat Mia!" ucap Tuan Wira sembari mengangkat tangannya.
Bukannya merasa termotivasi, Mia hanya meringis. Ia ngeri sendiri dengan PR yang diberikan oleh Tuan Wira. Kalau Nyonya Helen, Mia berani karena Mia sudah menganggap ibu kandungnya sendiri. Tapi kalau Nyonya Nathalie, Mia takut malah jadi salah paham.
"Apaan nih semangat-semangat? Kamu mau lomba apa Mi?" tanya Dion yang tiba-tiba muncul.
"Itu Mia mau lomba membela kebenaran menyingkirkan kebathilan. Memperjuangkan perdamaian dan menghilangkan perseteruan. Semangat ya Mi," ucap Tuan Wira.
Mia melongo setelah melihat Tuan Wira pergi. Sorot mata Dion yang penuh tanya mengisyaratkan keharusannya menjelaskan kalimat yang baru saja diucapkan oleh Tuan Wira.
"Jawabnya di kamar aja yu!" ajak Mia sembari menarik tangan Dion.
Bagi Mia masaah ini cukup panas hingga ia harus menyelesaikannya dengan sangat rilex.
"A, Mia sayang sama Aa." Mia mengecup pipi Dion.
"Ada apa nih?" tanya Dion.
Dion tahu ini adalah cara Mia saat ia akan menyampaikan hal buruk padanya. Dan benar saja apa yang Mia sampaikan itu benar-benar berita buruk baginya.
"Jangan marah A. Itu kan PR dari Papa," ucap Mia.
"PR, PR, kamu pikir Papa itu guru kamu?" ucap Dion kesal.
"Ya udah jangan marah. Kalau Aa gak boleh, Mia juga gak bakal ngerjain PR dari Papa kok. Janji," ucap Mia.
"Bagus," ucap Dion.
Dion mengelus kepala Mia. Ia tahu kalau Mia tidak akan melakukan apapun jika ia tidak menyukainya. Mia tersenyum saat Dion sudah tidak marah. Sementara dalam hatinya, Mia memyembunyikan rasa gelisahnya.
Maaf ya Sin, Mia gak bisa bantu apa-apa lagi. A Dion gak mau Mia ketemu sama Nyonya Nathalie buat bahas ini. Tapi Mia doain biar pernikahan dan rumah tangga kamu nantinya lancar dan harmonis ya.
#####################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
__ADS_1
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.