
Danu ke kamar untuk menemui Mia dengan wajah yang cemberut. Mia menatap suaminya yang masuk itu dengan perasaan yang tak menentu. Tapi melihat Danu dengan raut wajah seperti itu, jawabannya pasti mengecewakan.
"Mia," ucap Danu.
"Mas, gak apa-apa. Mungkin nanti ke depannya papi sama mami bisa bantu Mia. Jangan sedih giti dong!" ucap Mia.
Mia, wanita itu selalu saja pintar menyembunyikan rasa kecewanya. Wanita polos yang kadang ditertawakan dan direndahkan banyak orang ini adalah wanita kuat. Banyak orang yang mungkin tidak tahu sisi mutiara yang disembunyikan pecahan beling seperti Mia. Dibalik kepolosan, keluguan, dan kadang nampak norak, Mia menyimpan segudang prestasi dan hati yang lembut. Tidak pernah Danu melihat ada sisi kebencian dari Mia. Sekalipun seseorang sudah mempermalukannya, namun Mia masih tetap berbaik sangka dan berbaik hati pada orang itu.
"Kamu manusia langka Mia, harusnya di museumkan. Stoknya sudah tinggal sedikit, atau mungkin tinggal kamu yang terakhir. Untung aku kebagian," batin Danu.
Danu memeluk Mia dan berbisik di telinganya.
"Besok kamu temani aku ke kantor ya! Kita kerja bareng," ucap Danu.
Mia melonggarkan pelukannya. "Mas?" tanya Mia tak percaya.
"Heem, besok kamu masuk kantor. Mami susah setuju," ucap Danu.
"Papi?" tanya Mia.
"Papi bilang mau nanya mami. Dan tadi mami bilang katanya boleh. Jadi besok kamu siap-siap ya!" ucap Danu.
"Yeaayyy,,, Terima kasih banyak mas," ucap Mia.
Mia memeluk Danu dengan erat. Namun posisi Danu yang lebih tinggi dari Mia membuat telinga Mia bersandar di dada Danu.
"Mas mau ujian ya?" tanya Mia.
"Hah? Ujian?" tanya Danu.
"Mas deg-degan kayak mau ujian," jawab Mia.
Danu langsung menjauhkan tubuhnya. Wajahnya memerah karena menahan malu. Rasa apa ini hingga debaran jantungnya bisa dirasakan oleh Mia. Danu mengingatkan dirinya sendiri kalau pernikahannya dengan Mia hanyalah sebuah kerja sama saja. Tapi kenapa Danu merasa ingin memiliki Mia?
"Mas?" tanya Mia.
"Apa? Aku mau mandi dulu," ucap Danu sambil memalingkan wajahnya.
"Oh ya sudah, nanti saja." Mia keluar dari kamarnya.
Danu mengacak rambut hitamnya dengan kasar. Ingin sekali ia berteriak sekencang-kencangnya. Memaki dirinya sendiri agar sadar atas apa yang dirasakannya.
Selesai mandi, Mia sudah ada di kamar dan membawakan segelas air minum.
"Minum dulu mas!" ucap Mia sambil menyerahkan segelas air itu pada Danu.
"Aku tidak haus," ucap Danu.
"Minumlah walau hanya seteguk," bujuk Mia.
Danu mengikuti permintaan Mia meskipun ia tidak tahu apa yang ada di kepala wanita polos itu.
"Gimana mas?" tanya Mia.
"Gimana apanya?" tanya Danu.
"Udah gak deg-degan lagi? Udah gak tegang lagi kan?" tanya Mia.
Danu hanya mengerutkan dahinya atas pertanyaan Mia. Danu berpikir sekejap kemana arah pembicaraan Mia. Danu menyerah dan akhirnya bertanya maksud dari pertanyaan Mia.
"Tadi aku pikir Mas Danu punya riwayat penyakit jantung. Tapi pas aku tanyain ke papi dan mami katanya mas sehat. Mungkin karena tegang saja katanya. Jadi aku ngasih mas minum dulu biar tenang," ucap Mia dengan polos.
"Miaaa," ucap Danu geram.
"Apa? Tegang lagi mas?" tanya Mia.
Ah, bukan waktu yang tepat. Mia tidak bisa merasakan apa yang ia rasakan. Antara kesal dan ingin marah membuat Danu harus menjauh dari Mia. Dekat dengan Mia akan membuat Mia terus-terusan memancing kekesalannya.
"Mas mau kemana?" tanya Mia.
"Ke luar," jawab Danu.
Mia terlihat sudah lebih lega. "Akhirnya mas Danu sudah membaik dan tidak tegang lagi," gumam Mia.
Saat jam makan malam, Mia menemui keluarga Tuan Ferdinan di ruang makan. Mereka sudah berkumpul di sana. Tak terkecuali Danu.
"Mia, ayo!" ajak Nyonya Nathalie.
Mia mengangguk dan duduk di samping Nyonya Nathalie. Mia melihat ke arah Danu, namun sejak kedatangannya Danu sama sekli tidak menyapanya. Bahkan hanya sekedar menatapnya saja tidak sama sekali.
Hati Mia bertanya-tanya. Mia berpikir, kesalahan apa yang sudah dilakukannya hingga Danu begitu marah padanya. Ia mengingat kembali setiap kejadian sebelum Danu bersikap dingin seperti itu.
"Mia, kamu kenapa?" tanya Tuan Ferdinan saat melihat Mia melamun.
Mia menggeleng dan membuyarkan lamunannya. Mencoba menyingkirkan pikiran tentang Danu yang bersikap dingin padanya. Mia melanjutkan makan malamnya dan terkejut saat Danu meninggalkan meja makan lebih dulu.
"Kamu ada masalah apa sama Danu?" tanya Nyonya Nathalie.
"Mia juga lagi mikir Mi. Mia bikin kesel apa ya sama mas Danu?" ucap Mia.
__ADS_1
"Ya sudah. Kalau ada masalah lebih baik diselesaikan di atas ranjang saja. Biar semuanya cepat selesai," ucap Nyonya Nathalie.
"Oh ya? Mia mau coba ya Mi," ucap Mia sambil langsung berlari mengejar Danu ke kamar.
Tuan Ferdinan dan Nyonya Nathalie saling menatap, kemudian tertawa bareng. Tiba-tiba kilatan mata keduanya saling menangkap sinyal.
"Nanti mi, tunggu agak malam sedikit." Kode dari Tuan Ferdinan langsung dipahami dan dijawab dengan anggukan dari Nyonya Nathalie.
"Mas, sini!" Mia menarik tangan Danu untuk naik ke atas ranjang.
Danu membulatkan bola matanya. Kenapa Mia jadi agresif begini? Apa yang akan Mia lakukan? Apakah ini cara yang diajarkan oleh mami dan papinya?
"Mas, Mia minta maaf kalau Mia selalu bikin mas kesel. Mia masih kurang tahu bagaimana harus bersikap sama mas. Ajari Mia ya mas," ucap Mia.
"Mia, aku juga minta maaf ya kalau aku gampang kesel sama kamu. Kamu itu terlalu polos. Kamu harus belajar lebih peka dan dewasa Mia," ucap Danu.
"Siap mas," jawab Mia sambil mengangkat tangannya untuk menghormat pada Danu.
Danu tertawa dan mengusap kepala Mia.
"Mas sudah tidak marah sama Mia?" tanya Mia.
Danu menggeleng dan tersenyum. Tapi sedetik kemudian senyumnya hilang diganti dengan wajah penuh tanya.
"Yeayy.. akhirnya berhasil." teriak Mia.
"Berhasil apanya?" tanya Danu.
"Kata Mami cara untuk menyelesaikan masalah itu di atas ranjang. Eh ternyata mami benar. Mas jadi gak marah lagi," ucap Mia.
Danu menggelengkan kepalanya dan menepuk dahinya. Danu turun dari atas ranjangnya dan duduk di depan meja kaca. Danu memastikan kalau ia tidak boleh marah lagi oada istrinya, agar Mia tidak curhat dan diberi masukan salah kaprah oleh Nyonya Nathalie.
"Aww, sakit." Danu setengah berteriak.
"Kenapa mas?" tanya Mia panik.
"Kejepiiit," ucap Danu.
Mia melihat tangan Danu terjepit laci yang tadi Mia tutup karena sedikti terbuka.
"Sakit mas?" tanya Mia.
"Enak. Tuh lihat ini sampai berdarah," ucap Danu.
Wajah kesal Danu sangat membuat Mia bersalah. Berkali-kali Mia minta maaf pada suaminya. Namun Danu belum meresponnya. Mia merasa sangat bodoh atas semua perbuatannya.
Mia berinisiatif untuk membawakan obat merah dan plester untuk mengobati luka Danu. Padahal Mia lihat lukanya tidak seberapa. Tapi ternyata Danu sangat marah padanya. Namun saat Mia membuka pintunya, kedua mertuanya terjatuh ke kamar mereka.
Tanpa mengatakan apapun Mia hanya menatap kedua mertuanya itu dengan mulut menganga dan membulatkan bola matanya.
"Mami sama papi ngapain di sini?" tanya Mia.
"Mau ngintip," jawab Danu singkat saat melihat kedua orang tuanya terlihat seperti anak kecil.
Rupanya tradisi intip mengintip sudah mendarah daging dalam jiwa kedua orang tuanya. Danu harus lebih hati-hati sekarang. Aktivitasnya di dalam kamar sudah menjadi konsumsi orang tuanya.
"Ayo pi," ajak Nyonya Nathalie yang merasa sangat malu atas kelakuan mereka.
"Mia masuk dan tutup pintunya!" ucap Danu dengan tegas.
Mia tersentak dan segera mengikuti apa yang dikatakan oleh suaminya. Sebelumnya Mia tidak pernah mendengar Danu begitu serius dan tegas.
"Tapi obat merahnya?" tanya Mia.
"Aku tidak butuh," jawab Danu.
Mia mengangguk dan duduk di sofa, menunduk karena takut untuk melihat Danu. Danu turun dari ranjangnya dan memeluk Mia. Ia mengeratkan pelukannya dan mencium aroma tubuh Mia yang sangat wangi.
Danu melepaskan pelukannya dan menatap wajah Mia. Danu mengamati setiap bagian pada wajah Mia. Matanya, hidungnya, bibirnya, semua nyaris sempurna. Danu menyapu bibir Mia hingga Mia merasa dadanya sesak dan jantungnya berhenti berdetak.
Apa yang Danu lakukan? Adegan ini sama persis dengan adegan film korea yang pernah Mia lihat di youtube. Apa yang harus Mia lakukan? Haruskah Mia memejamkan matanya seperti di film itu?
Mia membiarkan Danu melakukan apa yang dia mau, tanpa Mia tahu apa yang harus ia lakukan. Debaran jantungnya semakin tidak beraturan dan tangannya berkeringat. Meskipun Mia seorang janda, ini adalah adegan pertama kalinya Mia berdekatan dengan pria hingga tak ada jarak diantara mereka.
Danu tak bergerak. Ia hanya menempelkan bibirnya. Hembusan napas Mia sangat terasa dan Danu yakin Mia tengah tegang dengan apa yang dilakukannya. Danu tidak direspon oleh Mia. Namun ia juga tidak mendapat penolakan dari Mia. Danu melanjutkan keinginannya.
Ia bermain di sebuah lorong gelap dengan deretan gigi yang berbaris rapi. Yang punya tempat hanya diam dan tidak merespon. Mia hanya merasa jantungnya semakin kacau yang menyebabkan darahnya mengalir begitu cepat. Tubuh Mia memanas dan membuatnya meremas ujung bajunya untuk mengekspresikan apa yang ia rasakan.
Danu meraih tangan itu dan menggenggamnya. Danu meminta agar ekspresikan apa yang Mia rasakan pada Danu. Namun Mia justru malah semakin berkeringat dan tak lama melepaskan dirinya dari Danu.
"Kenapa?" tanya Danu mengusap bibirnya.
Mia menggeleng dan menunduk.
"Apa ini yang pertama kali?" tanya Danu.
Mia mengangguk. Ia tak berani menatap wajah Danu yang terus menatapnya semakin lekat. Danu mengangkat dagu Mia dengan hari telunjuknya dan kembali membasahi bibir Mia.
Mia kembali harus merasakan semua yang membuatnya panik. Tangannya berada di genggaman Danu. Setiap kali Mia mencoba untuk melepaskan dirinya, maka Danu gerakan Danu justru semakin dalam dan liar. Napas Danu terasa semakin memburu. Mia semakin panik, apa yang akan dilakukan oleh Danu padanya.
__ADS_1
Danu tidak melepaskan bibir Mia agar tetap lembab. Tangannya mulai menjelajah mencari tempat paling nyaman untuk bermain. Hingga ia menemukan bukit kenyal. Masih kencang dan ini membuktikan Mia memang masih bersegel. Meskipun dua lapis kain masih menghalangi antara kulit keduanya, namun Danu dan Mia sudah merasakan sensasinya.
Danu melihat Mia semakin menegang. Ia melihat Mia sudah menutup matanya. Mungkin Mia menikmati atau hanya sekedar pasrah? Danu tidak tahu karena ia sendiri tidak pernah membahas tentang perasaan mereka.
Yang mereka tahu, mereka adalah suami istri yang sah di mata hukum maupun agama. Danu dan Mia sama-sama tidak tahu bagaimana permainan akhir ini nantinya. Mereka hanya berusaha menjalani apa yang sedang terjadi, tanpa tahu apa yang ada dalam pikiran orang yang ada di hadapannya. Mia sempat menjauhkan tubuhnya namun Danu menariknya kembali.
Saat Danu membuka matanya, Danu melihat air mata mengalir di pipi Mia. Danu menghentikan aksinya dan menatap Mia bingung. Mungkinkah Mia menolaknya? Apakah Mia tidak memiliki perasaan yang sama dengannya?
"Kamu kenapa?" tanya Danu sambil menyeka air mata Mia.
Mia menggeleng dan menunduk. Danu mengangkat kembali wajah Mia, agar bisa menatapnya dan berkata apa yang menyebabkan ia menangis.
"Mia, jawab! Kenapa kamu menangis?" tanya Danu.
"Mia gak ngerti harus ngapain? Mia bingung," ucap Mia.
"Ngapain apa? Bingung gimana?" tanya Danu yang tak kalah bingungnya.
"Ya bales sikap mas Danu ke Mia," ucap Mia malu.
Jadi Mia benar-benar kaku karena memang tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Danu semakin merasa bersalah. Ia menjauhkan tubuhnya dari Mia.
"Mau kemana?" tanya Danu.
"Tidur," jawab Danu.
"Gak dilanjut?" tanya Mia polos.
"Mau?" tanya Danu.
"Mau," jawab Mia sambil mengangguk.
"Emang gimana rasanya?" tanya Danu.
"Ya begitu," ucap Mia.
Danu menyeringai dan kembali mendekatkan tubuhnya pada Mia. "Katanya gak bisa," goda Danu.
"Ya, ajarin dong." ucap Mia.
"Siap! Lakukan apa yang aku lakukan ya," ucap Danu.
Danu pikir ini kata itu adalah awal pembelajaran yang tepat bagi Mia. Setelah melihat anggukan Mia, Danu memulai semuanya dari awal.
Danu mulai senang saat melihat Mia mulai mengikuti apa yang ia instruksikan. Meskipun masih terasa kaku, namun sudah tidak seperti pertama kali. Hembusan napas keduanya membuat mereka saling menutup mata, mereka cukup menggunakan perasaannya saja.
Setelah semakin lama, Mia semakin lincah mengikuti apa yang Danu lakukan. Danu mulai memainkan tangannya menuruni leher jenjang Mia. Kemudian mulai mendaki gunung. Mia menelan salivanya menahan rasa yang baru pernah ia temukan.
Danu merasa kurang puas saat dua lapis kain mengahalangi kepuasannya. Danu mulai memasukkan tangannya untuk menjelajah bagian yang selalu membuatnya menantang. Danu mengeratkan bibirnya saat ia menyentuh gunung yang masih belum terjamah oleh siapapun.
"Kamu ngapain sih?" tanya Danu kesal.
"Mengikuti apa yang mas lakukan," jawab Mia polos.
"Iya tapi gak begitu juga Miaaaa," ucap Danu kesal.
"Ya maaf mas. Mia kan gak tahu. Mia cuma ngikutin apa yang Mas ajarkan," ucap Mia.
Danu harus mengakhiri permainannya karena tingkah konyol Mia. Danu yang tengah menikmati permainannya harus mendadak tidak mood, saat Mia memasukkan tangannya ke dalam kaosnya dan meremas dada Danu.
"Mas, udahan?" tanya Mia.
"Udah," jawab Danu kesal.
Danu melangkah menuju ranjangnya dan tidur membelakangi Mia. Kekesalan Danu membuat Mia merasa sangat bersalah. Mia turun dari sofa dan mendekati Danu.
"Mas," panggil Mia.
"Hemm?" jawab Danu.
"Ajarinnya yang benar dong. Aku pinter loh. Gampang kalau diajarin. Tadi salah mas aja ngajarinnya gak bener!" ucap Mia.
"Iya udah gak usah dibahas lagi," ucap Danu.
"Ya sudah jangan marah dong. Kan salah mas," ucap Mia.
"Iya sudah. Aku yang salah," ucap Danu.
"Nah gitu dong. Kan aku tenang jadinya!" ucap Mia sambil membaringkan tubuhnya di samping Danu.
Tak lama suara dengkuran kecil Mia mengganggu telinga Danu. Danu membalikkan badannya dan menatap Mia. Wajah tanpa dosa itu tidur dengan nyenyak. Seolah tak ada beban sama sekali.
"Mia.. Mia.." gumam Danu.
Danu menggelengkan kepalanya mengingat sikap Mia tadi. Lama-lama rasa kesal itu justru membuat Danu jadi menjadi tertawa. Kelakuan Mia benar-benar polos. Kadang memang polos dan menyebalkan, tapi justru sikap itu yang sering Danh rindukan.
########################
Hayuuukkk ahh... Readers baik.. tolong kerja sama jempolnya. Minta like, love, rate bintang 5, vote seikhlasnya. Kalau ada koin juga boleh banget. eheheh....
__ADS_1
Selamat membaca... semoga suka dengan kehaluan Mimin ya...