
"Mas," panggil Mia.
Mia mengucek matanya dan mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Tapi ketika ia sudah bangun, ia tak mendapati Danu. Kemana dia? Mia hendak menelepon suaminya tapi dering ponsel justru terdengar di dalam kamar. Mia memastikan pendengarannya, ternyata benar. Ponsel Danu ada di atas meja.
Mia mandi dan ganti baju. Setelah itu, Mia membereskan pakaiannya sambil menangis tersedu-sedu.
"Mas Danu jahaaaat," teriak Mia.
"Eh, jahat kenapa?" tanya Danu yang tiba-tiba masuk.
"Mas Danu?" ucap Mia tak percaya.
"Kamu kenapa nangis begitu?" tanya Danu.
"Mas kenapa ninggalin aku?" tanya Mia disela tangisnya.
"Kamu mau kemana?" Danu malah bertanya karena gagal fokus dengan setelan pakaian Mia.
"Aku mau pulang," ucapnya dengan uraian air mata yang tak kunjung henti.
"Loh? Kan mami bilang dua malam lagi," ucap Danu.
"Aku pikir mas kabur ninggalin aku. Makanya aku siap-siap mau pulang," ucap Mia sambil menyeka air matanya.
Danu sangat terharu saat melihat Mia menangis karena takut ditinggalkan olehnya. Tapi hanya beberapa detik saja, rasa harunya berubah jadi rasa kesal. Ternyata Mia menangis karena bingung pulang. Mia tidak membawa uang dan tidak tahu harus pulang naik apa.
"Mas kenapa? Kok marah? Harusnya aku yang marah," ucap Mia.
Danu hanya diam tak menjawab pertanyaan Mia. Ia rasa percuma berdebat dengan istrinya. Hatinya merasa sangat kesal karena Mia membuatnya terbang melayang kemudian menjatuhkannya begitu saja. Padahal Danu sudah jauh-jauh pergi hanya untuk mencari seblak. Karena pada saat tidur siang, Mia mengigau ingin makan seblak. Ia merasa perjuangannya sia-sia.
"Eummm, wangi seblak mas." Mia mengendus ke arah tangan Danu.
Danu masih diam dan hanya menyimpan seblak itu di atas meja. Mia segera memburunya dan berteriak senang saat melihat ada seblak di hadapannya.
"Maaaas, ini seblak?" tanya Mia.
"Mana aku tahu. Tapi kata yang jualan sih begitu," jawab Danu.
Danu memang merasa aneh dengan makanan yang ia beli. Karena selama ini, Danu belum pernah membeli jajanan seperti itu. Mendengar namanya saja baru tadi siang ketika mengigau.
"Mas, makasih ya!" ucap Mia sambil memeluk suaminya. "Mas itu kayak dukun Loh. Padahal aku belum bilang mau seblak, tapi mas sudah beli." Mia terlihat sangat senang.
Danu menatap Mia dengan lekat. "Senang?" tanya Danu.
Mia mengangguk dan mulai menyantap seblak. Nampak sangat lahap. Perasaan Danu yang kesal kini terobati hanya karena melihat Mia terlihat senang dengan seblak yang sudah dibelinya.
"Mau mas?" tanya Mia sambil menyerahkan seblaknya.
"No. Aku tidak mau," ucap Danu dengan cepat.
"Jangan bohong. Aku tahu mas pasti mau," ucap Mia sangat yakin.
"Gak Mia. Aku malah aneh melihat makanan seperti itu," jawab Danu.
"Terus kenapa mas melihat Mia begitu? Ini juga seblaknya ada yang tumpah," ucap Mia.
"Apa hubungannya seblak yang tumpah sama aku?" tanya Danu.
"Kata ibu kalau kita makan terus ada yang tumpah atau jatuh, itu artinya orang yang melihat makanan kita itu mau. Ayo mas jangan malu-malu!" Mia menyerahkan seblaknya.
Danu tetap menolak. Tidak masuk akal baginya ketika ia melihat Mia dan makanannya yang tumpah, itu karena ia menginginkan seblaknya. Menurut Danu itu hanya karena Mia gegabah saja hingga makan seblak pun harus sampai berceceran seperti itu.
"Mas, ayo cobain dulu aaa!" Mia memberikan sesendok seblak pada Danu.
"Aku tidak mau Mia," tolak Danu.
Mia terus memaksanya untuk menyuapi sebak. Danu terus menolak namun Mia tetap memaksa. Agar Mia berhenti memaksanya, maka Danu membuka mulutnya untuk memakan sesendok seblak itu.
Meskipun Danu merasa aneh saat makanan lembek itu masuk ke dalam mulutnya, namun Danu mulai menikmatinya. Kuah seblak yang menggoda, membuat Danu mengambil sendok yang dipegang oleh Mia.
"Tuh kan, aku bilang juga apa. Mas pasti mau kan?" tanya Mia.
Danu menghentikan suapannya. Ia merasa gengsi dengan ucapan Mia.
"Siapa yang suka? Aku hanya membuatmu senang karena memaksaku untuk memakan ini. Kamu senang kan aku sudah makan seblakmu ini?" tanya Danu mencoba mengelak.
__ADS_1
Mia tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih mas," ucap Mia.
Terima kasih? Apa yang Mia katakan? Jadi Mia percaya dengan ucapan Danu? Danu berpikir Mia terlalu polos. Ia menjadi khawatir kalau Mia akan mudah tertipu jika terlalu polos seperti itu.
"Mia kau percaya dengan ucapanku tadi?" tanya Danu.
"Kenapa harus tidak percaya?" tanya Mia.
"Kau ini selalu saja mudah percaya dengan ucapan orang. Kamu harus lebih peka membaca situasi. Aku hanya takut kamu tertipu," ucap Danu.
"Mia juga paham kok. Makanya Mia tidak habiskan seblak ini. Karena Mia tahu kalau mas masih mau kan?" tanya Mia.
"Lalu kenapa tadi kamu katakan percaya dengan ucapanku?" tanya Danu.
"Ada kalanya berbohong demi kebaikan itu lebih baik. Ya paling tidak, kita mengerti perasaan orang lain tanpa harus menyinggungnya. Ayo makan seblaknya! Jangan malu-malu!" ucap Mia.
Sial! Mia bukan hanya bisa membaca raut wajah Danu. Tapi Mia juga bisa mengerti maksud pembicaan Danu. Intinya Danu mau seblaknya. Karena kepalang tanggung akhirnya Danu menghabiskan seblak yang Mia sisakan untuknya.
"Mas yang gak peka," ucap Mia.
Danu menghentikan sendoknya yang hampir masuk ke dalam mulutnya.
"Kenapa?" tanya Danu.
"Mas gak lihat kalau Mia masih mau?" tanya Mia.
"Jangan salah. Ini aku sengaja sisain satu sendok buat kamu. Aaaa," ucap Danu menyuapi Mia.
Mia tersenyum. Bukan karena senang karena disuapi oleh Danu. Tapi Mia menahan tawanya karena ucapan Danu yang menyebut sengaja menyisakan satu sendok seblak untuknya. Jelas-jelas sendok itu hampir saja masuk ke dalam mulut Danu.
"Makasih ya mas," ucap Mia.
Danu mengangguk. Menyingkirkan semua perkara seblak, Danu mulai mengajak Mia untuk membicarakan soal penyakitnya itu. Danu ingin mengungkapkan semua yang terjadi padanya. Danu juga tidak ingin memaksa Mia untuk selalu bersama-sama. Mia berhak bahagia. Sudah lama Danu mengumpulkan keberaniannya untuk jujur pada Mia. Dan sekarang waktu yang tepat!
"Mia," panggil Danu.
"Ya mas," jawab Mia.
"Aku mau jujur padamu tentang sesuatu," ucap Danu dengan sangat hati-hati.
Mia sebenarnya sudah tahu apa yang akan Danu bahas. Namun Mia pura-pura tidak tahu agar tak menyinggung Danu.
"Penyakitku," jawab Danu singkat.
"Mas sakit apa?" tanya Mia memegang pipi dan dahi Danu.
Danu meraih tangan Mia dan menciumnya. Danu mulai menceritakan semua yang selama ini ia alami. Selama bercerita dengan Mia, Danu menggenggam tangan Mia. Danu merasa kalau ini adalah genggaman terakhirnya. Danu mulai berkaca-kaca saat menceritakan semuanya. Cerita yang tak pernah ia bagi sebelumnya kecuali pada Arumi dan Reki. Danu tidak pernah berpikir kalau akan ada orang yang tahu semua ini kecuali mereka berdua.
"Mas," ucap Mia memeluk Danu.
Danu menumpahkan air matanya di hadapan Mia. Ini titik lemah Danu, disaat orang lain tahu kelemahannya. Air mata Danu juga diartikan sebagai kesedihan karena ini adalah hari terakhirnya bersama Mia, karena Danu yakin Mia akan meninggalkannya setelah ini. Namun Danu harus membuang semua air mata dan kesedihannya karena jawaban Mia.
"Mas adalah suami Mia. Ketika Mia memutuskan untuk bersedia menikah dengan mas, iru artinya Mia siap menerima kekurangan mas. Adapun kelebihan mas itu hanya sebuah hadiah buat Mia," ucap Mia.
Hati Danu bergetar. Danu tidak pernah sekalipun bermimpi akan bertemu dengan wanita seperti Mia. Ucapan terima kasih saja rasanya tidak cukup. Danu mencium tangan Mia dengan penuh kasih sayang.
"Aku temani mas berobat ya?" ucap Mia.
"Kalau ternyata tidak sembuh?" tanya Danu.
"Tugas kita hanya berusaha dan berdoa. Sisanya tinggal syukur dan sabar. Bersyukur bila berhasil, bersabar bila belum waktunya. Simple kan?" ucap Mia.
Ya, memang simple. Tapi nyatanya akan sangat sulit jika dipraktekkan.
"Kalau ternyata harus bersabar?" tanya Danu.
Jujur saja, Danu merasa kecil harapan untuk sembuh. Bahkan mungkin ia merasa tidak ada kesempatan untuk sembuh. Danu memikirkan nasib Mia. Bagaimana masa depannya jika masih bertahan dengannya. Tapi Mia selalu membuat hatinya tenang. Mia selalu memberi solusi dengan begitu enteng. Meskipun kenyataannya tidak akan semudah setiap ucapannya, paling tidak Mia nampak santai menyikapi masalah besar seperti ini.
"Terima kasih Mia," ucap Danu.
"Kita harus berterima kasih pada Tuhan karena sudah mempertemukan kita. Bertemu dengan orang yang bisa menerima kekurangan kita adalah anugerah yang sangat indah. Mia juga tidak berpikir kalau ada yang mau menikahi janda dari kampung seperti Mia," ucap Mia.
Begitu merendahnya Mia hingga ia tidak tahu kalau kehadirannya bagai berlian mahal yang perlu di jaga sebaik-baiknya oleh Danu.
"Aku berjanji akan selalu mencintaimu hingga akhir hayatku. Aku berjanji akan menjagamu dan melindungimu walau harus ku korbankan nyawaku sendiri," ucap Danu.
__ADS_1
Mia marah dan kesal saat Danu bicara seperti itu. Mia hanya ingin menikmati setiap hari yang indah bersama Danu. Tidak mau membicarakan hal-hal buruk, apalagi berkorban nyawa. Mia ngeri mendengar semua itu. Mia tidak mau menjadi janda untuk yang kedua kalinya.
Baginya status janda bukanlah sebuah masalah. Itu hanyalah takdir dari Tuhan. Namun pada kenyataannya status itu selalu saja dipandang sebelah mata. Apalagi menjadi janda karena sebuah perceraian, Mia selalu saja dipandang sebagai wanita yang tidak bisa menjaga dan memuaskan suami. Padahal pada kenyataannya Mia yang tidak pernah dipuaskan oleh Haji Hamid. Tapi pantang bagi Mia menceritakan setiap aib rumah tangganya. Mia lebih suka membiarkan orang lain menduga dan menerka, dari pada membuka semua kenyataan rumah tangganya.
Malam ini menjadi malam yang sangat menyenangkan bagi Danu. Perasaannya begitu lega karena kini, tak ada lagi yang ia sembunyikan dari Mia. Bukan hanya lega, tapi Danu juga tenang karena kekhawatirannya sudah terjawab. Mia akan tetap di sampingnya apapun yang terjadi. Mia akan tetap menjadi istrinya sampai Tuhan yang memisahkan mereka.
"Mas, belajar lagi yuk!" ajak Mia.
Mia dengan polosnya selalu mengajak Danuu untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Walaupun Mia tahu ia tidak akan pernah mendapatkan kepuasan dari Danu. Bagi Mia yang belum disentuh oleh pria, apa yang telah diberikan Danu adalah candu baginya. Mia yang baru pertama kali jatuh cinta itu merasa selalu menginginkan sentuhan suaminya.
"Kamu gak keberatan cuma sampai sana?" tanya Danu.
Ya, karena sampai saat ini pembelajaran yang ia berikan hanya sampai dada. Tak pernah turun ke bawah. Sebenarnya bisa saja Danu menggunakan cara lain untuk memuaskan Mia, namun ia tidak mau menjamah apa yang tidak seharusnya ia jamah. Danu hanya akan menjamahnya jika ia sudah sembuh.
"Ayo ah! Kelamaan materi, aku sukanya praktek saja!" ucap Mia yang langsung menyambar bibir Danu.
Di balik beban Danu, pada kenyataannya ia sangat menikmati semua itu. Meskipun Danu sering pulang malam dan mabuk hingga berakhir di hotel, namun Danu tidak pernah bisa melakukan hal itu karena ia sadar akan penyakitnya. Jika saja ia memaksakan diri, itu hanya akan membuka semua aibnya.
Seperti biasa, Danu akan selalu banjir saat Mia sudah semakin aktif. Danu terlihat begitu lemas ketika sudah mencapai titik puncaknya. Mia juga akan tersenyum puas saat melihat Danu begitu puas. Entah hanya untuk menyenangkan hati Danu atau memang ia puas karena sudah berhasil memuaskan suaminya, namun Mia terlihat bahagia melihat Danu sudah banjir.
"Mas, apa sih rasanya kebanjiran begitu?" tanya Mia.
Pertanyaan macam apa itu? Danu memutar kepalanya untuk menjelaskan apa yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
"Rasanya seperti kamu menjadi ironman, emmm banget." Danu mencubit hidung Mia dan segera memejamkan matanya.
"Ehh, ditanya serius jawabnya malah begitu. Dikira Mia odading mang oleh," ucap Mia.
Mia yang tidak ingin mengganggu suaminya, ikut memejamkan matanya agar segera tidur. Tapi ia tak kunjung tidur. Mia tiba-tiba merindukan Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan. Mia meraih ponselnya dan menghubungi mertuanya. Tak ada jawaban. Mia melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan jam sepuluh. Mia menghitung jarak pangandaran ke Jakarta. Kurang lebih tujuh jam. Seharusnya sekitar pukul delapan, mertuanya sudah sampai. Ah, mungkin mertuanya sudah tidur karena lelah setelah perjalanan jauh.
"Belum tidur?" tanya Danu saat melihat Mia masih bangun dan memegang ponsel.
"Aku menelepon mami, tapi tidak diangkat. Mungkin sudah tidur ya?" tanya Mia.
"Jam berapa ini?" tanya Danu.
"Jam sepuluh," jawab Mia.
"Paling juga lagi menggosip kita. Udah ayo tidur. Jangan ganggu orang tua yang sedang menggosip!" ucap Danu sambil menarik tangan Mia untuk segera tidur.
Menggosip? Sepertinya feeling Danu memang tepat dan tidak meleset sama sekali. Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan memang sedang membicarakan Danu dan Mia ditengah kelelahannya. Ponsel yang disimpan dengan getar itu tidak mengganggu kegiatan gosip mereka.
"Pi, kira-kira yang menang Mia atau Danu ya?" tanya Nyonya Nathalie.
"Danu dong. Anak papi tidak mungkin terkalahkan. Mami lihat dong Mia selalu terlihat sangat lemas dan pucat kalau sudah keluar kamar. Danu pasti menyerangnya habis-habisan. Ya, gak jauh beda lah sama Papi. Iya kan? Mau bukti gak?" goda Tuan Ferdinan.
"Papi apaan sih? Mami ngantuk ah. Mau tidur," ucap Nyonya Natahlie.
"Tumben, biasanya juga kalau urusan gosip sampe jam dua belas juga masih semangat," ucap Tuan Ferdinan.
"Lagian, mami lagi bahas Danu sama Mia, papi malah ke yang lain." Nyonya Nathalie kesal dan cemberut.
"Kan takut mami gak percaya. Jadi papi mau buktiin. Jadi gimana?" tanya Tuan Ferdinan.
"Apanya yang gimana?" tanya Nyonya Nathalie
"Buktinya," jawab Tuan Ferdinan.
"Mami ngantuk ah," jawab Tuan Ferdinan.
"Kalau begitu mami mengakui kan papinitu me---," ucapan Tuan Ferdinan terhenti saat mendengar teriakan istrinya.
"Papiiiii," teriak Nyonya Nathalie.
"Iya, iya, ini papi juga mau tidur," ucap Tuan Ferdinan.
Tuan Ferdinan langsung merebahkan tubuhnya di samping istrinya dan memejamkan matanya agar segera tidur.
#################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
__ADS_1
Terima kasih..