
Danu yang menatap Mia semakin lama, kini semakin merasa kalau ia benar-benar menginginkan wanita yang tengah tidur di sampingnya itu. Seperti magnet, Mia tiba-tiba berbalik dan memeluk Danu. Seketika Danu menengang. Hasratnya yang sudah sangat besar itu tidak bisa dibendung lagi. Sentuhan Mia membuat Danu merasa tidak bisa mengelak, dan hanya dalam hitungan menit saja kepuasannya sudah tuntas.
Saat Danu akan ke kamar mandi, Mia terganggu karena tangannya dipindahkan dari tubuh Danu. Kaki Mia menindih tubuh Danu, namun kemudian Mia terbangun seketika.
"Mas pipis ya?" tanya Mia dengan memegang benda pusaka Dani yang sudah banjir.
Danu segera menyingkirkan tangan Mia. "Apaan sih Mia," ucap Danu malu.
"Iya ih, itu basah. Mas kalau masih ngompol pakai pampers aja. Ada kok yang ukuran dewasa," ucap Mia.
"Aku gak ngompol," ucap Danu sambil turun dari ranjangnya dan segera ke kamar mandi.
Di bawah guyuran shower, ditemani gemericik air, Danu menundukkan kepalanya. Ada rasa bahagia dan sakit yang berkecamuk dalam hatinya. Wajahnya terlihat menahan semua rasa itu. Entah ia masih punya nyali atau tidak untuk bertemu dengan Mia.
"Mas, jangan lama-lama main airnya. Ini jam satu malam. Nanti masuk angin," ucap Mia sambil mengetuk pintu kamar mandi.
Tanpa menjawab ucapan Mia, Danu mematikan showernya dan segera mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Danu mengganti pakaiannya, namun kakinya berat untuk melangkah keluar dari kamar mandi.
"Mas lama sekali," ucap Mia yang menunggunya di atas ranjang.
"Kamu ngapain sih gak tidur lagi?" tanya Danu .
"Aku nungguin mas," ucap Mia.
"Untuk apa?" tanya Danu.
"Kenapa mas gak pernah cerita kalau masih suka ngompol? Aku bisa ngobatin loh mas," ucap Mia.
Danu menarik napasnya dalam-dalam. Hal yang paling ia benci harus dibahas oleh wanita polos ini.
"Aku tidak ngompol Miaaaa," jawab Danu geram.
"Terus kalau bukan ngompol apa namanya?" tanya Mia.
Apa namanya? Apa ya? Tidak mungkin Danu harus menjelaskan semuanya kepada Mia. Itu sama artinya bagaikan Danu harus menjelaskan pelajaran fisika pada anak TK.
"Iya, iya, aku ngompol." Danu memilih untuk mengiyakan apa yang ada di kepala Mia daripada harus menjelaskan kenyataan yang ada.
"Mas tahu gak obat paling mujarab biar gak ngompol lagi?" tanya Mia.
Danu menggeleng dengan malas.
"Pakai capung mas," jawab Mia dengan wajah meyakinkan.
"Capung?" tanya Danu.
"Iya capung. Ditempel ke udel, terus nanti udel mas digigit sama capungnya. Tapi tenang, gak sakit kok. Cuma geli sedikit aja," ucap Mia.
Danu menatap Mia penuh kebingungan. Apa hubungannya capung gigit udel sama jadi gak ngompol lagi? Tapi dari ada urusan tambah panjang, Danu mengambil cara cepat. Danu mengiyakan saja setiap kalimat yang keluar dari mulut Mia. Karena untuk menyanggah, membutuhkan waktu hampir dua jam agar masalah menjadi clear kembali.
"Besok aku obatin ya!" ucap Mia.
"Besok kan?" tanya Danu.
"Iya," jawab Mia sambil mengangguk.
"Ya sudah berarti sekarang kamu tidur karena besok kamu harus ke kantor," ucap Danu.
Danu merebahkan tubuh Mia dan menarik selimut hingga menutupi perut Mia.
"Mau kemana?" tanya Mia saat melihat Danu menuju pintu kamarnya.
"Mau minum dulu!" ucap Danu sambil mengangkat gelas kosong yang ada di tangannya.
Mia mengangguk dan memejamkan matanya kembali. Akhirnya Danu keluar dengan wajah lesu. Lelah dan merasa kalah. Mungkin itu yang tengah dirasakan oleh Danu. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Danu tahu ini sudah sangat larut dan tidak mungkin siapapun untuk membaca pesannya. Namun ia tetap mengirim pesan itu. Danu merasa butuh teman untuk bercerita. Dan dia adalah orang yang tepat. Dia pasti akan membaca pesannya meskipun tidak sekarang. Tak apa, yang pasti dia sudah mengungkapkan semua perasaannya. Setelah merasa tenang, Danu kembali ke kamarnya dan tidur di sebelah Mia.
Pagi sekali Mia sudah bangun dan segera bersiap untuk pergi ke kantor. Karena Mia tahu, hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini. Semua pekerjaan selain yang berhubungan dengan dirinya sendiri, pasti tidak bisa ia lakukan. Namun saat Mia sedang merapikan rambutnya, ponsel Danu bergetar.
Getar? Sejak kapan Danu menggunakan mode getar di ponselnya? Apakah ada yang sedang Danu sembunyikan? Mia melihat ke arah Danu, pria yang sudah sah menjadi suaminya itu masih tidur nyenyak. Getar ponsel yang Danu simpan di atas meja rias, tidak mengganggu tidur Danu sama sekali.
Mia berhenti dan melihat ke arah layar ponselnya.
"Dokter Arumi?" gumam Mia.
__ADS_1
Mia mulai berpikir, apa ini ada hubungannya dengan mode getar? Apa mungkin Danu memiliki hubungan lain dengan dokter Arumi?Mia mengingat kembali, sepanjang ia mengenal Danu, tidak ada dokter keluarganya yang bernama dokter Arumi. Wajahnya juga asing bagi Mia.
Masih muda dan cantik. Wajahnya tidak mirip dengan Danu. Berarti dia bukan saudaranya. Selain Danu adalah anak tunggal, Danu juga tidak terdengar memiliki saudara sepupu wanita bernama Arumi. Apalagi seorang dokter. Hampir semua saudara dan keluarga Danu berkecimpung di dunia bisnis. Apakah mungkin ada keluarganya yang menjadi dokter? Lalu kenapa tidak menjadi dokter pribadi untuk keluarganya?
Saat melihat Danu menggelisik, Mia segera berdiri dari meja riasnya dan duduk di sofa. Ia membawa cermin kecil dan beberapa makeup dasar untuk dipakai di sofa.
"Sudah bangun mas?" tanya Mia.
"Iya," jawab Danu sambil mengucek matanya.
"Mau aku bawakan teh hangat?" tanya Mia.
"Tidak perlu. Ada air putih. Minum air putih saat bangun tidur lebih baik untuk kesehatan," ucap Danu.
"Ih, Pak dokter pinter sekaliii." Mia mengangakat jempol kanannya.
Dokter? Kenapa Mia menyebutnya Pak dokter? Danu segera turun dari ranjangnya dan segera mengecek ponselnya. Ada panggilan tak terjawab dari Dokter Arumi. Apa ini yang dimaksud oleh Mia?
Danu tidak ingin menganggapnya terlalu serius. Kalaupun Mia tahu, ia hanya akan tahu nama dan wajahnya saja. Tidak mungkin Mia tahu tentang hubungannya dengan dokter Arumi.
"Santai saja Mia. Kamu itu sekarang istri aku. Tidak perlu berangkata satu jam sebelum papi sampai di kantor," ucap Danu.
Danu menilai kalau ini terlalu pagi untuk berdandan. Danu juga menyimpan curiga saat Mia menggunakan makeupnya di sofa. Kenapa tidak di meja rias? Pasti karena Mia melihat panggilan dari dokter Arumi.
Baik Danu atau Mia tidak ingin bertanya tentang hal itu. Bagi Danu, kalaupun Mia tahu, biarkan Mia tahu dengan sendirinya. Begitupun bagi Mia, kalaupun Danu mau terbuka, ia pasti akan melakukan semua itu tanpa harus Mia yang memintanya.
Keduanya bersikap sesantai mungkin meskipun saling menyimpan rasa penasaran. Bagi Mia dan Danu, semua akan terbuka setelah waktunya tepat. Mungkin sekarang semuanya belum tepat.
Saat waktunya sarapan, Danu mengajak Mia untuk ke ruang makan.
"Ayo!" Danu menggenggam tangan Mia.
Mia merasa menegang. Kenapa sekarang semuanya berbeda? Sentuhan Danu sekarang seperti ada aliran listriknya. Mia menelan salivanya susah payah hingga akhirnya ia berhasil menenangkan dirinya sendiri.
"Cieeee, pengantin baru gandengan teroooos." ucap Tuan Ferdinan saat melihat anak dan menantunya terlihat sangat romantis.
Mia segera melepaskan genggaman tangannya saat melihat ayah dan ibu mertuanya terus menatapnya. Namun Danu menggenggam erat tangan Mia.
"Aku sama Mia berangkat duluan ya Pi," ucap Danu.
"Mobil Danu bau, papi gak biasa naik mobilnya. Bikin gak nyaman," ucap Tuan Ferdinan sambil mengibaskan tangannya di depan hidungnya.
"Mana ada mobilku bau? Jangan percaya Mia. Ayo berangkat!" ucap Danu menarik tangan Mia.
Namun Mia menolak karena Mia harus cium tangan dulu pada Tuan Ferdinan dan Nyonya Nathalie.
"Danu," ucap Tuan Ferdinan yang mengulurkan tangannya agar dicium oleh Danu.
Mia mencubit pinggang Danu sebagai kode agar Danu segera melakukan hal yang sama pada kedua orang tuanya. Meskipun terkesan aneh, namun Danu melakukan hal yang sama dengan apa yang Mia lakukan pada kedua orang tuanya. Danu bahkan lupa, kapan terakhir ia mencium tangan kedua orang tuanya saat akan pergi ke kantor.
Danu kembali menggenggam tangan Mia saat akan pergi keluar rumah. Dan hal yang sama juga dilakukan oleh Danu saat ia sudah sampai di kantor. Danu tidak melepaskan genggaman tangannya seolah ia ingin memberi tahu pada dunia kalau Mia adalah miliknya.
Danu juga meminta seseoarang untuk menyiapkan meja kerja Mia di ruangannya.
"Mas, masa kita satu ruangan?" tanya Mia.
"Masalahnya dimana?" tanya Danu.
"Ya gak enak lah sama karyawan lain," ucap Mia.
"Gak enak? Kasih kucing aja. Kalau mau enak, sini sama aku." Danu mencium pipi Mia.
Darahnya berdesir, detak jantungnya tak menentu dan membuat Mia menjadi kikuk.
"Mas, apaan sih?" ucap Mia.
Setelah ruangannya beres, Danu mengajak Mia untuk duduk di meja masing-masing. Danu sengaja mengatur meja Mia agar terlihat jelas oleh Danu. Agar setiap Danu lelah bekerja, wajah wanita cantik itu bisa kembali membangkitkan semangatnya.
"Aku ke ruangan papi dulu ya! Ada berkas yang harus aku bahas sama papi," ucap Danu.
Mia mengangguk.
"Mau ikut?" tanya Danu.
__ADS_1
"Tidak usah. Aku nunggu di sini saja!" ucap Mia.
Sejujurnya Mia ingin ikut dengan Danu. Kemanapun Danu pergi, Mia ingin selalu bersama pria yang sudah berjanji akan menjaganya di depan penghulu dan saksi.
Entah kebetulan atau memang sengaja. Lagi-lagi ponsel Danu tergeletak dan menunjukkan nama dokter Arumi pada layar ponselnya. Mia melihat ke arah pintu, Danu belum kembali. Rasa penasarannya membuat Mia meraih ponsel itu dan mencari tahu tentang dokter Arumi.
Setelah panggilan itu tidak terjawab, Mia hendak mengembalikan ponsel Danu ke tempat semula. Namun sebuah pesan masuk dan menampakkan sebagian textnya.
'Aku sudah di Jakar.'
Jakar? Mungkin maksudnya Jakarta. Apa lagi text yang belum terbaca oleh Mia? Saat mendengar langkah yang semakin mendekat, Mi segera menyimpan ponsel Danu dan duduk kembali di kursinya.
"Sudah?" tanya Mia menyembunyikan semua perasaan kecewanya.
"Papi belum datang," ucap Danu.
"Belum datang?" tanya Mia.
Wajar jika Mia terkejut, karena Danu juga sebenarnya memikirkan apa yang Mia pikirkan. Padahal tadi Tuan Ferdinan sudah siap untuk berangkat ke kantor. Mereka tidak tahu kalau CEO perusahaan terbesar itu kini masih di jalan. Ia terlambat karena tadi keasyikan bergosip dengan istrinya.
Tuan Ferdinan dan Nyonya Nathalie menggosipkan anaknya sendiri. Setelah ketahuan mengintip, keduanya tidak berani menguping lagi di depan pintu kamar Danu. Berbekal kata 'terjepit', yang mereka dengar malam itu, kini cukup menerka apa yang pengantin baru lakukan itu dari raut wajahnya.
"Pi, berarti Mia menjaga kesehatan dan kesegaran tubuhnya. Danu aja bilang kejepit. Padahal Mia kan janda?" ucap Nyonya Nathalie.
"Bisa jadi karena benda pusaka Danu keturunan papi. Soalnya waktu itu Danu juga bilang kalau mau pipis di botol gak cukup. Berarti kan panjang kali lebarnya gak bisa dianggap remeh," ucap Tuan Ferdinan.
"Papiiii," ucap Nyonya Nathalie menjadi malu sendiri saat suaminya membahas tentang benda pusaka.
"Lihat saja raut wajah Danu tadi. Seger beneerr. Pasti karena dia menang kan?" ucap Tuan Ferdinan.
Nyonya Nathalie menghubungkan ucapan suaminya dengan kenyataan di lapangan. Pada kenyataannya memang benar, saat suaminya menang akan menampakkan wajah yang sangat bahagia.
"Berarti Mia kalah dong?" ucap Nyonya Nathalie saat mengingat wajah Mia yang lesu karena kurang tidur.
"Jadi, anak kita itu hebat. Jagoan Mi. Pasti sekarang juga dilanjut nih di kantor," ucap Tuan Ferdinan.
"Yakin?" tanya Nyonya Nathalie.
Tuan Ferdinan menjelaskan kalau pagi tadi anak buahnya diperintah Danu untuk menyiapkan meja kerja di ruangan Danu. Pikiran Tuan Ferdinan tentang keinginan Danu untuk satu ruangan bersama istrinya menjadi jorok mengingat mereka masih dalam suasana pengantin baru.
Setelah puas bergosip, Tuan Ferdinan baru menyadar kalau sudah jam delapan lebih lima belas menit. Jam masuk kerja adalah jam delapan, sedangkan sudah telat lima belas menit ia masih ada di rumah. Sebenarnya bebas bagi seorang CEO jika saja ia datang terlambat. Namun itu bukan tipe Tuan Ferdinan, ia selalu berusaha memberi contoh bukan memberi perintah. Dan ini pertama kalinya ia datang terlambat hanya karena bergosip dulu dengan istrinya. Hal itu sangat konyol memang, namun itulah kenyataannya. Pernikahan anaknya memang membawa Tuan Ferdinan dan Nyonya Nathalie menjadi orang tua tukang gosip dan tukang ngintip.
Untuk menghilangkan jejak gosipnya, Tuan Ferdinan segera membawa berkas pertemuannya untuk siang nanti. Ketika ia bertemu dengan Danu dan menanyakan alasan keterlambatannya, Tuan Ferdinan menjelaskan kalau ia memperbaiki berkas yang sedang ditentengnya itu.
"Mana Mia?" tanya Tuan Ferdinan.
"Di dalam," jawab Danu.
"Mentang-mentang pengantin baru, sukanya di dalam terus." Tuan Ferdinan mengalihkan pembicaraan agar Danu tidak terus membahas keterlambatannya.
"Papi, jangan mulai. Ini di kantor," ucap Danu mulai kesal.
"Kamu tuh awas. Ini di kantor. Kalau mau mulai, hati-hati!" ucap Tuan Ferdinan sambil pergi meninggalkan Danu.
Danu menggelengkan kepalanya. Namun setelah ayahnya pergi, Danu justru menahan tawanya. Mungkin ia bahagia ketika melihat Tuan Ferdinan tidak lagi menerornya, dengan pertanyaan 'kapan nikah' yang selalu membuatnya sakit kepala.
Danu kembali ke ruangannya dan mendapati Mia sedang membuka-buka berkas. Pekerjaannya sekarang berbeda dengan sebelumnya. Hingga Mia harus belajar lagi.
"Mia, siang ini papi ada meeting. Aku juga mau izin keluar dulu. Ada urusan. Aku usahakan gak sampai sore, tapi kalau aku pulang telat nanti aku telepon sopir buat jemput kamu ya!" ucap Danu.
Mia mengangguk dan terlihat santai. Padahal hatinya menyimpan kecurigaan dan rasa sakit. Mia yakin Danu izin untuk bertemu dokter Arumi yang sudah di Jakarta. Apa yang akan mereka lakukan hingga ada kemungkinan Danu untuk pulang telat? Apakah mereka akan berkencan?
Setelah Danu pergi dari ruangan itu, Mia menepuk-nepuk pipinya. Ia mencoba menyadarkan dirinya apa statusnya. Mia hanya istri pura-pura saja meskipun ia sudah memiliki buku nikah dengan Danu. Wajar jika Danu masih berhubungan dengan wanita lain di luar sana. Apalagi status Mia sebagai seorang janda saat menikah dengan Danu, bisa menjadi penyebab Danu tidak bisa mencintainya.
Cinta? Kenapa Mia harus bicara cinta? Sejak kapan Mia mengenal cinta? Mia berusaha sekuat tenaga agar ia tidak menangis. Mia merasa ada yang berbeda atas perasaannya.
"Kalau mas gak suka sama Mia, kenapa mas ngajarin Mia itu semalam? Terus nanti kalau udah bisa, Mia praktek sama siapa? Mas lebih memilih wanita lain daripada Mia. Mas Danu jahat," gumam Mia.
###############
Readers baik, mohon jempolnya buat tap like, love, vote dan rate bintang 5 ya..
Yang udah, makasih banyak. Yang belum, ayo dong...
__ADS_1
Selamat membaca... semoga suka dengan kehaluan Mimin yak...