
Mia sudah bangun lebih awal dan pergi ke dapur untuk melakukan tugasnya seperti biasa. Tapi juru dapur dan pelayan yang lain melarang Mia. Mereka tahu kalau Mia adalah Nyonya Muda di rumah itu. Tidak mungkin jika harus membiarkan seorang Nyonya Muda yang masih pengantin baru berurusan di dapur.
Mia kembali ke kamarnya dengan wajah cemberut. Mia bingung harus berbuat apa. Sementara selama di Bandung ia terbiasa hidup normal. Di sini, Mia justru merasa hidupnya tidak normal. Semua serba tidak boleh, apapun yang Mia inginkan tinggal bilang dan akan disiapkan sebaik dan secepat mungkin. Bukannya senang, Mia malah merasa hidupnya tidak nyaman.
"Sudah bangun?" tanya Danu saat melihat Mia duduk di sofa sambil membuka kado.
Danu menggisik matanya. Ia memastikan keadaan istrinya. Sepertinya memang nampak tidak baik-baik saja.
"Kamu kenapa? Buka kado kok sambil cemberut? Isinya jelek?" tanya Danu.
Dengan wajah cemberut, Mia hanya menggeleng sambil melanjutkan membuka kado. Sebagai seorang suami Danu ingin membahagiakan istrinya yang sedang cemberut itu.
"Kamu cantik kalau lagi cemberut," ucap Danu.
"Mandi dulu sana. Gombal itu gak mempan kalau mulutnya bau iler," ucap Mia.
Danu langsung membungkam mulutnya. Kini Danu yang cemberut dan langsung ke kamar mandi. Mia yang cemberut jadi senyum sendiri melihat kelakuan Danu. Sebelumnya Danu belum pernah mandi sepagi ini. Biasanya Danu akan mandi ketika mau pergi ke kantor meskipun bisa bangun lebih pagi.
"Rasanya seger ya kalau mandi jam segini?" ucap Danu sambil mengeringkan rambutnya.
"Emang belum pernah sebelumnya?" tanya Mia.
Danu menggeleng.
"Mas gak pernah mandi pagi?" tanya Mia.
"Mandi lah. Ini tuh bukan mandi pagi, tapi mandi subuh. Masih gelap tahu," ucap Danu sambil membuka gorden kamarnya.
Mia menjelaskan kalau ia biasa mandi lebih pagi dari Danu. Padahal di Bandung itu cuacanya lebih dingin dibanding Jakarta. Menurut Mia mandi pagi itu bagus untuk kesehatan.
"Iya, iya. Nanti aku biasain deh biar mandi lebih pagi," ucap Danu.
Pagi ini Danu terpaksa mandi air dingin karena kamar mandinya sedang bermasalah. shower untuk air hangatnya rusak sejak seminggu lalu. Awalnya Danu tidak mempermasalahkan semua itu karena Danu jarang menggunakannya. Tapi setelah ada Mia, Danu yakin kalau ia akan mandi lebih pagi setiap harinya.
"Mas, aku jenuh." Mia memulai curhatnya.
"Kenapa?" tanya Danu.
"Aku gunanya apa sih jadi istri?" tanya Mia.
Tugas jadi istri? Jenuh? Apa maksud Mia? Apa mungkin Mia menuntutnya untuk mendapatkan apa yang ia dapatkan dari pernikahan sebelumnya? Danu mendadak berkeringat.
"Ma-maksud kamu apa Mia?" tanya Danu dengan gugup.
"Aku jenuh. Aku cuma diem di kamar. Nemenin mas, tanpa melakukan tugasku sebagai seorang istri." Mia terlihat sangat kesal.
Danu menjadi tegang. Mia benar-benar sudah membahas tugas istri. Apa artinya Mia juga menuntutnya untuk melakukan tugas suami?
"Mia, sudahlah. Nikmati saja hidupmu. Memang kamu maunya gimana?" tanya Danu.
"Ya aku mau hidup normal," ucap Mia.
Normal? Apa maksudnya normal?
"Normal versi kamu itu gimana sih?" selidik Danu.
"Ya normal gitu Mas. Mia punya aktivitas, gak diem aja begini. Mia mau masak gak boleh, mau beres-beres gak boleh. Semua serba gak boleh, terus Mia harus ngapain?" tanya Mia.
"Ya bagus dong. Kamu duduk manis aja menikmati setiap pelayanan yang kamu dapatkan," ucap Danu.
"Mia gak suka seperti ini Mas. Ini bukan Mia. Atau kalau gak boleh, Mia masuk kerja lagi di kantor ya? Kan Mas janji mau kerja sama. Mia bantu mas buat nikah, mas juga bantu Mia buat kerja sesuai cita-cita Mia. Mas gak lupa kan?" tanya Mia.
"Nanti mas tanya ke Papi ya!" ucap Danu.
Ya, memang harus atas keputusan Tuan Ferdinan. Karena sampai saat ini, semua kuasa hanya atas persetujuan ayahnya.
"Kalau papi gak ngizinin Mia buat kerja lagi di perusahaan Papi, Mia mau ngelamar kerja aja di tempat lain." Mia mengancam Danu.
"Eh kok gitu?" tanya Danu.
"Loh emang kenapa?" tanya Mia.
__ADS_1
"Gak bisa gitu dong," ucap Danu.
"Bisa lah," jawab Mia dengan entengnya.
"Ya sudah nanti aku bahas ini sama Papi," ucap Danu.
"Makasih mas," ucap Mia sambil memeluk Danu.
Danu mengusap kepala Mia dengan penuh kasih sayang. Orang asing yang ia temui secara tidak sengaja itu kini sudah resmi menjadi istrinya. Danu tidak menyangka kalau perjanjiannya saat itu akan terwujud. Tapi meskipun pernikahan mereka hanya sebuah perjanjian, Danu sudah bertekad tidak akan menceraikan Mia. Kecuali jika Mia yang menginginkan perceraian itu.
Amanat mendiang Bu Ningsih masih terdengar sangat jelas di telinga Danu, saat menitipkan Mia padanya. Sejak detik itu, Danu berniat untuk menjaga Mia seperti yang diamanatkan oleh Bu Ningsih.
Untuk mengalihkan pembicaraan Danu membantu Mia membuka kado pernikahannya. Meskipun tamu undangan yang datang tidak terlalu banyak, tapi Mia dan Danu mendapat banyak sekali kado. Mia nampak terkagum-kagum dengan kado yang diterimanya. Ada banyak tas dan sepatu dan baju mahal untuk Mia.
"Mas, lemari itu mau Mia pakai simpan ini ya!" ucap Mia sambil menunjuk salah satu lemari kaca yang ada di kamar Danu.
"Boleh, pakai saja sesukamu. Nanti aku suruh bibi membereskannya ya!" ucap Danu.
"Jangan, biar Mia saja. Kan enak Mia jadi ada kerjaan. Dari pada rebahan terus? Mia takut bengkak kayak gajah," ucap Mia.
"Ya sudah, lakukan saja kalau itu membuatmu senang!" ucap Danu.
Danu lebih suka membantu Mia mengerjakan semua itu dari pada membayangkan Mia bengkak seperti gajah.
Akhirnya selesai juga. Danu melihat jam.
"Mia aku siap-siap ya! Sebentar lagi waktunya sarapan pagi," ucap Danu.
Mia mengangguk dan membereskan semua bungkus kado yang berserakan. Saat Danu sudah selesai bersiap, Danu segera mengajak Mia untuk sarapan bersama. Mia harus membiasakan diri dengan semua kebiasaan di rumahnya.
Danu dan Mia menuju ruang makan. Di sana sudah ada Tuan Ferdinan dan Nyonya Nathalie. Danu merasa tidak nyaman saat kedua orang tuanya saling berbisik dan tertawa kecil melihat ke arah mereka.
"Kamu habis berapa ronde sih?" bisik Tuan Ferdinan.
"Apaan sih Pi?" ucap Danu.
"Kamu gak bisa bohong. Wajahmu lesu begitu," ejek Tuan Ferdinan.
"Aku udah bantuin Mia beres-beres di kamar," jawab Danu.
"Mia gak mau. Katanya mau dia saja yang beresin sendiri," ucap Danu.
"Ya jelas gak mau. Mia pasti malu banyak jejak di kamarmu," goda Tuan Ferdinan sambil tertawa kecil.
"Papi," ucap Danu kesal.
"Apa sih Pi? Udah ah. Ayo sarapan!" ajak Nyonya Nathalie.
"Jangan sungkan-sungkan Mia. Kamu itu sudah jadi bagian dari keluarga kami. Ayo sarapan!" ucap Tuan Ferdinan.
"Sarapannya ini?" tanya Mia sambil menunjuk tumpukan roti tawar dan segelas susu.
"Kamu tidak suka?" tanya Nyonya Nathalie.
"Suka Mi," jawab Mia.
"Nanti setelah kamu makan ini, bibi akan masak buat kamu ya! Sekarang ini dulu," ucap Danu.
Mia tersenyum saat melihat Danu mengerti apa yang Mia mau. Mia yang biasa hidup di kampung, tidak terbiasa sarapan hanya dengan roti tawar dan segelas susu.
"Danu, apa tidak sebaiknya kamu libur dulu?Ini kan masih suasana pengantin baru untuk kalian," ucap nyonya Nathalie.
"Ada banyak pekerjaan yang harus selesai secepatnya. Lagian kalau Danu gak kerja nanti dipecat sama papi. Mau dikasih makan apa Mia? Sekarang semua serba beli. Bukan begitu Pi?" ucap Danu.
Danu kembali mengingatkan ucapan ayahnya tempo hari yang pernah bercanda seperti itu. Tuan Ferdinan tidak bisa mengelak karena memang ia mengingat ucapan itu.
"Terserah kamu saja. Asal Mia tidak keberatan," ucap Tuan Ferdinan.
"Gak masalah kok Pi. Kasihan juga Mas Danu kalau di rumah terus. Ia pasti jenuh," ucap Mia.
Sebenarnya Mia sedang curhat colongan, namun sepertinya tak ada yang mengerti dengan ucapannya. Tak ada yang menanggapinya.
__ADS_1
Selesai sarapan dan berdebat, Danu dan Tuan Ferdinan berangkat ke kantor. Sedangkan Nyonya Nathalie dan Mia masih mengobrol. Tak lama Nyonya Natahalie pamit untuk ke kamar. Ia merasa ngantuk karena semalam begadang sudah ngintip pengantin baru.
Mia kembali sendiri. Kejenuhan itu terasa sangat menyiksa Mia. Mia pergi ke luar. Sekedar menikmati udara segar di pagi hari mungkin bisa membuatnya lebih menikmati hidupnya.
Mia duduk di luar sebentar. Tak lama seorang asisten rumah tangga datang menemuinya dan menawarkan makan. Mia langsung masuk dan sangat senang. Tanpa malu Mia makan dengan lahap. Bagi Mia, belum sarapan jika tidak ada nasi yang masuk ke dalam perutnya. Roti dan susu hanya pengganjal saja, bukan sarapan.
Selesai makan, Mia kembali ke kamarnya. Mia ingin membenahi kamar Danu. Karena tidak mungkin Mia membereskan rumah, pasti akan banyak tangan yang mencegahnya. Kini hanya kamar Danu yang bisa ia bereskan.
Mia mengubah posisi kamar Danu. Ia ubah sesuka hatinya. Tak peduli yang punya kamar suka atau tidak. Mia hanya ingin ada aktivitas. Kalaupun Danu tidak suka, ia bisa mengubahnya lagi nanti.
Setelah selesai Mia mengabadikan hasil pekerjaannya dalam kamera ponsel. Ia melihat foto before afternya. Ia edit menjadi satu foto. Iseng-iseng ia kirimkan pada Danu yang sedang bekerja.
Lama Danu tidak membalas pesannya. Mia yang selalu berpikir kalau Danu sedang sibuk bekerja, menunggu balasan dari suaminya sambil tiduran. Namun pesan itu sudah sangat lama tidak berbalas. Mia sampai ketiduran menunggu balasan pesan itu.
Saat Danu istirahat, Danu meraih ponselnya dan berniat menghubungi Mia. Namun ia melihat ada pesan dari istrinya.
"Mia?" ucap Danu sambil tersenyum tipis melihat foto yang dikirimkan Mia.
Danu menunduk saat mengingat Mia. Betapa tersiksanya Mia yang merasa dikurung hingga ia merubah kamarnya seperti itu. Danu berniat untuk membicarakan tentang keinginan istrinya itu dengan Tuan Ferdinan.
Setelah makan siang, Danu menemui ayahnya di ruangannya. Ia mengutarakan semua keinginan istrinya.
"Mia mau kerja atau kamu yang gak mau jauh dari Mia? Memangnya kamu tidak puas ya kalau cuma malam saja? Masih butuh tambahan waktu? Kalau mau kamu bisa ambil cuti," ucap Tuan Ferdinan.
"Tambahan waktu, dikira main bola. Danu serius pi," ucap Danu.
"Loh memang Mia gak mainin bola punya kamu?" goda Tuan Ferdinan.
Danu menjelaskan berulang kali tentang keluhan Mia, namun tanggapan Tuan Ferdianan sama. Danu hampir saja menyerah sebelum akhirnya ia memperlihatkan kiriman foto dari Mia.
Tuan Ferdinan melihat Mia benar-benar jenuh hingga mengubah kamar Danu sendirian.
"Nanti Papi pikir-pikir dulu ya!" ucap Tuan Ferdinan.
Danu mengangguk dan menunggu keputusan ayahnya. Danu mengerti kalau ini bukan keputusan mudah bagi Tuan Ferdinan. Ia menginginkan menantunya diam di rumah dan mengandung cucunya saja. Namun karena Mia berasal dari kalangan yang berbeda dari keluarganya, hingga Tuan Ferdinan harus berusaha untuk mengerti keadaannya.
Danu terus meyakinkan ayahnya kalau impian terbesar Mia adalah menjadi pekerja kantoran. Danu tidak ingin hanya setelah menikah dengannya malah menghapus semua cita-citanya. Danu sampai memohon agar ayahnya bisa mempertimbangkan semua permintaannya. Danu juga mengingatkan kalau Mia memiliki potensi yang sangat besar untuk kemajuan perusahaannya.
"Ya sudah kamu keluar dulu. Nanti papi diskusikan dulu sama Mami ya!" ucap Tuan Ferdinan.
Danu mengerti kalau ibunya harus terlibat, karena ini menyangkut Mia. Tugas Danu bukan hanya meyakinkan ayahnya, tapi ia juga harus meyakinkan ibunya. Danu memutar otaknya mencari apa yang harus ia lakukan agar bisa melunakkan hati Nyonya Nathalie.
Danu sudah menemukan ide. Walaupun ia tidak begitu yakin, tapi apa salahnya mencoba. Danu akan melakukannya demi Mia.
Sepulang kerja, Danu disambut oleh Mia. Danu pulang lebih telat karena ada pekerjaan yang harus ia selesaikan hari itu juga. Sebenarnya bisa saja Danu mengerjakan semua itu besok. Tapi ia takut kalau besok Mia boleh masuk, maka ia harus membantu menyiapkan ruangan untuk Mia. Karena ruangan Mia yang lama sudah ada yang menempati.
Danu melihat ibunya sedang duduk santai di sofa. Danu meminta agar Mia ke kamar dulu. Ada hal yang ingin ia bicarakan dengan ibunya. Setelah Mia pergi, Danu menghampiri ibunya dan mulai membujuknya.
"Mia itu harus banyak istirahat. Memangnya gaji kamu tidak cukup?" tanya Nyonya Nathalie.
"Ini bukan perkara kuantitas nominal uang Mi. Tapi masalahnya kualitas yang Mia miliki. Aku tahu bagaimana perjuangannya untuk bisa sekolah dan kuliah. Semua demi cita-citanya. Masa sekarang aku malah jadi penghalang cita-citanya?" ucap Danu.
"Tapi Mami mau Mia di rumah saja. Menikmati apa yang kamu hasilkan untuknya. Sudah cukup Mia hidup susah. Sekarang waktunya Mia menikmati segala kemewahan yang ada tanpa harus bekerja," ucap Nyonya Nahalie.
"Mia bukan orang yang seperti itu Mi. Aku melihat Mia sama seperti Mami. Mia punya harapan yang besar untuk bisa mewujudkan semua cita-citanya. Mungkin sekarang Mia kerja di kantor dulu. Sebelum nanti Mia membangun usaha seperti Mami," ucap Danu.
Nyonya Nathalie menatap Danu. Memang benar apa yang diucapkan Danu. Sama halnya seperti Mia, ia juga tidak ingin hanya menikmati hasil jerih payah suaminya. Ia ingin menjadi wankta produktif.
"Mami," bujuk Danu.
"Danu, nanti Mia ajarin bisnis aja ya sama Mami. Papi juga pasti akan tidak setuju kalau Mia harus meninggalkan rumah untuk bekerja. Mia bisa kerja dari rumah," ucap Nyonya Nathalie.
"Nanti juga aku mau bujuk Mia agar belajar dari Mami. Tapi aku mau sebelum itu Mia mewujudkan cita-citanya dulu. Lagi pula, aku mau punya banyak waktu dengan Mia. Aku bisa setiap waktu bersama Mia," ucap Danu mengeluarkan jurus pamungkasnya.
"Oh, jadi alasannya ini ya? Ya sudah, nanti Mami bilang sama Papi biar Mia masuk kerja besok. Jangan lupa kalau kerjaan lagi agak longgar, longgarin juga ya sabuk celananya. Bikin Mia segera hamil. Mami udah gak sabar mau gendong cucu. Tapi hati-hati jangan sampai ada jejak ya!" Nyonya Nathalie akhirnya menyetujui permintaan Danu, walaupun ia menggoda anaknya terlebih dulu.
Apa? Disetujui? Semudah ini? Danu menyesal kenapa tidak langsung mengeluarkan jurus pamungkasnya.
"Siap Mi," ucap Danu meskipun wajahnya memerah karena menahan malu. "Terima kasih ya Mi! Mia pasti seneng mendengar semua ini," lanjut Danu yang langsung berlari meninggalkan ibunya.
######################
__ADS_1
Hayuuukkk ahh... Readers baik.. tolong kerja sama jempolnya. Minta like, love, rate bintang 5, vote seikhlasnya. Kalau ada koin juga boleh banget. eheheh....
Selamat membaca... semoga suka dengan kehaluan Mimin ya...