
Nyonya Nathalie pagi ini sudah sangat sibuk menelepon WO untuk acara pernikahan anak semata wayangnya. Tanpa sepengetahuan Tuan Ferdinan, Nyonya Nathalie sudah melangkah terlalu jauh. Sampai akhirnya perbuatannya itu ketahuan saat orang WO datang ke rumah Tuan Ferdinan.
"Mami sudah melangkah sejauh ini?" tanya Tuan Ferdinan kesal.
"Mami ingin semuanya disiapkan sebaik dan semewah mungkin. Ini pernikahan anak kita satu-satunya. Pernikahan pertama dan terakhir untuk anak kita. Wajar dong kalau Mami persiapannya dari sekarang," jawab Nyonya Nathalie.
"Memangnya Mami sudah bicara dengan Danu?" tanya Tuan Ferdinan.
"Belum," jawab Nyonya Nathalie.
"Mi, yang mau menikah itu mereka. Kenapa Mami yang sibuk sendiri?" ucap Tuan Ferdinan kesal.
"Eh, dimana-mana pengantin itu luluran, cukuran, perawatan, ahh pokoknya gitu lah. Kalau urusan beginian, ya urusan kita dong." Nyonya Nathalie kesal dengan Tuan Ferdinan yang mendebatnya. Bukan itu yang ia harapkan. Ia justru berharap pujian dan sanjungan karena sudah turun tangan dalam pernikahan anaknya. Ya, paling tidak ucapan terima kasih lah.
Saat Danu keluar dari kamarnya, Danu mendengar perdebatan orang tuanya. "Masih tentang pernikahan," gumam Danu.
"Sayang, sini!" panggil Nyonya Nathalie saat melihat Danu keluar dari kamarnya.
Danu menghampiri orang tuanya. Ia duduk di samping ibunya yang terus-terusan membahas tentang pernikahan yang akan digelar semewah mungkin.
"Mi, Mia kan anak kampung. Nikahannya jangan mewah begitulah. Kasihan dia, nanti pas nikahan planga plongo lihat yang aneh-aneh. Mami kayak gak tahu Mia saja. Udah tabu noraknya kebangetan," ucap Tuan Ferdinan.
Danu tidak menjawab, karena jujur saja hatinya memang mengiyakan apa yang sudah dikatakan ayahnya. Berbeda dengan Danu, Nyonya Nathalie justru marah saat suaminya menyebut Mia anak kampung. Mia memang anak kampung dan kadang-kadang memang terlihat kampungan. Tapi Mia anak yang cerdas. Sekali diberitahu pasti dia langsung ngerti. Bagi Nyonya Nathalie semua hanya butuh waktu saja.
"Mi, bukannya aku menentang Mami. Tapi benar kata Papi. Kita menikah sederhana saja. Yang penting keluarga dan rekan terdekat saja yang kumpul. Jangan terlalu mewah. Aku hanya justru kasihan pada Mia. Ketika nanti mereka tahu status Mia, bisa jadi banyak yang mengejek Mia. Lagipula Danu juga tidak mau terlalu mengekspose Mia," ucap Danu.
Nyonya Nathalie diam. Benar! Status Mia sebagai janda di usianya yang masih muda akan menjadi cibiran orang. Sebenarnya Danu hanya khawatir saja. Khawatir kalau orang tuanya akan kecewa dengan pernikahannya dengan Mia. Ah! Sudahlah. Danu tidak ingin membahas kisah nanti, yang penting sekarang Danu terhindar dari omelan orang tuanya, yang setiap hari meminta Danu segera menikah.
"Ya sudah, Mami ikut aja!" ucap Nyonya Nathalie.
Danu dan Tuan Ferdinan bernapas lega dengan keputusan Nyonya Nathalie. Walaupun sedih juga ketika melihat Nyonya Nathalie harus terlihat kecewa seperti itu.
Danu ke kostan Mia untuk membicarakan pernikahannya. Ya, pernikahan pura-pura atas dasar simbiosis mutualisme. Tapi sayangnya Danu merasa terjebak. Sering menghabiskan waktu bersama dengan Mia membuat Danu merasa nyaman dengan calon istri pura-puranya itu.
Mia hanya mengangguk dan menyetujui semua rencana tentang pernikahannya itu. Sama sekali tak terlihat ada beban walaupun Danu menyebut kalau pernikahannya akan digelar dengan sangat sederhana. Kalau saja wanita lain, mungkin mereka akan marah dan tidak akan mau menikah dengan seorang pewaris tunggal perusahan besar seperti Danu, harus digelar sederhana.
Beruntungnya Danu karena menemukan berlian ditengah tumpukan pecahan beling di jalanan. Mia cantik dan cerdas. Meskipun berstatus janda dan terlihat agak norak, tapi mampu mengimbanginya dalam berbagai hal. Satu lagi yang paling penting, Mia tidak pernah meminta ini dan itu pada Danu. Padahal Danu nyaris sempurna. Dengan harta keluarga Danu yang tidak mungkin habis 7 turunan, Mia bisa meminta apapun pada Danu. Tapi bukan Mia namanya kalau menggantungkan hidup pada orang lain.
Mia selalu berusaha hidup mandiri. Sesulit apapun itu, Mia usahakan semampunya. Dan itu yang tidak pernah Danu temui pada beberapa wanita yang pernah dekat dengannya.
"Aku bertanya yang terakhir kalinya. Apa kau berjanji akan menerima semua kekuranganku?" tanya Danu dengan sangat serius.
"Aku berjanji akan menjadi yang terbaik untuk suamiku, siapapun itu dan menerima apapun kekurangannya." Mia menjawab dengan sangat santai.
__ADS_1
"Apa kau yakin?" tanya Danu.
Mia mengangguk dan tersenyum. Perlahan kekhawatiran Danu memudar. Mia berhasil meyakinkannya. Kini sudah tak ada lagi hal yang mengganjal dalam hati Danu.
"Ya sudah aku pulang ya!" ucap Danu. "Oh ya, aku lupa. Ini untuk membeli kebutuhanmu," Danu menyerahkan 30 lembar uang seratus ribuan.
"Alhamdulilaaaah, Mia gajian Tuan?" teriak Mia kegirangan.
Danu sampai terkejut dan memegang dadanya karena terkejut dengan teriakan Mia. Danu menggelengkan kepalanya. Dia punya tabungan banyak tapi liat uang segitu aja hebohnya minta ampun. Mengingat tabungan Mia, Danu ingin sekali bertanya tentang uang itu. Tapi Danu takut Mia tersinggung. Mia pernah berkata kalau tidak semua hal tentang dirinya bisa dibuka. Hanya pada suaminya Mia akan jujur tentang semua hal.
Mungkin nanti setelah Danu menjadi suaminya, Danu bisa tahu semua tentang Mia. Jujur saja, Danu merasa sangat tertarik dengan kehidupan Mia. Hidupnya penuh liku-liku tapi Mia masih berdiri di atas kakinya yang kokoh. Hatinya sangat kuat ketika dihadapkan dengan berbagai macam persoalan yang singgah.
Mka sudah cukup makan asam garam kehidupan meskipun usianya baru 22 tahun. Sementara Danu yang sudah berusia 35 tahun, baru dihadapkan dengan permintaan orang tuanya untuk segera menikah saja sudah stres ampun-ampunan.
"Itu uang untuk membeli kebutuhanmu, bukan uang gajimu. Gajimu urusan papi, bukan urusanku." Danu cemberut kesal.
"Hah? Terus ini uang apa? Kebutuhan apa?" tanya Mia kebingungan.
"Miaaa, kau ini calon istriku. Jadi aku memberikanmu sedikit uang jajan. Aku sedang tidak bawa uang cash. Jadi segitu dulu," ucap Danu kesal.
"Hah? Jajan? Tuan pikir Mia anak kecil yang suka jajan. Lagi pula kita belum menikah.Mia belum ngurus Tuan, masa Mia udah di kasih uang begini. Mia gak mau ah, nih!" Mia menyerahkan kembali uang pemberian Danu.
Danu menggelengkan kepalanya. Aneh sekali. Dimana-mana wanita itu senang jika diberi uang. Bahkan tak sedikit wanita yang pernah dekat dengan Danu meminta uang padanya dengan terang-terangan. Tapi Mia, malah menolak ketika Danu memberinya uang. Padahal jumlahnya tak seberapa bagi Danu.
"Mia, pegang uangnya. Kamu pakai untuk beli makeup. Kamu harus belajar dandan. Kamu itu cantik, jangan terlalu polos begitu.Lihat di youtube tutorial makeup sederhana." Danu mengajari Mia agar tampil lebih modis.
"Ini kartu ATM?" tanya Mia.
"Kartu kredit," jawab Danu kesal. Mia
"Oh, kartu kredit," ucap Mia sambil membolak balikan kartu itu. "Cicilannya mingguan apa bulanan? Terus dia tahu gak alamat Mia? Takutnya pas dia mau nagih ke Mia nyasar karena gal tahu kostan Mia," ucap Mia.
"Miaaaaa," ucap Danu geram
"Ya Tuan?" jawab Mia bingung.
"Kamu belanja saja. Dan berikan itu ketika mau membayar ya!" ucap Danu yang merasa migrainnya mulai kambuh.
Mia mengangguk. Benar kata Danu kalau Mia ke kantor memang hanya memakai baju yang dibelikan Danu. Tak apa harganya mahal, tapi kualitasnya juara.
Melihat Mia yang sudah tidak banyak protes, Danu segera pamit untuk pulang.
Semalaman Mia menatap kartu kredit yang diberikan Danu. Danu memang baik, dipikir-pikir Danu mirip dengan Haji Hamid yang sering marah dengan kelakuan Mia. Mia mencoba menghubungi nomor Haji Hamid, masih tidak aktif. Sudah beberapa hari nomor Haji Hamid tidak aktif. Padahal sekarang Mia sangat ingin bertanya tentang kartu kredit.
__ADS_1
Katanya Danu orang kaya. Tapi belanja aja harus kredit. Rumah dan mobilnya aja yang mewah. Padahal belanjanya kredit. Jangan-jangan belanja sayuran juga kredit ya? Lebih kaya Pak Haji dong kalau gitu. Pak Haji mana pernah ngajarin Mia kredit. Malah ngajarin Mia buat rajin nabung. Danu kok malah nyiruh ngutang sih? Berarti Danu gak punya tabungan dong? Wah, Mia harus ajarin Danu buat rajin nabung nih.
Begitulah Mia yang berpikir kalau Danu tidak memiliki tabungan karena memiliki kartu kredit. Padahal kalau saja Mia tahu isi tabungan milim Danu, bisa pusing Mia menghitung angka nol yang berderet.
Mia berpikir kalau gaya hidup Danu yang berlebihanlah yang membuat Danu tidak memiliki tabungan.
Danu pulang ke rumah dengan wajah cemberut. Rasa kesalnya pada Mia masih membekas. Untuk menjelaskan kartu kredit saja membuatnya harus meminum obat migrain.
"Danu, kenapa?" tanya Nyonya Nathalie.
"Pusing Mi," jawab Danu.
"Kamu dari rumah Mia kan? Kok pusing? " tanya Nyonya Nathalie.
Belum juga Danu menjawab alasan sakit di kepalanya, tiba-tiba Nyonya Nathalie sudah berasumsi sendiri.
"Oh, apa jangan-jangan kamu ngajarin Mia jurus jitu terus Mia gak bisa-bisa, begitu? Awas ya Danu.....," ucap Nyonya Nathalie menjewer telinga Danu.
"Miiii, udah Mi, sakit. Apaan sih? Kok jadi ke jurus jitu lagi? Ini masalah kartu kredit," jawab Danu kesal.
"Kartu kredit?" tanya Nyonys Nathalie bingung.
"Aku ngasih kartu kredit ke Mia, aku pikir Mia butuh beli makeup dan baju biar gak norak. Tapi Mia malah nanya kemana-mana. Aku kan jadi kesel Mi," ucap Danu sambil memijat kepalanya.
"Emang nanya apa?" tanya Nyonya Nathalie penasaran.
"Pake nanyain cicilannya berapa. cicilannya mingguan atau bulanan. terus nanti yang nagih kreditnya udah tau alamat dia belum. Disangka Danu kredit ke rentenir kali Mi," jawab Danu dengan kesal.
Nyonya Nathakie tertawa puas saat mendengar jawaban Danu. Makanya lain kali kasih uang cash saja," ucap Nyonya Nathalie.
"Udah aku kasih, Mi. Tapi aku gak banyak bawa uang cash. Tapi aku suruh dia beli baju. Makanya aku kasih kartu kredit," jawab Danu.
"Lain kali kalau begitu, kamu bawa uang cash pakai koper ya!" ejek Nyonya Nathalie sambil tertawa puas meninggalkan Danu.
Danu menggelengkan kepala. "Mami dan Mia sama saja. Sama-sama bikin sakit kepala," ucap Danu geram.
#################
Tap likenya jangan lupa ya..
Yang udah ngasih koin dan poin, makasih banyak..
Cuma mau ngingetin aja, yang belum tap love, yuk tap dulu..
__ADS_1
Rate5 juga dooong.. biar aku makin semangat iniiii..
Happy reading semua...