
Pagi ini Danu dan Mia terlihat lebih bahagia, karena sudah tidak ada lagi yang ditutupi antara keduanya. Mia yang selalu merasa kalau Danu adalah pria terakhirnya, kini semakin yakin akan tetap mencintainya sampai kapanpun.
Eh tunggu dulu! Cinta? Benarkah? Pertanyaan itu sering muncul kala Mia merasa bahagia saat ada di dekat Danu.
"Mas, cinta itu gimana sih?" tanya Mia.
"Cinta?" tanya Danu meyakinkan pendengarannya.
"Iya. Mia cuma mau tahu aja, Mia itu cinta gak ya sama mas? Terus mas juga cinta gak sama Mia?" tanya Mia.
"Nah, kan yang bisa jawab itu kamu. Kamu cinta gak sama aku?" tanya Danu.
"Eh, gimana Mia bisa jawab kalau Mia sendiri gak tahu cinta itu apa," jawab Mia.
"Kamu pernah pacaran?" tanya Danu.
"Jangankan pacar. Teman aja gak punya mas," jawab Mia.
Danu mengerutkan dahinya. Wanita ini benar-benar polos dan Harusnya Danu menjadi pria yang paling beruntung memiliki Mia. Tapi saat ini, Danu justru merasa bersalah karena memaksa Mia untuk masuk dalam masalahnya. Seandainya Danu tahu akan seperti ini jadinya, Danu tidak mau melibatkan orang sebaik Mia dalam hidupnya.
"Cinta itu adalah suatu emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Kamu tertarik gak sama aku? Sa-sayang gak sama aku?" tanya Danu gugup.
"Kalau aku gak mau cerai dari mas, itu artinya aku sayang sama mas. Terus aku juga rindu belajar sama mas. Berarti itu cinta ya?" tanya Mia polos.
Apa? Mia mencintainya? Danu sampai membelalakkan matanya karena tak percaya Mia akan menjawab semua pertanyaannya. Jawaban yang sesuai dengan harapannya. Mia mencintainya dan Danu juga mencintainya. Itu artinya mereka saling mencintai. Danu tak bisa membendung lagi perasaan bahagianya. Ia segera memeluk Mia.
"Terima kasih sudah mencintaiku dan bersedia menemaniku dalam setiap kekuranganku," bisik Danu.
"Mia yang harusnya berterima kasih karena mas sudah membuat Mia jatuh cinta. Mia jatuh cinta sama mas. Akhinya Mia bisa merasakan jatuh cinta seperti orang lain," ucap Mia dengan sangat bahagia.
Malam ini adalah malam terakhir yang akan mereka habiskan di Pangandaran. Karena besok mereka harus sudah pulang. Mia sudah meminta Danu untuk mengatur kembali jadwal pengobatannya secara rutin. Mia yakin kalau Danu pasti akan sembuh. Kalaupun Danu tidak akan sembuh, maka bukan masalah besar bagi Mia. Mia sudah berjanji akan selalu mencintai suaminya dengan segala kekurangannya.
Bagi Mia yang tidak pernah mengenal arti cinta, dan pernah menjalin hubungan rumah tangga selama lima tahun tanpa perasaan apapun, bertemu dengan Danu adalah anugerah luar biasa. Bersama Danu, Mia bisa mewujudkan cita-citanya dan menemukan cintanya.
Cinta yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, membuat Mia merasa sangat beruntung telah memiliki Danu. Tak peduli dengan semua kekurangan suaminya. Yang Mia pedulikan adalah, cintanya bersama Danu tak akan pernah pupus.
Malam ini mereka habiskan untuk belajar lagi. Belajar yang tak kunjung ada kemajuan. Hanya sampai di sana, namun keduanya saling menikmati karena sudah saling terbuka dan menerima.
Keesokan paginya, Danu dengan dengkul yang masih lemas membangunkan Mia.
"Sayang, bangun!" Ucap Danu mengguncang pelan bahu Mia.
Sayang? Perlahan Mia membuka matanya. Benarkah apa yang ia dengar? Kenapa rasanya sangat bahagia ketika mendengar Danu memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Apa?" tanya Mia.
"Bangun," jawab Danu
"Mas panggil Mia apa tadi?" tanya Mia.
"Keberatan?" tanya Danu.
"Mia senang mas. Mau dengar lagi boleh?" pinta Mia.
Danu tersenyum merasa malu sendiri dengan kepolosan Mia. Tanpa malu, Mia selalu mengungkapkan semua perasaannya tanpa ragu. Mia yang selalu apa adanya selalu membuat Danu merindukan sosoknya.
"Sa-sayang," ucap Danu gugup.
"Aaah, maaas. Mia bahagiaaaaa," ucap Mia sambil memeluk suaminya.
Danu mempererat pelukannya. Dalam hatinya justru Danu yang sangat bahagia, karena ada wanita yang tahu kelemahannya tapi masih tetap bertahan meski ada alasan untuk meninggalkannya. Mungkin itu definisi cinta yang sesungguhnya bagi Danu.
"Ayo mandi dulu. Siang ini kita akan pulang. Sebelum pulang, aku mau jalan-jalan di pantai dulu. Dari kemarin kan kita hanya menghabiskan waktu di kamar saja," ucap Danu.
Mia mengangguk dan segera mandi. Dalam kamar mandi, Mia beberapa kali harus tersenyum bahagia saat kepalanya mengingat panggilan romantis dari suaminya.
"Mia, lama sekali." Protes Danu saat Mia mandi lebih lama dari biasanya.
Bukan tanpa alasan, Danu ingin Mia segera selesai karena ingin segera menikmati pagi ini di pantai, sebelum akhirnya mereka pulang ke Jakarta.
Mia mempercepat mandinya dan segera bersiap. Beruntung Mia bukan wanita yang harus menghabiskan waktu di depan cermin hanya untuk memoles wajahnya. Mia hanya butuh waktu lima belas menit saja untuk mengganti pakaian dan berdandan. Walaupun kadang Danu menilai Mia terlalu cuek tentang penampilan, namun saat seperti ini Danu justru merasa diuntungkan.
"Ayo mas!" ajak Mia setelah siap.
Danu mengangguk dan meraih tangan Mia. Danu tak melepaskan tangan Mia hingga saat mereka sarapan dulu.
__ADS_1
"Mas, gimana makannya kalau tangan Mia d pegangin begini?" tanya Mia.
"Aku suapin ya!" ucap Danu.
Mia menatap Danu dan mengangguk. Suapan demi suapan masuk ke mulut Mia. Tak malu dengan sekitar, Mia dan Danu yang tengah kasmaran merasa dunia hanya milik mereka berdua. Ketika hampir selesai, Danu melihat air mata Mia mengalir di kedua pipinya.
"Ada apa?" tanya Danu.
"Aku hanya merindukan ibu. Seingatku hanya ibu yang menyuapiku. Kini, setelah ibu tidak ada, mas menggantikan ibu. Semoga mas bisa menyayangiku setulus ibu," jawab Mia penuh harap.
Danu tak menjawabnya. Ia hanya mengangguk dan mengeratkan genggaman tangannya. Bukan hanya mulut Danu, tapi hati Danu yang mengiyakan semua permintaan Mia.
Danu benar-benar ingat semua ucapan mendiang Bu Ningsih yang menitipkan Mia padanya. Danu berjanji untuk memenuhi semua permintaan terakhir Bu Ningsih.
"Ayo jalan-jalan!" ajak Danu setelah mengusap air mata Mia.
Mia mengikuti Danu yang menuntunnya untuk pergi menyusuri pesisir pantai. Danu mengajak Mia untuk duduk di atas pasir putih dan menikmati pemandangan ombak yang tenang.
"Sayang, jangan pernah berhenti untuk mencintaiku," pinta Danu meraih pinggang Mia.
"Tidak akan mas," jawab Mia sambil menjatuhkan kepalanya di bagu Danu.
Waktu terasa semakin cepat hingga jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Matahari yang mulai terasa panas membuat Danu mengajak Mia untuk kembali ke kamar hotelnya.
Danu mengajak Mia untuk bersiap pulang. Mia terlihat malas. Nampaknya Mia terlihat masih ingin menghabiskan waktu dengan Danu. Danu berjanji setelah kembali ke Jakarta, ia akan tetap bersikap seperti sekarang. Danu akan selalu menemani Mia dan menghabiskan waktu lebih banyak dengan Mia.
Kini sudah waktunya mereka kembali ke Jakarta. Danu masih tetap menggenggam tangan Mia. Seolah ia sedang membuktikan pada semesta bahwa ia telah menemukan cinta sejatinya.
Saat sampai ke Jakarta, Mia dan Danu disambut oleh kedua orang tuanya dengan penuh kekepoan. Danu sempat takut jika Mia yang polos akan menceritakan semua yang sudah ia ceritakan. Wajah Danu terlihat panik saat Nyonya Nathalie memberondong Mia dengan pertanyaan yang mengarah ke arah jurus jitu.
"Gimana Mia? Danu hebat gak? Jurusnya oke kan? Tapi kamu tetap menang kan? Jangan malu-maluin mami ya kamu," ucap Nyonya Nathalie.
"Mi, besok lagi ya! Mia pasti cape. Besok wawancara dilanjut lagi ya! Sekarang biarkan Mia istirahat dulu!" ucap Danu sambil mendorong bahu Mia agar segera masuk ke kamarnya.
Mia sebenarnya tidak enak saat harus meninggalkan mertuanya ke kamar sebelum menjawab semua pertanyaannya. Tapi apa boleh buat, Danu mendorongnya hingga ia tak bisa menjawab pertanyaan itu. Lagi pula Mia merasa sangat lelah. Benar kata Danu kalau Mia butuh istirahat. Eh, sebelum istirahat Mia ingin segera membersihkan tubuhnya agar bisa tidur dengan nyenyak.
"Mia, berapa kali?" tanya Nyonya Nathalie yang masih penasaran.
"Apanya?" tanya Mia yang menghentikan langkahnya dan menahan Danu.
"Itu apa Mi?" tanya Mia yang tak mengerti.
"Keramas, mandi gitu." ucap Nyonya Nathalie malu-malu.
"Di sana?" tanya Mia.
"Mia, ayo masuk! Jangan meladeni Mami ah," ucap Danu sambil membungkam mulut Mia agar tidak menjawab pertanyaan ibunya.
"Mia tapi malam ini kamu mandi lagi kan?" tanya Nyonya Nathalie yang masih terus berusaha menginterogasi Mia.
Mia tak bisa menjawab karena mulutnya dibungkam oleh Danu. Hingga Mia mengangkat jempol tangannya untuk menjawab pertanyaan Nyonya Nathalie. Danu dengan segera menarik tangan Mia agar tidak terus meladeni ibunya. Namun Nyonya Nathalie yang terlanjur melihat jawaban Mia langsung bersorak senang.
"Yeaaahh, bagus Mia. Semangat terus ya!" teriak Nyonya Nathalie sambil berlompat dan bertepuk tangan.
"Mami, istigfar Mi. Istigfar! Kesambet setan Pangandaran kali ya!" ucap Tuan Ferdinan yang merasa malu sendiri dengan sikap istrinya.
"Eh, papi." Nyonya Nathalie mengikuti suaminya untuk masuk ke dalam kamarnya.
Seperti biasa, Nyonya Nathalie mengajak suaminya untuk mengintip dan bergosip tentang anaknya. Tuan Ferdinan yang awalnya semangat, kini menjadi bosan dan malas karena terlalu sering. Dan menurut Tuan Ferdinan itu menjatuhkan harga dirinya di depan Danu.
"Ah, papi gak seru." Nyonya Nathalie kesal saat keinginannya tidak direspon oleh suaminya.
Nyonya Nathalie mengikuti suaminya untuk berbaring dan berusaha memejamkan matanya. Berusaha untuk tidur namun nyatanya ia tidak bisa. Pikirannya masih pada bulan madu anak semata wayangnya itu.
Orang yang dipikirkan oleh Nyonya Nathalie justru sedang menceramahi Mia agar tidak terlalu polos. Danu mengajarkan Mia untuk lebih bersikap dewasa. Tidak setiap pertanyaan harus dijawab, tidak semua kejujuran harus diungkapkan.
Mia mengangguk. Meskipun ia belum mengerti sepenuhnya apa yang dimaksud oleh Danu. Mia butuh waktu untuk mencerna setiap ucapan suaminya yang dianggap terlalu serius.
"Mau belajar mas?" tanya Mia.
Itu adalah jurus Mia agar Danu tidak terus menerus menceramahinya. Dan ternyata berhasil. Danu langsung diam dan bungkam.
"Mas, mau?" tanya Mia.
Danu menghela napas panjang. Membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan memejamkan matanya.
__ADS_1
"Mas? Ini kode ya?" tanya Mia.
"Kode apa?" tanya Danu bingung.
"Itu udah naik ranjang. Pasti mau kan?" tanya Mia.
"Kode ngantuk. Aku mau tidur. Cape," jawab Danu membelakangi Mia.
"Yah, salah baca kode dong Mia." Mia menggerutu dan merebahkan tubuhnya di samping Danu.
Danu yang mendengar gerutuan Mia menahan tawanya. Mungkin Mia sedang mempelajari apa yang sudah Danu ajarkan. Danu pernah mengatakan kalau Mia harus bisa melihat situasi dan kondisi di sekitar. Mia harus bisa mempelajari lingkungan sekitar. Nyatanya Mia sedang mempelajari itu walaupun masih belum berhasil.
Mia yang merasa lelah setelah perjalanan, langsung tidur setelah tubuhnya berbaring di atas kasur. Danu menatap wajah Mia yang sedang tertidur. Cantik, ya memang wajah Mia sangat cantik. Tapi bukan hanya itu yang membuat Danu jatuh cinta pada Mia. Kepolosan dan ketulusan Mia yang membuat Danu tak bisa melepaskan Mia. Danu ingin memiliki Mia selamanya, ia tak akan melepaskan Mia apapun yang terjadi.
Pagi ini Danu bangun dengan panik. Danu merasa suhu tubuh Mia lebih tinggi dari biasanya. Ternyata ketika Danu membuka matanya, ia melihat Mia tengah menggigil dengan digulung selimut.
"Mia, kamu kenapa?" tanya Danu sambil memegang dahi Mia.
"Dingin mas," jawab Mia.
Danu memeluk Mia dan menenangkan istrinya. Dengan segera tangannya meraih ponsel nya untuk memanggil dokter pribadinya. Tak lama teriakan Nyonya Nathalie membuat Danu semakin panik.
"Mami, ada apa?" teriak Danu kesal dari dalam kamarnya.
Baru saja Danu memegang gagang pintu, pintu sudah didorong kuat oleh Nyonya Nathalie dari luar kamar.
Jedaaaak..
"Mamiiii," ucap Danu kesal sambil memegang dahinya karena terbentur daun pintu.
"Kamu ngapain bersembunyi di balik pintu begitu?" tanya Nyonyaa Nathalie.
"Siapa yang sembunyi? Aku mau buka pintu tapi mami lebih duluan buka pintu. Sakit mi," ucap Danu.
"Oh, jadi kamu panggil dokter cuma buat ngobatin dahi kamu yang kejedot?" tanya Nyonya Nathalie.
Danu mengabaikan omelan Nyonya Nathalie dan segera menyambut dokter pribadinya untuk segera memeriksa Mia.
"Mia, kamu sakit apa?" tanya Nyonya Nathalie.
"Gak tahu Mi. Mia kan bukan dokter. Tanya saja ke pak dokternya," jawab Mia.
Nyonya Nathalie cemberut karena jawaban polos Mia membuat Danu dan dokter itu menahan tawanya. Mia tidak mengerti maksud dari pertanyaan mertuanya. Padahal Nyonya Nathalie hanya ingin tahu apa yang dirasakan oleh Mia. Bukan bertanya apa nama penyakitnya.
Setelah pemeriksaan, dokter memberikan beberapa jenis obat dan menyarankan agar Mia beristirahat. Mungkin Mia kelelahan saat liburan kemarin.
"Dok, apakah menantu saya sudah hamil?" tanya Nyonya Nathalie.
"Sepertinya belum Nyonya. Hasil pemeriksaan sementara tidak menunjukkan adanya kehamilan pada Nyonya Mia. Tapi jika nanti Nyonya Mia sudah membaik, saya tunggu di rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan," ucap Dokter.
setelah Dokter itu pamit, Nyonya Nathalie kembali membuat kepala Danu sakit. Danu dimarahi bahkan sampai dijewer oleh Nyonya Nathalie.
"Awas ya kamu! Kalau sampai menantu mami sakit karena diajak begadang terus, tapi gak hamil-hamil. Mami harus buat perhitungan sama kamu!" ancam Nyonya Nathalie.
Tak ada pembelaan dari Danu. Ia memang menyadari semua kesalahannya. Ia tahu semua harapan orang tuanya akan sia-sia. Danu tidak bisa mewujudkan semua harapan orang tuanya. Melihat Danu terpojokkan seperti itu, Mia segera membela suaminya.
"Mami, Sudahlah. Kan semuanya butuh proses. Mia sama mas Danu kan gak pacaran, jadi anggap aja Mia mau pacaran dulu sama mas. Boleh kan?" tanya Mia.
"Eummm, kamu pasti ketagihan ya sama anak Mami?" goda Nyonya Nathalie. "Ya sudah, tapi jangan lama-lama ya pacarannya. Mami udah gak sabar, mau gendong cucu." Nyonya Nathalie gemas sambil mencubit pipi Mia.
Nyonya Nathalie tersenyum dan keluar setelah melihat Mia mengangkat kedua jempol tangannya sebagai tanda setuju. Danu dengan lesu menutup pintu kamarnya setelah ibunya pergi.
"Mas, sudahlah. Jangan dipikirkan!" ucap Mia.
Danu hanya mengangguk dan duduk di sebelah Mia. Mia mengusap punggung Danu, kemudian memeluknya.
"Mia sayang mas," ucap Mia.
######################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
__ADS_1
Terima kasih..