Janda Bersegel

Janda Bersegel
Mia cemburu?


__ADS_3

"Dioooon, Miaaaa," teriak Nyonya Helen pagi-pagi.


Mia dan Dion berhamburan mencari sumber suara. Bahaya kalau tidak segera ditemui. Suara panggilan yang sudah hampir tujuh oktaf itu diabaikan.


"Ma, ada apa sih?" tanya Dion yang masih menggunakan baju tidurnya.


Sebenarnya Dion sudah bangun dari tadi. Hanya saja ia belum mandi, ia masih bemalas-malasan sambil membayangkan wajah Mia.


"Pilih ini!" ucap Nyonya Helen.


Beberapa jenis contoh undangan cetak yang terlihat sangat mahal dan mewah tergeletak di meja. Mia tak berani menyentuh satu pun. Mia hanya memperhatikan Dion yang nampak sangat antusias.


"Mia yang ini bagus tidak?" tanya Dion menunjukkan sebuah surat undangan.


"Bagus Tuan," jawab Mia.


Percuma mau bagus dan mahal juga, pernikahan kami hanya sebuah kekonyolan saja kan? Tidak ada yang harus dibanggakan.


Mia justru nampak sedih, namun sebisa mungkin Mia menyembunyikan rasa kecewa dan sedihnya agar tak terlihat oleh orang lain. Apalagi oleh Dion. Bahaya bisa panjang urusannya.


"Kamu mau mau yang ini atau yang ini?" tanya Dion mengangkat dua buah kartu undangan.


"Yang itu Tuan. Mia suka warnanya. Lagipula simple tapi elegan," jawab Mia.


Jawaban Mia membuat Dion merasa sangat senang. Sepertinya cukup lama mengenal Dion hingga Mia tahu kalau Dion memang suka direspon. Tidak peduli Mia suka atau tidak, yang penting Mia harus merespon apa yang Dion ucapkan.


Mama, thanks. Terbaik memang. Dion janji akan menjadi suami yang bertanggung jawab. Dion akan buktikan kalau Dion bisa menjadi seorang suami. Mama lihat saja nanti, Dion tidak akan mengecewakan.


"Deal yang ini ya?" ucap Dion menatap Mia.


Mia mengangguk dan tersenyum.


"Ambil yang ini saja ma," ucap Dion.


"Oh ya, mama minta draft nama undangannya sayang." ucap Nyonya Helen pada Dion.


"Nanti Dion tulis sama Mia ya, Ma." ucap Dion sambil menarik tangan Mia agar kembali ke kamarnya.


"Mia, siapa saja yang mau kau undang?" tanya Dion saat sudah sampai di kamar Mia.


Undang? Bahkan Mia sendiri bingung mau mengundang siapa. Ah, tidak! Ia masih punya Kalin dan Dokter Leoni.


"Hanya ini?" tanya Dion.


"Kalau bisa tambah satu buat Sindi, Tuan." pinta Mia.


Ya, mungkin aneh saat ditanya list nama undangan, Mia hanya mengundang Kalin dan Dev, Dokter Leoni, Haji Hamid. Hanya minta tiga undangan. Bukan karena tidak mau mengumbar, tapi memang karena Mia tidak punya siapapun untuk diundang kecuali mereka.


Danu? Ah, tidak! Mia tidak mau berurusan dengan keluarga Danu lagi. Mia ingin menutup buku dan pura-pura amnesia saja. Mia tidak ingin membuka lembaran lama yang usang. Mia hanya ingin membangun masa depannya. Meskipun kini masih abu-abu, tapi paling tidak sudah ada Dion yang siap membersamainya.


Mia akan menyiapkan diri untuk menjadi istri yang baik bagi Dion meskipun ia sendiri tidak tahu, pernikahan macam apa yang akan ia hadapi nanti. Tugas Mia hanya menjadi yang terbaik tanpa berharap sesuatu yang baik untuknya. Berada di keluarga Dion yang prang tuanya baik saja, anugerah luar biasa bagi Mia.


"Hey, kok melamum? Mikirin apa?" tanya Dion.


"Eh, gak. Gak ada apa-apa Tuan," jawab Mia sambil menunduk.


"Sini!" ucap Dion menepuk bahunya sendiri.


"Tidak mas, terima kasih." ucap Mia.


"Kamu menolak?" tanya Dion.


"Mas belum halal," jawab Mia.


Belum halal? Berarti nanti akan halal. Sekarang tidak mau menangis di bahuku, berarti nanti Mia pasti akan mencari bahuku jika dia ingin menangis. Eh tidak! Setelah menikah denganku, Mia tidak boleh sedih lagi. Mia harus bahagia bersamaku.


"Nanti aku cap ke MUI dulu biar halal ya. hahaah," ucap Dion sambil mengacak rambut Mia.


Tanpa Mia sadari, Mia tertawa begitu lepas. Membuat Dion merasa ikut bahagia dengan tawa yang renyah dari bibir Mia.


"Kamu yakin gak mau nambah list undangan lagi?" tanya Dion sebelum kembali ke kamarnya.


Mia menggeleng.


Dalam kamarnya, Dion membolak balik nama undangan yang Mia berikan untuknya.


Hanya tiga orang? Empat orang dengan Sindi? Kasihan sekali kamu Mia. Jangankan keluarga, teman yang akan kau undang saja tidak ada.


Dion mulai menulis list undangan yang akan ia sebar. Setelah yakin tak ada yang terlewat, Dion membawa kertas itu pada ibunya.


"Ma," panggil Dion.


"Emmm, nanti saja. Tanggung," jawab Nyonya Helen dari balik pintu kamarnya.


Suara yang membuat Dion bergidik segera membuatnya menjauh dari kamar orang tuanya.


Sabar Dion. Nanti kamu bisa mmebalas apa yang sudah dilakukan mama padamu. Nanti aku gantian tidak akan membuka pintu kamar sampai dua hari dua malam. Lihat saja nanti. Pokoknya aku mau ngurung diri sama Mia. Biar mereka membayangkan yang ngeri-ngeri.


Dion meletakkan list undangan di atas meja. Ia duduk sebentar dan merasa sangat kesal. Reza juga sejak kejadian itu tidak main lagi ke rumah. Mungkin ia merasa bersalah pada Dion dan Mia. Dion melihat jam tangannya. Ini masih sore, tapi orang tuanya sudah ngeri-ngeri di kamar. Bukan tanpa alasan, malam ini Tuan Wira akan pergi ke luar kota.


Meskipun pernikahan mereka sudah basi, tapi suasananya selalu hangat. Seperti saat ini, Nyonya Helen membuat Tuan Wira puas dulu biar di luar kota, matanya sedikit terkondisikan karena perbekalan lahir batin sudah aman.


Tiba-tiba Dion tersenyum nakal, membayangkan Mia akan melakukan hal yang sama dengan ibunya.

__ADS_1


"Tuan," panggil Mia.


Lamunan Dion seketika buyar.


"Apa?" tanya Dion dengan wajah cemberut.


"Mia mau jalan-jalan. Boleh pinjam mobil tidak?" tanya Mia.


"Tidak," jawab Dion ketus.


"Pelit," ucap Mia sambil kembali ke kamarnya dan membanting pintu cukup keras. Mungkin sebagai kode kalau Mia sedang marah.


Dion menggelengkan kepalanya dan menghampiri kamar Mia.


"Mia," panggil Dion membuka pintu kamar Mia.


"Kamu mau kemana?" tanya Dion.


"Ke luar Tuan. Mia kan jenuh di rumah terus," jawab Mia.


"Belanja seserahan saja yuk!" ajak Dion.


"Buat Mia?" tanya Mia antusias.


"Iya dong. Kan undangan sudah mau dicetak. Jadi seserahan juga harus sudah belanja dong. Gimana?" tanya Dion.


"Ayo Tuan!" jawab Mia dengan sangat girang.


Dion kembali ke kamarnya untuk membawa dompet dan tak lama kembali untuk segera pergi dengan Mia. Bukan untuk belanja seserahan, tapi karena akan jalan berdua dengan Mia yang membuat Dion merasa sangat bahagia. Urusan belanja seserahan, Dion bahkan tidak tahu ia harus beli apa saja.


Di dalam mobil berdua dengan Mia, membuat udara mendadak panas. Mungkin karena mereka berdua berebut oksigen dalam satu mobil yang sama.


"Mia," panggil Dion untuk memecah keheningan.


"Iya," jawab Mia tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.


"Kamu bisa bawa mobil?" tanya Dion.


"Bisa dong. Mau bukti?" tanya Mia.


"Ah tidak. Aku percaya padamu," jawab Dion.


"Mia itu terbiasa hidup sendiri Tuan. Semua harus bisa Mia lakukan sendiri. Dulu, Kalin yang mengajarkan Mia untuk hidup mandiri. Ah, jadi rindu Kalin. Apa kabar ya dia?" ucap Mia.


"Coba hubungi dia. Ajak ketemu di sini, siapa tahu bisa. Sebentar lagi kan jam pulang kantor," ucap Dion.


"Memangnya boleh?" tanya Mia.


"Yang bilang tidak boleh siapa?" Tanya Dion.


"Justru aku ingin tahu siapa saja circle kamu. Temanmu kan temanku juga Mi," jawab Dion.


"Ah, Tuan. Anda ternyata baik juga ya!" ucap Mia yang menatap kagum pada Dion.


"Sudah, jangan lama-lama lihatnya. Aku takut kamu jatuh cinta," goda Dion.


"Ish," jawab Mia kesal.


Mata Dion memang tidak menatap Mia. Ia menatap jalanan karena fokus menyetir, tapi Dion berusaha menajamkan pendengarannya saat mendengar Mia tengah berbincang dengan wanita yang ia sebut sebagai Kalin itu. Berdasarkan hasil ngupingnya, Kalin akan menemui mereka sepulang kerja.


"Tuan, Kalin mau menemui Mia. Boleh kan? Tuan ngumpet saja kalau dia sudah datang ya!" jawab Mia.


"Kenapa harus ngumpet?" tanya Dion.


"Ya, takutnya Tuan malu." jawab Mia.


"Siapa bilang aku malu?" tanya Dion.


Anda memang tidak akan malu Tuan. Tapi malu-maluin deh pasti.


Ketika mobil terparkir di sebuah mall besar, Dion secepat kilat menarik tangan Mia dan menguncinya dalam genggamannya. Ini hanya alasan saja, karena Dion ingin terus berdekatan dengan Mia.


"Aku takut kamu hilang," bisik Dion di telinga Mia.


Mia cemberut dan mengikuti Dion. Dion melihat pergelangan tangannya. Ini masih jam empat lebih sepuluh menit. Mungkin sebentar lagi, Kalin akan sampai. Hingga Dion harus mempercepat belanjanya agar tidak pulang dengan tangan kosong.


Untung saja Mia bisa diajak kerja sama. Saat memilih sepatu, tas, dan baju, Mia tidak menghabiskan banyak waktu. Mia hanya menyesuaikan warna dan modelnya saja. Dion cukup suka dengan selera Mia saat di mall. Barang yang Mia pilih hampir semuanya disukai oleh Dion. Hanya ada beberapa saja yang Dion kembalikan karena menurutnya tidak cocok.


"Mia, belanja ini ya!" ucap Dion menunjuk ke arah dadanya.


"Iya," jawab Mia yang mengerti maksud Dion.


"Yang itu lucu Mia," tunjuk Dion pada pakaian dalam yang menurut Mia aneh.


"Gak mau ah. Yang normal saja Tuan," jawab Mia.


"Ambil yang itu satu. Please!" bujuk Dion.


"Yang itu saja Tuan," tunjuk Mia pada pakaian dalam yang menurutnya lebih normal.


Dion menggeleng. "Itu saja," tunjuknya.


Mia menelan ludahnya.

__ADS_1


Kalau begitu jangan mengajak berdiskusi. Ambil saja sesukamu. Nanti sekalian kamu pakai sendiri. Kan kamu yang pilih.


Dengan senyum penuh kemenangan, Dion masih terus memilih pakaian abnormal di mata Mia. Seperti mendengar suara hati Mia. Dion memilih beberapa baju tidur tipis dan kurang bahan sesuka hatinya. Mia hanya menggelengkan kepalanya dan menghela napas panjang melihat kelakuan Dion.


"Nih, bawa ke kasir!" ucap Dion.


"Tuan saja. Kan Tuan yang belanja, bukan Mia." tolak Mia yang merasa malu saat harus membayar barang-barang tidak layak pakai menurutnya.


"Itu kan pakaian wanita. Lagi pula nanti kamu yang pakai Mia, bukan aku. Ayo cepat! Nanti Kalin keburu ke sini," bujuk Dion.


Mia yang pakai, tapi nanti Tuan yang menikmatinya. Ish, kalau bukan karena Kalin mau ke sini, Mia gak mau bayar baju minim bahan ini. Bikin maluuuu.


"Sudah?" tanya Dion.


Mia mengangguk dan menyerahkan belanjaannya pada Dion. Dion dengan segera menerimanya dan membawanya ke dalam mobil. Sudah beberapa tas besar hasil berburunya hanya dalam waktu satu jam saja. Ini yang Dion suka dari Mia. Mia itu wanita yang tidak ribet.


"Kaliiiin," teriak Mia saat di parkiran.


JEDAKK


Dion mengusap kepala dan dadanya bergantian. Seandainya Kalin belum ada di depan matanya, Mia sudah pasti kena getok. Bagaimana mungkin Mia berteriak tanpa aba-aba hingga ia kepala Dion terpentok saking terkejutnya.


"Mia, kapan ke Jakarta?" tanya Kalin.


Mata Kalin menatap Dion. Memang tidak bertanya, namun tatapan itu bisa diartikan oleh Mia.


"Kenalkan," ucap Mia.


"Dion. Panggil aku Dion," ucap Dion yang memotong ucapan Mia sembari mengulurkan tangannya.


"Haii, Kalin." ucap Kalin menyambut uluran tangan Dion.


"Dia sudah punya suami," bisik Mia sambil berjinjit.


Bagus Mia. Ayo cemburu lah. Aku suka melihat kamu yang cemburu. Kamu pasti mencintaiku jika api cemburu itu sudah mulai ada. Aku suka Mia. Aku sukamu cemburu padaku.


"Kalin ayo makan," ajak Mia


Mia menarik tangan Kalin dan mengabaikan Dion. Tanpa kemarahan, Dion hanya mengikuti Mia dengan perasaan senang.


"Mia, aku rindu padamu." ucap Kalin.


"Iya, Mia juga." ucap Mia.


Sambil menunggu pesanan, Mia nampak sangat lepas dengan Kalin. Dion hanya menggunakan ponselnya. Sesekali Dion melihat ke arah Mia dan Kalin. Dion melihat wajah ceria dan bahagia yang tak pernah ia lihat sebelumnya dari wajah Mia.


"Mia, pacarmu ganteng juga." ucap Kalin membuka percakapan tentang Dion.


"Kata siapa aku pacar Mia?" tanya Dion.


"Mana mungkin sopirnya. Jadi apa lagi kalau bukan pacar Mia?" ucap Kalin menebak.


Mia tidak merespon ucapan keduanya. Mia lebih memilih untuk mengalihkan percakapan tentang Dion dan kembali membahas tentang kerinduannya.


Dion hanya menunduk sambil tersenyum saat melihat Mia tidak memberi Kalin kesempatan untuk membahas siapa dirinya.


"Mia, sudah malam. Aku harus pulang. Dev akan pulang malam ini. Aku pasti akan menceritakan hari bahagia ini, Mi. Lain kali aku akan mengajak Dev. Kita akan double date ya Mi. Pasti seru," ucap Kalin.


"Aku tunggu, Kalin." jawab Dion.


"Nanti lanjut lewat telepon ya Kalin. Mia masih rindu," ucap Mia memeluk erat Kalin.


"Iya. Nanti kita telepon ya!" ucap Kalin. "Dion, aku titip Mia. Kamu beruntung bisa memiliki Mia. Dia wanita baik," lanjut Kalin pada Dion.


"Tentu. Aku akan menjaganya. Kamu tenang saja ya!" ucap Dion.


Ketiganya keluar dari mall dan mengantar Kalin ke mobilnya.


"Sampai ketemu nanti ya Mia," ucap Kalin sambil melambaikan tangannya.


"Hati-hati Kalin," ucap Dion sambil melambaikan tangannya pada Mia.


"Hey, Mia melambaikan tangannya pada Mia bukan pada Anda, Tuan. Ingat, dia sudah memiliki suami," ucap Mia.


"Tapi dia cantik ya?" tanya Dion.


"Cantik lah, namanya juga wanita." jawab Mia ketus.


"Tapi kamu gak mungkin cemburu kan?" tanya Dion.


"Ya gak lah," jawab Mia.


"Binir boleh berkata gak, tapi hati gak bisa bohong. Kamu bilang saja kalau cemburu padaku, Mia. Tidak perlu gengsi begitu," ucap Dion.


"Siapa yang cemburu? Mia hanya khawatir kalau Tuan di tampol sama Dev karena sudah mengganggu istrinya. Apa Tuan mau di tampol sama Dev?" ucap Mia.


Tampol, tampol. Aku hanya ingin melihatmu cemburu. Katakan kalau kamu cemburu Mia. Bukan mengancamku akan ditampol suami Kalin. Kamu tidak peka sekali Mia.


#################


Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.


Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..

__ADS_1


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


Terima kasih..


__ADS_2