
"Ya udah ayo suit dulu lah mas," ucap Mia.
"Ah, kelamaan kalau nunggu suit dulu," ucap Dion.
Dengan cepat Dion melangkah mendekati pintu. Baru saja Dion akan memegang gagang pintu, namun pintu sudah terbuka. dengan cukup kencang sampai akhirnya JEDAK
"Mama, kenapa buka pintu sembarangan?" teriak Dion sambil memegang dahinya.
"Eh, Dion. Maaf. Kena ya? Sakit?" ucap Nyonya Helen sambil mengusap kepala Dion.
"Lumayan. Mama buka pintu kok keras banget sih. Gak bisa sabar apa? Aku juga mau bukain pintu kok ini," ucap Dion.
"Abisnya kamu lama sih. Mama kan hadi khawatir," ucap Nyonya Helen.
"Mama khawatir kenapa sih?" tanya Dion.
"Mama takut kalian pingsan gara-gara terlalu semangat. Kalian kan gak jawab panggilan mama. Wajar dong kalau mama khawatir? Mama kan sayang sama kalian," jawab Nyonya Helen.
Mama, itu bukan khawatir. Tapi mama sebenarnya kepo kan? Ah, untung saja tempurnya sudah beres. Kalau belum kan bahaya. Bisa bocor nih resep perusahaan.
"Aku sama Mia baik-baik saja kok ma. Masa iya sampai pingsan sih?" tanya Dion.
"Ya, kan mama gak tahu. Tapi udah kan?" tanya Nyonya Helen.
"Beres ma. Pokoknya mama tenang aja. Tunggu sebentar pokoknya nanti gendong cucu lah," ucap Dion dengan begitu bangganya.
Ini emak sama anak kok sama-sama somplak ya? Kenapa Mia terjebak di keluarga begini sih?
"Mia, kamu masih kuat kan menghadapi Dion? Kamu bisa kan ngimbangin anak mama?" tanya Nyonya Helen.
Pertanyaan macam apa itu? Tuhaaaaan, ini emak diciptain dari apa sih?
Mia tidak mampu menjawab. Ia hanya tersenyum. Antara malu dan kesal dengan kelakuan dua manusia yang ada di hadapannya itu.
"Jangan malu begitu Mia. Kamu kalau gak kuat bilang sama mama. Biar nanti mama kasih resep jitu buat kamu. Mau?" ucap Nyonya Helen.
"Ah, tidak ma. Mama tenang aja. Aku baik-baik saja," ucap Mia dengan cepat.
Pasti mau kasih resep abal-abal dan menyesatkan nih. Udah kebaca sama Mia. Maaf ma, kali ini Mia gak butuh bantuan mama.
"Wah, bagus dong. Stamina kamu masih oke pasti. Ah, mama senang. Dion kamu pasti bahagia kan?" ucap Nyonya Helen.
Kini giliran Dion yang merasa malu sendiri dengan pertanyaan Nyonya Helen. Dion tidak menanggapi pertanyaan ibunya, ia lebih memilih untuk mengalihkan pembicaraan.
"Oh ya, mama ada apa ke sini?" tanya Dion.
"Ya ampun. Mama sampai lupa. Mama ke sini, mau ngasih tahu kalau malam ini kita makan di luar yuk! Papa ngajak kita makan di luar. Kalian mau kan?" tanya Nyonya Helen.
"Boleh ma," jawab Mia dengan semangat.
Yes, ya mau dong mama. Ini kesempatan biar malam ini Mia bebas dari acara lembur sama mas Dion.
"Ah, bagus Mia. Sekalian katanya papa mau booking hotel. Malam ini kita double date. Teman papa buka hotel baru di Jakarta. Nah, sebelum kalian bulan madu ke luar negeri, kalian bulan madu di hotel Jakarta aja dulu ya!" ucap Nyonya Helen.
Apa? Kok jadi bulan madu? Jadi lembur dong malam ini? Adooooh.
"Gak apa-apa ma. Mama tenang aja. Kita juga masih bisa nunda bulan madu ke luar negeri kok. Di Jakarta juga cukup," ucap Dion dengan penuh kemenangan.
Rasakan serangan lanjutanku Mia. Haha
Mia dan Dion kembali ke kamarnya. Dion terus memantau raut wajah Mia yang nampak gelisah.
"Kenapa?" tanya Dion.
"Gak apa-apa," jawab Mia.
"Bukan karena bulan madu kita kan?" goda Dion.
Mia tidak menjawab. Ia hanya cemberut dan naik ke atas ranjang.
"Wah, ini maksudnya kode?" tanya Dion.
"Kode apa mas?" tanya Mia.
"Kode udah mau diserang lagi ya?" goda Dion.
"Mana ada kode-kode begitu? Gak ada kode," jawab Mia.
Dion hanya menyeringai dan mendekati Mia. Memeluknya dengan gemas.
"Miaaaa, kau ini lucu sekali." ucap Dion.
__ADS_1
"Sudah dari lahir mas," jawab Mia sambil tertawa.
Dion mengedipkan mata dan menganggukkan kepala. Mia yang mengerti maksud Dion segera menggeleng dengan cemberut. Dion tertawa keras dan mencubit gemas pipi Mia. Dion tiba-tiba berhenti dari tawanya dan menatap Mia dengan sangat dalam. Mengamati dengan jelas setiap bagian wajah Mia. Dion memastikan klau tidat ada satu bagianpun yang ia lewatkan.
"Mas," panggil Mia saat tidak nyaman ditatap begitu lekat oleh suaminya.
"Mia, aku boleh nanya gak?" tanya Dion.
"Boleh, asal jangan minta duit aja. Mia gak punya duit," jawab Mia.
"Oh ya ampun tuh kan aku sampai lupa," ucap Dion.
Dion turun dari ranjangnya dan meraih dompetnya. Mengeluarkan sebuah kartu kredit dan diberikan pada Mia.
"Gak mau ah," tolak Mia.
"Loh, kenapa?" tanya Dion.
"Ini tuh kartu utang. Percuma keren bawa-bawa kartu, tetep aja kita ngutang kan? Katanya orang kaya, tapi kok ngutang. Mending Mia, miskin juga gak punya utang," jawab Mia dengan polos.
"Mia, gak begitu konsepnya. Kamu jangan mikirin apapun. Yang penting kamu bisa lakukan apapun dengan ini, urusan bayar itu urusanku. Nih, ambil!" ucap Dion sambil memberikan kartu kredit itu.
"Gak mau mas. Dari dulu, Mia itu gak dibiasain ngutang sama ibu. Kalau mas mau ngasih uang, mas transfer aja ke rekening Mia. Hehe," ucap Mia.
Matre sedikit sama suami yang tajir boleh kali ya? Itung-itung ini bayaran karena dia udah nyerang Mia terus. Belum lagi nanti malam pasti nyerang lagi dia. Ya minimal Mia punya uang buat beli vitamin.
"Yakin kamu gak mau ini?" tanya Dion mengangkat kartu kreditnya.
"Yakin dong ah," jawab Mia.
"Ya sudah. Aku transfer saja ya!" ucap Dion meraih ponselnya.
Tak lama, ponsel Mia dapat notifikasi. Mata Mia membulat sempurna saat melihat nominal yang masuk ke dalam rekeningnya.
"Mas, ini sepuluh kali lipat gaji Mia di pabrik," ucap Mia tak percaya.
"Kamu ini kan kepala pabrik sekarang. Jadi gajinya naik," jawab Dion.
Dion melihat wajah bahagia Mia. Benar-benar sederhana istrinya itu. Semenjak menikah, Mia tidak pernah meminta ini dan itu. Mia tidak sekalipun menuntutnya untuk hal apapun. Bahkan ketika diberi uang dengan nominal yang tidak seberapa menurutnm Dion, Mia nampak sangat bahagia.
Kamu memang wanita baik Mia. Kamu adalah calon ibu dari anak-anakku. Siap-siap ya Mi. Nanti malam bibit unggulku mau aku transfer ke kebun kamu. Pasti tumbuh subur deh. Ah, gak sabar lihat anak aku nanti. Pasti ganteng mirip aku deh. Tapi mirip Mia juga gak apa-apa deh. Mia kan cantik. Ah, iya Mia kamu cantik. Kamu selalu menenangkan dan menyenangkan kalau aku pandang. Za, makasih ya! Semua berkat kamu. Nanti aku pasti kasih hadiah deh. Kemarin gak jadi karena ada mak lampir.
"Mas, ini buat apa aja uangnya?" tanya Mia.
Mia bingung dengan jawaban suaminya itu. Untuk kebutuhannya? Kebutuhan apa? Kebutuhan dapur bukan urusannya sama sekali. Kebutuhan kamar mandi sudah ada stok. Make up dan pakaian, bawa seserahan juga masih cukup buat setahun ke depan.
"Kebutuhan apa mas?" tanya Mia.
"Lah, kok nanya ke aku? Kan kamu yang tahu semua kebutuhanmu," jawab Dion.
Mia semakin bingung dengan jawaban Dion. Apa kebutuhannya? Mia tidak merasa punya kebutuhan, bahkan tidak ada keinginan apapun. Dion sudah menyiapkan semua yang ia butuhkan dan ia inginkan tanpa Mia minta.
Kriiiing.. Kriiiing.. Kriiiing
Dering ponsel membuat Mia tersadar dari lamunannya. Mia menatap Dion yang melihat layar ponselnya dan menyimpan ponselnya tanpa menjawab panggilan itu.
"Kenapa gak diangkat mas?" tanya Mia.
"Gak penting," jawab Dion.
"Memangnya dari siapa?" tanya Mia.
"Dari orang yang gak penting," jawab Dion.
"Dari pacar kamu ya mas?" tanya Mia.
Mia memang belum lama menikah dengan Dion, tapi hati Mia melihat ada yang Dion sembunyikan darinya. Dion nampak cemas mendengar pertanyaan dari Mia.
"Mia, kamu percaya padaku kan? Aku tidak mungkin mengkhianati kamu Mia. Aku juga sudah janji sama kamu untuk tidak pernah memceraikanmu," ucap Dion.
Benar. Berarti yang nelepon itu pacar kamu mas. Kenapa hati Mia sakit ya? Padahal Mia sudah mengizinkan kamu untuk menikah lagi asal tidak menceraikan Mia. Ah, Mia jadi menyesal sudah bikin perjanjian begitu. Mia pikir kamu gak akan mengambil harta berharga Mia, makanya Mia merelakan kamu untuk menikah lagi. Tapi sekarang gak mau, kamu udah ngambil harta Mia satu-satunya.
"Tapi Mia kan membolehkan mas untuk menikah lagi, asal tidak menceraikan Mia. Mas juga pasti ingat itu kan?" tanya Mia dengan berusaha menyembunyikan rasa sedihnya.
"Sayang, itu sebabnya aku merobek kertas perjanjian itu. Aku tidak mau ada perjanjian konyol seperti itu. Aku mau menikah dan menjalankan pernikahan yang normal denganmu. Kamu percaya kan sama aku?" Tanya Dion yang sudah berusaha meyakinkan Mia.
Sayang? Kamu manggil Mia dengan sebutan sayang, mas? Kenapa hati Mia bahagia ya? Apa Mia sudah benar-benar mencintai kamu?
"Terima kasih ya mas. Mia percaya kok sama mas. Kan kunci rumah tangga bahagia itu saling terbuka dan saling percaya," ucap Mia dengan senyum manisnya.
"Terima kasih ya Mi. Aku janji akan selalu terbuka dan percaya sama kamu. Dia bukan pacar aku. Dia hanya mantan aku. Kamu tidak perlu cemburu padanya. Hanya kamu satu-satunya wanita yang ada di hatiku," ucap Dion.
__ADS_1
Mia tersenyum bahagia mendengar jawaban Dion. Namun ponsel Dion kembali berdering. Dari si pemanggil yang sama. Siapa lagi kalau bukan dari Niki.
"Mas, angkat!" ucap Mia.
"Tidak. Aku sudah menutup semua cerita masa laluku dengan dia. Aku tidak ingin membuka jalan baru yang akan merusak hubungan kita, Mia. Jadi biarkan saja. Mungkin besok aku ganti nomor saja biar dia tidak bisa menggangguku lagi," ucap Dion.
Mia kembali bahagia mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Dion.
Dalam urusan masa lalu, mungkin Mia dan Dion memiliki prinsip yang berbeda. Mungkin sebelumnya, Mia berpikir kalau dengan mantan masih bisa berhubungan dengan baik. Namun kini, Mia memahami prinsip Dion yang menurutnya memang masuk akal.
Bagi Dion, tidak ada yang namanya berhubungan baik dengan yang namanya mantan. Apalagi sampai saling menghubungi melalui jaringan ponsel. Untuk apa? Menyanyakan kabar? Cukup pasangan dan keluarga saja yang tahu dan khawatir tentang kabar kita. Dion juga sangat menjaga perasaan Mia.
"Berarti aku salah ya mas?" Tanya Mia.
"Salah kenapa Mi?" tanya Dion.
"Mia masih merasa tidak masalah kalau berhubungan baik dengan Pak Haji. Padahal kan dia mantan suami Mia?" tanya Mia.
"Kalau dia pengecualian deh. Aku gak khawatir dia akan merebutmu dariku," jawab Dion dengan tertawa.
"Ish, Pak Haji kan sudah sembuh mas." ucap Mia.
"Oh jadi kalau dia sudah sembuh, kamu mau balik lagi sama dia?" tanya Dion.
"Apa mas cemburu?" tanya Mia.
"Dih, mana ada cemburu? Gak ada," jawab Dion.
"Jujur saja mas. Mia yakin mas cemburu kok. Lagipula, cemburu kan tanda sayang. Jadi mas gak usah gengsi begitu ah," goda Mia.
"Miaaaa, jangan bahas masa lalu lagi. Yang enak itu kita bahas masa depan," ucap Dion yang tidak ingin membahas masa lalu Mia lagi.
Dion seolah merasa tidak mau saat tahu kalau kenyataannya Mia pernah hidup dengan dua pria sebelum dengannya. Bagi Dion, saat ini dan hingga nanti Mia adalah miliknya. Mereka hanya butuh membahas masa depan, bukan masa lalu.
Dengan sebuah kecupan di pipi Dion, Mia berhasil mengubah mood Dion.
"Mia?" ucap Dion memegang pipi kanannya.
"Kenapa?" tanya Mia.
"Kamu mulai genit ya? Kamu tunggu nanti malam. Akan kuhabisi kamu," ucap Dion.
"Kita lihat nanti, siapa yang akan kalah?" ucap Mia.
Apa? Apa maksud Mia? Apa dia benar-benar akan menyerangku nanti malam? Aku tunggu Mia, aku tunggu. Aku ingin melihat seranganmu.
Entah keberanian dan pikiran dari mana, hingga Mia berucap seperti itu. Bahkan Mia malu sendiri saat mengingat apa yang sudah diucapkannya. Tadinya Mia hanya berusaha membuat Dion tidak marah saja.
Semua gara-gara kamu mas. Kan mantan pacar kamu yang nelepon, harusnya aku dong yang marah sama kamu? Kok jadi kamu yang balik marah sama aku? Kan aku jadi ngomong ke sana ke sini gak jelas begini. Aduhh gimana ini? Kok mulut gak bisa diajak kompromi banget sih?
Berbeda dengan Mia yang merasa waktu begitu cepat berlalu, Dion justru merasa jam berputar lama sekali. Dion sudah tidak sabar menunggu jadwal bulan madunya. Apalagi Mia akan menyerangnya. Ah, pikiran Dion sudah melayang ke pertempuran hebat yang akan mereka jalani nanti malam.
Akhirnya waktu yang ditunggu datang juga. Nyonya Helen sudah memanggil Mia dan Dion untuk berangkat. Mereka berdua keluar dengan pakaian simple namun menggunakan warna senada. Nampak sangat serasi.
"Aduh ma, kita kalah saing nih. Kok baju kita gak kompak kayak mereka sih?" goda Tuan Wira.
"Gak apa-apa baju kita gak kompak. Yang penting kan nanti malam kita kompak. Kita gak akan kalah dari pengantin baru ini," goda Nyonya Helen.
Mia dan Dion hanya bisa menunduk dengan wajah yang memerah.
"Ma, pa, udah dong. Ayo mau berangkat jam berapa?" tanya Dion yang berusaha mengalihkan pembicaraan kedua orang tuanya.
"Iya ayo berangkat sekarang. Gak sabaran banget sih?" ucap Tuan Wira.
"Padahal tadi sore baru aja udah bikin cucu loh pa," timpal Nyonya Helen.
"Mama yang minta loh," ucap Dion.
"Tapi kamu yang enak kan?" goda Nyonya Helen.
Rasanya Mia ingin pergi jauh dari keluarga Dion saat membahas hal memalukan ini. Tapi apapun yang terjadi, mereka adalah orang yang sudah menerima keadaan Mia dengan apa adanya.
Mama dan papa, terima kasih kalian sudah menerima Mia. Mia janji akan segera memberi cucu untuk kalian. Mia juga mau buktikan sama Nyonya Nathalie kalau Mia itu gak mandul. Mia bisa kok punya anak. Pokoknya Mia harus semangat. Mia tidak boleh malas. Ayo Mia, nanti malam buktikan kalau kamu bisa. Tunggu ya. Nanti malam aku siap bikin cucu buat mama. Mas, ayo bikin cucu yang semangat ya!
#################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
__ADS_1
Terima kasih..