Janda Bersegel

Janda Bersegel
Dokter?


__ADS_3

"Ya ampun A, Mia kesiangan." Mia terkejut.


Mia turun dari ranjangnya dan segera ke kamar mandi. Meninggalkan Dion yang juga terkejut karena teriakan Mia. Dion mengucek matanya dan melihat jam yang menempel di dinding kamarnya.


"Masih jam enam," gumam Dion.


Dion meraih ponselnya. Bibirnya tersenyum merekah saat melihat pesan dari Reza.


'Sindi berangkat sekarang.'


"Semoga kedatangan kamu bisa membuat hari-hari istriku tidak sedih lagi," gumam Dion.


Sembari menunggu Mia, Dion menyandarkan tubuhnya dengan santai. Masih di atas ranjangnya, ia memainkan ponsel untuk mengusir kesalnya menunggu. Dion melihat ke arah dinding.


Kali ini, Mia di kamar mandi lebih lama dari biasanya. Kepala Dion mulai nakal, membayangkan Mia yang sedang mandi dan membersihkan jejaknya yang mungkin susah mengering. Hingga Mia menghabiskan waktu lebih lama dari biasanya. Dion membiarkan Mia dan tidak mengganggunya.


Hal yang tidak Dion tahu, jika yang membuat Mia lama di kamar mandi karena bayangan malam tadi. Membuat Mia harus tersenyum-senyum sendiri ketika mengingat semuanya.


Dion terpaksa mengetuk pintu kamar mandi karena kebelet. Mengganggu Mia yang sedang asyik menikmati bahagianya malam tadi.


"Mi, lama banget sih?" tanya Dion.


Mia tersentak dan mempercepat mandinya.


"Iya sebentar A," jawab Mia.


Mia keluar dengan rambut yang masih bercucuran membasahi wajahnya yang sangat cantik.


"Kamu ngapain sih lama banget?" goda Dion.


"Mules A," jawab Mia dengan bohong.


Mia segera keluar dan menuju meja rias. Mengeringkan rambutnya dan memakai pelembab. Jika di rumah Mia memang tidak memakai makeup berlebihan. Namun ia akan selalu terlihat sangat cantik.


"Mi," panggil Dion.


Matanya melihat ke seluruh ruangan kamar. Namun wajah cantik istrinya sudah tidak terlihat. Padahal ia masih ingin menggoda istrinya, hingga wajah cantik itu memerah karena malu.


"A," sapa Mia saat Dion masuk ke ruangan bayi.


"Hari ini kamu jangan kemana-mana ya!" ucap Dion.


"Biasanya juga gak kemana-mana," jawab Mia.


"Baguslah," jawab Dion.


"Memangnya kenapa?" tanya Mia.


"Ada kejutan buat kamu," jawab Dion.


"Kejutan apa, A?" tanya Mia.


"Kalau dikasih tahu sekarang, udah bukan kejutan lagi dong. Pokoknya kamu tungguin aja di sini," jawab Dion.


"Siap, A!" ucap Mia.


Apapun itu, Mia hanya berharap hari ini ia akan lebih bahagia dari hari-hari sebelumnya. Selesai menyusui, Mia dan Dion pergi ke ruang makan. Namun di sana hanya ada Nyonya Helen dan Tuan Wira.


"Tuan Felix dan Rian gak ikut makan, Ma?" tanya Dion.


"Mereka makan berdua di taman belakang. Katanya biar ada udara segar buat Tun Felix. Rian yang mengajaknya," jawab Nyonya Helen.


Dion melirik istrinya. Memperhatikan sikap Mia yang langsung salah tingkah. Mia berusaha tidak peduli dan memilih menyiapkan roti untuk sarapan Dion.


"Ini rotinya," ucap Mia.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Dion.


Kali ini sarapan pagi tanpa obrolan apapun. Semua sibuk dengan sarapannya masing-masing, hingga sarapan selesai.


"Mi, hari ini Mama keluar dulu ya! Teman Mama ada yang ulang tahun. Jadi Mama gak nemenin kamu gak apa-apa ya?" ucap Nyonya Helen.


"Ma, di sini kan banyak orang. Jadi Mama gak perlu khawatir. Mia gak sendiri kok," ucap Mia.


"Tapi Mama berangkatnya dari pagi. Mau ikut nyiapin buat acaranya," ucap Nyonya Helen.


"Iya boleh Ma. Mia gak apa-apa kok," ucap Mia.


Selesai sarapan, semuanya pergi. Tinggal Mia yang kembali masuk dengan semua perasaan yang campur aduk. Perasaannya yang dagdigdug, karena menduga kejutan apa yang akan ia terima dari Dion. Selain itu, ia juga merasakan perasaan yang aneh.


Mendengar Rian dan Tuan Felix sarapan bersama dan memisahkan diri, kenapa hatinya sakit? Benarkah apa yang Rian katakan, jika ia cemburu pada Rian?


Untuk apa aku cemburu? Tidak ada hak sama sekali. Berhenti Mia. Kamu jangan mikir aneh-aneh deh.


"Nyonya, apa Anda baik-baik saja?" tanya salah satu pelayan yang ditabrak oleh Mia.


"Oh, gak. Mia gak apa-apa. Mba gak apa-apa kan?" tanya Mia.


"Tidak, Nyonya. Saya hanya khawatir pada keadaan Anda," ucap Mba.


"Gak, Mia gak apa-apa. Mia permisi dulu ya!" ucap Mia.


"Silahkan, Nyonya!" ucap Mba.


Itulah Mia, selalu bersikap lembut dan baik pada semua orang termasuk pekerjanya. Sebelum kembali ke kamar Narendra dan Naura, Mia berjalan mendekati taman belakang.


Nampak dua orang sedang saling bercerita. Sesekali tawa diantara keduanya menjadi saksi betapa mereka sangat nyaman dan saling melengkapi.


Tidak menghampirinya, Mia hanya melihat mereka dari kejauhan. Membiarkan air matanya jatuh dengan sendirinya. Entah apa yang membuat hati Mia sakit.


Mia yang tersadar bahwa Tuan Felix mengetahui keberadaannya, segera menghapur air matanya. Bukannya mendekat, Mia justru berlari menjauh. Mia mengurungkan niatnya untuk bertemu kedua anak kembarnya. Ia memilih mengunci dirinya di kamar.


Membiarkan dirinya tenang dalam kesepian. Membuang semua air mata agar tidak banyak yang tahu jika ia sedang sedih.


Mengapa Rian mengambil semuanya? Rian sudah mengambil Bapak dan sekarang merebut Tuan Felix. Kamu jahat Rian.


Mia memukul bantal yang ada dalam pelukannya. Isak tangisnya semakin menjadi saat terdengar suara Rian dari luar kamar.


"Kak Mia," panggil Rian sembari mengetuk pintu.


Mia tidak menjawab. Ia membiarkan Rian memanggilnya berkali-kali.


"Kak Mia kenapa? Marah sama aku?" tanya Rian dari balik pintu.


"Aku lagi mau sendiri dulu. Kamu istirahat aja," jawab Mia tanpa membuka pintu kamarnya.


"Apa Kak Mia cemburu?" tanya Rian.


Cemburu? Lagi. Kalimat itu kembali terucap dari mulut Rian. Apa maksudnya? Bahkan hatinya sendiri mengiyakan apa yang Rian ucapkan. Haruskah ia cemburu? Sementara Tuan Felix bukan siapa-siapa juga untuk Mia.


Kriiiing..Kriiing...


"Dokter?" ucap Mia.


Seketika tubuhnya menegang. Mia menelan salivanya susah payah. Ia tidak bisa menduga apa yang sebenarnya akan terjadi. Bagaimana hasil test DNAnya?


"Halo," sapa Mia saat panggilannya sudah ia jawab.


"Nyonya, hasil test DNA sudah keluar. Apa saya harus kirim ini ke rumah Anda sekarang?" tanya Dokter.


"Jangan!" jawab Mia.

__ADS_1


"Apa Anda akan membawanya ke sini?" tanya Dokter.


"Ya, Mia segera ke sana!" jawab Mia.


Apakah ini yang A Dion maksud dengan kejutan? Kenapa Mia benar-benar takut melihat hasilnya?


Tanpa pikir panjang, Mia segera mengganti pakaiannya. Ia membuka pintu dan terkejut saat mendapati Rian duduk di depan kamarnya.


"Rian," panggil Mia.


"Kak Mia kenapa? Maafkan aku kalau aku ada salah sama kakak," ucap Rian memelas.


Mana tega Mia melihat Rian yang terlihat sangat bersalah. Mia meraih tangan Rian dan menenangkannya.


"Kamu jangan merasa bersalah begitu. Aku gak kenapa-kenapa kok. Kamu istirahat ya! Aku mau ke mall dulu," ucap Mia.


"Kakak gak marah sama aku?" tanya Mia.


"Gak. Aku berangkat sekarang. Titip Tuan Felix dan bayi kembarku ya!" ucap Mia.


Mia berangkat dengan tergesa-gesa dan melambaikan tangannya pada Rian. Dengan ragu, Rian membalas lambaian tangan Mia. Matanya tidak melepaskan Mia hingga wanita itu benar-benar hilanh dari pandangannya.


Kak Mia kenapa sih? Kok aneh ya?


Tak ingin berlarut dalam pikirannya, Rian ingat ucapan Mia. Ia menitipkan Tuan Felix dan bayi kembarnya. Sebelum ke kamar Tuan Felix, ia menyempatkan untuk melihat bayi kembar itu.


"Mereka tidur?" tanya Rian dengan suara pelan.


"Iya," jawab salah satu perawat.


"Oh ya sudah. Saya permisi," ucap Rian.


Rian segera menutup kembali pintu ruangan bayinya. Kini ia pergi ke kamar Tuan Felix. Namun saat ia masuk, Tuan Felix sedang tidur. Rian kembali keluar karena tidak ingin mengganggu istirahat Tuan Felix.


Belum sempat Rian menutup pintu kamarnya, Tuan Felix memanggilnya dengan suara serak khas bangun tidur.


"Rian," panggil Tuan Felix.


"Ya, Tuan." Rian kembali mendekat.


"Bagaimana Mia?" tanya Tuan Felix.


"Kak Mia gak apa-apa," jawab Rian.


"Dimana dia?" tanya Tuan Felix.


"Katanya mau ke mall," jawab Rian.


Mall? Merasa ada yang aneh, Tuan Felix segera mengambil ponselnya di atas nakas. Ia menghubungi Dion untuk memastikan keberadaan Mia. Pasalnya, ia tidak yakin Mia pergi ke mall. Meninggalkan Narendra dan Naura tanpa ada Nyonya Helen di rumah.


Benar dugaan Tuan Felix, Dion tidak tahu kalau Mia pergi ke mall. Kemana dia? Mia tidak mungkin pergi tanpa izin pada Dion.


Saat itu, semua heboh dengan Mia yang tidak jelas kemana perginya. Sementara Mia saat ini sedang kacau, dengan surat hasil test DNA di tangannya.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.

__ADS_1


__ADS_2