
Saat menginjakkan kakinya di kantor Tuan Ferdinan, entah mengapa Kalin menjadi tak enak hati. Mungkin Kalin merasa kalau Tuan Ferdinan akan berubah menjadi tidak seramah dulu, setelah kejadian semalam dengan Mia. Pasalnya Tuan Ferdinan tahu kalau Mia adalah karyawan di perusahaannya.
"Pagi, Tuan." Kalin menyapa Tuan Ferdinan yang sudah menunggunya.
"Hai Kalin, masuklah. Silahkan duduk!" ucap Tuan Ferdinan dengan ramah. Sampai sejauh ini, Kalin tidak menemukan perubahan pada Tuan Ferdinan. Baik dan ramah.
"Terima kasih Tuan," ucap Kalin.
Setelah cukup berbasa basi, Kalin mulai membahas tentang kerja sama dua perasahaan itu. Tuan Wang masih mengikuti pergerakan Kalin. Tidak curang atau bahkan memutuskan kerja sama hanya karena masalahnya dengan Mia.
Tuan Ferdinan tidak menunjukkan sedikitpun masalahnya dengan Mia pada Kalin. Setelah semua selesai, Kalin pamit untuk pulang. Namun sebelum pulang, Kalin duduk kembali saat Tuan Ferdinan menahannya.
"Kalin, boleh tanya sesuatu?" tanya Tuan Ferdinan.
"Tentang apa Tuan," tanya Kalin.
"Mia," jawab Tuan Ferdinan.
"Mia?" tanya Kalin.
"Iya," jawab Tuan Ferdinan.
"Apa dia membuat masalah Tuan?" tanya Kalin.
Berpura-pura tidak tahu apa-apa tentang Mia mungkin akan membuat Kalin mendapat cukup informasi dari Tuan Ferdinan. Ok, sandiwara dimulai.
"Tidak, tidak. Aku hanya ingin tahu, aa dia karyawan baru di kantormu?" tanya Tuan Ferdinan.
"Ya, baru satu bulan Tuan. Tapi kualitas kerjanya sangat bagus. Saya senang bertemu dengan Mia," ucap Kalin.
"Bagaimana kamu bisa bertemu dengannya?" tanya Tuan Ferdinan.
Oh, Kalin mengerti maksud Tuan Ferdinan. Ia ingin mecari tahu tentang Mia padanya.
"Baiklah Tuan Wang. Saatnya kamu harus tahu kalau Mia sangat tersiksa karena ulah kalian, batin Kalin.
"Aku menemukan Mia sedang berteduh di bawah pohon saat hujan lebat. Katanya dia baru saja ditinggalkan oleh suaminya. Yang lebih kasihan, mertuanya menyembunyikan tentang suaminya pada Mia. Padahal Mia yakin kalau suaminya masih hidup. Orang baik seperti Mia, memang ujian hidupnya banyak sekali Tuan. Kalau saya jadi Mia, jujur saya tidak sanggup melalui jalan hidupnya yang berliku. Aduh maaf Tuan, saya jadi curhat." Kalin berpura-pura malu.
"Oh, tidak masalah. Tenang saja. Aku senang mendengarnya. Dan kamu percaya tentang Mia?" tanya Tuan Ferdinan.
"Tentu, Mia sangat baik dan jujur. Tidak ada alasan untuk tidak percaya pada Mia," ucap Kalin.
"Menurutmu Mia baik?" tanya Tuan Ferdinan.
"Tentu. Dia sangat baik. Mia itu karyawan yang berkualitas dan totalitas dalam bekerja," ucap Kalin.
"Aku bahkan merasa kurang percaya dengan semua penjelasanmu Kalin," ucap Tuan Ferdinan.
"Kenapa?" tanya Kalin.
"Entahlah. Namun aku tidak menemukan sisi baik Mia dari ceritamu," jawab Tuan Ferdinan.
Kalin menyembunyikan tangannya yang mengepal di bawah meja. Ia merasa sangat kesal saat mendengar jawaban Tuan Ferdianan. Responnya tentang Mia sangat buruk. Padahal Mia sangat baik, tapi masih saja dibenci oleh Tuan Ferdinan.
"Mungkin cara pandang kita berbeda Tuan. Anda tidak mengenal Mia hingga tidak tahu bagaimana Mia sebenarnya. Menurut penjelasan Mia, saya menangkap kalau mertuanya itu sangat jahat. Saya sudah menyarankan untuk melaporkan mertuanya itu pada polisi, tapi Mia tidak mau. Katanya dia masih sangat menyayangi mertuanya. Begitu baiknya Mia hingga masih punya rasa pada orang yang mengabaikan rasanya. Bagi saya sih Mia itu luar biasa," ucap Kalin.
Ternyata benar, percuma menjelaskan tentang seseorang yang dibenci. Sebaik apapun Mia, namun tidak dianggap oleh Tuan Ferdinan.
"Terima kasih ya buat informasinya," ucap Tuan Ferdinan.
"Sama-sama Tuan," jawab Kalin dengan memasang senyum mengembang, walaupun penuh dengan keterpaksaan.
"Eh sebentar Kalin," cegah Tuan Ferdinan sampai Kalin sudah sampai ke ambang pintu.
"Ada apa lagi Tuan?" tanya Kalin.
"Apa kamu tahu mertuanya Mia yang jahat itu?" tanya Tuan Ferdinan.
"Anda. Anda. Anda mertua jahat itu Tuan Ferdinan," batin Kalin.
Kalin menggeleng. "Mia belum menceritakannya padaku. Mungkin suatu saat nanti ia akan bercerita padaku. Atau mungkin ia akan bercerita pada dunia tentang sakit dan kecewanya. Meskipun aku tidak tahu kapan semua itu akan terjadi," ucap Kalin.
"Oh ya, terima kasih Kalin." Tuan Ferdinan terlihat sedikit gugup saat mendenger pernyataan Mia.
Kalin meninggalkan Tuan Ferdinan dengan rasa yang campur aduk. Ada rasa kesal, sakit, bahkan puas saat mengingat ekspresi dan ucapan Tuan Ferdinan.
Kalin tidak tahu kalau setelah kepergiannya, Tuan Ferdinan menunduk. Mengingat kata-kata Kalin kalau Mia masih sangat menyayanginya.
"Benarkah?" gumam Tuan Ferdinan.
Tuan Ferdinan mengangkat kepalanya dan menengadahkan menatap langit-langit kantor. Terbayang wajah Mia dan semua kepolosan Mia. Mia yang selalu membuatnya kesal tapi tertawa lepas. Kini ia kehilangan Mia yang dulu.
"Kenapa aku harus marah pada Mia?" gumamnya sambil mengepalkan tangannya.
Malam itu, saat Tuan Ferdinan bertemu dengan Mia, tidak ada sedikitpun niat di hatinya untuk memarahi Mia. Ia hanya ingin tahu apa yang menyebabkan Mia berubah begitu cepat.
Namun semakin lama, Mia semakin menyudutkan Nyonya Nathalie yang tak lain adalah istri tercintanya. Hal itu yang memncing emosi Tuan Ferdinan. Seburuk apapun istrinya, tapi ia tak ingin ada orang lain yang menyudutkan istrinya.
Mungkin Tuan Ferdinan egois karena berada di pihak istrinya tanpa merasakan ketika dirinya ada di posisi Mia.
"Papi," panggil Nyonya Nathalie.
"Mami," ucap Tuan Ferdinan. "Ada apa?"
"Mami ada ide," ucap Nyonya Nathalie sambil tersenyum.
"Apa?" tanya Tuan Ferdinan.
"Mami sudah ke pemakaman dan membuat kuburan atas nama Danu. Mia harus tahu agar berhenti mencari Danu. Mami tidak mau melihat wajahnya lagi," jawab Nyonya Nathalie.
"Hah?" tanya Tuan Ferdinan tidak percaya.
"Kenapa?" tanya Nyonya Nathalie.
"Mami yakin ini ide bagus?" tanya Tuan Ferdinan.
"Yakin. Papi kenapa sih?" tanya Nyonya Nathalie.
"Gak apa-apa. Papi hanya ingin tahu kenapa mami begitu membenci Mia?" tanya Tuan Ferdinan.
"Papi nanya kenapa? Papi juga tahu, Mia itu pembawa sial. Menikah dengan Danu tapi tidak memberi anak kita keturunan," ucap Nyonya Nathalie kesal.
"Mami tidak percaya dengan ucapan Danu tentang penyakitnya?" tanya Tuan Ferdinan.
__ADS_1
"Itu hanya alasan Danu saja untuk melindungi istrinya itu. Lagi pula papi harus ingat, gara-gara Danu membawa Mia di dalam mobil itu hingga Danu harus mengalami kecelakaan itu," ucap Nyonya Nathalie berapi-api.
"Mi, itu kan kecelakaan." Tuan Ferdinan refleks mendebat ucapan istrinya.
"Papi," teriak Nyonya Nathalie.
"Sayang ayolah, kita bisa memperbaiki ini semua. Kita bisa memulai semunya dari nol. Tidak dengan seperti ini. Kasihan Mia," ucap Tuan Ferdinan.
"Apa maksud papi?" Papi mau Mia bertemu lagi dengan Danu? Papi mau seperti dulu lagi?" tanya Nyonya Nathalie.
"Apa salahny mencoba?" jawab Tuan Ferdinan.
"Papi, dengarkan mami. Sekali kaca pecah, maka kaca itu tidak bisa kembali utuh. Akan tetap berbekas pi," ucap Nyonya Nathalie sambil menyeka air matanya.
Kekecewaannya pada Tuan Ferdinan membuat Nyonya Nathalie tak mampu menahan air matanya.
"Sayang, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakitimu," ucap Tuan Ferdinan memeluk istrinya.
"Papi jahat, papi jahat," ucap Nyonya Nathalie memukul dada Tuan Ferdinan.
Tuan Ferdinan menghela napas panjang. Menenangkan dirinya sendiri sebelum ia menenangkan istrinya. Cukup sudah Tuan Ferdinan merasa kalau keluarganya sedang kacau. Ia tidak ingin kekecewaan Nyonya Nathalie akan berimbas pada keretakan rumah tangganya.
"Jadi mami maunya gimana?" tanya Tuan Ferdinan dengan lembut.
"Mami mau menemui Mia dan menunjukkan makam Danu. Agar Mia berhenti mencari Danu dan tidak mengganggu keluarga kita lagi. Papi tahu kan dimana kantor Mia?" tanya Nyonya Nathalie.
"Mi, jangan ke kantor dong. Nanti jadi besar masalahnya. Kita cukup kirim email saja ya sama Mia," ucapn Tuan Ferdinan.
"Mami mau lihat ekspresi Mia. Apakah dia sedih atau biasa saja? Kemarin mami lihat kalau Mia sudah menggandeng pria lain," ucap Nyonya Nathalie.
Ya, Tuan Ferdinan melupakan tentang pria yang mendekati Mia itu. Padahal Kalin pasti tahu tentang pria itu. Tapi tdiak mungkin jika pria itu kekasih Mia. Mia tidak mungkin mencari Danu jika ia sudah punya penggantinya.
"Mami, kita kan bisa lihat ekspresinya nanti ketika Mia ke makam. Jangan ke kantor ya, nanti kalau sampai masalah ini di up, papi takut akan berimbas pada perusahaan. Mami gak mau kalau papi bangkrut kan?" tanya Tuan Ferdinan.
Bangkrut? Tentu bukan hal yang diinginkan oleh Nyonya Nathalie sehingga dengan cepat Nyonya Nathalie menyetujui ide Tuan Ferdinan.
"Nah begitu dong. Nanti papi kirim email ya!" ucap Tuan Ferdinan.
"No, mami yang akan kirim. Mana email Mia? Mami sudah tidak sabar melihat respon Mia," ucap Nyonya Nathalie.
Tuan Ferdinan menatap Nyonya Nathalie. Membujuknya agar tidak mengirim email pada Mia. Namun apa boleh buat, kali ini Tuan Ferdinan kalah. Dengan terpaksa Tuan Ferdinan memberikan email Mia pada istrinya.
Hanya dalam hitungan menit saja, senyum bahagia mengembang dari bibir Nyonya Nathalie. Ia memeluk ponselnya dan beberapa kali menciumnya. Setelah puas, Nyonya Nathalie kembali ke makam dan memasang sebuah kamera pengintai untuk melihat respon Mia nanti.
Dugaan Nyonya Nathalie yang menganggap kalau Mia akan shock dan pingsan saat membaca emailnya. Mia malah menyambutnya dengan senyum sinis.
"Mami mau bermain-main? Baiklah, Mia ikuti permainan Mami. Tapi kalau sampai Mia berhasil menemukan mas Danu, jangan harap Mia akan melepaskannya." gumam Mia.
Mia mengikuti permainan Nyonya Nathalie. Pulang kerja tanpa memberi tahu Kalin, Mia pergi ke makam itu. Dengan langkah gontai Mia menuju ke makam itu. Meskipun jujur saja, Mia juga takut kalau ini semua memang kenyataan.
Sesampainya di makam Danu, Mia menangis terisak. Mia terlihat beberapa kali mencium batu nisan Danu.
"Maaaaas, ini Mia. Mas kenapa jahat meninggalkan Mia begitu saja? Mas janji akan menjaga Mia. Mana buktinya mas? Mas membiarkan Mia sendirian. Mas jahaaaat," teriak Mia hingga Mia pingsan.
Petugas makam membantu Mia hingga akhirnya Mia sadar.
"Mari saya antar ke rumah sakit," ucap petugas makam itu.
"Tidak perlu. Terima kasih, saya bisa pulang sendiri dan istirahat di rumah. Saya permisi," ucap Mia.
"Mas," panggil Mia setelah beberapa langkah dan kembali menemui petugas makam itu.
"Iya mba," jawab petugas makam.
"Saya titip makam suami saya ya. Itu yang namanya Danu," ucap Mia.
"I-iya mba," jawab petugas makam itu.
Tak lama setelah kepergian Mia, petugas makam itu menghubungi Nyonya Nathalie untuk mengabarkan kalau istri dari anaknya itu sudah datang.
"Mana rekamannya?" tanya Nyonya Nathalie.
"Ini Nyonya," ucap petugas makam memberikan sebuah kemera pada Nyonya Nahalie.
"Bagus," ucap Nyonya Nathalie.
"Nyonya, kasihan mba yang tadi sampai pingsan. Saya kok gak tega ya melihatnya," ucap petugas makam itu.
"Hussstt," Nyonya Nathalie menempelkan telunjuknya pada bibir merahnya. "Aku tidak meminta komentarmu," lanjutnya dan pergi meninggalkan petugas makam itu.
Petugas makam itu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Nyonya Nathalie.
"Orang kaya mah bebassss. Nyesel aku bantuin orang jahat kayak gitu. Kalau bukan karena aku butuh uang untuk berobat anakku, mana mau aku bekerja sama dengan ibu-ibu jahat itu," ucap petugas makam.
Nyonya Nathalie bersorak senang di rumahnya saat melihat rekaman Mia.
"Mami, ada apa?" tanya Tuan Ferdinan yang melihat istrinya sangat bahagia sambil bersorak begitu.
"Papi harus lihat ini. Lihat ini pi," ucap Nyonya Nathalie menunjukkan layar laptopnya.
Tuan Ferdinan yang merasa penasaran, ikut melihat video yang menayangkan ekspresi Mia yang begitu sedih karena kehilangan Danu.
Berbeda dengan Nyonya Nathalie, Tuan Ferdinan justru merasa iba. Ia merasa Mi benar-benar tulus mencintai anaknya.
"Danu, kamu beruntung memiliki Mia." Batin Tuan Ferdinan.
"Papi, mana ekspresinya? Kok datar begitu? Gak seneng lihat ide mami berhasil?" tanya Nyonya Nathalie. "Mami yakin, setelah ini Mia tidak akan pernah mengganggu kehidupan kita lagi Pi," lanjutnya.
"Terserah mami deh ah. Papi cape mau mandi, makan, tidur," ucap Tuan Ferdinan meninggalkan Nyonya Nathalie yang menatapnya tidak suka.
Nyonya Nathalie tidak tahu kalau Mia juga sedang sangat bahagia di apartemennya.
"Berbahagialah Mami. Mia sudah membuat mami senang kan? Mia bukan lagi wanita bodoh Mi. Kalin sudah membawa Mia mengecek ke setiap makam tapi Mia tidak menemukan nama mas Danu di sana. Bagaimana mungkin tiba-tiba di sana ada makam atas nama mas Danu dengan tanggal meninggal sebulan yang lalu," ucap Mia sambil menatap wajahnya sendiri di depan cermin.
Rupanya teriakan dan tangisan Mia hanya sebuah drama untuk menyenangkan hati Nyonya Nathalie. Sedangkan adegan pingsan? Itu adalah bonus agar Tuan Ferdinan percaya dengan dramanya.
Kring.. Kring.. Kring
Dering ponsel terabaikan oleh Mia, karena Mia sedang mandi. Setelah Mia selesai mandi dan merapikan kamarnya, suara ketukan pintu menghentikan kegiatannya.
Mia membuka pintu dan sangat terkejut melihat Kalin berdiri di depan pintu.
"Kalin?" ucap Mia dengan kerutan di dahinya.
__ADS_1
"Ayo masuk!" ajak Mia.
Kalin mengikuti Mia dan duduk di sofa. "Aku meneleponmu tadi, tapi tidak dijawab," ucap Kalin.
"Oh ya? Mia belum buka Ponsel. Mungkin tadi Mia sedang mandi," jawab Mia.
"Kamu baru mandi?" Tanya Kalin.
"Iya, tadi aku keluar dulu sebentar." Mia berusaha menutupi kejadian tadi dari Kalin.
"Tapi tidak dengan tetanggamu itu kan?" tanya Kalin.
"Tidak, enak saja. Mia sendiri," ucap Mia.
"Baguslah. Tapi kenapa belum siap?" tanya Kalin.
"Belum siap?" tanya Mia.
"Kamu lupa?" tanya Kalin.
"Lupa?" tanya Mia.
"Katanya mau belajar nyetir," ucap Kalin.
"Ya ampun, aku lupa." Mia menepuk dahinya.
Kalin hanya menggelengkan kepalanya. Dengan cepat Mia mengganti pakaiannya. Gara-gara kejadian tadi di makam, Mia sampai lupa kalau ia sudah punya janji dengan Kalin untuk belajar nyetir.
"Ayo!" ajak Mia.
Keduanya berangkat. Kalin mengajak Mia ke sebuah lapangan. Nyatanya Mia sudah bisa menyetir dengan cukup baik. Setelah itu, Kalin membawa Mia ke jalan raya yang tidak terlalu ramai. Meski sempat gugup, namun karena dukungan Kalin yang meyakinkan Mia, akhirnya Mia berani.
Tiba-tiba saja Mia menginjam rem dengan mendadak dan membuat Kalin tersungkur membentur bagian depan.
"Aw. Mia, sudah ku bilang injak rem dan gas itu perlahan. Sakit ini. Lagi pula itu sangat membahayakan. Untung saja jalanan sedang sepi," ucap Kalin kesal.
"Maaf Kalin maaf. Mia gak sengaja. Habisnya Mia geli pegang persneling ini. Mia jadi ingat mas Danu," ucap Mia.
"Apa hubungannya persneling dengan mas Danu?" tanya Kalin tidak mengerti.
"Memangnya kamu gak inget sama Dev?" tanya Mia.
"Ingat Dev?" tanya Kalin.
"Iya," jawab Mia yang disertai dengan sebuah anggukan.
"Aku tidak mengerti maksudmu Mia," ucap Kalin.
"Ini mirip benda pusaka mas Danu kalau sudah bangun," ucap Mia menunjuk persneling.
"Miaaaaa," ucap Kalin geram.
Ah entahlah, Kalin marah atau justru malah ingin tertawa dengan ucapan Mia. Bisa-bisanya Mia mengingat benda pusaka saat ia sedang belajar menyetir.
"Iya maaf Kalin. Ayo kita mulai lagi belajarnya," ajak Mia.
Meski beberapa kali Mia bergidik, tapi Mia berhasil membawa mobil hingga tempat yang sudah ditentukan oleh Kalin. Kalin harus memalingkan wajahnya saat melihat tingkah Mia. Ia menyembunyikan tawanya dari Mia.
Hanya dua jam saja. Dari jam tujuh, jam sembilan Kalin sudah mengantarkan Mia kembali ke apartemennya.
"Istirahat. Besok kamu harus kerja," ucap Kalin.
"Terima kasih ya!" ucap Mia.
"Sama-sama. Besok malam kita latihan lagi ya!" ucap Kalin.
"Serius?" tanya Mia.
"Iy, biat cepat lancar. Kamu senang?" tanya Kalin.
"Senaaaang sekaliii," jawab Mia. "Tapi," lanjutnya.
"Tapi kenapa?" tanya Kalin.
"Mia malu karena selalu merepotkanmu," ucap Mia.
"Aku senang menghabiskan waktuku denganmu. Seperti yang kamu tahu kalau aku tidak punya teman. Jadi jangan sungkan-sungkan sama aku ya!" ucap Kalin.
Mia mengangguk.
"Bagaimana? Mia sudah bisa?" tanya Dev.
"Lumayan. Hanya belum rapi saja," jawab Kalin.
"Kapan latihan lagi?" tanya Dev.
"Besok malam," jawab Kalin.
"Besok malam?" tanya Dev.
"Iya, memangnya kenapa?" tanya Kalin.
"Kamu harus istirahat sayang. Kamu boleh saja membantu Mia, tapi kamu tidak bisa mengabaikam kesehatanmu begitu saja. Kamu harus kontrol diri ah," ucap Dev.
Dev mengerti kalau Kalin senang melakukan semua ini. Ini adalah pertama kalinya Kalin terlihat dekat dengan seseorang. Mungkin Mia bisa membuatnya nyaman. Hingga Kalin lupa rasa lelah.
"Aku pasti jaga kesehatan kok. Lagi pula, bukankah melakukan sesuatu yang menyenangkan hati itu bisa membuat kita lebih sehat? Aku senang saat bersama Mia, Dev. Boleh kan besok aku mengajarkan Mia lagi? Hanya malam besok, karena aku yakin Mia pasti lancar hanya dengan sekali latihan lagi. Boleh ya?" bujuk Kalin.
"Hanya malam besok ya? Setelah itu, tidak ada lagi rengekan seperti ini. Deal?" ucap Dev mengulurkan tangannya.
"Deal," ucap Kalin tanpa ragu. Dengan cepat Kalin menyambut uluran tangan suaminya.
"Bagus. Ayo mandi dan istirahat," ajak Dev merangkul bahu istrinya.
Kalin mengangguk dan mengikuti Dev. Bahagia Kalin, kini sudah bertambah. Dulu bahagianya adalah memiliki seorang suami yang bisa menerima masa lalunya, dan selalu memperlakukannya dengan sangat baik. Sekarang bahagianya bertambah saat Kalin menemukan seorang sahabat yang selalu membuatnya bahagia saat ada di sampignya.
###################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
__ADS_1
Terima kasih..