
"Mi, ini kamar kamu?" tanya Sindi dengan suara lantang.
"Aduh, pelan-pelan Sin. Mia kan belum budeg," ucap Mia sembari menutup telinganya.
"Maaf Mi, maaf." Sindi berdiri dari tempat duduknya.
Ia berjalan mendekati nakas yang menyimpan foto Mia. Memang di kamar Mia, tidak ada foto ukuran besar yang dipasang di kamarnya. Foto pernikahannya di simpan di kamar Tuan Felix. Karena saat itu, kamar Mia sedang dicat. Kebetulan kamar tamu yang digunakan Tuan Felix masih kosong, jadi foto itu disimpan di lemarinya.
"Mi, ini beneran kamar kamu?" tanya Sindi.
"Kamu pikir ini kamar Mama Helen?" tanya Mia.
"Ya ampun Mi. Ini luar biasa. Kereeeen," ucap Sindi.
Sindi kembali mengamati setiap sudut ruangannya.
"Sin, ayo sini duduk!" ajak Mia.
Mia menarik tangan Sindi untuk kembali duduk di sofa, namun Sindi mengibaskan tangannya.
"Bentar dong Mi, aku masih belum puas. Ini seperti negeri dongeng," ucap Sindi dengan penuh dramatis.
"Sin, udahlah. Kamu gak usah lebay begitu. Duduk di sini! Mia mau ngobrol," ucap Mia.
Sindi mengikuti Mia yang kembali menarik tangannya untuk duduk di sofa.
"Sin," panggil Mia.
"Hemm," jawab Sindi.
Melihat Sindi masih belum fokus, Mia meraih wajah Sindi sehingga mereka saling berhadapan.
"Apa Mi? Ada apa?" tanya Sindi.
"Mia mau nanya sesuatu," ucap Mia.
"Apa? Jangan susah-susah nanyanya. Aku gak sepinter kamu," ucap Sindi.
"Iya. Kamu tenang aja. Tapi kamu jawab jujur ya!" ucap Mia.
"Iya. Tapi janji ya jangan nanya matematika!" ucap Sindi mengangkat jari kelingkingnya.
Mia menepis jari kelingking Sindi.
"Mia serius Sin," ucap Mia.
Sindi menyelidiki waut wajah Mia. Mencoba menebak hal apa yang ingin ia tanyakan padanya.
"Mi, kamu mau nanya apa?" tanya Sindi.
"Sebelumnya Mia mau bilang terima kasih karena kamu udah bantu Mia," ucap Mia.
Mia menjeda ucapannya. Ia sedang merangkai kata dalam kepalanya agar bisa bicara dengan bahasa yang mudah untuk dimengerti oleh Sindi.
"Bantu apaan sih?" tanya Sindi.
Mia menguraikan semua rasa hutang budinya pada Sindi, karena berkat sahabatnya itulah Mia tahu kenyataan tentang ayah kandungnya. Kesan buruk tentang Tuan Felix mulai memudar bahkan kini sudah banyak kesan baik yang Mia tangkap.
"Oh kamu, kayak sama siapa aja Mi. Aku cuma sedih aja, karena saat itu aku gak mengenali sosok kamu. Makanya aku mau kamu bisa mengungkapkan semua kenyataan ini," ucap Sindi.
Mia hanya diam dan tersenyum getir. Ia memang mengakui kalau saat itu ia hilang arah. Ia kadang tidak menguasai emosinya hingga sering marah tidak jelas.
"Terima kasih ya! Mia udah jadi Mia yang dulu kan?" tanya Mia.
"Udah dong. Sekarang aku jadi betah berlama-lama di sini. Eh tapi ngomong-ngomong, aku sampai kapan sih di sini?" tanya Sindi.
"Selamanya. Kamu akan di sini terus nemenin Mia," ucap Mia.
"Duh aku bingung harus sedih atau seneng dengernya," ucap Sindi.
"Lah kenapa?" tanya Mia bingung.
Harusnya Sindi senang seperti yang ia rasakan saat ini. Tapi kenapa Sindi jadi bingung?
"Kalau aku gak kerja, aku gak dapat duit dong?" tanya Sindi.
"Ya ampun, tanggal berapa ini?" tanya Mia.
"Tanggal lima," jawab Sindi.
__ADS_1
Sindi memang belum sebulan tinggal di rumah Mia. Tapi saat ia ke Jakarta, di Surabaya belum gajian. Karena biasanya Sindi gajian dari pabrik setiap awal bulan.
"Mana nomor rekening kamu?" tanya Mia.
"Buat apa?" tanya Sindi.
"Buat transfer dong," jawab Mia.
"Ini maksudnya apa nih?" tanya Sindi.
"Udah jangan banyak nanya. Mana sini nomor rekeningnya!" jawab Mia.
Merasa tidak enak pada Mia, Sindi berbohong dan mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Gak hapal Mi. Besok aja ya! Kan sekarang kamu mau ngobrol. Ayo mau ngobrol apa?" tanya Sindi.
Walaupun Sindi tidak hapal nomir rekeningnya, tapi Sindi menyimpannya di ponselnya. Namun ia tidak mau Mia mengirim uang padanya. Tinggal enak di rumahnya saja sudah membuat Sindi bersyukur. Meskipun sebenarnya ia juga butuh uang.
Sindi menyesal karena sudah membahas tentang uang dengan Mia. Ia lupa kalau Mia sudah menjadi Tuan Dion. Bercerita tentang uang dengan Mia, tidak lagi seperti dulu. Mereka yang sama-sama akan mengeluh tentang gajian yang selalu ada potongan ini dan itu.
Merasa waktu yang Mia punya juga semakin sedikit, Mia mengikuti arah pembicaraan Sindi. Kembali ke topik awal, melupakan sejenak masalah keuangan.
"Ini soal Rian," ucap Mia pelan.
"Rian?" tanya Sindi.
"Husssst!" Mia menempelkan jari telunjuknya pada kedua bibirnya. "Pelankan suaranya Sindi," lanjut Mia.
"Ya ampun Mia, ini ruangan segede lapangan bola. Volume aku gak seberapa dengan dibanding luasnya kamar ini," ucap Sindi.
"Sin," ucap Mia.
"Iya. Memangnya ada apa sih sama Rian? Gak ngerti aku," ucap Sindi.
"Mia tahu kamu akhir-akhir ini semakin dekat sama Rian," ucap Mia dengan hati-hati.
"Terus?" tanya Sindi.
"Kamu tahu dong gimana perasaan dia sekarang?" tanya Mia.
"Gak ada orang yang bisa tahu perasaan seseorang, kecuali Tuhan dan dirinya sendiri Mi." Sindi dengan serius bicara dengan Mia.
Sindi berpikir, mungkin ini saatnya untuk menjelaskan pada Mia kalau Rian benar-benar baik dan peduli padanya.
Mia diam saat Sindi mengatakan Rian tidak mau ikut ke Jerman hanya karena dia menjaga perasaan Mia. Rian tidak mau Mia sakit dan kecewa. Ia juga tidak mau hubungannya dengan Tuan Felix memburuk hanya karena keegoisannya.
"Bahkan Rian udah beresin lagi barang-barangnya di kopernya," ucap Sindi.
"Mia jahat ya, Sin? Mia egosi," ucap Mia pelan.
Mia menunduk menyembunyikan matanya yang sudah berlimang. Tanganng Memegang erat sofanya.
"Mi, kok kamu ngomongnya begitu sih?" tanya Sindi.
"Tapi itu kenyataan Sin. Mia jahat banget sampai harus mematahkan semangat Rian dan membuatnya menghapus semua cita-citanya," ucap Mia.
"Gak.l gitu juga dong, Mi. Kan itu dia yang mau. Kalau kamu yang minta, baru kamu egois. Ini kan Rian yang mau," ucap Sindi.
Mia hanya tersenyum mengingat kebodohan yang sudah ia lakukan saat itu. Mia benar-benar menyesali apa yang dia lakukan saat itu.
"Tapi dia gak marah sama Mia kan?" tanya Mia.
"Ya gak lah Mi. Dia itu sayang sama kamu," jawab Sindi.
Mia melihat Sindi dengan penuh rasa bersalah. Sindi yang melihat wajah Mia nampak tidak tega. Ia memeluk Mia dan menenangkannya.
"Mi, Rian sama sekali tidak membenci kamu. Keputusannya dia ambil sendiri," ucap Sindi.
Mia tiba-tiba melepaskan pelukan Sindi.
"Atau jangan-jangan disuruh sama kamu ya, Sin?" tuduh Mia.
"Hey, sembarangan. Gak lah. Mana mungkin aku sejahat itu Mia," ucap Sindi membela diri.
"Bener?" tanya Mia dengan nada penuh selidik.
"Ya ampun Mi. Kamu gak percaya sama aku? Ayo kita tanya langsung ke Rian. Biar kamu denger sendiri jawabannya," ucap Sindi.
Sindi bangun dan menarik tangan Mia. Namun Mia hanya tertawa melihat tingkah Sindi.
__ADS_1
"Eh, malah ketawa. Gak ada yang lucu Mi," ucap Sindi.
"Kamu gak tahu kalau muka kamu itu lucu. Bikin gemes," ucap Mia.
Sindi menjerit saat kedua pipinya dicubit oleh Mia. Keduanya sudah kembali ceria saat Mia memeluk Sindi kembali.
Tok..Tok..Tok..
Suara ketukan pintu membuat Mia dan Sindi saling melepas pelukan dan beradu pandang. Seolah keduanya saling bertanya, siapa yang mengetuk pintu?
"Kak Mia," panggil Rian.
"Oh, Rian Mi." Sindi tahu suara si pemanggil meski orang itu tidak menyebutkan namanya.
"Iya," jawab Mia.
Pintu kamar dibuka. Belum sempat Mia bertanya tentang tujuan Rian datang ke kamarnya, Rian sudah lebih dulu menjawab pertanyaan Mia yang belum diungkapkan itu.
"Ini ponsel Kakak bunyi. Kak Dion nelepon Kak," ucap Rian.
"Oh ya ampun, maafkan aku. Aku lupa kalau ternyata ponselku ketinggalan di kamar kamu," ucap Mia.
"Iya Kak. Aku juga gak tahu ada ponsel Kakak kalau gak ada yang nelepon," ucap Rian.
"Ah syukurlah. Terima kasih ya," ucap Mia.
Tak lama, panggilan dari Dion kembali masuk dalam ponselnya.
"Hallo A," ucap Mia.
Mendengar Mia sudah menjawab panggilan dari suaminya, Sindi memberi kode ada Mia kalau ia dan Rian mau kembali ke kamarnya. Mia yang sedang menelepon hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih dengan kode pada Sindi.
Rian yang penasaran dengan keberadaan Sindi di kamar Mia, ingin sekali mencari tahu apa yang mereka bahas. Namun Rian tidak enak jika harus terlalu ikut campur dengan urusan keduanya.
"Kak, kok ada di kamar Kak Mia sih? Aku pikir Kakak tidur di kamar," ucap Rian.
Setelah rasa ingin tahu menguasai dirinya, Rian memberanikan diri untuk bertanya. Meskipun bukan tidak mungkin jika Sindi tidak akan menjawab dengan pasti pertanyaan dirinya.
"Oh, tadi dia nanya-nanya tentang kamu." Sindi dengan jujurnya membuat Rian menjadi lebih penasaran.
"Kak," ucap Rian menahan tangan Sindi saat akan masuk ke dalam kamarnya.
"Apa?" tanya Sindi.
"Nanya apa?" tanya Rian.
"Kepo," jawab Sindi sembari tertawa kecil.
Rian cemberut saat mendapati jawaban Sindi yang sama sekali tidak ia harapkan. Hatinya sudah senang karena ternyata Sindi menjawab jujur apa yang mereka bahas. Namun ia justru semakin penasaran karena Sindi tidak menjelaskan bahasan yang katanya tentang dirinya.
"Kak,ceritain dong. Aku kan penasaran," ucap Rian.
"Ini rahasia," ucap Sindi sembari tertawa lagi.
"Kak Sindi yang cantik," rengek Rian membujuk Sindin agar mau menceritakan apa yang Mia tanyakan tentang dirinya.
Sindi suka saat melihat Rian semakin ingin tahu apa yang ia bicarakan dengan Mia. Ia menggunakan momen ini untuk membuat Rian semakin penasaran.
"Nanti ya! Sekarang aku mau tidur dulu. Kalau cerita lagi ngantuk kan bahaya. Bisa-bisa ceritanya ngawur," ucap Sindi sembari masuk ke dalam kamarnya.
Rian menahan pintu yang hampir tertutup rapat. Ia masih berusaha mendapat jawaban atas rasa penasarannya.
"Kak Sindi," ucap Rian.
"Besok ya! Rian kepo," ucap Sindi.
Sambil tertawa Sindi mendorong pintu itu dengan kuat sampai benar-benar tertutup. Menyisakan Rian yang masih berdiri di depan kamar Sindi dengan wajah pasrah.
######################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
__ADS_1