
"Di, yakin gak mau kenalin Mia sama aku?" tanya Reza.
"Gak perlu," jawab Dion malas.
"Apa jangan-jangan kamu takut aku bongkar y kalau kamu nikahin dia cuma karena kalah taruhan?" ejek Reza.
"Dia udah tahu kok," jawab Dion.
"Halahh, gak percaya aku. Mana ada nyali kamu bilang begitu sama dia?" ucap Reza.
"Ayok tanyain langsung sama dia. Gak percayaan banget sih jadi orang," ucap Dion.
Yesss, berhasil. Begitu dong dari tadi. Aku kan cuma mau kenalan aja.
Reza mengikuti Dion menuju kamar Mia.
"Mi," panggil Dion sembari mengetuk pintu.
"Aduh mamaeee, lembut kali suaramu leee," goda Reza.
PLETAK
"Berisik," ucap Dion.
Mia membuka pintu kamarnya dan menunduk hormat saat melihat Dion dan pria yang tidak dikenalnya menemuinya.
"Hai Mia, aku Reza." Reza mengulurkan tangannya.
"Mia," jawab Mia sembari menyambut uluran tangan Reza.
Terus aja terusss, terus, pegang terus sampai kapalan. Awas ya kalian.
"Tuan, maaf tangannya." Mia mencoba melepaskan tangannya yang dipegang erat oleh Reza.
"Biarin aja, belom sampai kapalan ini," jawab Dion kesal.
"Eh, iya maaf. Lupa aku. Jangan panggil aku Tuan, panggil aku Reza saja ya! Biar lebih akrab," ucap Reza yang mengabaikan ucapan Dion.
Tengil emang kamu Za, Za. Cari kesempatan aja. Tenang Dion, tidak boleh cemburu. Harha diri turun ceban nih bisa-bisa.
"Mia aslinya orang mana?" tanya Reza.
"Gk usah basa basi. Za, tujuan kamu ke sini kan cuma buat nanya kalau Mia memang tahu pernikahan kita cuma karena kalah taruhan," ucap Dion.
"Pemanasan dulu kenapa sih Di? Ah, kamu gak tahu cara mainnya sih. Kalau langsung ke inti nanti shock, bahaya. Cowo itu gak bisa langsung begitu. Nanti jadi kurang berkesan," ucap Reza.
"Ngomong apa sih?" tanya Dion kesal.
"Ya sudah, intinya kamu mau tanya kalau Mia tahu kan alasan pernikahan ini hanya karena kalah taruhan kan?" tanya Dion.
"Apaaaa? Anak kurang ajar," teriak Nyonya Helen.
Karena mendengar suara Dion dan Reza yang saling bersahutan, mengundang rasa ingin tahu level maksimal dari Nyonya Helen. Dan betapa terkejutnya ia, ketika mendengar pengakuan anaknya. Bagi Nyonya Helen, itu terdengar sangat merendahkan kaum wanita.
"Mama," ucap Dion terkejut.
"Bener apa yang kamu bilang?" tanya Nyonya Helen.
"Ma, gak begitu. Jadi begini," ucap Dion.
"Cukup Dion. Mama kecewa," bentak Nyonya Helen. "Mia, benar apa yang diucapkan Dion?" lanjut Nyonya Helen.
Apalah daya Mia yang polos dan ketakutan. Mia hanya bisa mengangguk, mengiyakan pernyataan yang sudah keluar dari mulut Dion.
"Anak kurang ajar. Rasakan ini!" ucap Nyonya Helen sembari memukul Dion berkali-kali.
"Ma, ampun ma. Iya maafin Dion ma. Dion ngaku salah," ucap Dion.
Namun tangan Nyonya Helen masih belum berhenti memukul Dion. Mia hanya tersenyum melihat Dion yang diperlakukan bak anak tiri.
Rasain. Emang enak. Haha
"Nyonya, cukup. Tuan Dion memang salah. Tapi kita bisa bicarakan semuanya dengan baik-baik. Dengan kepala dingin," ucap Mia memeluk Nyonya Helen.
Nyonya Helen menjadi luluh saat mendapat perlakuan manis dari Mia. Mungkin karena Dion semakin dewasa, Nyonya Helen tidak pernah mendapat perlakuan seperti itu dari Dion. Akhirnya Nyonya Helen menghentikan semuanya dan menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya.
"Mia, ikut denganku!" pinta Nyonya Helen.
"Baik Nyonya," jawab Mia.
Mia membiarkan Nyonya Helen berjalan lebih dulu. Setelah Nyonya Helen cukup jauh, Mia mendekati Dion dan berbisik.
"Tuan punya utang budi sama saya. Jangan lupa di bayar. Tidak ada yang gratis di dunia ini. Ok," ucap Mia sambil mengangkat jempol kanannya lalu berlari mengejar Nyonya Helen.
"Waaaw, pintar sekali Mia mencari kesempatan. Tidak ada yang gratis katanya Di," ucap Reza sambil tertawa puas.
__ADS_1
"Berisik ah. Semuanya juga gara-gara kamu Za. Kalau aja kamu gak mau ketemu Mia, mama gak bakalan dengar semua ini. Semuanya bakalan baik-baik saja," ucap Dion.
"Hey, ingat anak muda. Anda yang mengajak saya untuk bertemu dengan Mia. Jangan pura-pura lupa deh ah," ucap Reza membela diri.
Ya, memang Dion yang mengajak Reza, tapi kan semua gara-gara Reza yang terus ngompor-ngomporin Dion. Ah sudah lah, yang pasti sekarang Dion tengah stres.
"Udah lah, jangan stres begitu. Kalau nyokap marah dan gak ngizinin tentang taruhan ini, gak masalah. Taruhannya gak berlaku. Udah ya jangan stres," ucap Reza.
Hah? Gak jadi? Yang ada aku tuh makin stres Aku udah berusaha buat bawa Mia ke sini tapi malah berakhir sebelum nikah. Gimana ini? Masa harus memohon supaya pernikahannya dilanjutkan? Mau di simpan dimana muka aku ini? Tuhaaaan, tolong aku.
"Eh, mau kemana?" tanya Reza saat melihat Dion pergi begitu saja dari kamar Mia.
Merasa situasi semakin rumit, Reza memilih untuk pergi dari rumah Dion. Tak ingin terlibat lebih jauh dan akan di cecar habis-habisan oleh Nyonya Helen, Reza cari aman untuk menghindar.
"Mia, katakan sejujurnya padaku. Apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian?" tanya Nyonya Helen.
Mia menatap mata Nyonya Helen. Aura kemarahan dan kekecewaan memang jelas terlihat. Entah apa yang menyebabkan marah dan kecewanya Nyonya Helen.
Cerita gak ya? Cerita aja kali ya? Bisa aja kan Nyonya Helen mendukung Mia terus Mia bebas dari taruhan gila ini. Ayo Mia lakukan.
Mia mulai menceritakan semuanya dari awal. Semua yang Mia tahu, Mia ungkapkan tanpa pengecualian. Dengan hati-hati Mia memilih setiap kata agar tidak terkesan salah pada dirinya. Mata Mia sesekali menatap raut wajah Nyonya Helen yang tampak belum berubah sama sekali.
"Jadi benar semua itu?" tanya Nyonya Helen untuk meyakinkan.
Mia mengangguk.
"Mia, kamu harus membuat Dion mencintaimu agar dia tidak menikahimu hanya karena taruhan saja. Rias wajahmu dengan cantik setiap hari. Pakai parfum yang membuat Dion nyaman saat ada di sampingmu, bersikaplah lembut. Aku tidak mau tahu kamu harus bisa membuat anakku jatuh cinta padamu," ucap Nyonya Helen.
Apaaaaa? Kenapa jadi begini? Bukan ini yang Mia mau Nyonya. Huuuhuu
"Tapi Nyonya kam tahu kalau Mia janda. Dua kali pula. Sementara Tuan Dion kan masih bujangan. Apa Nyonya tidak sebaiknya mencarikan seorang gadis saja untuk Tuan Dion?" bujuk Mia.
"Untuk apa gadis kalau ternyata sudah tidak suci. Mending sama kamu, jelas statusnya. Jaman sekarang susah mau cari perempuan bener. Ingat tugasku Mia. Buat Dion jatuh cinta padamu. Aku mau istirahat dulu ya! Pusing," ucap Nyonya Helen.
Mia menatap Nyonya Helen yang semakin menjauh darinya. Sampai akhirnya ia terkejut dengan kedatangan Dion di sampingnya.
"Ingat tugas mama ya! Jangan sampai nanti kamu yang kena pukul sama mama. Karena aku gak bisa sebaik kamu, yang bisa nolongin aku dari mama." ejek Dion sambil meninggalkan Mia sendirian.
Emak sama anak emang sama gilanya. Keluarga macam apa ini? Belum lagi nanti bapaknya. Mudah-mudahan bapaknya gak begini. Eh tapi kalau anaknya begini, bapaknya gak bakal jauh beda. The sableng family ini sih kayaknya. Sabar Miaaaa, sabar.
Mia kembali masuk ke dalam kamarnya dengan langkah gontai. Mia menutup pintu kamarnya, menguncinya dan terduduk di balik pintu. Mia menundukkan kepalanya dan mulai menangis. Mia merasa terjebak dalam keluarga yang aneh.
Mia berdiri dan mendekat ke arah meja rias. Cermin besar itu menampakkan wajah Mia dengan jelas. Mata yang merah dan sedikit sembab. Mia memijat kepalanya karena merasa sedikit pusing. Hingga Mia memilih untuk berbaring di atas ranjangnya. Mencari posisi ternyaman agar bisa tidur dengan nyenyak.
Mata Mia mulai terbuka perlahan saat telinganya samar-samar mendengar ketukan pintu dan panggilan untuk dirinya. Semakin ia sadar, semuanya semakin jelas.
"Kamu ini pingsan? Lama banget buka pintunya," ucap Dion kesal.
Mia tidak menjawab. Ia hanya mengucek matanya dan menguap beberapa kali.
"Mandi dan ganti bajumu! Papa sudah datang," ucap Dion.
"Mia gak bawa baju ganti," jawab Mia.
"Sudah aku siapkan di lemari," ucap Dion.
"Hah?" ucap Mia tak percaya.
Mia segera membuka lemari dan melihat baju yang dimaksud oleh Dion. Benar, ada baju tidur dan beberapa baju casual yang sengaja disiapkan oleh Dion.
"Mia pakai yang mana?" tanya Mia.
"Baju tidur saja. Ini juga sudah malam. Aku cuma kenalin kamu sama papa. Gak lama," jawab Dion.
"Ok," jawab Mia.
Mia segera mandi dan memakai baju tidur yang disiapkan oleh Dion. Setelah selesai, Mia keluar dan mendapati Dion berdiri di luar kamarnya.
"Tuan?" tanya Mia.
"Lama sekali. Kakiku pegal berdiri dari tadi," jawab Dion kesal.
Mohon maaf pak, Mia gak minta bapak berdiri di situ. Suruh siapa nyiksa diri sendiri? Ngapain berdiri di situ? Kenapa gak tiduran aja sekalian? Hahah
Mia mengikuti Dion untuk menemui ayahnya Dion. Rasanya menegangkan. Bagaimana kalau ternyata galak? Bisakah Mia menghadapi ayahnya Dion? Mia berkeringat saat semakin dekat dan sayup terdengar suara berat seorang pria.
"Pah," panggil Dion.
"Hallo Dion. Haii kamu bawa siapa ini?" tanya Tuan Wira.
"Calon menantu papa," jawab Mia.
Mia mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri. Tuan Wira nampak terkesima saat Mia mencium tangannya. Hal yang sangat langka ia temui pada teman-teman Dion.
"Duduk!" ucap Tuan Wira.
__ADS_1
Mia duduk meskipun hatinya masih kacau. Entah apa lagi yang akan mereka bahas sekarang. Mia pasrah saja.
"Jadi kapan?" tanya Tuan Wira.
Mia menatap bingung pada Tuan Wira kemudian pada Dion. Seolah dia meminta tolong, jawaban apa yang harus ia berikan pada Tuan Wira. Dengan sangat menyebalkan, Dion malah mengangkat telepon dan meninggalkan Mia bersama kedua orang tuanya.
Dasar sultan sableng. Awas ya, rasakan pembalasan Mia.
"Saya bagaimana Tuan Dion saja," jawab Mia.
"Kenapa kamu panggil Tuan? Apa sebenarnya hubungan kalian?" tanya Tuan Wira.
Ya, seharusnya Mia panggil dia Sultan Sableng, bukan Tuan. Itu lebih cocok buat dia.
"Mia karyawan di pabrik Tuan Dion yang di Surabaya," jawab Mia.
"Jadi kamu bukan calon istri Dion?" tanya Tuan Wira.
Aduh makin ribet. Emak sultan, tolongin Mia napa. Ini kok malah diem-diem bae. Sama-sama nyebelin emang.
"Mia itu jadi bahan taruhan sama anak kesayangan papa. Katanya harus nikah sama janda yang kerja di pabrik," jawab Nyonya Helen.
Ahh akhirnya emak sultan bantuin juga. Makasih mak, nanti Mia cium ya!
"Jadi kamu janda?" tanya Tuan Wira.
Mia mengangguk.
"Bagus dong," jawab Tuan Wira sambil menggebrak meja dan tertawa puas.
Hah? Ini kenapa sekeluarga aneh semua?
"Kamu jaga Dion dan bahagiakan dia. Jangan sampai mengecewakan papa ya!" ucap Tuan Wira.
Mia mengangkat wajahnya dan tersenyum ketir. Sampai akhirnya harus kembali ke kamarnya setelah Tuan Wira dan Nyonya Helen meninggalkannya.
"Bagaimana?" tanya Dion yang mengagetkan Mia.
"Apanya?" tanya Mia malas.
"Ngobrolnya," ejek Dion.
Mia tak menjawab, ia hanya diam cemberut menahan kesalnya. Tapi entah mengapa diam dan cemberutnya Mia membuat Dion merasa wanita di hadapannya semakin menarik hatinya. Tiba-tiba Dion menutup pintu kamar Mia dan mendekati Mia.
"Tuan, Tuan mau ngapain?" tanya Mia panik.
Dion tidak menjawab, ia hanya terus mendekat dan semakin mendekat. Dion memeluk Mia dengan erat. Menghirup sedalam-dalamnya aroma tubuh Mia yang mampu membuatnya semakin gila.
"Tuan," ucap Mia yang terus berontak.
"Diam," ucap Dion di telinga Mia.
Napas Dion membuat darah Mia berdesir.
"Tapi Tuan," ucap Mia yang masih berontak.
Dion yang sudah hilang kewarasannya menjatuhkan tubuh Mia dan menindihnya.
"Aaaaaaaa," teriak Mia saat melihat Dion semakin tidak bisa dikendalikan.
Berhasil. Dion segera menjauh dan berusaha mengembalikan kewarasannya.
Dion, apa yang sudah kamu lakukan? Harga dirimu? Kemana harga dirimu?
"Jangan berisik kamu!" ucap Dion.
"Tuan jangan begitu. Tuan janji tidak akan mencari kesempatan dalam kesempitan. Jangan karena Mia janda, Tuan bisa merendahkan Mia begitu." Mia menangis tersedu.
"Jangan salah paham. Aku hanya ingin memberi peringatan saja padamu. Jangan sampai aku melakukan hal gila karena kebodohanmu," ucap Dion yang berusaha menyembunyikan rasa paniknya.
Dion segera keluar dari kamar Mia. Meninggalkan Mia yang masih menangis di dalam kamarnya. Ingin rasanya Dion mengusap air mata itu. Meyakinkan Mia kalau ia benar-benar khilaf atas apa yang sudah di lakukannya. Mengakui semua kegilaannya. Tapi entah mengapa Dion masih menjaga harga dirinya. Ia ingin Mia yang tergila-gila padanya. Bukan sebaliknya.
Dion, apa yang kamu lakukan? Bodoh sekali kamu. Kenapa kamu bisa sampai bertindak seperti itu Dion? Bagaimana kalau Mia membatalkan pernikahannya? Ah tidak! Mia tidak bisa membatalkan pernikahannya.
Dion menatap ke luar dari jendela kamarnya. Memghirup udara malam yang segar dari dalam kamarnya. Mencoba menenangkan dirinya sendiri agar ia bisa menenangkan Mia. Dion sedang merenungi apa yang ia rasakan dan apa yang sudah ia lakukan.
Rasa bersalah semakin dalam saat mengingat tangisan dan kepanikan Mia. Kata-kata Mia yang merasa direndahkan membuat Dion ikut merasa sakit.
Mia, maafin aku. Aku tahu aku sudah gila Mia. Aku janji tidak akan melakukan kesalahan yang sama Mia. Aku janji.
###################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
__ADS_1
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..