Janda Bersegel

Janda Bersegel
Kewajiban


__ADS_3

Malam ini Sindi tidak bisa tidur. Ia menunggu hari esok yang belum tentu bisa ia lalui dengan baik. Bisakah Sindi jujur atas perasaannya pada Danu?


Ditengah kegelisahannya, Sindi terkejut saat mendapat panggilan dari Nyonya Helen. Tangannya gemetar. Ia takut.


Satu panggilan tidak dijawab. Sindi mengabaikannya karena ia tidak siap bicara dengan Nyonya Helen. Ia tidak tahu apa yang akan dibahas oleh Nyonya Helen.


'Kamu sehat Sin?'


Sebuah pesan diterima oleh Sindi. Ia membacanya dengan nanar. Sindi memegang dadanya. Ia semakin merasa jahat karena sudah membohongi Nyonya Helen.


'Sehat. Nyonya apa kabar?'


Sebuah balasan yang sebenarnya hanya sebuah basa basi. Namun Sindi terkejut saat menerima balasan kalau Nyonya Helen sedang sakit. Tanpa pikir panjang, Sindi segera menghubungi Nyonya Helen untuk memastikan keadaannya.


"Nyonya," ucap Sindi saat panggilnnya sudah terjawab oleh Nyonya Helen.


"Sindi," ucap Nyonya Helen.


"Nyonya sakit apa?" tanya Sindi.


"Kepalaku sering pusing. Dadaku juga sesekali terasa sesak," jawab Nyonya Helen.


"Nyonya sudah minum obat?" tanya Sindi.


"Sudah. Tapi belum ada perubahan. Kalau kamu bisa, kamu ke Jakarta lagi ya! Aku butuh kamu," ucap Nyonya Helen.


"Ke Jakarta?" ucap Sindi spontan.


"Kenapa?" tanya Nyonya Helen.


"Oh, tidak. Tidak ada apa-apa Nyonya," jawab Sindi gugup.


"Kamu bisa kan ke sini?" tanya Nyonya Helen.


"Nanti ya Nyonya. Aku masih ada urusan di sini," jawab Sindi.


"Urusan apa? Bukannya kamu ke Surabaya buat kerja lagi? Kamu jangan kerja ya! Balik ke sini aja," pinta Nyonya Helen.


Sindi mengerutkan dahinya. Ia tidak percaya jika Nyonya Helen tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.


Benarkah Nyonya Helen tidak tahu?


"Sindi," panggil Nyonya Helen saat Sindi cukup lama tidak mereapon ucapannya.


"Eh iya Nyonya," jawab Sindi.


"Kamu ada urusan apa sebenarnya?" tanya Nyonya Helen.


"Bukan apa-apa Nyonya. Hal kecil saja," jawab Sindi.


"Kalau begitu kamu bisa beresin semuanya dengan cepat kan?" tanya Nyonya Helen.


"Bi-bisa Nyonya," jawab Sindi.


"Baguslah. Aku tunggu secepatnya di sini ya!" ucap Nyonya Helen.


"Iya Nyonya," jawab Sindi.


Panggilan berakhir. Sindi memeluk ponselnya. Ia masih tidak percaya jika Nyonya Helen meneleponnya dan memintanya untuk kembali ke Jakarta. Kepalanya dipenuhi pertanyaan yang tidak bisa ia jawab sendiri.


Rian. Kepala Sindi langsung mengeluarkan satu nama yang bisa membantunya untuk menjawab pertanyaannya. Sebenarnya Mia juga bisa menjawab pertanyaannya, tapi Sindi tidak mungkin menanyakan hal itu pada Mia.


Entah jam berapa Sindi tidur. Yang ia ingat, kini sudah jam enam pagi. Kepalanya sudah sibuk memikirkan banyak hal yang membuatnya kembali gelisah.


"Jam sembilan masih tiga jam lagi," ucap Sindi.

__ADS_1


Sindi beranjak dari ranjang dan mandi. Ia memakai baju harian dan memoles wajahnya senatural mungkin. Belum ada niat untuk menemui Danu seperti yang Danu minta. Belum masalah Danu selesai, Sindi kembali mengingat permintaan Nyonya Helen.


"Aduh, ini aku harus gimana ya?" gumam Sindi.


Ponsel, ujung matanya melirik ponselnya yng tergeletak di atas meja. Ia segera meraihnya dan menelepon Rian. Bercerita kepada Rian bisa mengurangi rasa gelisahnya, meskipun ia belum tahu akan bertindak seperti apa.


"Ke Jakarta aja bareng Kak Danu," ucap Rian.


"Hah?" ucap Sindi.


Sindi tak habis pikir dengan ide yang dianggap gila olehnya. Bisa-bisanya Rian memberi ide seperti itu, padahal untuk menghadapi keduanya saja Sindi merasa sangat berat. Sementara Rian dengan entengnya memberi ide untuk menghadapi keduanya di waktu bersamaan.


"Kak, menurutku kalau memang sudah jodoh mau sejauh apapun menghindar tetap aja bakal ketemu. Sebaliknya kalau gak jodoh, mau sedekat apapun pasti gak bisa bersama. Sekarang Kakak jalani aja. Biar Tuhan yang memberi jalan buat kalian berdua," ucap Rian.


Memang benar, tapi untuk menghadapinya tidak semudah itu. Sindi harus berpikir ulang untuk bisa menerima ide Rian.


"Kamu ngaco," jawab Sindi.


"Haha, jangan panik. Jalani aja Kak. Yakin aja kalau Nyonya Helen dan Kak Danu orang baik," ucap Rian.


"Ya karena mereka orang baik, aku gak bisa bersikap seenaknya." Sindi bingung.


"Tanyain sama hati Kakak aja deh. Cuma kalau menurut aku, apa salahnya mencoba berdamai dengan keadaan." Rian kembali memberi saran.


Berdamai dengan keadaan? Ya memang bagi Sindi, saat ini ia tidak bisa berdamai dengan keadaan. Dengan Danu ataupun dengan Nyonya Helen, ia selalu merasa tidak baik. Hidupnya serba salah. Sulit rasanya membuat keadaan menjadi baik, karena hatinya belum membaik. Namun setelah panggilan Rian berakhir, Sindi kembali berpikir tentang kata damai.


Rian benar. Aku harus berdamai dengan keadaan. Mungkin aku harus jujur dengan perasaanku. Setidaknya aku bisa tenang, meskipun semua orang membenciku setelah ini.


Sindi melihat jam. Masih ada waktu. Ia pergi ke warung untuk mencari sarapan. Ia makan yang banyak agar siap menghadapi hari ini. Mungkin akan banyak kekecewaan atau rasa sakit, atau bahkan kecemasan yang baru. Namun paling tidak tubuhnya kuat untuk tetap berdiri sendiri.


Setelah jam delapan lebih dua puluh menit, Sindi menyiapkan tas yang berisi pakaian dan barang pribadinya. Ia bawa saat akan menemui Danu.


"Danu," panggil Sindi.


"Hey, mau kemana kamu?" tanya Danu.


"Maksudnya?" tanya Danu.


"Nebeng," jawab Sindi.


"Sama aku?" tanya Danu menunjuk dirinya sendiri.


"Iya. Itu juga kalau boleh," jawab Sindi.


"Boleh dong," jawab Danu dengan bibir tersenyum lebar.


Danu sama sekali tidak menyangka jika Sindi akan ikut dengannya ke Jakarta.


"Ayo!" ajak Sindi.


"Kemana?" tanya Danu.


"Ya ke Jakarta," jawab Sindi.


"Tapi kamu belum jawab pertanyaan aku," ucap Danu.


"Yang mana?" tanya Sindi.


Berpura-pura lupa. Berharap Danu tidak perlu membahas semua itu lagi. Namun harapannya sia-sia. Karena Danu masih menunggu jawabannya.


"Kamu mencintaiku?" tanya Danu.


"Iya," jawab Sindi tanpa pikir panjang.


"Iya apa?" tanya Danu.

__ADS_1


"Iya, aku mencintaimu. Meskipun aku tahu bahwa cinta tidak harus memiliki," jawab Sindi.


"Jangan munafik. Bukan cinta jika tidak ingin memiliki. Cinta itu berjuang," ucap Danu.


Sindi menatap wajah Danu. Berjuang? Perjuangan macam apa yang pantas ia lakukan? Ia takut jika hanya akan menyakiti banyak orang.


"Aku tidak ingin banyak bermimpi. Aku hanya sedang belajar jujur pada hatiku," ucap Sindi.


"Jangan bodoh. Semua bermula dari mimpi. Mimpilah seindah mungkin, lalu bangun wujudkan semua itu. Mulailah bermimpi. Karena aku sudah siap mewujudkan impianmu," ucap Danu.


"Jangan terlalu berekspektasi tinggi. Itu hanya akan membuat kita kecewa ke depannya," ucap Sindi.


"Tidak. Itu bukan ekspektasi. Itu adalah sebuah keharusan yang sudah aku niatkan. Selagi kita berusaha, aku yakin akan ada jalannya. Tidak ada hasil yang mengkhianati usaha," ucap Danu meyakinkan.


"Terserah," ucap Sindi pasrah.


Dengan perasaan bahagia dan penuh dengan keyakinan, Danu membawa Sindi kembali ke Jakarta. Penuh tanggung jawab, Danu mengantarkan Sindi kembali ke rumah Dion. Meskipun sempat ditolak oleh Sindi, namun Danu bersikukuh akan mengantarkan Sindi ke rumah itu, sebelum nanti ia akan kembali membawanya dari sana.


"Selamat malam," ucap Danu.


Semua orang yang berkumpul hening, tidak ada yang menjawab ucapan Danu. Kedatangan Danu dan Sindi ke rumah itu pada malam hari, mengundang perhatian. Dion dan Tuan Wira yang sudah pulang dari kantor, menjadi bagian atas aksi Danu yang begitu berani.


"Terima kasih sudah mengantar Sindi ke rumah ini," ucap Nyonya Helen.


Sindi menelan salivanya. Nada bicaranya yang terdengar dingin membuatnya begitu takut. Namun Danu masih tetap berdiri tegak di samping Sindi. Sama sekali tidak tersinggung, Danu terlihat sangat tenang.


"Sama-sama Nyonya. Ini sudah menjadi kewajiban saya," ucap Danu.


"Kewajiban?" tanya Nyonya Helen.


Salah satu sudut bibirnya yang terangkat menjadi bukti betapa ia sangat tidak percaya dengan ucapan Danu.


"Saya akan membiarkan Sindi di rumah ini, sebelum nanti saya membawa Sindi keluar. Karena dia akan menjadi istri saya nanti," ucap Danu.


Sebentar tatapannya teralih pada Sindi yang juga sedang menatapnya dengan wajah pucat. Kemudian ia kembali menatap Nyonya Helen yang masih tidak percaya dengan ucapannya.


"Oh ya? Jangan harap kamu bisa menggunakan Sindi untuk membuat Mia cemburu. Kamu tidak akan bisa," ucap Nyonya Helen sembari menarik Sindi agar mendekat padanya.


DEG.


Hati Sindi tiba-tiba hancur. Kenapa ia tidak berpikir sampai ke sana.


"Cemburu? Untuk apa? Aku rasa tidak ada alasan untuk membuat Mia cemburu. Mia sudah mendapat kebahagiaannya penuh dari anak Anda. Dion sangat mencintai Mia, begitupun sebaliknya. Dan itu juga yang terjadi antara aku dan Sindi," ucap Danu.


"Jadi kamu dan Sindi saling mencintai?" tanya Tuan Wira dengan penuh penekanan.


"Ya, kami saling mencintai. Tolong jangan sudutkan Sindi. Kalaupun ada yang harus disalahkan, itu aku. Aku yang tidak mencari tahu siapa Sindi," ucap Danu.


Sindi hanya bisa menunduk dengan perasaan tidak menentu. Ada bahagia saat Danu berani mengakui perasaannya di depan keluarga Dion, namun ia juga takut jika ia akan semakin dibenci oleh keluarga Dion.


"Sudah cukup. Ini sudah malam, kamu bisa pulang. Biarkan Sindi istirahat," ucap Dion.


Kalimat yang secara tidak langsung mengusir Danu, ditangkap baik oleh orang yang dimaksud. Ia pamit, namun kembali mengingatkan Sindi jika ia tidak akan berhenti berjuang.


"Tetaplah di sini. Bersabarlah sampai akhirnya nanti aku akan membawamu," ucap Danu.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍

__ADS_1


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


__ADS_2