
"Yaaaaah, gak diangkat." Mia cemberut saat panggilannya diabaikan oleh Dev.
"Lagian kamu pakai acara habis pulsa segala. Memangnya kau gak terhubung sama wifi rumah?" tanya Dion.
"Mia gak nelepon pakai whatsapp A. Whatsapp Dev gak aktif. Makanya baru mangap pulsanya udah abis duluan," keluh Mia.
"Makanya jangan ngisi pulsa lima ribuan," ejek Dion.
"Ih Aa lagi begini juga masih bisa ngejek Mia," ucap Mia kesal.
"Bukannya ngejek. Aku hanya mengingatkan Mi," ucap Dion membela diri.
Padahal Mia yakin jika Dion memang sedang mengejeknya. Mia sendiri yang menceritakan waktu di kampung ia hanya mengisi pulsa lima ribuan. Dan Dion menertawakannya saat itu.
"Lagian kenapa sih Dev gak nelepon balik kamu? Apa jangan-jangan dia juga kehabisan pulsa?" tanya Dion.
"Aa, Dev itu orang kaya. Mana mungkin dia kehabisan pulsa," ucap Mia.
"Memangnya aku miskin sampai istriku kehabisan pulsa?" tanya Dion.
Aduh, Mia menepuk dahinya pelan saat mendengar jawaban Dion. Sekarang Dion memang sudah pintar membolak balikkan kata untuk berdebat. Mungkin ia sudah mulai terlatih dalam hal ini.
"Ya ampun A. Gak begitu juga kali," ucap Mia.
"Kamu ngeles aja. Udah cepetan telepon lagi. Nanti juga pasti diangkat," ucap Dion.
"Ini juga lagi di telepon A. Tapi masih tetap gak diangkat sama Dev. Dev kenapa ya?" tanya Mia.
"Ya sudah tunggu saja. Nanti dia pasti nelepon kamu lagi. Sekarang kamu istirahat ya!" ucap Dion.
Mia masih belum bisa tenang. Ia terus menghubungi Dev. Berharap Dev menjawab panggilannya. Namun nommor Dev malah tidak aktif.
"Yaaaaah, nomor Dev gak aktif A. Apa dia kesel kali ya sama Mia? Sampai-sampai ponselnya malah dimatiin," ucap Mia.
"Ah, kamu ini jangan buruk sangka dong. Mungkin aja Dev memang sedang sibuk dan ponselny habis baterai," ucap Dion.
Ya, alasan itu memang bisa diterima dan masuk akal. Namun sayangnya Mia yang sengaja mematikan ponselnya semalaman, berpikir jika Dev bisa saja melakukan hal yang sama.
Mia menyimpan ponsel di sampingnya. Ia kembali merebahkan tubuhnya. Ia tidak tidur. Berharap tiba-tiba Dev menghubunginya dan memberi kabar baik.
Ah itu hanya mimpi. Jangan berekspektasi terlalu tinggi Mi.
Entah sampai jam berapa Mia terus bergelut dengan pikirannya yang begitu berantakan. Sampai ia lelah dan akhirnya tertidur.
Menjelang sore, Mia bangun. Saat membuka mata, yang pertama kali Mia ingat adalah ponsel. Ia segera meraih ponselnya dan mengeceknya. Sayangnya Mia harus menelan kecewa karena ternyata Dev tidak menghubunginya sama sekali.
Mia mencoba menghubungi Dev kembali. Sayangnya ponsel Mia masih belum aktif. Mia menyimpan kembali ponselnya. Ia menyibakkan selimut dan mengelap dahinya yang berkeringat.
Mia turun dari ranjangnya dan ke kamar mandi. Hari ini ia terlalu sibuk mengurus tentang pikirannya tentang Haji Hamid. Mia menyingkirkan sebentar pikiran itu dengan cara menemui Narendra dan Naura.
Setelah Mia sampai ke kamar bayi kembarnya, Mia melihat Dion dan Nyonya Helen ada di sana. Mereka tengah menggendong Narendra dan Naura dan memberikan susu dengan dotnya masing-masing.
"Mia, kamu ngapain ke sini?" tanya Nyonya Helen.
"Mia mau menyusui si kembar Ma," jawab Mia.
Mia berjalan pelan dibantu oleh dua perawat yang mengasuh bayi kembarnya.
"Terima kasih," ucap Mia setelah ia duduk di kursi.
Saat ini Mia merasa kepalanya sedikit pusing. Mungkin karena kurang tidur dan tekanan darah rendahnya. Mia sudah mulai banyak istirahat karena ia ingin menstabilkan kembali tekanan darahnya. Tapi rasa rindunya pada Narendra dan Naura membuatnya bangun dan menemui mereka.
"Ada susu formula. Kamu jangan khawatir," ucap Dion.
"Tapi ASI Mia penuh. Ini sakit A," ucap Mia.
Dion segera memberikan Narendra pada Mia. Ia melihat anak sulungnya itu menyusu dengan hebat. Dion tetap berada di samping Mia untuk menjaga istri dan anaknya. Dion takut Mia pingsan tiba-tiba, karena wajahnya masih terlihat pucat.
Selama menyusui bayi kembarnya, Mia dan suami serta ibu mertuanya membahas tentang pernikahan Sindi. Mia yang tidak bisa membantu hanya mendukung saja.
"Sekarang Sindinya kemana?" tanya Mia.
"Dia keluar karena calon mertuanya yang menyebalkan itu memintanya untuk bertemu. Padahal seharusnya dipingit ya! Eh ini malah harus ketemu," ucap Nyonya Helen.
Kesal nampaknya. Ya begitulah Nyonya Helen. Ia akan selalu terlihat kesal saat membahas Nyonya Nathalie.
"Gak usah dibahas kalau cuma bikin naik darah Ma," ucap Dion.
__ADS_1
"Iya nih gak tahu kenapa Mama selalu kesal kalau udah bahas dia. Menyebalkan," ucap Nyonya Helen.
"Menyebalkan itu karena Mama merasa bersaing sama Nyonya Nathalie," ucap Dion.
"Ih, enak aja. Gak perlu saingan juga Mama udah menang telak Dion," ucap Nyonya Helen.
Mia hanya tersenyum melihat Dion yang sedang menggoda ibunya. Ia menggelengkan kepalanya dan menunduk menatap bayi tampan yang sedang menyusu. Tatapan Narendra saat menyusu berhasil membuat perasaan Mia tenang sementara waktu.
Setelah selesai, Dion dan Mia kembali ke kamarnya. Sedangkan Nyonya Helen pergi keluar karena Tuan Wira minta ditemani untuk menyambut kedatangan sahabatnya di salah satu hotel terbaik.
"Mi, obatnya gak lupa kan?" tanya Dion.
"Gak kok A. Tadi Mia udah minum obat," ucap Mia.
"Baguslah," jawab Dion.
Mia merangkak untuk kembali ke atas ranjangnya. Ia melupakan ponselnya. Tangannya perlahan menyentuh benda pipih itu dengan ragu. Kepala dan hatinya terus berpikir macam-macam.
"Ya ampun Dev," ucap Mia sembari menutup mulutnya.
"Ada apa?" tanya Dion panik.
"Dia nelepon Mia sampai sepuluh kali," ucap Mia.
"Ya sudah kamu telepon balik dong," ucap Dion.
"Iya A," ucap Mia.
Namun saat Mia hendak menghubungi Dev kembali, Mia membuka sebuah pesan yang masuk.
'Berkat doa dan dukungan dari semuanya, Hamid sudah siuman. Meskipun masih belum stabil, tapi ini adalah perkembangan luar biasa. Kalau aku bilang sih ini ajaib. Terima kasih buat support dan doanya Mi,'
Mia berteriak histeris saat membaca pesan itu. Dion yang terkejut segera mendekat dan meraih ponsel Mia. Ia membacanya dan ikut senang. Walaupun ada sedikit rasa kesal yang mengganjal.
Bagaimana tidak, padahal Dion juga ikut mendukung dan mendoakan. Tapi Dev sama sekali tidak menyebut namanya.
"Ini mengesalkan sekali," gumam Dion.
"Aa kok ekspresinya datar begitu? Gak senang ya mendengar kabar bahagia ini?" tanya Mia.
"Jadi menurut Aa, Mia ini aneh ya?" tanya Mia.
"Ya ampun Mi. Kamu kan lagi bahagia. Kenapa masih aja berpikir buruk sama aku?" tanya Dion.
"Hehe. Jadi Aa ikutan senang juga kan?" tanya Mia.
Dion mengangguk. Mia segera memeluk Dion dengan erat.
"Terima kasih A. Terima kasih udah selalu bantu Mia," ucap Mia sembari memeluk Dion.
"Aku udah bilang kalau semua ini adalah tanggung jawabku," ucap Dion.
Mia hanya menganggukkan kepalanya dalam dekapan Dion. Pelukannya semakin erat. Bibir Mia tersenyum lebar setelah mendapat kabar baik itu.
Wajahnya kini sudah kembali berseri, tidak pucat seperti sebelumnya. Rasa pusing dan lemas juga berangsur menghilang.
"Loh, kamu nangis sih?" tanya Dion.
"Mia nangis bahagia A," jawab Mia.
"Bahagia itu senyum. Jangan nangis!" ucap Dion.
Rupanya Dion lupa jika wanita selalu mengekspresikan senang dan sedihnya dengan air mata.
"A, akhirnya doa kita semua terjawab ya! Mudah2an Pak Haji sembuh. Sehat lagi. Nanti kalau sembuh, Pak Haji boleh kan main ke sini?" tanya Mia.
Sebenarnya Dion malas jika Haji Hamid harus sampai main ke rumah. Tapi jika itu membuat Mia bahagia, maka tentu akan Dion lakukan. Sudah cukup melihat Mia sedih begitu. Dion tidak bisa melihat Mia terus-terusan bersedih.
"Boleh," jawab Dion singkat.
"Oh ya A,Sindi dimana?" tanya Mia.
"Dia belum pulang dari rumah Nyonya Nathalie," ucap Dion.
"Belum pulang? Ini kan sudah malam A," ucap Mia.
"Ye terus kalau udah malam kenapa? Dia kan sama keluarga barunya juga di sana. Udah deh Mi kamu jangan terlalu mengkhawatirkan semua orang," ucap Dion.
__ADS_1
Khawatir? Sebenarnya Mia tidak khawatir soal Sindi. Ia percaya kalau Sindi bisa menjaga diri. Belum lagi ia yakin Danu bisa dipercaya. Tapi saat ini Mia butuh Sindi untuk teman cerita.
Sindi, kamu cepat pulang dong. Mia mau berbgi kabar bahagia ini..
Sindi juga sebenarnya sudah ingin pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lebih lima belas menit.
"Aku mau pulang. Ini sudah terlalu malam. Gak enak sama Nyonya Helen," ucap Sindi.
"Ya sudah ayo!" ajak Danu.
Saat hendak pamit, Nyonya Nathalie malah memeluk Sindi dan menahannya.
"Kalau kamu pulang, rumah ini sepi. Besok aja ya pulangnya!" pinta Nyonya Helen.
"Aduh, gak bisa dong Bu. Nanti di grebek RT. Aku sama Danu kan belum menikah," ucap Sindi.
"Tapi kan sebentar lagi. Gak sampai dua bulan lagi kok," ucap Nyonya Nathalie.
"Tuh kan ibu bilang sebentar lagi. Nanti aku kalau udah nikah bisa sering-sering nginep di sini kok," ucap Sindi.
"Sering-serig? Nanti kalau udah nikah ya kamu tinggal di sini lah. Gimana sih," ucap Nyonya Nathalie.
"Eh iya Bu," ucap Sindi.
Matanya melihat ke arah Danu. Nampak penuh pertanyan. Sindi mempertanyakan nasibnya nanti setelah menikah. Mereka akan sulit untuk keluar dari rumah itu.
Menurut Sindi, masalah tempat tinggal saja akan menjadi masalah yang cukup besar, jika sudah melibatkan Nyonya Helen dan Nyonya Nathalie. Tapi Danu selalu meyakinkannya kalau mereka pasti bisa melalui semuanya.
"Mi, ini sudah malam. Sindi pasti ditunggu sama keluarganya. Biarkan Sindi pulang dulu," bujuk Tuan Ferdinan.
"Kita juga keluarga Sindi Pi," ucap Nyonga Nathalie.
"Mi, kalau Mami terus-terusan menahan Sindi untuk pulang, nanti Nyonya Helen tidak akan memberi izin lagi. Mami mau nanti Sindi gak bisa ke sini lagi?" tanya Tuan Ferdinan.
"Ah dasar memang menyebalkan. Lihat saja nanti. Mami gak bakal bukain pintu kalau dia mau ketemu sama Sindi," ucap Nyonya Nathalie kesal.
"Jadi sekarang boleh pulang kan?" tanya Danu.
"Ya sudah. Hati-hati di jalan!" jawab Nyonya Nathalie.
Danu tidak peduli akan seperti apa nanti. Yang harus ia lakukan adalah mengantar Sindi pulang secepatnya. Tidak masalah jika ia yang dimarahi oleh Nyonya Helen. Yang ia kahwatirkan adalah jika Sindi yang akan menjadi sasaran kemarahan Nyonya Helen.
Setelah pamit, Danu dan Sindi segera pergi. Mobil melaju dengan begitu cepat. Jalanan tidak seramai biasanya, hingga Danu bisa menginjak gas lebih cepat dari biasanya.
"Hey, hati-hati. Jantungku mau copot ini," ucap Sindi.
Danu hanya tertawa saat melihat Sindi begitu tegang. Ia menurunkan kecepatannya.
"Ini sudah malam. Kalau kita pelan-pelan, kita bisa sampai semakin malam. Atau kamu memang mau kita berlama-lama di sini? Kamu masih kangen kan sama aku?" goda Danu.
"Apaan sih kamu. Ya udah ayo cepat!" ucap Sindi.
Danu tersenyum dan kembali menginjak gas. Mobil kembali melaju dengan kecepatan tinggi. Sesekali ia melihat Sindi yang tengah tegang. Wajahnya begitu lucu. Danu semakin jatuh cinta pada Sindi.
"Sudah sampai. Ayo turun!" ajak Danu.
Dengan cepat Sindi membuka pintu dan keluar. Tiba-tiba Sindi muntah. Danu yang panik segera keluar dan memijat pundak Sindi. Saat kejadian itu, Nyonya Helen keluar.
"Sindi, kamu kenapa?" tanya Nyonya Helen begitu khawatir.
"Aku gak apa-apa Nyonya," jawab Sindi.
"Apa jangan-jangan kamu hamil?" tanya Nyonya Helen.
"Hah?" ucap Sindi dan Danu bersamaan.
#####################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
__ADS_1