
Dalam suatu kamar berukuran besar dengan penataan yang apik serta berisi barang-barang super mewah, Mia duduk termenung. Saat ia sendiri, bayangan Nyonya Nathalie kembali mengisi lamunan Mia. Sakit hatinya saat melihat Nyonya Nathalie memohon hanya untuk bertemu dengannya.
Beginikah rasanya menjadi bagian dari orang kaya? Pertanyaan itu yang selalu menyelinap dalam kepala Mia. Rasanya ia sudah tidak bisa menggunakan kemanusiaannya dengan begitu bebas. Ini bukan Mia. Mia yang terbiasa hidup bebas, kini merasa hidup dalam sangkar aturan. Ah, tidak. Bukan aturan, ini hanya tentang perasaan dan ketakutan.
Mia berusaha menjaga perasaan mertuanya yang sudah sangat baik dan menerima dirinya. Takut jika sampai Nyonya Helen tersinggung jika saja Mia salah bersikap. Sekarang, Nyonya Helen adalah wanita pertama yang harus ia jaga terutama tentang perasaannya. Meskipun tidak munafik, jika hatinya memang masih memikirkan Nyonya Nathalie.
Dalam kamar yang berbeda, Nyonya Nathalie sedang menatap kamar berukuran besar yang tampak sunyi. Tidak berpenghuni namun sudah dibersihkan semenjak ia mengakui kesalahannya. Kamar itu adalah kamar Mia dan Danu saat mereka masih menjadi pasangan suami istri yang selalu bahagia. Namun semenjak perpisahan itu, Danu meninggalkan kamarnya karena tidak bisa menerima berada dalam bayang masa lalunya. Bagi Danu, masa lalunya bersama Mia terlalu indah.
Bagaimana cara Mia memperlakukan Danu selalu membuat Nyonya Nathalie merasa iri. Namun semua berubah hanya karena keegoisannya.
"Mia, maafin Mami. Tidak seharusnya Mami menuntuk kamu tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya," gumam Nyonya Nathalie.
Wanita itu duduk di tepi ranjang. Menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Membayangkan betapa bodohnya ia karena tdiak pernah mau menerima pernyataan Mia. Ia tidak bisa menerima jika sebenarnya Danu yang salah. Meskipun surat itu menunjukkan semuanya, justru ia semakin membenci Mia.
Sebenarnya kebencian itu bermula sejak Mia belum juga memiliki anak padahal pernikahannya sudah cukup lama. Kebencian itu semakin membesar dan tak terbendung dari kecelakaan Danu dan Mia. Hanya karena ingin menutupi kesalahannya, Nyonya Nathalie mencari kelemaha Mia. Ya, mandul. Karena Mia belum juga hamil, maka itu digunakan sebagai alat oleh Nyonya Nathalie. Namun Mia yang berusaha membela diri dan terkesan menyalahkan Danu justru membuat ia kesal dan terus menumbuhkan kebenciannya. Apalagi saat Mia terus membahas tentang penyakit Danu. Rasanya ia tidak bisa menerima semua kenyataan itu.
Semakin lama kebencian itu semakin memudar saat Nyonya Nathalie tak kunjung menemukan calon istri untuk anaknya. Ia selalu saja gagal dan gagal. Wanita-wanita pilihannya selalu saja mundur saat tahu apa yang terjadi pada Danu. Berita tentang Danu sudah mulai menyebar dan itu mempersempit kesempatan Nyonya Nathalie untuk segera mengganti posisi Mia. Kini ia mulai menyadari, memang tidak mudah untuk menemukan sosok seperti Mia.
"Mi," panggil Tuan Ferdinan.
"Iya," jawab Nyonya Nathalie mengusap sudut matanya.
"Mami ngapain di sini?" tanya Tuan Ferdinan.
Semenjak kakinya masuk ke dalam ruangan itu, mata Tuan Ferdinan mengedar ke setiap sudut ruangan. Semuanya nampak berbeda. Ruangan yang sudah tidak pernah terjamah itu nampak sangat bersih dan rapi.
Seolah mengerti maksud tatapan aneh dari suaminya, Nyonya Helen langsung menjelaskan apa yang terjadi pada ruangan itu.
"Mami sengaja minta beresin kamar ini. Sayang aja Pi kalau ruangannya gak kepake," ucap Nyonya Nathalie.
"Bagus lah Mi," jawab Tuan Ferdinan sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Papi ada apa nyari Mami?" tanya Nyonya Nathalie.
"Dion lagi nunggu di ruang makan. Kita makan malam yuk!" ajak Tuan Ferdinan.
Selera makannya masih tidak baik, tapi akan jauh tidak baik jika ia sampai menolak ajakan itu.
"Ayo Pi," ucap Nyonya Nathalie.
Nyonya Helen menggandeng tangan Tuan Ferdinan untuk keluar dari kamar itu dan menemui Danu di ruang makan.
"Gimana Mi? Udah makin baik?" tanya Danu.
"Iya," jawab Nyonya Nathalie singkat.
Selama makan, tidak satupun dari mereka yang bicara. Bahkan hingga selesai, semua hanya asyik dengan makanannya masing-masing.
"Danu, mau kemana?" tanya Nyonya Nathalie saat melihat Danu berdiri dari bangkunya.
"Ke kamar. Kenapa Mi?" tanya Danu.
"Kamu gak ketemu sama Dion?" tanya Nyonya Nathalie.
Danu menggeleng dan pergi. Ia tidak ingin suasananya menjadi buruk. Masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan malam ini.
"Mi, jangan bahas itu di depan Danu ya! Kalau Mami mau bahas itu, sama Papi aja. Danu lagi sibuk sama kerjaan," ucap Tuan Ferdinan.
Ah, bukan urusan pekerjaan. Tuan Ferdinan hanya malas saja melihat wajah masam Danu setiap kali membahas tentang Mia ataupun keluarga barunya.
"Iya Pi. Mia lagi apa ya?" tanya Nyonya Nathalie.
"Mungkin sudah tidur Mi, Mami juga tidur yu!" ajak Tuan Ferdinan.
Tidur? Ini masih terlalu siang untuk jadwal tidur Mia. Apalagi saat ini Mia sedang menyusui bayinya. Setelah beberapa herbal dicobanya, akhirnya Mia merasakan apa yang ia harapkan. ASInya semakin banyak dan melimpah.
"A, Mia seneng deh. Lihat mereka bisa tercukupi ASInya. Makasih ya A," ucap Mia.
Tentu Mia berterima kasih, karena Dion adalah orang yang sangat mendukung dan tak henti memberi dukungan pada Mia. Saat Mia selalu merasa pesimis dan putus asa, Dion selalu menjadi orang yang meyakinkan Mia kalau semuanya akan baik-baik saja. Sebagai bukti cintanya pada Mia, Dion bahkan menghubungi beberapa orang hanya untuk bertanya tentang cara menyuburkan ASI.
"Semua berkat usaha kamu juga," ucap Dion.
Dion begitu puas melihat Mia yang terlihat sangat bahagia. Bukan hanya menyusui kedua anak kembarnya, bahkan Mia bisa memompa ASI saat kedua anak kembarnya sedang tidur.
"A, Mia berasa ini mimpi. Mia benar-benar gak nyangka," ucap Mia.
"Aku kan selalu bilang, tugas kita itu berusaha. Masalah hasil urusan Tuhan. Dan berkat usaha kamu, Tuhan sudah memberi hasil terbaik," ucap Dion.
"Berkat dukungan dari semuanya. Mama dan Papa juga selalu dukung Mia buat ASI eksklusif loh A," ucap Mia.
Keluarga Dion bukan tidak mampu memberikan susu formula terbaik untuk Narendra dan Naura. Namun keinginan Mia yang kuat, membuat mereka ikut memotovasi Mia. Karena memang lebih bagus jika seandainya Mia bisa memberikan ASI eksklusif untuk kedua anak kembarnya.
__ADS_1
"Mi, Naura udah tidur tuh. Kita ke kamar yu! Ada yang mau aku bahas sama kamu," ucap Dion.
"Apa?" tanya Mia.
"Tidurkan dulu Nauranya. Narendra juga udah tidur tuh," ucap Dion menunjuk Narendra yang sudah tidur nyenyak dalam box bayinya.
Mia menidurkan Naura dan mengikuti Dion ke kamar. Ia ingin tahu apa yang akan dibicarakan Dion padanya.
"A, ada apa?" tanya Mia saat pintu kamar sudah tertutup.
"Tentang Nyonya Nathalie," jawab Dion.
DEG
Mia menatap Dion dengan perasaan tak karuan. Hatinya berdebar, takut masalah itu semakin panjang dan berlarut-larut.
"A, Mia minta maaf kalau Aa gak nyaman dengan kehadiran Nyonya Nathalie. Tapi bagaimanapun, itu masa lalu Mia yang tidak bisa dielakkan. Tapi Mia sudah tidak ada di masa itu A. Mia harap Aa mengerti," ucap Mia.
"Bukan, bukan itu. Aku tahu semua masa lalumu. Tidak adil rasanya saat aku selalu keberatan dengan masa lalumu. Padahal aku sendiri memiliki masa lalu. Aku justru ingin kamu berdamai dengan masa lalumu Mia," ucap Dion.
Mia menatap Dion penuh rasa bingung. Apa yang ia dengar sama sekali sulit dimengerti. Saat ia takut dengan masa lalunya yang akan merusak masa depannya dengan Dion, Dion dengan tiba-tiba berkata seperti itu.
"Maksud Aa?" tanya Mia.
"Aku ingin kamu bertemu dengan Nyonya Nathalie. Dia merasa bersalah dan ingin meminta maaf padamu," ucap Dion.
"Mia sudah memaafkan Nyonya Nathalie A. Tapi untuk bertemu, rasanya itu hanya akan menambah masalah baru. Mia tidak mau Mama sakit hati. Jangan sampai Mama berfikir Mia memilih Nyonya Nathalie dibanding Mama," ucap Mia.
"Itu tidak akan terjadi kalau Mama gak tahu," ucap Dion.
"Maksud Aa?" tanya Mia semakin bingung.
"Aku mau ngajak kamu keluar untuk bertemu dengan Nyonya Nathalie. Kamu selesaikan semuanya. Buat Nyonya Nathalie tenang, agar ia tidak ke sini lagi. Kamu ngerti maksud aku kan?" tanya Dion.
Mia diam. Ia berusaha mengurai setiap kalimat yang tersusun dari ucapan Dion. Ia mencerna semampunya. Hingga akhirnya ia mendapat sebuah kesimpulan. Bukan berdamai, mungkin maksud Dion adalah menyudahi atau lebih tepatnya menutup akses masa lalu Mia lebih rapat dari saat ini.
Mia sama sekali tidak keberatan. Anggukan kepalanya mengekspresikan apa yang ada dalam kepalanya. Dion tersenyum senang dengan semua jawaban Mia.
"Aku atur jadwal secepatnya ya!" ucap Dion.
"Tapi gimana Mia bisa ketemu sama Nyonya Nathalie tanpa sepengetahuan Mama?" tanya Mia.
"Kamu gak usah mikirin itu. Semua urusan aku," jawab Dion.
"Ah, aku ada ide." Dion tersenyum lebar saat kepalanya mendapat ide cemerlang.
"Apa a?" tanya Mia.
"Besok siang, aku akan jemput kamu buat periksa ke rumah sakit. Itu alasan yang paling tepat kan? Gak mungkin kamu bawa Narendra dan Naura ke rumah sakit. Mama gak bakalan ciuriga dong? Iya kan?" tanya Dion.
Mia tersenyum bingung. Memang benar, tapi Mia tidak bisa membayangkan kalau semua itu sampai ketahuan. Bagaimana reaksi Nyonya Helen padanya. Pasti akan sangat kecewa.
"Bohong sedikit demi kebaikan gak apa-apa kan?" tanya Dion.
Bohong sedikit? Bohong banyak? Semuanya tetap dosa. Apalagi bohongin Mama. Aduh, gimana dong ini.
Tapi Mia berusaha mengambil sisi positifnya. Nyonya Nathalie tidak akan merasa bersalah lagi dan berhenti menemuinya. Bukankah itu lebih baik agar Nyonya Helen tidak lagi merasa kesal dengan kedatangan Nyonya Nathalie.
"Yang penting niatnya baik ya A?" tanya Mia.
"Iya aja Mi. Aku juga gak tahu sih. Yang penting kan semuanya baik-baik aja. Aku gak mau lihat Mama marah-marah terus, tapi aku juga gak tega lihat Nyonya Nathalie memohon-mohon begitu. Aku kan jadi serba salah Mi," ucap Dion.
Bukan hanya Dion, Mia juga sama. Ia benar-benar tertekan saat keduanya bertemu. Selalu saja ada masalah di setiap pertemuannya. Dan itu akan tetap terjadi jika tidak diselesaikan.
Dion segera mengatur waktu dengan Nyonya Nathalie. Sorak girang terdengar dari mulut Nyonya Nathalie saat mendapat pesan dari Dion. Raut bahagia tidak bisa lagi ia sembunyikan. Tuan Ferdinan ikut senang mendengar dan melihat tingkah istrinya. Hanya Danu yang tidak memberi komentar. Danu berusaha menyembunyikan rasa khawatirnya. Ia takut akan terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Gimana A?" tanya Mia.
"Katanya Ok," jawab Dion.
"Semoga semuanya lancar ya A," ucap Mia penuh harap.
"Semoga ya Mi. Jadinya jam istirahat ya! Kamu siap-siap pompa ASI dulu, takutnya lama. Kita gak bisa memprediksi apa yang akan terjadi nanti," ucap Dion.
Mungkin maksudnya Dion tidak bisa menebak drama apa yang akan terjadi dalam pertemuan nanti. Seperti yang Dion tahu, Nyonya Nathalie dan Mia adalah perempuan yang sama-sama mudah tersentuh. Dion membayangkan bagaimana mereka basa basi dulu, lalu menjelaskan inti permasalahannya, lalu menangis, saling menguatkan, lalu penutupan yang entah akan berakhir dengan makan seblak atau baso aci. Karena itu adalah makanan kesukaan Mia yang biasanya Dion gunakan untuk membujuk Mia agar mengembalikan moodnya lagi.
Sepertinya aku juga harus bawa ember. Takut kalau-kalau rumah sakit banjir karena mereka menangis bersama-sama.
"A, kok diem aja sih?" tanya Mia.
"Terus aku kudu piye Mi? Joget tiktok?" tanya Dion.
__ADS_1
"Boleh tuh. Siapa tahu viral," jawab Mia menahan tawanya.
Mia mencoba mencairkan suasana kembali. Ia tahu setelah membahas Nyonya Nathalie, mood Dion pasti turun. Ia tidak mau Dion dengan niat baiknya, justru merasa tertekan sendirian. Mia meyakinkan Dion kalau masa lalu mereka sudah dilewati, kini yang harus dilakukan adalah merapatkan tangan, menyatukan fikiran, saling menguatkan dan meyakinkan kalau masa depan adalah milik mereka.
"Mi, aku harap kamu bisa melupakan sepenuhnya masa lalu kamu. Ya walaupun mungkin itu masa lalu terindah untukmu," ucap Dion
"Tidak ada masa lalu yang indah buat Mia. Masa lalu memang tidak bisa dihapus, tapi bisa Mia buat sebagai pelajaran. Mia gak mau kalau sampai melakukan kesalahan yang sama untuk masa depan Mia. Bukan berniat membandingkan, tapi Mia sudah bahagia sama Aa," ucap Mia.
"Jujur, aku sempat takut kalau Nyonya Nathalie akan membujuk kamu agar kembali ke keluarganya," ucap Dion.
"A, kita punya Narendra dan Naura. Mereka penguat kita. Mereka yang akan selalu mengingatkan kita untuk selalu bersama. Gak ada alasan Mia kembali ke masa lalu Mia. Kita udah punya kebahagiaan A. Jadi Aa gak perlu khawatir ya!" ucap Mia.
Sedikitnya Dion merasa lebih tenang meskipun masih ada rasa khawatir yang mengganggu hatinya. Tapi ucapan Mia ada benarnya. Ada dua malaikat kecil yang Tuhan titipkan pada mereka.
"Kamu tidur ya! Banyak-banyak istirahat. Kalau Narendra sama Naura tidur, kamu harus tidur. Jangan sampai kecapean ya!" ucap Dion mengusap kepala Mia.
Mia tersenyum. Ia benar-benar merasa sangat bahagia dengan segala perhatian dan perlakuan Dion. Ia ingat saat pertama kali ia menikah dengan Haji Hamid, ibunya selalu mengingatkannya.
Nanti kalau kamu sudah punya anak, harus pintar-pintar curi waktu. Kalau anak lagi tidur, itu kesempatan kamu buat beres-beres rumah.
Tapi itu tidak berlaku saat ia menikah dan memiliki anak dari Dion. Tangannya tidak perlu sibuk mengurus anak dan memasak. Bahkan untuk mengurus anak saja, Mia dibantu oleh dua perawat yang selalu siaga.
"A, makasih ya!" ucap Mia.
"Buat apa?" tanya Dion.
"Aa udah merubah Mia dari upik abu jadi princess," jawab Mia sembari memeluk Dion.
"Mana coba lihat incess mana?" tanya Dion menggoda Mia.
"Ih Aa," ucap Mia.
Dion yang ingin melihat wajah merah Mia tidak berhasil karena Mia semakin menyusupkan wajahnya pada dada Dion.
"Kamu udah gak kuat ya Mi?" tanya Dion.
"Gak kuat apa?" tanya Mia.
Karena terkejut, Mia spontan melepaskan pelukannya. Berhasil, Dion kembali menggoda Mia karena ingin melihat wajah malunya Mia yang selalu membuatnya jatuh cinta.
"Mana incessnya aku?" tanya Dion.
"Ih Aa," ucap Mia.
Dengan wajah merahnya, Mia memukul tangan Dion. Dion menarik tangan Mia dan kembali membawanya ke dalam pelukannya. Merasakan hangatnya tubuh Mia. Merasakan hatinya yang tenang saat bersama wanita yang sangat ia cintai itu.
"Mi terima kasih ya sudah bertaruh nyawa untuk lahirnya kedua anak kita," ucap Dion.
"Itu sudah fitrahnya seorang ibu, A. Memang sudah tugasnya Mia," ucap Mia.
"Iya. Aku merasa kalau aku jahat banget sama kamu Mi," ucap Dion.
"Kok jahat sih A?" tanya Mia.
"Iya gak enak aja Mi. Bikinnya sama-sama enak, pas lahiran yang sakit cuma kamu aja. Untung aja sekali lahiran langsung dua. Jadi kamu gak perlu melahirkan lagi ya!" ucap Dion.
"Kok bisa gitu? Nanti kalau Narendra dan Naura udah besar, Mia mau kok hamil lagi," ucap Mia.
"Hih, kamu tuh ya. Doyan banget sih bikin anak?" tanya Dion sembari mengacak rambut Mia.
"Eh bukan doyan A. Tapi kata ibu juga banyak anak banyak rejeki," ucap Mia.
"Banyak rejeki, banyak rejeki. Kamu gak tahu pas kamu lahiran aku sampai ikut ngeden-ngeden," ucap Dion.
"Disuruh siapa?" tanya Mia.
"Disuruh siapa? Pertanyaan macam apa itu?" tanya Dion kesal.
Di luar ekspektasinya, Dion berharap kalau Mia akan memujinya sebagai suami siaga dan perhatian. Tahunya, Mia malah dingin dengan pertanyaan recehnya.
Susah memang kalau punya istri norak kayak begini. Eh tapi sekarang Mia udah jauh lebih baik. Dulu kan dia hampir tiap hari bikin tekanan darah naik turun gak karuan. Baru sekarang lagi nih dia bikin nafas sesek begini.
######################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
__ADS_1
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..