Janda Bersegel

Janda Bersegel
Ribet


__ADS_3

"Ayo A!" ajak Mia.


"Ayo!" ajak Dion.


Mia dengan bibirnya yang tersenyum lebar menggandeng tangan Dion. Namun langkah mereka terhenti.


"Mau kemana kalian?" tanya Nyonya Helen.


"Mau makan di luar Ma. Udah lama kita gak pergi berdua. Narendra sama Naura juga udah dikasih ASI kok sama Mia," jawab Dion.


Mia bisa bernapas lega karena Dion sudah menjawab pertanyaannya. Jujur saja Mia tidak bisa bohong pada Nyonya Helen, apalagi tentang Nyonya Nathalie. Mia tahu Nyonya Helen akan sangat kecewa.


"Papa kok gak ngajak Mama makan di luar sih?" tanya Nyonya Helen sambil cemberut.


"Gantian kali Ma. Kalau semua pergi, rumah sepi." Dion berusaha tetap terlihat tenang.


"Ya udah bilangin sama Papa, besok giliran Papa yang ngajak Mama makan diluar. Pulang cepet. Besok gantian kamu yang lembur," ucap Nyonya Helen.


"Siap! Bisa diatur Ma," ucap Dion.


Dion segera pamit dan menarik tangan Mia. Berlama-lama di sana hanya akan membuat Nyonya Helen curiga karena Mia hanya diam dan gugup.


"Akhirnya A," ucap Mia lega sembari mengusap dadanya.


"Seneng?" tanya Dion.


Mia menatap Dion lalu mencium pipi Dion. Seperti biasa, sebagai ucapan terima kasih. Dion hanya tersenyum lebar saat Mia mengerti apa yang ia inginkan.


"Kita mau ketemu dimana A?" tanya Mia.


"Ke rumahnya. Memang kamu mau janjian dimana?" Dion kembali bertanya.


"Ke rumahnya?" tanya Mia tidak percaya.


"Mau janjian di mall? Ketemu jam berapa? Nyonya Nathalie kaau janjian jam segini, tengah malam baru kelar pakai lipstik. Keburu subuh," jawab Dion ngasal.


Mia tertawa saat mendengar ocehan Dion. Meskipun dalam hatinya ia tidak yakin kalau Dion mau ke rumah Nyonya Nathalie. Sampai ada akhirnya Mia membuka matanya lebar-lebar saat Dion memarkirkan mobilnya di depan rumah Nyonya Nathalie.


"Ayo turun!" ajak Dion.


Mia yang masih terlihat terkejut, hanya bisa mengikuti Dion. Bahkan setelah kakinya menginjak kembali rumah itu, ia masih tidak percaya jika Dion sudah mengambil keputusan ini.


Angin apa yang bikin A Dion jadi begini? Semoga ini bukan mimpi.


"Aduh," ucap Mia saat ia menabrak Dion.


"Kamu kenapa sih, Mi?" tanya Dion.


"Maaf A," jawab Mia.


"Udah kayak angkot tua aja. Rem blong," ucap Dion.


Mia hanya cemberut dan memukul bahu Dion.


"Mia, Dion," sapa Nyonya Nathalie.


Nampak terkejut saat kedatangan dua otang yang menurutnya mustahil akan menginjakkan kakinya ke rumah itu lagi.


"Nyonya," ucap Dion.


Mia semakin terkejut saat mendengar Dion yang justru membalas sapaan itu. Bahkan Dion mencium tangan Nyonya Nathalie. Pamandangan langka yang buat Mia memegang dadanya.


"Nyonya," ucap Mia sembari ikut mencium tangan Nyonya Nathalie.


"Silahkan duduk!" ucap Nyonya Nathalie.


Mia bisa membaca jika Nyonya Nathalie nampak begitu terkejut dan masih bingung dengan kehadiran Dion dan dirinya.


"Terima kasih," ucap Mia dan Dion bersamaan.

__ADS_1


"Ada apa ini?" tanya Nyonya Nathalie.


Setelah melihat Dion dan Mia duduk, Nyonya Nathalie sudah tidak bisa membendung lagi rasa ingin tahunya yang begitu besar.


"Ada hal yang ingin Mia sampaikan," jawab Dion.


Mia nampak menatap Dion penuh makna. Dion yang mengerti arti tatapan itu hanya menganguk dan tersenyum. Seolah ia menjelaskan bahwa 'katakanlah!Ini waktunya'.


Mia berusaha menjelaskan apa yang memang ingin ia sampaikan. Awalnya Mia takut mendapat respon dari Nyonya Nathalie. Namun akhirnya ia tenang setelah melihat Nyonya Nathalie justru berterima kasih pada Mia.


"Terima kasih udah ngingetin Mi. Mami sebenarnya gak mau begini berlarut-larut. Mami tahu ini semua kesalahan Mami. Tapi Mami juga gak bisa kalau Nyonya Helen udah mulai mancing Mami," ucap Nyonya Nathalie.


Berusaha kembali mengakrabkan diri dengan Mia, namun Nyonya Nathalie kecewa. Karena Mia tidak bisa kembali memanggilnya dengan sebutan Mami. Mia tetap memanggilnya Nyonya.


Mia sadar diri siapa dirinya dan bagaimana statusnya. Sebenarnya tidak sulit melakukan semua itu. Apalagi Mia tidak sekalipun menyimpan kebencian pada Nyonya Nathalie.


Ada hati yang harus ia jaga. Bukan hanya Dion, tapi Nyonya Helen. Mereka terlalu baik untuk Mia sakiti. Biarkan Sindi yang akan menggntikannya memanggil Nyonya Nathalie dengan sebutan Mami.


"Mia tahu ini bukan hal yang mudah Nyonya. Tapi Mia melakukan hal ini demi Sindi. Mia takut Sindi yang akan merasa tidak enak dengan hal ini jik tidak segera diselesaikan Nyonya," ucap Mia.


"Iya. Akan Mami pikirkan. Terima kasih ya Mi," ucap Nyonya Nathalie.


Setelah itu, Mia mengajak Dion untuk segera pergi dari rumah itu. Mia takut jika Danu pulang. Memang tidak apa-apa. Namun Mia harus menjaga perasaan Dion yang sudah sangat baik padanya.


"Kamu yakin udah selesai?" tanya Dion saat mereka baru masuk ke dalam mobil.


"Iya. Ayo A!" ajak Mia.


"Kamu kenapa sih buru-buru banget?" tanya Dion.


"Gak apa-apa A. Mia cuma takut Narendra sama Naura nangis," jawab Mia.


Dion masih menatap Mia. Sampai akhirnya Mia menatap Dion kembali karena mobil masih belum meninggalkan rumah Danu.


"Ayo A!" ajak Mia.


"Ayo!" ucap Dion.


Dion yang menyadari semua itu hanya pura-pura tidak tahu. Kini ia yakin betul kalau ini alasan Mia ingin segera pulang.


"Mau langsung pulang?" tanya Dion.


"Makan dulu boleh A," jawab Mia sembari tersenyum lebar.


Melihat tatapan dan senyuman Dion yang berbeda, Mia segera meralat jawabannya.


"A, kayaknya mending puang aja deh. Narendra sama Naura kasian," ucap Mia.


Dion menahan tawanya saat mendengar ucapan Mia. Bisa-bisanya Mia selalu menjadikan Narendra dan Naura sebagai alasan.


"Makan aja dulu. Kan bilang sama Mama juga mau makan. Jadi kita gak bohong kan?" tanya Dion.


Sebenarnya Mia sangat senang mendengar ucapan Dion. Namun Mia masih berusaha untuk menutupinya.


"Terus Narendra sama Naura gimana?" tanya Mia.


"Kan ada perawat. Ada Mama juga. Kali-kali lah kita makan berdua. Anggap aja kita lagi pacaran. Kita kan gak sempat pacaran," ucap Dion.


"Boro-boro pacaran A. Mia dinikahin aja karen korban taruhan. Menyedihkan ya!" sindir Mia.


"Eh, tapi sekarang buktinya kamu bahagiakan nikah sama aku?" tanya Dion.


"Bahagia. Cuma kalau ingat masa kita nikah jaman dulu bikin Mia sedih. Sampai akhirnya Mia sadar kalau segala sesuatu yang terjadi itu adalah yang terbaik," ucap Mia.


"Kalau kamu gak nikah sama aku, belum tentu kamu bahagia begini. Buktinya badan kamu makin subur kan? Itu tandanya aku yang terbaik buat kamu," ucap Dion.


"Aa bikin mood makan Mia berantakan deh," ucap Mia kesal.


"Loh kok begitu?" tanya Dion dengan polosnya

__ADS_1


"Tahu ah. Bikin kesel aja deh," ucap Mia sembari cemberut.


"Kok ngambek sih?" tanya Dion.


"Siapa yang ngambek?" tanya Mia dengan nada kesal dan wajah masih cemberut.


"Ya udah jangan ngambek. Ayo mau makan dimana?" tanya Dion.


"Gak jadi. Pulang aja," jawab Mia ketus.


"Mi," protes Dion.


"Apa sih?" tanya Mia.


"Ya udah ayo pulang!" ajak Dion.


"Hah? Pulang?" tanya Mia.


Dion langsung menatap wajah Mia dengan kerutan di dahinya.


"Katanya mau pulang kan?" tanya Dion.


"Aa gak peka banget sih?" ucap Mia kesal.


"Kok gak peka?" tanya Dion. "Aku kan cuma berusaha buat ngikutin apa yang kamu mau," ucap Dion.


"Ih, Aa gak ngerti ya? Kalau Mia bilang pulang, itu artinya Aa harus paksa Mia buat makan. Gimana sih begitu aja gak ngerti," ucap Mia.


Ya ampun, sejak kapan kalau mau pulang itu artinya harus dipaksa makan. Mia, kamu bener-bener ya. Sabar Dion sabar!


"Yaudah ayo makan! Pokoknya aku mau makan enak. Kita makan di tempat biasa ya!" ucap Dion.


"Gak usah. Pulang aja," ucap Mia.


Dion tidak membalas ucapan Mia. Yang ada dikepalanya saat Mia bilang gak usah, itu artinya Mia mengiyakan.


"Ayo sayang turun!" ajak Dion.


"Aa, Mia bilang gak usah. Mia mau pulang aja," ucap Mia.


"Ayo sayang! Please, sekali ini aja ya temani aku makan di sini." Dion memohon.


"Aa gak denger apa yang Mia bilang? Mia mau pulang," ucap Mia.


Dion berkali-kali membujuk bahkan memaksa Mia untuk segera keluar dari dalam mobil. Namun Mia tetap saja menolak.


"Kamu beneran mau pulang?" tanya Dion.


"Iya A. Mia kan udah bilang berkali-kali. Mia mau pulang," ucap Mia.


"Kamu yakin?" tanya Dion lagi.


"Aa mau pulang sekarang atau Mia pulang naik taxi?" ancam Mia.


"Ya udah ayo pulang!" ucap Dion sembari kembali memacu kemudi.


Mia ini aneh. Katanya kalau mau pulang artinya harus dipaksa. Udah dipaksa malah tetep mau pulang. Ribet, bikin pusing. Gak ngerti aku.


Selama perjalanan tidak ada obrolan satu sama lain. Sesekali Dion melihat ke arah Mia. Namun Mia masih tetap cemberut. Dion tidak tahu kalau Mia sedang kecewa.


Aa kenapa sih gak peka? Harusnya tadi Aa langsung ajak Mia. Dipaksa gitu A. Dibujuk. Kalau udah diomongin, baru deh maksa-maksa. Kan Mia gengsi A.


#####################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..

__ADS_1


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


__ADS_2