Janda Bersegel

Janda Bersegel
Kerupuk


__ADS_3

Pagi ini Danu sudah siap dengan setelan kerjanya. Saat menuju ruang makan, ibu dan ayahnya sudah menunggu untuk sarapan bersama.


Seolah tidak terjadi apapun, mereka bertiga sarapan di meja yang sama. Setelah selesai, Danu dan Tuan Ferdinan pamit pada Nyonya Nathalie. Saat akan masuk ke dalam mobil, Nyonya Nathalie menarik tangan Dabu dan membisikkan sesuatu. Danu sampai menatap Nyonya Nathalie dengan bergidik. Tuan Ferdinan menatapnya dengan kepo.


Dalam perjalanan, Danu tak berani menatap ayahnya. Tuan Ferdinan pasti akan bertanya tentang apa yang dibisikkan ibunya. Hari ini mereka memang satu mobil bersama, karena mobil Tuan Ferdinan sedang dimodif. Walaupun usia Tuan Ferdinan sudah tua, namun gayanya selalu nampak anak muda. Tak jarang Danu kalah gaya dari Tuan Ferdinan. Namun satu hal yang tak pernah dilakukan Tuan Ferdinan adalah berselingkuh. Bagi Tuan Ferdinan, benda pusakanya adalah benda keramat yang harus benar-benar dijaga. Tidak boleh sama sekali benda pusakanya terjamah oleh orang lain selain Nyonya Nathalie. Padahal banyak sekali wanita seksi yang selalu menggoda Tuan Ferdinan yang uangnya sudah tidak bisa diragukan lagi.


Saat mobil sudah sampai ke kantor. Keduanya berjalan menuju ruangan masing-masing. Jangan tanya Mia, karena wanita itu sudah ada di ruangannya sebelum Danu dan Tuan Ferdinan tiba di kantor.


Dalam ruangannya, Danu menggeleng-gelengkan kepalanya. Ucapan ibunya selalu terngiang di kepalanya. Jurus jitu lagi, Danu seketika membayangkan Mia yang begitu polosnya. Dengan segera Danu mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian segera mengalihkan pikirannya dengan membuka laptop dan berkas.


Di ruangan yang lain juga, nampak Tuan Ferdinan sedang gusar. Rasa penasaran menguasai hatinya saat mengingat pagi-pagi istrinya sudah membisikkan sesuatu pada anak semata wayangnya.


Karena rasa penasarannya sangat besar, Tuan Ferdinan segera menemui Danu untuk menanyakan bisikan di pagi hari. Tanpa permisi, Tuan Ferdian masuk dan langsung bertanya. "Apakah mamimu membisikkan tentang jurus jitu lagi?" tanya Tuan Ferdinan.


Tuan Besar itu langsung menutup mulutnya saat melihat Mia ada di ruangannya. Dengan segera Tuan Ferdinan keluar lagi dari ruangannya. Danu kesal bukan kepalang. Tuan Ferdinan secara langsung membuat dirinya harus menjelaskan hal yang tabu bagi dirinya pada Mia yang polos. Mia terus bertanya tentang jurus jitu itu.


"Ayo beri tahu saya Tuan. Jurus jitunya seperti apa? Saya ingin bisa jurus jitu biar kerja saya semakin bagus dan cepat, Tuan." Mia terus merengek minta diajarkan jurus jitu pada Danu.


Danu sampai mengacak rambutnya dengan kasar dan membuka jasnya. Dasi yang sudah tidak rapi dan kancing kemejanya sedikit terbuka. Tubuh Danu merasa sangat berkeringat, karena Mia meminta ACnya dimatikan dengan alasan mual kalau lama-lama menggunakan AC.


Danu berusaha menjelaskan tentang hal yang tidak terlalu ia mengerti itu pada Mia. Mia yang terus-terusan mendesak Danu untuk segera mengajari jurus jitu, membuatnya emosi. Seketika napasnya memburu. Ingin rasanya memaki Mia karena kepalanya sudah hampir pecah saat Mia terus-terusan mendesak tentang jurus jitu.


Danu duduk di samping Mia dan memegang kedua bahunya.


"Mia, dengarkan aku! Urusan jurus jitu itu ak----" ucapan Danu seketika berhenti saat pintu terbuka dan Nyonya Nathalie masuk tanpa mengetuk pintu.


Braaak,


"Danu, apa yang kau lakukan? Kau keterlaluan. Memalukan sekali. Ayo Mia, ikut denganku!" ucap Nyonya Nathalie dengan menarik Mia agar keluar dari ruangan Danu, dan mengajaknya ke ruangan Mia.


"Apa yang sudah Danu lakukan padamu?" tanya Nyonya Nathalie.


"Tadi Tuan Muda akan mengajariku jurus jitu Nyonya," jawab Mia dengan entengnya.


"Sudah bisa?" tanya Nyonya Nathalie dengan sangat terkejut.


Mia menggeleng.


"Memangnya sulit ya jurus yang diajarkan Danu?" tanya Nyonya Nathalie penasaran.


"Tidak tahu. Tadi belum sempat praktek Nyonya," jawab Mia dengan polos.


"Untung saja, aku datang di waktu yang tepat," ucap Nyonya Nathalie.


Dengan cepat Nyonya Nathalie keluar dari ruangan Mia dan menemui Danu di ruangannya.

__ADS_1


"Danu, kau benar-benar keterlaluan. Jangan ajarkan Mia jurus jitunya sekarang!" ucap Nyonya Nathalie dengan geram.


Danu semakin frustasi. "Semua gara-gara Papi," hatinya geram.


"Mi, aku tidak tahu apa-apa soal jurus jitu itu." Danu mengacak rambutnya dan membuka dasinya. Perasaannya sudah sangat kacau.


"Jangan bohong kamu! Mami harus menemui papi. Bahaya kalau dibiarkan lama-lama," ucap Nyonya Nathalie sambil pergi meninggalkan Danu yang kusut.


"Terserah Mami, terseraaaah," ucap Danu kesal.


"Papiiiii," teriak Nyonya Nathalie sambil membuka pintu ruangan suaminya.


Nampak Tuan Ferdianan sedang fokus bekerja dengan laptop dan berkasnya. Tuan Ferdianan mengerutkan dahinya.


"Ada apa Mami ke sini? Kenapa marah-marah? Apa salah papi?" tanya Tuan Ferdinan terkejut dengan kedatangan dan sikap istrinya.


Ini pertama kalinya Nyonya Nathalie datang ke kantor tanpa memberi tahu Tuan Ferdinan, apa lagi sambil marah-marah seperti itu.


"Bagaimana Mami tidak marah, Danu mengajarkan jurus jitu pada Mia. Ini bahaya. Memalukan. Mami tidak mau tahu, pokoknya Danu dan Mia harus segera menikah. Besok," ucap Nyonya Nathalie dengan napas yang tersenggal-senggal.


Jurus jitu? Jadi masalah jurus jitu itu masih berlarut-larut sampai istrinya harus datang ke kantor dan memarahinya habis-habisan.


"Mami, enak saja menikahkan Danu dan Mia besok. Tidak bisa!" ucap Tuan Ferdinan.


"Loh? Kenapa?" tanya Nyonya Nathalie.


"Apa salahnya? Mia baik dan bisa menghormati kita sebagai orang tua. Lagi pula dia cerdas dan cantik. Justru lebih bagus kalau Mia janda. Lagi pula Danu memang bujangan tapi belum tentu dia masih perjaka. Pekerjaannya clubing hampir tiap malam," ucap Nyonya Nathalie.


"Mamiiiii," ucap Tuan Ferdinan geram.


"Apa?" tanya Nyonya Nathalie dengan nada mengancam.


"Menikah itu tidak bisa main besok-besok saja. Semuanya harus ada persiapan. Lagi pula kita tidak tahu asal usul Mia yang sebenarnya," ucap Tuan Ferdinan.


"Makanya Papi harus mengenal Mia lebih dalam lagi. Nanti jangan sampai terlambat pulang. Mami akan mengundang Mia untuk makan malam di rumah. Kita harus tahu asal usul Mia karena dia calon menantu kita," ucap Nyonya Nathalie sambil keluar dari ruangan suaminya.


Nyonya Nathalie kembali masuk ke dalam ruangan Danu dan Mia, untuk menyampaikan hal yang sama. Setelah itu, Nyonya Nathalie pulang dan meminta juru dapurnya untuk menyiapkan makan malam spesial dengan Mia.


Juru dapur itu mengangguk dan bersiap untuk acara nanti malam. Beberapa menu sudah dipesan oleh Nyonya Nathalie. Menu-menu istimewa ala restaurant mewah.


Berbeda dengan Nyonya Nathalie yang sangat bahagia menyambut kedatangan Mia, Danu justru sedang kesal. Rencana apa lagi yang akan dilakukan ibunya.


Danu mengajak Mia untuk pulang bersama. Namun Mia menolak. Alasannya adalah karena khawatir motornya hilang kalau disimpan di kantor. Danu meminta anak buahnya untuk mengantarkan motor Mia ke kostannya, sedangkan Mia ikut bersama Tuan Ferdinan dan Danu ke rumahnya.


Selama perjalanan Mia mual. "Apa kamu sakit?" tany Danu.

__ADS_1


Mia menggeleng. "Saya tidak bisa pakai AC. Kepala saya pusing dan mual, Tuan." Mia sudah nampak sangat pucat.


Tuan Ferdinan mengalah, ia mematikan ACnya karena khawatir dengan kondisi Mia sekarang. "Kau norak sekali. Tak pernah naik mobil ya?" ejek Tuan Ferdinan.


Mia tak menjawab. Hanya terdengar decihan Danu yang kesal atas ejekan ayahnya. Selama perjalanan, Tuan Ferdinan dan Danu membuka kaca mobilnya selebar-lebarnya. Udara Jakarta dalam mobil tanpa AC cukup membuat mereka nampak seperti kepiting rebus saat sampai ke rumah.


"Kalian kenapa?" tanya Nyonya Nathalie saat melihat suami dan anaknya terlihat kepanasan.


"Gara-gara anak kampung itu," ucap Tuan Ferdinan menunjuk ke arah Mia dan segera masuk ke kamarnya untuk segera membersihkan tubuhnya. Hal yang sama juga dilakukan oleb Danu.


Mia diam karena merasa sangat bersalah pada Tuan Ferdinan dan Danu. Namun Nyonya Nathalie segera merangkul dan menenangkan Mia. Mia didandani oleh Nyonya Nathalie. Anak kampung itu nampak bak bidadari dengan tangan Nyonya Nathalie. Baju dan rambut Mia, diubah mmenjadi sangat modis.


Cantik, begitu pikiran Danu saat melihat Mia dengan tampilan barunya. Mungkin jika tidak malu, ingin rasanya Danu mengucapkan terima kasih banyak pada ibunya. Dengan pura-pura acuh, Danu lebih fokus dengan ponselnya.


"Danu, sudah berapa kali Mami bilang. Jangan mainkan ponsel saat kita sedang makan!" ucap Nyonya Nathalie.


Danu segera menyimpan ponselnya dalam saku celana dan segera menikmati makan malam yang sangat spesial itu.


"Kenapa tidak makan?" tanya Danu saat melihat Mia hanya mengaduk-ngaduk makanannya.


"Tidak ada kerupuk ya?" tanya Mia.


"Kerupuk?" tanya Tuan Ferdinan.


"Maaf, Tuan. Tapi Mia merasa hambar kalau makan tidak ada kerupuk," ucap Mia.


"Sebentar ya! Akan Mami siapkan," ucap Nyonya Nathalie.


Dengan cepat, si juru dapur itu membawa kerupuk ke meja makan. Mia nampak sumringah dan segera melahap makan malamnya. Tuan Ferdinan menelan ludah saat Mia nampak sangat menikmati kerupuk itu. Sebenarnya kerupuk bukan makanan asing bagi Tuan Ferdinan. Hanya saja ia sudah lupa berapa tahun yang lalu ia terakhir menikmati kerupuk. Seketika Tuan Ferdinan dan Danu mencoba kerupuk itu, yang sebelumnya Nyonya Nathalie sudah mencobanya duluan.


Enak. Danu dan Tuan Ferdinan menjadi semakin lahap dengan kerupuk.


"Tadi kelihatannya mengejek sekali saat mendengar Mia mau kerupuk, kenapa sekarang jadi paling banyak makan kerupuknya aku?" ucap Nyonya Nathalie yang menyindir Tuan Ferdinan.


Tuan Ferdinan yang menyadari sindiran itu menghentikan makan kerupuknya. "Tidak enak," ucapnya.


"Tidak enak saja habis 2 bungkus. Apa lagi kalau enak ya?" sindir Nyonya Nathalie lagi.


Tuan Ferdinan nampak cemberut kesal, tapi Danu dan Mia nampak menahan tawanya setelah melihat kelakuan Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan.


###############


Tap like dan vote seikhlasnya.


Mau ngasih koin? Boleh banget ka..😂😂

__ADS_1


Selamat membaca..


__ADS_2