
Dion dan Mia saling menatap lalu menyimpan sisa roti yang masih ada di tangannya di atas piring di hadapannya.
"A, mau kemana?" tanya Mia.
"Aku mau lihat kenapa Mama ribut-ribut," jawab Dion.
Dion melepaskan tangan Mia yang menahannya. Ia segera menemui Nyonya Helen yang tengah berteriak.
"Ma, udah Ma. Tenang dong," ucap Tuan Wira menenangkan.
"Tenang, tenang. Papa gak lihat dia. Pagi-pagi udah bawa meteran begini. Kalau mau dia yang datang ke sini jangan nyuruh orang seenaknya," ucap Nyonya Helen kesal.
"Ma, Pah. Ada apa ini?" tanya Dion yang bingung melihat ayah dan ibunya.
"Tuh tanya sama orang itu!" jawab Nyonya Helen.
Menahan kesal, Nyonya Helen duduk untuk menenangkan dirinya.
"Mah, minum dulu." Mia memberikan segelas air untuk Nyonya Helen.
Segalas air itu diteguk dengan cepat hingga tidak tersisa. Mia kembali membawa gelas kosong itu dan menyimpannya di atas meja.
"Kamu siapa?" tanya Dion.
"Merry Mas ganteng," jawab pria gemulai yang membawa meteran di tangannya itu.
Tangannya yang gemulai diulurkan tangannya pada Dion. Berharap jika Dion dapat membalas uluran tangannya. Namun tidak sesuai harapan. Nyatanya Dion malah menepis tangan Merry dengan kasar.
Wajah tidak suka dari Dion nampak jelas. Merry segera menjelaskan maksud kedatangannya ke rumhah itu.
"Jadi kamu ke sini buat ngukur?" tanya Dion terkejut.
"Iyey Mas ganteng," jawab Merry.
"Sindiiiii," teriak Nyonya Helen.
"Iya Nyonya," jawab Sindi.
Sindi yang tidak berniat untuk ikut campur terkejut saat suara melengking Nyonya Helen memanggil namanya. Ia segera menghabiskan potongan roti yang ada di tangannya.
"Astaga Sindi," ucap Nyonya Helen.
Wajah kesal Nyonya Helen begitu nyata saat melihat Sindi menemuinya dengan mulut yang penuh.
"Maaf Nyonya," ucap Sindi.
Suaranya tidak terdengar terlalu jelas. Selain karena mulutnya yang penuh, Sindi juga menutup mulutnya.
"Minum dulu," ucap Mia.
Sindi mengangguk dan segera kembali ke ruang makan untuk minum. Setelah mulutnya kosong, Sindi mengusap dadanya. Ia berusaha menenangkan dirinya yang mulai diliputi rasa takut.
Dengan wajah pucat, Sindi kembali menemui Nyonya Helen yang masih terlihat marah.
"Tuh kamu lihat dia," ucap Nyonya Helen menunjuk Merry.
Sindi yang tidak mengenal Merry hanya bisa mengerutkan dahinya. Ia yang tidak mengerti apa-apa hanya diam mematung.
"Haii cantik. Aku merry," ucap Merry sembari mengulurkan tangannya.
"Sindi," jawab Sindi.
Wajah Sindi masih nampak kebingungan. Ia menatap Merry penuh tanya.
"Kamu cantik. Calon Nyonya Danu. Tanganmu lembut dan aaww, lucu sekaliii." Merry menjerit-jerit gemas saat berkenalan dengan Sindi.
Sindi yang takut segera menarik tangannya yang masih dipegang oleh Merry. Ia mundur dan mendekat pada Mia. Tangannya memegang Mia dengan gemetar.
"Sindi, kenapa calon mertuamu itu sangat menyebalkan?" tanya Nyonya Helen dengan kesal.
"Aku, aku gak tahu Nyonya." Sindi masih nampak gugup dan bingung.
"Haduh, memangnya pacar kamu yang menyebalkan itu gak ngabarin kamu ya?" tanya Nyonya Helen.
"Pacar?" tanya Sindi.
Sindi menggeleng. Ia memang mengerti siapa orang yang dimaksud oleh Nyonya Helen. Tapi Danu bukan pacarnya. Mereka berdua tidak terikat hubungan yang disebut dengan kata pacaran.
"Bisa-bisanya dia gak bilang sama kamu mau ngirim ondel-ondel macam begini ke rumah ini," gerutu Nyonya Helen.
__ADS_1
"Hey, Nyonya. Aku Merry. Si cantik imut manis dan menarik hati setiap mata yang melihat," ucap Merry dengan nada kemayu.
Tentu saja hal itu membuat Dion menelan ludah. Ia ngeri dan meringis mendengar dan melihat tingkah Merry.
"Boro-boro menarik. Aku mual lihat kamu di sini. Ayo cepat pulang!" usir Nyonya Helen.
"Oh No. Aku tidak akan pulang sebelum mendapat ukuran baju Anda Nyonya," ucap Merry.
"Katakan pada Danu, aku gak mau diukur. Aku gak butuh," ucap Nyonya Helen.
"Sebentar saja Nyonya," bujuk Merry.
"Sindi, telepon pacarmu itu. Katakan padanya suruh orang ini keluar dari rumahku," teriak Nyonya Helen.
Sindi segera meraih ponselnya dan mencari nama Danu dalam kontaknya. Belum juga Sindi menghubungi Danu, ponsel Sindi direbut oleh Merry.
"Percuma say," ucap Merry.
"Kembalikan ponselnya. Biarkan Sindi menghubungi Danu," ucap Nyonya Helen.
"Bukan Mas Danu. Aku ke sini atas permintaan Nyonya Nathalie. Ayolah Nyonya, sebentar saja. Semakin Anda menolak, aku akan semakin lama di sini. Atau Anda memang senang dengan kehadiranku di sini," ucap Merry.
"Ayolah Ma, sebentar saja." Tuan Wira yang sudah pusing jadi ikut berusaha membujuk Nyonya Helen.
"Gak mau," jawab Nyonya Helen.
"Ma, nanti dia makin lama di sini. Aku udah mual nih," timpal Dion.
Sepertinya, pilihan Nyonya Nathalie yang mengirim Merry untuk melakukan tugasnya memang keputusan terbaik. Buktinya, meskipun dengan rasa terpaksa tapi Nyonya Helen berhasil diukur oleh Merry.
Merry tersenyum senang saat sudah mendapat ukuran baju untuk Nyonya Helen dan Tuan Wira.
"Sudah selesaikan?" tanya Nyonya Helen.
"Sudah," jawab Merry dengan santai.
"Terus kenapa masih di sini?" tanya Nyonya Helen.
"Anda tidak mau menawariku untuk sarapan bersama? Aku belum sarapan loh," jawab Merry.
"Oh mari ke sini," ucap Mia.
"Ya ampun Nyonya, Anda galak sekali. Padahal aku gak sarapan demi mengukur baju untuk Anda Nyonya," ucap Merry.
"Gak ada yang nyuruh kamu ngukur-ngukur ke sini," ucap Nyonya Helen.
"Ih, enak aja bilanh gak ada yang nyuruh. Aku ke sini jelas-jelas diminta sama Nyonya Nathalie," ucap Merry.
"Ya udah sana minta sarapan sama dia," ucap Nyonya Helen.
"Ma, udah dong. Kan cuma sarapan," ucap Tuan Wira.
"Gak usah. Terima kasih Tuan, aku udah kenyang sama omelan istri Anda. Permisi," ucap Merry.
Mia hanya bisa menahan tawanya karena meskipun Merry tengah marah, tapi cara dia berbicara terlihat begitu gemulai.
"Ya udah bagus. Pergi sana. Jangan pernah balik lagi," ucap Nyonya Helen.
"Ih, mana mau aku ke rumah ini lagi. Yang punya rumah udah kayak Helder. Kok mau sih Nyonya Nathalie besanan sama orang kayak gini," ucap Merry.
"Eh, kamu bilang apa? Kamu pikir aku gak dengar hah?" teriak Nyonya Helen.
Tuan Wira menahan Nyonya Helen yang berdiri dan terlihat begitu emosi.
"Ma, udah dong. Gak usah diladenin. Malah cape sendiri," ucap Tuan Wira.
"Iya. Cuma bikin darah tinggi kumat tuh Ma," ucap Dion.
"Bilang sama satpam, kalau ketemu sama orang yang bentukannya begitu jangan disuruh masuk. Apapun alasannya," ucap Nyonya Helen.
"Iya Ma. Ya sudah ayo sarapan dulu. Mama kan belum sarapan," ucap Dion.
Nyonya Helen sebenarnya sudah kehilangan selera makannya. Namun ia harus tetap sarapan, karena marah-marah pada Merry sudah berhasil menguras energinya.
Nyonya Helen kembali ke ruang makan, diikuti oleh semuanya. Termasuk Sindi. Ia tidak berani mengucapkan sepatah katapun. Ia bungkam hingga akhirnya Mia mengajaknya bicara.
"Ayo makan lagi Sin," ucap Mia.
"Sudah Mi," jawab Sindi.
__ADS_1
"Eh Sindi, bilang sama pacarmu. Lain kali kalau dia mau nyuruh orang itu bilang dulu. Jangan seenaknya," ucap Nyonya Helen.
"Ma, udah dong. Ayo sarapan ah," ajak Tuan Wira.
Setelah itu keadaan menjadi hening. Mereka sibuk dengan sarapannya masing-masing. Hanya Sindi yang diam dan menunduk. Sesekali Mia memegang tangan Sindi untuk menenangkannya.
Selesai sarapan, Nyonya Helen kembali ke kamarnya. Sindi juga pamit untuk ke kamarnya. Mia ingin mengikuti Sindi. Bicara dengannya agar Sindi menjadi lebih tenang. Namun Dion menahannya.
"Sayang, kita lihat Narendra dan Naura dulu yuk! Ini kan hari libur, jadi waktunya kita sama mereka. Ayo!" ajak Dion.
Mia berusaha menyembunyikan perasaan kecewanya. Ia sedih karena tidak bisa menemani dan menenangkan Sindi.
"Maaf ya Mi. Aku cuma mau Sindi sendiri dulu. Mungkin dia mau menghubungi si itu," ucap Dion saat Sindi sudah tidak ada di ruang makan.
Si itu? Bahkan untuk menyebut namanya saja Dion sangat malas. Namun Mia tersenyum mendengar ucapan suaminya. Ia tidak menyangka jika diam-diam ternyata Dion peka juga.
"Iya A," jawab Mia.
Benar dugaam Dion. Saat sampai di kamarnya, Sindi segera menghubungi Danu. Sempat kesal karena panggilannya diabaikan oleh Danu. Pada panggilan ketiga, baru Sindi bisa lega karena Danu menjawab panggilannya.
"Kamu dari mana aja?" tanya Sindi.
"Kangen ya?" goda Danu.
"Aku serius," ucap Sindi.
"Serius kangennya?" goda Danu.
Tuuuut.. Tuuut.. Tuuut
Danu menatap layar ponselnya saat panggilan itu tiba-tiba berakhir. Danu panik karena ia yakin Sindi sedang marah padanya. Ia segera menghubungi Sindi kembali.
"Halo," ucap Sindi.
"Kamu jangan marah begitu dong," ucap Danu.
"Siapa yang marah?" tanya Sindi.
"Itu kamu. Ngobrol belum beres kok udah mai matiin aja. Aku kan cuma becanda," jawab Danu.
"Dih, siapa yang marah? Aku gak matiin panggilannya," ucap Sindi.
"Hah? terus siapa yang matiin? Aku juga gak matiin panggilannya kok," ucap Danu.
"Mati sendiri," jawab Sindi.
"Kok bisa begitu?" tanya Danu.
"Bisalah. Pulsanya abis," jawab Sindi.
Danu yang panik hanya bisa menepuk dahinya saat mendengar jawaban Sindi.
Dia beli pulsa sepuluh ribuan kali ya? Baru aja mangap udah abis aja. Ampuuun.
"Terus kamu ngapain nelepon aku pagi-pagi begini?" tanya Danu.
"Pagi? Ini udah siang Danu," ucap Sindi.
"Ya sudah, kamu ngapain siang-siang begini nelepon aku?" tanya Danu.
"Kamu kenal Merry?" tanya Sindi.
Danu mengernyitkan dahinya saat mendengar Sindi menyebut nama Merry.
"Kamu kenal dia dimana?" tanya Danu.
Sindi menjelaskan apa yang terjadi pagi ini di rumahnya. Danu yang masih mengantuk mendadak membuka matanya lebar-lebar.
"Mamiiiiiii," teriak Danu saat panggilan dengan Sindi sudah berakhir.
#####################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
__ADS_1
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.