Janda Bersegel

Janda Bersegel
Kita pindah


__ADS_3

Sepanjanh hari, Mia hanya bisa memikirkan keadaan Haji Hamid. Ingin sekali ia menghubungi Dev untuk menanyakan perkembangan Haji Hamid. Namun ia harus meminta izin pada Dion. Bagaimanapun Haji Hamid adalah mantan suaminya, Mia tidak mau Dion salah paham padanya.


"Kira-kira kalau Mia izin buat cari tahu keadaan Pak Haji, A Dion marah gak ya?" gumam Mia.


Suara ketukan pintu membuat Mia berhenti sejenak memikirkan keadaan Haji Hamid.


"Sebentar!" ucap Mia saat salah satu perawat memanggil namanya.


Mia keluar dan segera ke ruangan bayi kembarnya. Ia menyusui Narendra. Sementara Naura sedang anteng main dengan perawatnya. Mia tersenyum melihat perkembangan anak kembarnya.


"Nyonya, maaf tapi stok ASI akhir-akhir ini berkurang dari biasanya." Salah satu perawat itu mengingatkan Mia.


Mia melirik ke arah perawat tadi. Ia mengingat beberapa hari terakhir. Benar, ia bahkan beberapa kali di susul ke kamar karena stok ASI sedang kosong. Biasanya Mia bisa menyusui sekaligus memompa ASI untuk bayi yang lainnya.


"Nanti Mia konsultasi ke dokter ya!" jawab Mia.


Setelah selesai menyusui Narendra, Mia mencoba memompa ASInya. Ada, tapi hanya sedikit. Bahkan tidak setengah dari biasanya.


"Jangan dipaksakan Nyonya," ucap perawat itu.


Mia menyerah dan keluar setelah kedua bayina kembali tertidur. Wajah sedihnya terlihat oleh Sindi yang kebetulan sedang mencari Mia.


"Mi, kamu kenapa?" tanya Sindi.


Sindi segera meraih tangan Mia, memastikan keadaan sahabatnya. Ia mengajak duduk saat melihat Mia begitu sedih.


"Ini, minum dulu!" Sindi memberikan segelas air pada Mia.


Mia meneguk air itu hingga habis.


"Terima kasih ya Sin," ucap Mia.


"Sama-sama. Kamu kalau ada apa-apa cerita sama aku ya!" ucap Sindi.


"Mia lagi mikirin kenapa ASI Mia berkurang ya?" tanya Mia.


Sindi menyebutkan beberapa kemungkinan yang bisa menyebabkan produksi ASInya berkurang. Selain itu, Sindi juga memberi saran-saran yang ia tahu seputar ASI.


"Kamu kok tahu banyak soal ASI sih?" tanya Mia.


"Cuma denger sama sempet baca-baca aja sih Mi. Kan aku bilang cuma katanya," ucap Sindi.


"Tapi apa yang kamu bilang, Mia juga pernah dengar dari dokter dan perawat." Mia menegaskan.


"Berarti teruji ya Mi," ucap Sindi sembari tersenyum.


"Iya Sin," ucap Mia sembari tersenyum.


Sindi merasa senang saat melihat wajah Mia tidak bersedih seperti tadi.


"Oh ya Sin, kamu mau kemana?" tanya Mia.


Sindi hampir lupa kalau ia akan meminta izin untuk keluar rumah.


"Mau izin keluar dulu. Aku ingin bertemu dengan Danu. Ada yang mau kami bicarakan. Boleh?" tanya Sindi.


Bertemu? Kepala Mia berpikir apakah mungkin Danu akan menjelaskan semua itu? Benarkah Kalin sudah bicara dengan Danu, hingga Danu ingin bicara dengan Sindi?


"Mi, gak boleh ya?" tanya Sindi saat melihat Mia hanya diam tanpa menjawab pertanyaannya.


"Eh, boleh kok." Mia tersenyum.


Mia berusaha menyembunyikan apa yang menjadi pertanyaan dalam hatinya. Tapi rasanya tidak mungkin kalau Mia harus bertanya apa yang akan mereka bahas. Rasanya terlalu ikut campur.


Mia mengantarkan Sindi sampai pintu. Melihatnya pergi diantar sopir. Karena itu adalah syarat yang diberikan Mia jika Sindi ingin keluar rumah.


Belum lama Sindi pergi, Dion pulang. Ia mendapati Mia tengah melamun di ruang makan. Segelas susu ia pegang di hadapannya. Namun tatapannya kosong, hingga Mia tidak menyadari kehadiran Dion.


"Sayang," sapa Dion.


"Aa," sapa Mia.


Mia.mengulurkan tangannya dan segera mencium tangan Dion. Ia juga meminta maaf karena tidak menyambutnya saat pulang.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya Dion.


"Mia gak kenapa-kenapa," jawab Mia.


Untuk menghindari kecurigaan Dion, Mia segera bersikap biasa. Mengajaknya ke kamar dan menyiapkan pakaian ganti. Namun sepertinya beban Mia saat ini cukup banyak hingga Dion melihat begitu nyata semua beban itu.


"Malam ini aku sedang santai. Apa kamu mau keluar?" tanya Dion.


"Aa bisa nganter Mia ke dokter?" tanya Mia.


"Hah? Ke dokter? Kamu sakit apa?" tanya Dion panik.


Dion menunjuk kaki, tangan, kepala dan semua bagian tubuh Mia untuk memeriksa bagian mana yang sakit.


"A, bukan itu. Mia gak sakit kok," jawab Mia.


"Terus ngapain ke dokter?" tanya Dion.


"ASI Mia berkurang A," jawab Mia.


"Itu karena kamu banyak pikiran mungkin Mi. Kamu mikirin apa sih?" tanya Dion.


Mikirin apa? Mia jadi merasa bersalah karena ia sudah memikirkan banyak hal dalam hidupnya sampai anak kembarnya yang harus menjadi korban.


Melihat Mia terbebani, Dion berusaha menyenangkan Mia lagi. Ia tahu jika Mia semakin tertekan, justru akan membuat produksi ASInya semakin menurun.


"Mungkin sudah seharusnya kita berikan susu formula," ucap Dion.


"Hah?" ucap Mia.


Mereka terkejut mendengar ucapan Dion. Sedih rasanya karena ia gagal memberikan ASI eksklusif untuk anak kembarnya.


"Gak apa-apa Mi. Wajar dong. Kamu kan anaknya kembar. Jangan samakan rejekimu sama rejeki orang lain," ucap Dion.


Ya, ASI itu adalah rejeki untuk seorang bayi. Mungkin rejeki mereka hanya sebanyak itu. Tapi Tuhan memberi rejeki pada Mia dan Dion. Mereka tidak akan susah untuk sekedar membeli susu formula. Berbeda dengan temannya di kampung yang berhasil memberikan ASI eksklusif, karena memang rejeki anaknya di sana. Kalau mereka harus memberi susu formula, mereka tentu akan terbebani.


"Tuhan itu adil ya A," ucap Mia.


"Iya dong. Makanya kamu jangan banyak pikiran. Tugas kita itu kan berdoa dan berusaha. Kalau ternyata apa yang kita inginkan tidak bisa terkabul, berarti ada jalan lain yang bisa mewujudkan mimpi kita.


"Buat apa?" tanya Dion.


"Buat semua perhatian dan pengertian Aa sama Mia," ucap Mia.


"Cuma terima kasih aja nih?" goda Dion.


Mia yang tengah memeluk Dion segera melepaskan pelukannya.


"Ih Aa apaan sih?" ucap Mia salah tingkah.


"Dih, apaan?" tanya Dion.


"Aa," ucap Mia semakin malu.


"Gimana kalau sebagai ucapan terima kasih, kita keluar malam ini?" ajak Dion.


"Ke dokter A?" tanya Mia.


"Ngapain ke dokter?" tanya Dion.


"Kan diperiksa A. Mia juga mau berusaha biar ASI Mia banyak lagi A," ucap Mia.


"Kalau masalah itu, kamu bisa konsultasi sama dokter pribadi. Bisa dipanggil ke rumah, gak perlu kamu datang ke rumah sakit. Yang penting sekarang kamu bahagia. Jangan banyak beban ya!" ucap Dion.


Mia tersenyum. Ia sangat bahagia karena merasa beruntung mendapatkan suami paling sempurna bagi dirinya. Suami yang selalu bisa menutupi kelemahan dan kekurangan dirinya.


"Jam berapa?" tanya Mia.


"Sebentar lagi ya! Siapkan baju terbaikmu. Tapi jangan yang seksi," ucap Dion.


"Kenapa? Karena Mia gendut ya?" tanya Mia.


"Bukan. Aku cuma gak mau aja kamu centil di depan orang lain. Cukup seksi dan cent di depan aku aja. Jangan sampai ada yang godain kamu," ucap Dion.

__ADS_1


"Yang godain Mia cuma Aa aja kok," ucap Mia.


"Kalau sampai ada yang berani ganggu kamu, aku sikat dia." Dion mengepalkan tangannya.


Mia hanya tertawa melihat tingkah suaminya. Mana mungkin ada yang menggodanya, badannya saja belum kembali langsing seperti dulu. Tapi ada yang tidak Mia sadari. Ia tetap cantik meski tubuhnya masih di atas berat badan idealnya.


"Ini mau pada kemana sih?" tanya Nyonya Helen saat Mia pamit mau keluar.


"Jalan-jalan Ma," jawab Dion santai.


Berbeda dengan Dion, Mia tidak setenang itu. Karena ia tahu Sindi juga sudah izin lebih dulu.


"Tapi pulangnya jangan malam-malam ya!" ucap Nyonya Helen.


"Ya ampun Ma, kayak sama anak yang lagi pacaran aja." Dion protes.


"Ya karena kalian bukan lagi pacaran, kalian harus inget ada bayi kembar di rumah ini." Nyonya Helen mengingatkan Dion.


Mia tersenyum melihat ibu dan anak yang sedang berdebat itu.


"Stok ASI aman kok Ma. Mia juga gak lama. Cuma cari udara segar aja," ucap Mia.


"Ya sudah hati-hati ya!" ucap Nyonya Helen.


"Giliran Mia aja, gampang banget izinnya." Dion menggerutu karena cemburu pada Mia.


"A, ayo!" ajak Mia.


Mia tahu kalau dibiarkan mereka akan berdebat semakin panjang dan semakin lama.


Mia dan Dion menikmati suasana malam hanya berdua. Hal yang sudah lama tidak mereka lakukan.


"Kamu suka?" tanya Dion saat melihat Mia tersenyum.


"Iya A," jawab Mia.


"Kamu mau kemana?" tanya Dion.


"Kemana aja A," jawab Dion.


Dion mengajak Mia ke salah satu tempat yang begitu indah. Cafe yang didesain dengan gaya modern. Menu makanannya lengkap dan menurut Dion, Mia akan suka.


Benar! Mia memeluk Dion saat sampai ke tempat itu. Meskipun tempatnya bergaya modern, namun makanan tradisional juga tersedia di sana.


"Kita di sana yu!" tunjuk Dion.


Mia hanya mengangguk dan mengikuti langkah Dion saat tangannya digenggam oleh Dion.


"Sindi," ucap Mia.


"Mana?" tanya Dion.


Mia menunjuk salah satu tempat yang memperlihatkan Sindi dan Danu.


"Ngapain mereka di sini?" tanya Dion kesal.


"Mau pindah A?" tanya Mia.


Mia menyadari kehadiran Danu dan Sindi memang akan membuat Dion tidak nyaman.


"Iya kita pindah aja!" ajak Dion.


Meskipun Mia suka dengan tempat itu, tapi kenyamanan Dion harus diperhitungkan juga. Akhirnya Mia kembali mengikuti langkah Dion untuk keluar dari tempat itu.


#####################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍

__ADS_1


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


__ADS_2