Janda Bersegel

Janda Bersegel
Belum ada jadwal libur


__ADS_3

"Mia, kamu istirahat saja. Jangan bahas Reza dulu," ucap Dion.


Mia tidak menjawab. Ia hanya mengangguk dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Benar kata Dion dan Nyonya Helen. Ia memang butuh istirahat. Jujur saja, perasaannya memang sedang tidak baik. Mungkin kalau tidur, akan membuat hatinya lebih baik.


Dion duduk di sofa. Melihat Mia yang tidur semakin nyenyak. Dion menatap wajah Mia yang terlihat sangat damai. Wanita yang berhasil mencuri hatinya itu kini tengah kecewa karena seseorang. Jika saja yang ia hadapi adalah seorang pria, Dion pastikan kalau orang itu akan tamat di tangannya. Sayangnya orang itu adalah Nyonya Nathalie.


Tangan Dion mengepal, merasa geram saat mengingat sikap dan ucapannya pada Mia. Sangat di luar batas wajar. Jika saja Mia tidak menahannya, Dion tidak tahu apa yang akan ia lakukan pada wanita itu. Paling tidak, Dion akan membuat perhitungan dengan Nyonya Nathalie.


"Benar-benar wanita jahat," gumam Dion.


Namun tiba-tiba Dion tersenyum saat mengingat kembali semua kejadian tadi secara utuh. Masih teringat jelas dalam ingatannya, kalau Mia mengatakan bahwa ia benar-benar mencintainya. Dion sebenarnya sudah menyaksikan semua kejadian antara Mia dengan Nyonya Nathalie tadi.


Saat akan ke kamar mandi, tak lama Dion kembali lagi karena kamar mandinya penuh. Lagi pula Dion tidak benar-benar ingin ke kamar mandi. Ia hanya mengalihkan pembicaraan dengan Mia. Namun saat ia kembali, Dion menyaksikan Mia tengah bicara dengan seorang wanita paruh baya. Dion mendekatinya dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Sambil ia mencari tahu siapa wanita yang bersama istrinya itu.


Mia, terima kasih sudah menjadi wanita yang mencintaiku. Aku sangat bersyukur karena kamu benar-benar membalas semua perasaanku. Aku mencintaimu Mia, dan kamu mencintaiku. Kita saling mencintai. Ah Tuhaaaaan, bahagia sekali hati ini. Aku berjanji tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu. Aku akan membelamu, Mia. Aku janji. Jangan takut, kamu tidak sendiri.


Takut? Tidak. Sebenarnya Mia hanya terkejut dengan hal yang tidak ia duga sebelumnya. Karena saat bicara dengan Nyonya Nathalie, Mia terlihat lebih berani. Bahkan Mia berhasil membungkam mulut Nyonya Nathalie dengan jawaban yang sangat berani.


"Mas," panggil Mia.


Mia terbangun saat ia ingin ke kamar mandi. Namun ia melihat suaminya menatap kosong dengan bibir tersenyum lebar.


"Mas," panggil Mia lagi saat Dion tidak menjawab panggilan pertamanya.


"Eh iya," jawab Dion.


"Mas kenapa? Mas sehat kan?" tanya Mia.


"Kamu pikir aku gila?" tanya Dion.


"Mia hanya khawatir mas kenapa-kenapa," jawab Mia.


"Kamu khawatir sama aku? Sebegitu pedulinya kamu sama aku? Ah, Mia. Kau jujur sekali," ucap Dion menggoda Mia.


"Memangnya salah ya kalau Mia peduli sama mas?" tanya Mia.


Hah? Mia kamu ini jujur atau memang polos sih? Tapi aku suka. Ya, kamu peduli padaku karena kamu mencintaiku Mia. Terima kasih Mia.


Dion berdiri dan menghampiri Mia. Tubuhnya mendekat dan semakin dekat.


"Mas, mau apa?" tanya Mia panik.


"Kamu mau kan?" tanya Dion.


"Mau apa?" tanya Mia tidak mengerti.


"Itu, kamu pegang. Kode kan buat aku? Sudahlah Mia, jangan malu-malu," ucap Dion menunjuk wilayab pusat milik Mia.


"Ih, Mia mau pipis. Awas mas, gak kuat ini." Mia berlari ke kamar mandi, mendorong Dion yang ada di hadapannya.


Hah? Dion, apa yang kau lakukan? Mia tidak menginginkanmu. Dia bukan memberimu kode. Tapi dia mau pipis. Ah Mia kamu membuatku malu saja. Awas ya! Aku balas kamu Mia.


Setelah selesai dari kamar mandi, Mia tidak mendapati Dion di ruangannya. Mia keluar dari kamarnya untuk mencari suaminya.


"Mau kemana kamu Mia?" tanya Nyonya Helen.


"Eh, mama. Aku mencari mas Dion. Mama lihat mas Dion?" tanya Mia.


"Mia, ini masih sore. Kamu sudah cari Dion. Aduh, Dion bikin kamu nagih ya? Ah, anak mama memang juara. Gak bikin malu kan anak kesayangan mama?" tanya Nyonya Helen dengan begitu polosnya.


Mia menatap Nyonya Helen sambil menggelengkan kepalanya.


Kenapa ini? Memalukan sekali. Bukan itu maksud Mia ma. Lagi pula siapa yang bikin nagih sih? Yang ada juga anak mama tuh yang ketagihan sama Mia. Enak aja ngatain Mia ketagihan.


"Jujur saja Mia. Sini, ikut mama!" ajak Nyonya Helen menarik tangan Mia.


"Mau kemana ma?" tanya Mia.


"Kita cari Dion," jawab Nyonya Helen.


Mia menarik tangannya dan menahan Nyonya Helen.


"Tidak perlu ma. Biar Mia cari sendiri. Mama istirahat saja ya!" ucap Mia panik.


"Ah, kamu jangan malu-malu. Mama juga tahu kok apa yang kamu inginkan. Kan mama juga pengalaman jadi pengantin baru. Ayo jangan malu sama mama," ucap Nyonya Helen kembali menarik tangan Mia.


Hah? Mamaaaaa. Kelakuan mama bisa bikin Dion besar kepala. Bukan ini yang Mia inginkan Ma. Aduh gimana ini?


"Dioooon," teriak Nyonya Helen. "Dion kamu ada di dalam?" lanjut Nyonya Helen saat membuka pintu ruang kerja Dion.


Benar. Dion ada di sana. Dion tengah duduk menghadap layar laptop dengan sangat fokus. Biasanya Nyonya Helen tidak pernah mengganggu anak dan suaminya saat berada di depan layar laptop. Tapi kali ini, situasinya berbeda. Nyonya Helen harus segera mendapat cucu dari mereka berdua.


"Ma, ada apa?" tanya Dion panik saat melihat ibunya berteriak dan menarik tangan Mia.

__ADS_1


Apa yang sudah Mia lakukan sama mama? Jangan-jangan dia membuat darah tinggi mama kumat? Miaaa, kamu kenapa sih buat masalah sama mama?


"Sini kamu!" ucap Nyonya Helen menarik tangan Dion.


"Ma, ada apa ini?" tanya Dion yang semakin panik.


Tangan Nyonya Helen menarik tangan Mia dan Dion keluar dari ruang kerja Dion dan menuju kamar Dion.


"Masuk kalian!" ucap Nyonya Helen.


"Hah? Ada apa ini ma?" tanya Dion yang masih belum mengerti dengan sikap Nyonya Helen.


"Dion, kamu ini kenapa malah sibuk kerja? Ini masih masa-masa pengantin baru. Kamu tidak kasihan melihat Mia kelabakan mencarimu? Jangan membiarkan istrimu seperti ini. Kamu harus mengerti keinginan wanita. Ayo bikin cucu buat mama. Mia, semangat ya!" ucap Nyonya Helen yang mendorong keduanya agar masuk ke kamar, lalu menutup pintu kamar mereka.


Mia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Namun lidahnya kelu. Mia sudah tidak kebagian jatah bicara. Nyonya Helen yang menguasai waktu, membuat Mia hanya terlihat panik.


Mama, apa yang mama katakan? Mia gak begitu. Ah, ibu mertuaku semakin hari semakin gila ini. Tolooooong.


Dion menyeringai penuh kemenangan. Ia mengunci pintu dan mendorong tubuh Mia perlahan hingga sampai ke tepi ranjang.


"Mas," ucap Mia.


Tak selesai ucapannya, karena Dion segera membungkam mulut Mia dengan bibirnya. Mia membuka matanya lebar-lebar, ketika mendapat serangan dadakan dari Dion.


Mia yang kaku, lama-lama ikut hanyut dalam pertempuran kecil itu. Hingga tangan Dion mulai bergerak tak beraturan. Mia menangkap tangan itu dan melepaskan dirinya.


"Mas, mama salah paham. Bukan begitu maksudnya," ucap Mia.


"Kamu yang minta sama mama. Dan mama minta sama aku. Aku tidak bisa menolak permintaan mama. Aku tidak mau jadi anak durhaka Mia. Ayolah mengerti keadaanku. Lagipula kalau kamu mau, kenapa bilang sama mama? Kenapa gak ke aku langsung?" ucap Dion.


"Mas Mia hanya," bibir Mia terkunci saat tangan Dion bermain di pertahanan awal Mia.


Gundukan tameng kembar yang berhasil dilewati Dion, membuat Mia tak menyelesaikan ucapannya. Nampaknya Dion sudah tahu titik lemah Mia. Dion terus bergerak lincah, memberikan serangan demi serangan pada Mia. Mia hanya bisa menggigit bibir bawahnya saat merasakan serangan itu semakin ganas.


Mia, aku tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Nikmatilah semua ini. Aku akan berikan yang terbaik untukmu.


Dion mulai membuka penghalang ruang geraknya. Kain demi kain beterbangan tak tentu arah. Tanpa penolakan, Mia hanya berusaha mengendalikan mulutnya agar tidak mengeluarkan suara khas dalam pertempuran.


Dion memang gila. Mia tak bisa menghentikan gerakan Dion. Titik demi titik yang menjadi pertahanan Mia kini sudah dalam kuasa Dion. Gerakannya tak berhenti. Seolah tak memberikan kesematan Mia untuk melakukan perlawanan. Kali ini, Dion benar-benar menjadi penguasa pertempuran. Dion membuat Mia tak berdaya.


Mia nampak kewalahan mengahadapi serangan Dion kali ini. Ini adalah kali keduanya Mia bertempur dengan Dion. Berbeda dengan malam kemarin yang lebih pelan dan hati-hati, kali ini Dion sudah tahu slur pertempuran hingga ia terus menyerang tanpa henti.


Mia kalah, mulut yang ia jaga itu tidak bisa diajak kerja sama. Mia hilang kendali, hingga akhirnya suara khas pertempuran itu menggema. Dion tersenyum lebar saat mendengarnya. Bagi Dion, suara itu adalah lambaian bendera putih yang berarti Mia benar-benar kalah. Serangan Dion semakin gencar saat Mia sudah semakin gila.


Semakin lama, suara Mia membuat Dion semakin gila. Serangannya tak bisa ia kendalikan lagi. Dion bergerak semakin cepat dan terus menerus. Tangan Mia yang melingkar semakin erat dan gerakan tubuhnya yang semakin aktif membuat Dion mengakhiri pertempuran itu dengan penuh kemenangan.


Perlahan Dion mundur dari arena pertempuran. Pertumpahan cairan putih di wilayah pusat Mia, membuat tubuh Dion ambruk. Dion menjatuhkan tubuhnya di samping Mia.


Nafas keduanya yang tersenggal-senggal menandakan kalau pertempuran kali ini snagat hebat. Keduanya berusaha mengatur nafas mereka agar kembali normal.


"Mia, terima kasih." ucap Dion menggenggam tangan Mia lalu menciumnya.


Mia tidak menjawab. Karena dia sendiri bingung harus menjawab apa. Haruskah Mia menjawab sama-sama? Atau justru Mia yang harus berterima kasih pada Dion? Ah tidak. Mia cari aman. Mia hanya tersenyum.


"Mama pasti senang kalau tahu kita nurut sama mama," ucap Dion.


Hah? Eh dasar ya! Masih bisa-bisanya kamu pakai nama mama kamu buat semua ini? Jelas-jelas kamu yang enak kok mama yang dituduh senang? Bisa aja emang kamu mas, mas.


Mia segera meraih selimut untuk menutupi tubuhnya lalu berjalan mencari pakaiannya yang berserakan.


"Mia," panggil Dion.


"Iya mas," jawab Mia.


"Sudah tidak sakit?" tanya Dion.


Sakit? Ah ya! Mia baru menyadari kalau kali ini pertempurannya tidak sakit. Bahkan Mia sangat menikmati setiap serangan yang diberikan oleh Dion.


"Tidak mas," jawab Mia sambil menggeleng.


"Kalau tidak sakit, apa yang kamu rasakan?" tanya Dion.


"Enak. Tapi sekarang cape mas. Mia lemas sekali ini," jawab Mia dengan polosnya.


Enak? Sudah kuduga. Seranganku akan membuatmu ketagihan kan Mia?


"Aku akan sering-sering ngasih kamu yang enak-enak ya," ucap Dion sambil menggoda Mia dengan matanya.


"Ish mas ini. Jangan sering-sering. Mia cape, bisa kurus Mia. Mas gak lihat ini keringat Mia sampe bercucuran begini? Ini berapa kalori yang dibakar coba?" ucap Mia.


"Gak apa-apa. Justru bagus. Kamu jadi sehat. Tenang, kalau masalah pembakaran kalori, nanti kamu makan yang banyak ya! Aku bisa jamin kalau menu yang disiapkan di rumah ini mengandung banyak protein dan vitamin. Kamu jangan khawatir ya!" ucap Dion menepuk bahu Mia.


"Eh mas mau kemana?" tanya Mia.

__ADS_1


"Mandi. Mau ikut?" tanya Dion.


"Mia duluan," ucap Mia.


"Aku dulu. Laptopku belum dimatikan. Kalau mau, ayo kita mandi bareng!" ucap Dion.


Mia menggeleng dengan cepat dan segera memalingkan wajahnya saat melihat Dion berdiri tanpa sehelai benangpun. Matanya melihat benda pusaka Dion yang menggantung. Benda yang sudah kembali ke ukuran semula. Membuat Mia merasa geli sendiri.


"Yakin gak mau bareng?" tanya Dion.


"Yakin. Mas mandi duluan saja. Mia bisa nanti," jawab Mia.


Dion memang sudah melihat semuanya. Tanpa kecuali, semua bahkan sudah terkena serangan Dion. Namun Mia tidak bisa membayangkan jika mereka harus mandi bareng. Mia hanya takut kalau Dion kembali menyerangnya saat mandi.


"Ya sudah. Tunggu ya! Aku mandinya gak lama kok. Kalau kamu kangen, masuk saja. Jangan malu-malu," ucap Dion yang diikuti gelak tawa.


Mia hanya bergidik mendengar ucapan Dion yang terdengar sangat menakutkan. Pertempuran ini baru berakhir tapi Dion sudah membahas pertempuran lagi.


Setelah Dion selesai, Mia segera masuk ke kamar mandi karena tidak ingin Dion kembali membahas pertempuran. Mia berusaha untuk menghindari dulu bahasan itu. Namun setelah selesai mandi, Dion ternyata belum kembali ke ruang kerjanya. Dion masih duduk di sofa kamarnya sambil memainkan ponselnya.


"Mas, katanya mau matiin laptop?" tanya Mia.


"Sudah. Memangnya kenapa?" tanya Dion.


"Oh, kirain belum. Gak apa-apa kok mas, cuma nanya." Mia berjalan menuju meja rias.


Mia duduk dan menyisir rambutnya yang masih agak basah. Mia mulai panik saat melihat Dion mendekat dari cermin yang ada di hadapannya.


"Mas, mau apa?" tanya Mia panik.


"Cuma mau ngingetin, nanti malam makan yang banyak ya! Biar nanti malam kamu punya banyak kalori untuk dibakar lagi," ucap Dion sambil mencium kepala Mia.


"Bakar kalori lagi? Kan tadi sudah mas," jawab Mia.


"Nanti malam kan tugas rutin kita Mia. Jadi tidak boleh terlewatkan. Kalau tadi kan permintaan mama. Anggap saja tadi itu tugas tambahan. Jadi ya beda dong," ucap Dion.


Apa? Bagaimana ceritanya bisa begitu? Aturan dari mana ituuuu?


"Mas, memangnya gak cape?" tanya Mia.


"Ya makanya nanti makan yang banyak. Biar ada persiapan energi lagi. Kalau sekarang ya cape. Kalau nanti kan energinya bisa pulih lagi. Jadi bisa lah siap tempur lagi," ucap Dion sambil memeluk Mia dari belakang.


"Mas, tapi ada waktu liburnya kan? Gak mungkin dong bakar kalori tiap malam?" tanya Mia.


"Loh kok gak mungkin? Dari mana gak mungkinnya? Sementara ini belum ada jadwal libur. Kalau bisa kita lembur, karena harus kejar target. Ingat mama mau cucu loh. Kamu harus semangat ya!" ucap Dion.


"Hah? Mas, masa gak ada liburnya sih?" rengek Mia.


"Kamu mau libur? Kalau mau libur, kamu bisa ganti malam berikutnya dua kali lipat. Gimana deal?" ucap Dion mengulurkan tangannya.


"Gak mau ah. Mending dicicil saja dari pada harus dirapel begitu. Bisa gempor Mia," ucap Mia.


"Hahahah, Mia. Kau ini ada-ada saja," ucap Dion dengan sangat bahagia.


Ternyata kepolosan Mia tidak selamanya membuat kepala Dion sakit. Sesekali kadang justru membuatnya sangat bahagia.


"Mia, terima kasih ya sudah menjadi pelengkap hidupku. Terima kasih sudah memberiku warna yang indah dalam hari-hari yang aku lewatkan. Kamu benar-benar berarti untukku," ucap Dion.


"Mas," ucap Mia yang berkaca-kaca karena tersanjung dengan ucapan Dion.


"Dion, Mia, sudah selesai?" ucap Nyonya Helen sambil mengetuk pintu.


"Mama?" ucap keduanya pelan secara bersamaan.


"Kamu yang buka mas," ucap Mia.


"Gak mau. Kamu saja," ucap Dion.


"Mas saja ah," ucap Mia.


"Mia, Dion, masih belum selesai? Ini sudah dua jam loh," ucap Nyonya Helen.


Wajah keduanya memerah dan semakin enggan untuk membuka pintu. Rasanya keduanya tak ada nyali untuk berhadapan dengan Nyonya Helen. Karena sudah bisa dipastikan kalau Nyonya Helen akan membahas pertempuran yang baru saja usai itu.


#################


Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.


Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


Terima kasih..

__ADS_1


__ADS_2