
Sebelum tidur, sebuah pesan dikirim oleh Danu pada Sindi. Ucapan selamat tidur yang tidak lupa dibubuhi emoticon penuh cinta. Hal sederhana yang tentu membuat Sindi terbang melayang. Meskipun Sindi belum tahu dengan pasti akan kemana hubungannya dengan Danu, tapi apapun yang berhubungan dengan Danu berhasil membuatnya bahagia.
"Apaan sih Danu," gumam Sindi.
Ponsel itu masih betah berada di hadapannya. Matanya masih menatap jelas layar ponselnya. Membaca pesan dari Danu berulang-ulang. Bibirnya tersenyum lebar dengan rasa yang tidak bisa ia gambarkan.
"Sin," panggil Nyonya Helen.
Sindi tersentak. Ia melihat jam pada layar ponselnya. Ini bahkan sudah larut malam. Ada apa? Begitu batin Sindi. Dugaannya membuat Sindi semakin takut dan enggan membuka pintu.
Apa aku pura-pura tidur aja kali ya?
"Sin, sudah tidur ya?" ucap Nyonya Helen.
Nada bicara Nyonya Helen terdengar sangat kecewa. Sindi tiba-tiba tidak enak hati. Ia membuka pintu dan menemui Nyonya Helen.
"Nyonya," ucap Sindi.
Saat Sindi membuka pintu, Nyonya Helen nampak sudah menjauh dari pintu kamarnya. Namun segera membalikkan tubuhnya saat mendengar suara pintu yang terbuka.
"Belum tidur?" tanya Nyonya Helen.
Raut wajahnya sudah berubah. Sudah ada senyum yang menghiasi bibir Nyonya Helen.
"Belum Nyonya," jawab Sindi.
"Apa aku mengganggumu?" tanya Nyonya Helen.
"Tidak. Sama sekali tidak. Silahkan masuk Nyonya," ucap Sindi.
Nyonya Helen masuk setelah dipersilahkan oleh Sindi. Ia duduk di tepi ranjang. Tak lama Sindi duduk di sampingnya.
"Apa aku boleh bertanya suatu hal padamu?" tanya Nyonya Helen.
"Apapun Nyonya," jawab Sindi.
"Meskipun itu hal pribadi?" tanya Nyonya Helen meyakinkan.
Sindi diam beberapa saat. Ia sudah tahu kemana arah pembicaraan Nyonya Helen.
"Iya Nyonya," jawab Sindi.
"Apa kamu benar-benar mencintai Danu?" tanya Nyonya Helen.
Sindi menatap wajah Nyonya Helen. Ia menggigit bibir bawahnya. Rasa bersalah dan takut itu muncul lagi. Tidak menjawab, namun Sindi malah menangis.
"Maafkan aku Nyonya," ucap Sindi.
Sindi turun dan duduk di bawah. Ia memegang kaki Nyonya Helen dan terus menangis sembari meminta maaf berulang-ulang.
"Hey, Sindi. Kamu kenapa? Bangun. Jangan begitu," ucap Nyonya Helen panik.
Nyonya Helen berusaha untuk meminta Sindi bangun dan duduk kembali di sampingnya. Setelah hampir satu menit, barulah Sindi bangun dan duduk kembali di samping Nyonya Helen.
"Maafkan aku Nyonya," ucap Sindi entah untuk yang keberapa kali.
"Berhenti untuk meminta maaf. Aku ke sini bukan untuk menyalahkanmu. Aku hanya ingin bertanya tentang perasaanmu saja. Hanya itu Sindi," ucap Nyonya Helen.
__ADS_1
Sindi diam. Ia beberapa kali mengusap pipinya. Melihat Sindi belum tenang, Nyonya Helen segera memeluk Sindi. Berharap pelukannya bisa menenangkannya. Dan ternyata berhasil. Sindi mulai tenang.
"Sindi, aku sudah menganggapmu sebagai anakku sendiri. Apa aku salah kalau aku ingin tahu perasaan anakku?" tanya Nyonya Helen.
"Nyonya gak salah. Aku menangis karena merasa bersalah. Aku jatuh cinta pada orang yang salah. Tidak seharusnya aku mengecewakan Nyonya yang sudah sangat baik padaku," ucap Sindi.
"No. Jangan seperti itu. Danu single dan kamu juga sama. Tidak ada yang salah. Aku sempat kecewa karena kamu tidak jujur. Tapi Mia sudah menjelaskan semuanya," ucap Nyonya Helen.
Nyonya Helen merapikan rambut Sindi yang sedikit berantakan.
"Mia begitu baik. Aku memang sahabat yang tidak tahu diri," ucap Sindi penuh rasa bersalah.
"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri Sindi," ucap Nyonya Helen.
Nyonya Helen kembali memeluk Sindi dan mengusap punggungnya. Memberikan kehangatan dan ketulusan untuk Sindi.
"Aku hanya takut jika kamu dikecewakan. Tapi setelah melihat kesungguhan Danu, sepertinya aku tidak perlu ragu lagi. Aku yakin dia akan menjagamu," ucap Nyonya Helen.
"Jadi Nyonya?" ucap Sindi.
Pertanyaan Sindi sengaja tidak diselesaikan. Ia ingin Nyonya Helen menjelaskan secara langsung dengan kalimat. Tidak hanya dengan anggukan atau gelengan kepala saja.
"Ya, aku merestui kalian. Aku tahu kalau kalian saling mencintai sejak lama. Rian sudah menceritakan semuanya padaku," ucap Nyonya Helen.
"Rian?" tanya Sindi.
Rian, terima kasih. Aku tidak menyangka jika ternyata kamu sedewasa itu.
"Ya, Rian. Bahkan ia meyakinkanku kalau Danu dan si wewe gombel itu sangat menyayangimu dengan tulus," jawab Nyonya Helen.
"Wewe gombel?" tanya Sindi dengan dahinya yang berkerut.
Ada rasa tidak enak saat ia tidak sengaja menyebut panggilannya untuk Nyonya Nathalie di depan Sindi. Melihat Sindi masih kebingungan dengan jawabannya, Nyonya Helen segera menjelaskan asal usul sebutan wewe gombel untuk Nyonya Nathalie.
Sindi sempat menahan tawanya. Antara sedih dan lucu, saat membayangkan keduanya sedang bertengkar pada saat itu. Tapi tiba-tiba ia mengubah raut wajahnya.
Kalau Nyonya Helen dan Bu Nathalie musuh bebuyutan, lalu apa kabar dengan hubunganku dengan Danu? Jadi sebenarnya Nyonya Helen ini merestui aku atau gak sih?
"Tapi tenang aja. Aku tetap merestui kalian. Tapi kalau sampai dia menyakiti kamu, aku akan buat perhitungan dengannya. Lihat saja nanti," ucap Nyonya Helen.
Sindi hanya bisa tersenyum. Padahal hatinya sedang penuh tanya. Bagaimana jika nanti mereka benar-benar besanan. Mungkin akan selalu bertengkar? Atau mungkin bisa akur? Ah entahlah. Sindi tidak ingin berpikir sejauh itu.
"Oh ya, kamu tidur aja ya. Istirahat. Sampai ketemu besok. Selamat tidur," ucap Nyonya Helen.
Pelukan dan ciuman hangat dari Nyonya Helen di pipi kiri dan kanannya, membuat Sindi merasa benar-benar sangat bahagia. Ternyata Nyonya Helen tidak marah padanya, justru sudah mendukung hubungannya. Walaupun Sindi sendiri tidak tahu apa langkah Danu selanjutnya.
Sindi mulai merebahkan tubuhnya setelah Nyonya Helen keluar dari kamarnya. Perasaan senang dan tenang membuatnya tidur dengan nyenyak.
Pagi hari, dengan semangat pagi Sindi sudah mandi dan membantu Mba menyiapkan sarapan di dapur. Nyonya Helen dan yang lainnya terkejut saat Sindi sudah ada di dapur.
"Calon pengantin jangan cape-cape. Nanti sakit," goda Nyonya Helen.
Ucapan Nyonya Helen tidak hanya membuat Sindi terkejut, tapi Mia dan Dion juga ikut terkejut. Bahkan Tuan Wira yang baru datang juga tak kalah terkejut dengan ucapan istrinya.
"Apa Ma?" tanya Tuan Wira.
"Itu calon pengantin masih sibuk di dapur. Padahal kan harusnya perawatan," jawab Nyonya Helen.
__ADS_1
"Memangnya kapan Sindi nikahnya?" tanya Tuan Wira.
"Mana Mama tahu. Tanya sama Sindi tuh," jawab Nyonya Helen.
"Kapan Sin?" tanya Mia antusias.
"Gak tahu Mi. Nyonya Helen cuma becanda aja kok," jawab Sindi.
Ia memang benar-benar tidak tahu. Bahkan ia sendiri belum yakin jika Danu benar-benar akan menikahinya. Danu tidak pernah membicarakan tentang hal ini secara pasti. Ia sendiri juga tidak bertanya tentang hal itu karena belum yakin dengan perasaannya.
"Eh, kamu ini malah bilang aku becanda. Aku serius. Bukannya diaminkan," ucap Nyonya Helen.
Sindi hanya tersenyum dan salah tingkah dengan ucapan Nyonya Helen. Jauh di dalam hatinya yang paling dalam, Sindi mengaminkan ucapan Nyonya Helen. Namun di satu sisi, ia tidak ingin mengecewakan dirinya hanya karena berekspektasi terlalu tinggi.
"Apa dia belum mengatakan tanggal yang pasti?" tanya Dion.
"A," protes Mia saat mendengar nada pertanyaan Dion seperti yang mengintrogasi.
Mia tahu, selain takut Sindi juga akan tersinggung dengan ucapan Dion.
"Tidak Tuan," jawab Sindi.
Meskipun berusaha tersenyum, tapi Mia tahu betul jika sahabatnya itu tengah bersedih.
"Kalau sudah jodoh semuanya akan mudah. Ayo duduk sini!" ucap Mia berusaha menenangkan Sindi.
Sindi mengangguk dan duduk di samping Mia. Mia dengan sangat tulus menggenggam tangan Sindi. Mia menguatkan sahabatnya dan meyakinkannya jika Sindi tidak sendiri.
Sindi mulai tenang dan ikut berbaur kembali pagi itu. Hari ini sedang libur. Tidak ada jadwal jalan-jalan atau kegiatan di luar rumah. Kali ini mereka ingin quality time di rumah saja.
"Permisi Tuan, Nyonya, di luar ada tamu." Seorang pelayan masuk dan memberi tahu kedatangan tamu yang ingin bertemu dengan mereka.
Mereka saling pandang bergantian. Semuanya tidak ada janji dengan siapapun hari ini. Lalu tamu itu siapa?
"Siapa?" tanya Tuan Wira.
"Katanya mau bertemu dengan Tuan Wira dan Nyonya," jawab pelayan itu.
"Siapa Pah?" tanya Nyonya Helen.
"Gak tahu. Ayo lihat dulu!" ajak Nyonya Helen.
"Ayo Pah," ucap Nyonya Helen.
"Siapa sih bertamu kok kepagian. Orang belum sarapan juga," gerutu Dion.
"Mungkin penting A," ucap Mia.
Sindi tidak ikut kepo. Ia hanya melanjutkan sarapannya. Siapapun itu, tidak ada berpengaruh juga untuknya. Begitupun Dion, ia melanjutkan sarapannya meskipun masih menggerutu gara-gara tamu yang datang terlalu pagi di hari libur.
#####################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
__ADS_1
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.