
Dengan bibir yang masih terasa panas, Haji Hamid mengaktifkan ponselnya. Beberapa pesan dari Dev, membuat bibirnya yang dower itu tersenyum merekah.
"Maafkan aku Dev, aku tidak tahu kalau ponselku mati. Maafkan aku juga sudah mencurigaimu. Aku mencintaimu," ucap Haji Hamid mencium ponselnya setelah membaca semua pesan yang dikirim Dev.
Perhatian Dev belum berubah untuk Haji Hamid. Bahkan ketika ponsel Haji Hamid tidak aktif saja, Dev tetap mengirim beberapa pesan untuknya.
Tak lama ponselnya berdering. Haji Hamid dengan cepat membuka matanya dengan senyum mengembang di bibir dowernya. Namun tiba-tiba saja senyum itu hilang seketika saat nama Baskoro terpampang di layar ponselnya.
Dengan sangat malas, Haji Hamid mengangkat panggilan itu, kemudian hanya menjawab iya dan iya. Ah, membosankan. Yang dibahas selalu saja masalah uang.
Sementara di luar kamar, Mia nampak bersalah mengingat kemarahan Haji Hamid saat memakan keripik setannya. Tak lama Haji Hamid menghampiri Mia lagi.
"Pak Haji, sudah tidak marah? Tapi Mia kan tidak salah, jadi Pak Haji tidak mungkin marah sama Mia. Ya kan?" ucap Mia.
Melihat mata yang membulat dan bibir Haji Hamid yang masih dower, Mia segera meralat ucapannya.
"Eh, salah Mia. Mia yang jajan keripik setan. Kalau Mia gak jajan keripik setan, Pak Haji pasti gak bakalan dower begitu," ucap Mia.
Haji Hamid mengangkat jempol tangannya. Yes! Akhirnya Haji Hamid sudah tidak marah lagi. Tapi melihat raut wajahnya yang tidak enak dipandang membuat Mia enggan bertanya apapun. Takut kena semprot.
"Bapakmu sudah mengurus semuanya. Surat cerainya akan dikirim ke sini setelah semuanya selesai," ucap Hamid.
"Ah, terima kasih Pak Haji. Mia senang sekali," ucap Mia.
"Tapi ada masalah baru yang harus kau pikirkan Mia." Haji Hamid duduk di hadapan Mia.
"Apa lagi Pak Haji?" tanya Mia.
Mia yang berpikir kalau semuanya akan baik-baik saja setelah perceraian Bu Ningsih dan Pak Baskoro, dibuat bingung dengan ucapan Haji Hamid. Setelah bercerai, Bu Ningsih akan tinggal di rumah Haji Hamid karena rumah Mia yang dulu sepenuhnya akan jadi milik Pak Baskoro. Bagi Mia semuanya baik-baik saja dan tidak malasah. Namun kekahwatiran Haji Hamid dengan kamar mereka yang terpisah membuat Mia ikut pusing.
Kalau saja Bu Ningsih sampai tahu keduanya tidur terpisah, maka Bu Ningsih juga akan tahu apa yang terjadi dengan Haji Hamid. Siapkah Haji Hamid? Tentu tidak. Cukup hanya Mia yang tahu semua keadaan itu. Haji Hamid tidak yakin kalau Bu Ningsih akan siap menerima kenyataan itu.
__ADS_1
"Terus bagaimana dong Pak Haji?" tanya Mia.
"Kamu cari jalan keluarnya ah. Aku sudah membantumu sampai mereka Bercerai. Sekarang, giliran kamu yang cari ide," ucap Haji Hamid.
"Ah, Pak Haji. Jangan begitu dong. Memangnya Pak Haji mau rahasinya terbongkar?" ucap Mia.
"Mia, kau selalu merepotkanku saja." Haji Hamid mendengus kesal dan masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Mia yang masih cemberut.
Haji Hamid rasanya sudah buntu. Tak ada lagi ide yang terlintas di kepalanya. Akhirnya, Dev. Dev adalah jurus terakhirnya. Setelah semuanya mentok, maka Dev akan selalu memiliki ide cemerlang.
"Apa? Kau ada-ada saja Dev," ucap Haji Hamid setelah mendengar saran yang diberikan oleh Dev.
Tapi benar kata Dev. Rahasia mereka lebih utama dibanding keegoisan Haji Hamid yang tidak mau sekamar dengan Mia. Meskipun Dev dibakar api cemburu, tapi Dev percaya kalau Mia tidak akan macam-macam dengan Haji Hamid.
Lama Haji Hamid berpikir tentang ide dari Dev. Rasanya tidak mungkin kalau Mia harus tidur sekamar dengannya. Setelah mengingat dan menimbang, dengan sangat berat hati, Haji Hamid keluar dari kamarnya dan menemui Mia. Maksud hati ingin menyampaikan semua ide itu, ternyata Mia tak ada di tempat. Kemana dia?
Ada rasa kesal pada Mia. Ah, malas rasanya harus mencari wanita itu. Beberapa ruangan yang memungkinkan adanya Mia di sana, dikunjungi oleh Haji Hamid. Tidak ada! Kabur kemana dia? Haji Hamid mulai kesal.
"Mia, kau mau kabur kemana?" tanya Haji Hamid.
"Pak Haji, kenapa ada di sana? Mia pikir Pak Haji di dalam," ucap Mia.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku. Mau kabur kemana hah?" tanya Haji Hamid lagi.
"Masa mau kabur ijin dulu, Pak Haji." Mia tersenyum melihat Haji Hamid.
"Terus kau mau kemana?" tanya Haji Hamid.
"Mau beresin ini di kamar Pak Haji," ucap Mia menepuk ransel besar yang ada di gendongannya.
" Maksudmu?" tanya Haji Hamid.
__ADS_1
"Kata Dev, sebagian baju dan barang Mia di simpan di kamar Pak Haji. Biar nanti kalau ibu datang tiba-tiba ke sini, ibu tidak curiga." Mia masih berdiri walaupun bahunya terasa sakit karena memikul ransel besar itu.
"Dev?" tanya Haji hamid.
"Iya," jawab Mia singkat.
"Tapi kan bisa nanti saja, Mia. Kenapa harus sekarang?" tanya Haji Hamid.
"Dev yang bilang sekarang Pak Haji. Jadi gimana boleh apa tidak? Kalau tidak boleh juga gak masalah. Mia mau balik lagi ke kamar. Bahu Mia sakit ini," ucap Mia.
"Ah iya, masuklah!" Haji Hamid membuka pintu kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang menatap Mia yang sedang membereskan sebagian pakaiannya di lemari kecil.
Dev, ide apa ini? Aku bahkan akan berdiskusi dulu dengan anak ini. Tapi kau malah sudah memberi instruksi pada Mia untuk membawa barang-barangnya ke kamarku. Aku menyesal membantu Mia untuk membuat Pak Baskoro menceraikan Bu Ningsih. Kenapa aku yang jadi korbannya?
Wajah Haji Hamid terlihat penuh beban. Membayangkan bagaimana ia harus berbagi ranjang dengan Mia. Ah, Haji Hamid menggelengkan kepalanya. Dengan segera Haji Hamid keluar kamar dan menelepon seseorang.
Saat kembali ke dalam kamarnya, wajah Haji Hamid terlihat sumringah. Mia yang melihat semua itu jadi bertanya-tanya.
"Pak Haji, menang lotre ya? Seneng bener," ucap Mia.
"Diam! Lanjutkan saja!" ucap Haji Hamid yang memainkan ponselnya di atas ranjangnya.
Ukuran ranjangnya sangat luas. Lebih luas dari ranjang yang ada di kamar Mia. Sebenarnya ranjang itu, jika diisi 6 orang saja masih bisa. Namun karena Haji Hamid yang tidak bisa tidur dengan wanita dalam satu ranjang, merasa kalau ranjangnya itu terasa sangat sempit. Haji Hamid tidak mungkin bisa tidur jika ada Mia di sampingnya.
Untung saja, ide cemerlang itu muncul begitu cepat saat kepalanya sudah pusing memikirkan nasibnya. Kini, Haji Hamid tidak khawatir lagi jika Bu Ningsih akan tinggal di rumahnya untuk selamanya. Haji hamid sudah menemukan ide jitu untuk menyelesaikan semua masalah yang ada.
########################
Ide apa ya enaknya?
Jangan lupa titip jempolnya ya kak...
__ADS_1
Terima kasih...