
Danu segera masuk ke dalam mobilnya, ia segera mengikuti Sindi yang baru saja naik grab. Sayangnya, Danu tidak bisa melanjutkan penyelidikannya terhadap Sindi. Dering ponsel membuat Danu harus putar balik. Penelepon menghubunginya jika ia melupakan meeting hari ini.
"Sial! Kenapa aku bisa lupa!" gerutu Danu.
Tangannya memukul setir untuk melampiaskan kekesalannya. Rasanya tidak mudah untuk mendapatkan Sindi. Namun ia sadar kalau ini adalah perjuangan. Ia harus berjuang untuk mengejar cintanya. Wanita yang akan ia cintai setelah akhirnya melupakan Mia.
Sementara Sindi merasa gelisah. Pelukan Danu di parkiran tadi mampu membuat Sindi tidak bisa melupakan semua yang sudah terjadi. Antara senang dan kesal, membuat Sindi senyum-senyum sendiri.
"Mba, apa mba baik-baik saja?" tanya sopir grab.
Ternyata apa yang terjadi pada Sindi telah mencuri perhatian sopir grab.
"Baik pak, baik." Sindi gugup namun berusaha terlihat baik-baik saja.
Sesekali sopir itu masih mengamati sikap Sindi. Namun tak berani bertanya lagi karena Sindi menatapnya dengan tidak suka.
"Berhenti di depan," ucap Sindi.
"Siap Mba," jawab sopir.
Mobil terhenti tepat di depan rumah Dion. Sindi mengeluarkan uang untuk membayar grab itu.
"Kembaliannya buat Bapak saja," ucap Sindi.
"Mba, mba," panggil sopir grab itu.
Baru saja Sindi selangkah menjauh, sopir itu sudah memanggilnya lagi.
"Ada apa lagi Pak? Kan saya udah bilang, kembaliannya buat bapak saja." Ada nada kesal yang terlontar dari Sindi.
"Maaf Mba, tapi ponselnya ketinggalan." Sopir itu menyerahkan ponsel milik Sindi yang tergeletak di jok belakang.
"Oh, ya ampun. Aku pikir kembaliannya. Terima kasih ya," ucap Sindi sembari menerima ponselnya.
"Makanya mba hidup itu jangan terlalu percaya diri. Lagian kembalian lima ribu aja heboh banget. Tapi terima kasih ya!" ucap sopir grab.
Tanpa menunggu balasan dari Sindi, sopir otu kabur karena melihat Sindi yang sudah berkacak pinggang dan siap memakinya.
"Dasat sopir sableng. Mau aku kasih bintang tujuh sekalian biar gak oleng? Lima ribu juga uang. Kayak yang bisa aja bikin uang lima ribuan," teriak Sindi.
"Ada apa Non?" tanya security yang segera keluar saat mendengar teriakan Sindi.
Sindi masih ngos-ngosan. Ia merasa kesal dengan sopir yang bersikap seenaknya itu.
"Gak apa-apa Pak. Saya permisi dulu ya!" ucap Sindi.
Berusaha menenangkan dirinya, Sindi memilih untuk segera menghindar dari introgasi security.
"Udah pulang Sin?" tanya Mia.
"Eh, udah Mi. Kamu lagi ngapain di sini?" tanya Sindi.
Tidak seperti biasanya, Mia duduk di dekat kamar Sindi.
"Lagi pengen aja. Ini sekalian baca novel baru. Di sini enak adem," jawab Mia.
"Biasanya juga di kamar Mi. Lebih adem kan ada AC," ucap Sindi.
"AC terus gak enak ke badannya Sin. Oh ya mana belanjaannya?" tanya Mia.
Astagaa. Aku lupa gak beli apapun. Gimana ini?
Sindi gugup dan salah tingkah saat Mia menanyakan barang belanjaannya. Bagaimana mungkin Sindi pulang tanpa membawa apapun di tangannya? Sementara ia pamit untuk pergi belanja pada Mia.
"Mallnya gak tutup kan?" tanya Mia.
"Oh, ini Mi. Dompet aku ketinggalan," jawab Sindi.
__ADS_1
"Ketinggalan? Kok bisa?" tanya Mia.
"Iya Mi, tadi aku buru-buru soalnya." Sindi masih mencoba mencari alasan.
"Lagian kenapa sih bisa buru-buru begitu? Kayak yang mau ketemu sama pacar aja," ucap Mia.
Pacar? Kenapa hati Sindi degdegan. Seolah Mia sudah tahu apa yang terjadi siang ini antara dirinya dengan Danu.
"Ah, kamu ada-ada aja Mi." Sindi semakin salah tingkah.
"Tapi kamu bisa pulang. Sama siapa?" tanya Mia.
"Sama grab," jawab Sindi.
"Itu kamu punya uang," jawab Mia.
DEG.
Sindi kelabakan saat mendapati ucapan Mia seperti itu.
"Ini, ada nyelip disaku celana." Sindi menunjuk saku celananya.
"Wah, untung aja ya. Kalau kata orang tua, nemu uang di baju atau celana itu tandanya orang itu baik. Dia orang yang jujur dan selalu dermawan," ucap Mia.
Sindi terasenyum miris mendengar ucapan Mia. Entah memang benar ucapan orang tua jaman dulu, atau hanya sebuah kalimat sindirian atas apa yang sudah ia lakukan.
"Ah, mitos itu Mi. Oh ya gimana Narendra sama Naura hari ini?" tanya Sindi.
"Mereka hari ini baik, gak rewel." Mia tersenyum menatap Sindi.
Melihat tatapan Mia, Sindi menjadi tidak enak sendiri. Ia berusaha terua mengalihkan pandangannya.
"Ya syukurlah. Nanti beres mandi, aku mau lihat mereka. Aku ke kamar dulu ya!" ucap Sindi.
Setelah Mia menganggukkan kepalanya, Sindi merasa kalau ia sudah bebas dari ancaman Mia. Di balik pintu yang sudah tertutup rapat, Sindi memegang dadanya. Ia takut jika Mia tahu kebohongannya hari ini.
Bukan marah, ketakutan terbesar Sindi adalah kekecewaan Mia. Namun Sindi masih belum bisa jujur atas apa yang terjadi padanya. Bagi Sindi, Mia tidak perlu tahu semua kekonyolan antara dirinya dengan Danu.
"Sin," sapa Mia saat melihat Sindi masuk ke ruangan bayi kembarnya.
"Mi," ucap Sindi.
Saat itu, Narendra dan Naura juga sedang tidur. Sedangkan kedua perawat sedang tidak ada di kamar. Mia dan Sindi duduk berdua. Dari membahas hal receh sampai mengenang cerita mereka saat masih menjadi buruh pabrik dulu.
"Sin, kamu kapan nikah?" tanya Mia.
Pertanyaan yang mampu membuat ruangan itu tiba-tiba hening. Sindi yang bingung dengam jawabannya hanya bisa menatap Mia. Menyelidiki apa arti pertanyaan itu.
"Gak tahu Mi. Gimana jodohnya aja," jawab Sindi setelah cukup lama diam.
"Jodoh memang di tangan Tuhan, tapi kan kita sebagai manusia juga harus berusaha. Kamu udah ada usaha belum?" tanya Mia.
Lagi-lagi Sindi dibuat bungkam oleh pertanyaan Mia. Ia bingung harus menjawab apa. Haruskah ia jujur?
"Doa sih udah Mi," jawab Sindi.
" Ya gak cukup cuma doa. Gimana kita mau ketemu sama jodoh kalau kitanya gak usaha," ucap Mia.
"Iya deh Mi. Nanti-nanti aku usaha," ucap Sindi.
"Mau aku kenalin sama cowok gak?" tanya Mia.
Untuk ketiga kalinya Sindi dibuat tegang dengan pertanyaan Mia.
"Hehe, ada yang mau gak sama aku?" tanya Sindi.
"Ada dong. Kamu itu cantik dan baik Sin. Tapi Mia takut justru kamu yang gak mau sama dia," jawab Mia.
__ADS_1
"Memangnya cowoknya gimana, Mi?" tanya Sindi.
"Sebenarnya dia baik, mapan, tapi--" jawab Mia menggantung ucapannya.
"Tapi apa?" tanya Sindi antusias.
"Dia duda," jawab Mia ragu.
Mia.menggigit bibir bawahnya. Ia merasa tidak enak dan menatap Mia. Melihat respon Sindi. Takut sahabatnya itu tersinggung.
"Oh," jawab Sindi.
"Hanya oh?" tanya Mia.
"Terus aku harus gimana Mi?" tanya Sindi.
"Kamu gak responsif banget sih Sin?" jawab Mia.
"Hehe, ya terus aku harus gimana?" ucap Sindi.
"Kamu gak mau ya sama duda?" tanya Mia.
"Gak juga," jawab Sindi.
"Jadi kamu mau?" tanya Mia.
"Ya belum tentu juga Mi. Tergantung orangnya. Cocok apa gak sama aku," jawab Sindi.
"Orangnya baik, dia juga anak tunggal dari seorang pengusaha sukses. Bahkan dia juga sudah mapan mengikuti jejak ayahnya. Walaupun duda, dia juga belum punya anak. Cocok?" tanya Mia.
Hah? Apa ini? Apa Mia sudah tahu semuanya? Kenapa ciri-cirinya mirip dengan Danu? Atau mungkin ini semua hanya kebetulan? Atau cuma perasaanku aja?
"Kok diem Sin?" tanya Mia.
"Ya tergantung dia menerima aku apa adanya atau gak. Kan kamu tahu sendiri kalau aku gak punya apa-apa yang bisa dibanggakan," jawab Sindi.
"Kamu itu cantik dan baik Sin. Kalau nih seandainya dia menerima kamu apa adanya. Kamu gimana?" tanya Mia.
"Gak tahu ah Mi," jawab Sindi.
Rasanya Sindi sudah kehabisan kata untuk mengelak. Ia takut jika Mia benar-benar menjodohkan dirinya dengan kenalannya. Sementara sampai saat ini hatinya masih ia gantungkan pada Danu.
"Tapi menurut tanggapan kamu, gimana kalau kamu dapat jodohnya duda. Kamu siap gak? Atau mau bujangan aja?" tanya Mia.
Belum berhenti saat melihat Sindi pasrah, Mia masih terus mencerca Sindi dengan pertanyaan sebatas calon suami dan status duda.
"Mi, udah ah. Ngapain jadi bahas itu sih," ucap Sindi.
"Loh, ini kan lagi usaha. Kali aja cocok, ada jodohnya gitu. Jadi gimana menurutmu?" tanya Mia lagi.
Sindi harus mengehela napas panjang. Ia menyiapkan kalimat pilihan agar tidak sampai membuat Mia berpikiran aneh tentangnya.
"Mi, buat aku duda atau bujangan gak masalah. Kan lebih baik duda dari pada bujangan gak perjaka. Duda kan jelas statusnya," jawab Sindi.
Mia tersenyum dan mengangguk mendengar jawaban Sindi.
"Kenapa kamu, Mi?" tanya Sindi.
"Gak," jawab Mia sembari menggeleng.
######################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
__ADS_1
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR*.