Janda Bersegel

Janda Bersegel
Jadi kamu?


__ADS_3

Merasa Mia sudah mendengar semuanya, Sindi merasa kali ini sudah cukup. Ia akan melanjutkan penyelidikannya lain waktu. Ia pamit dengan suara agak keras pada Tuan Felix.


"Sindi, kamu bisa mengecilkan suaramu? Aku belum tuli," ucap Tuan Felix sembari mengusap telinganya.


Sindi sengaja memberi kode agar Mia pergi dari sana. Ia akan berpura-pura tidak menyadari kehadiran Mia di sana.


"Maaf Tuan," ucap Sindi.


Sindi menutup kembali pintu kamar Tuan Felix. Mia sudah tidak ada di sana. Namun Sindi yakin saat ini Mia sedang menangis di kamarnya.


Kamu mungkin menangis, tapi aku yakin kamu menangis karena bahagia atas semua kenyataan ini. Ayah kandungmu bukan pemerkosa Mia. Dia ayah yang baik. Hanya saja ia terjebak dalam kesalahan akibat ulah teman-temannya.


Sindi melihat rumah sudah sepi. Hanya beberapa orang yang masih ada di dapur dan beberapa ruangan lain. Ia kembali ke kamarnya untuk istirahat.


"Mia," ucap Sindi.


Sindi segera menutup mulutnya saat menyadari kalau ucapannya terlalu keras. Ia segera masuk dan menutup pintu kamar.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Sindi.


"Sin," ucap Mia.


Mia menghambur dan memeluk Sindi. Ia menangis menumpahkan semua sesak yang ia rasa sejak tadi.


"Mi, jangan menangis. Nanti Tuan Dion marah kalau tahu kamu nangis di sini," ucap Sindi.


Wajar jika Sindi takut Dion marah. Dion sangat mencintai Mia dan paling tidak suka saat melihat wanita yang ia cintai itu menangis. Sindi takut Dion salah paham karena Mia menangis di kamarnya. Namun sepertinya Mia tidak menghiaraukan rasa takut yang dirasakan Sindi. Ia masih terus menangis dalam pelukan Sindi.


Apa yang Sindi takutkan ternyata jadi kenyataan. Dion datang dan membuka kamar Sindi.


"Kamu kenapa?" tanya Dion.


"Tuan sudah pulang?" tanya Sindi yang berusaha bersikap tenang.


"Jangan basa basi. Ada apa ini?" tanya Dion dengan suara keras.


Sindi mulai ketakutan. Dadanya berdebar. Apalagi saat Mia tidak menjawab pertanyaan Dion. Sindi gemetar menghadapi Dion yang tengah marah.


"Tu-tuan, bukan saya. Saya bukan pelakunya," ucap Sindi gugup.


Sindi mengangkat tangannya meskipun Mia tidak melepaskan pelukannya dari tubuh Sindi.


"Pelaku apa? Apa yang terjadi dengan istriku?" tanya Dion dengan nada mengancam.


Pelaku? Kata yang dipilih Sindi ternyata justru membuatnya terjebak. Dion semakin marah dan menekan Sindi. Tidak bisa menjawab. Sindi hanya menutup mulutnya rapat-rapat dan menggeleng. Berharap Mia menyelamatkannya dari kemarahan Dion.


"A, bukan salah Sindi." Mia melepaskan pelukannya.


Ah akhirnya. Selamat aku dari terkaman si mata elang ini.


Sindi mengusap dadanya. Ia lebih tenang saat Mia sudah mau bicara dan membelanya. Tidak ingin Sindi menjadi sasaran Dion, Mia mengajak suaminya untuk ke kamar.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Dion setelah pintu kamarny tertutup rapat.


"A," ucap Mia.


Kembali menangis dalam pelukan Dion membuat Mia sedikit tenang. Ia berusaha meluapkan emosinya dengan menangis. Seandainya bisa, ia ingin pergi ke hutan dan berteriak sekeras-kerasnya. Meluapkan ketidakpercayaannya atas semua yang Tuan Felix ucapkan.


Entah harus bahagia atau tidak percaya, tapi setelah ia berhenti menangis ada sedikit celah bahagia yang mengisi ruang hatinya. Menggeser sedikit dari penuhnya rasa kecewa terhadap ayah kandungnya.

__ADS_1


"Mi, ada aku. Cerita dong. Biar bebanmu tidak terlalu berat," ucap Dion.


Saat ini, antara rasa peduli dan kepo nyaris beda tipis bagi Dion.


Perlahan Mia melepaskan pelukannya. Ia mulai menceritakan apa yang ia dengar dari Tuan Felix. Matanya menatap kosong, mengingat kembali wajah Tuan Felix yang sesekali terlihat bahagia lalu tiba-tiba sedih.


"Jadi?" selidik Dion.


"Mia harus gimana A?" tanya Mia.


"Kamu jujur aja tentang hasil test DNA itu. Kan sudah jelas kalau Tuan Felix mencintain ibu," saran Dion.


Mia diam. Ya, mungkin ini sudah waktunya. Ia memang harus menceritakan dan membuka semua kenyataan ini.


"Besok ya A," ucap Mia.


"Besok?" tanya Dion.


Mia mengangguk.


"Kenapa gak sekarang aja?" tanya Dion.


"Mia mau mikir dulu gimana cara ngomongnya. Mia juga bingung harus besikap gimanan," ucap Mia.


"Aku bantu ngomong ya!" ucap Dion.


"Jangan. Biar Mia aja," ucap Mia.


Besok, waktu yang dijanjikan oleh Mia ternyata terlewat begitu saja. Mia tidak membuktikan ucapannya pada Dion. Bahkan bujukan Sindi pun belum membuat Mia yakin dengan keputusannya.


Meskipun Mia tidak sedingin sebelumnya, tapi Tuan Felix merasa canggung pada Mia. Setelah dokter menyatakan sembuh benar, Tuan Felix merencanakan kepulangannya ke Jerman.


Rian pun berhasil dibujuk oleh Tuan Felix agar ikut ke Jerman. Menemaninya dengan dalih akan menyekolahkan Rian sesuai keinginannya sebagai seorang arsitek. Nyatanya, Tuan Felix butuh Rian sebagai temannya.


"Apa ini?" tanya Mia.


Tangannya menunjuk koper dengan perasaan sakit. Tidak apa jika seandainya Tuan Felix harus kembali ke Jerman, karena memang ia berkebangsaan di sana. Tapi jumlah koper itu yang membuat Mia sakit.


Tuan Felix tidak main-main dengan ucapannya. Ia benar-benar membawa Rian ke negaranya. Kenapa Rian harus dibawa? Mungkin itu yang mengganjalndi hatinya.


"Kak Mia," ucap Rian.


"Mau kemana kamu?" tanya Mia.


Pertanyaan basa basi yang justru akan membuatnya sakit. Karena ia sendiri sudah tahu apa jawabannya. Namun masih ada sedikit harapan jika prediksinya salah, meskipun kemungkinannya hanya kecil sekali.


"Aku mau bawa Rian," ucap Tuan Felix.


DEG


Jantung Mia seakan berhenti berdetak. Wajahnya memucat, seolah tidak ada aliran darah di sana. Napasnya terasa sesak, dadanya sakit sekali. Bukan Rian, bahkan Tuan Felix yang menjawab pertanyaannya.


"Mia," ucap Sindi.


Sindi sigap saat melihat Mia kehilangan keseimbangannya. Tak lama Rian segera memburu membantu Mia untuk duduk. Rian segera memberi Mia segelas air mineral. Mia menerimanya, namun tidak langsung meminumnya. Sebelum meneguk air itu, Mia melihat wajah Rian dan tersenyum sinis.


"Selamata Rian," ucap Mia.


"Untuk apa Kak?" tanya Rian.

__ADS_1


"Masih bertanya? Kamu pura-pura gak tahu atau sengaja karena senang melihat aku kalah dan menderita?" tanya Mia.


"Kak Mia, aku sama sekali tidak mengerti maksud Kakak apa. Ada apa ini kak?" tanya Rian.


Salah satu ujung bibir Mia terangkat. Nyata sekali wajah sinisnya. Mia segera meneguk air dalam gelas yang ada dalam genggamannya. Setelah habis, Mia menyimpannya di atas meja makan.


Melihat empat orang sedang berkumpul, tentu menarik perhatian Dion dan kedua orang tuanya yang baru muncul. Dion segera memburu Mia. Membuat Rian dan Sindi menjauh dari Mia.


"Sayang, kamu kenapa? Mau aku bawa ke dokter?" tanya Dion panik.


Rian dan Sindi hanya menatap Mia penuh rasa iri. Betapa Mia sangat istimewa di rumah ini. Namun berbeda dengan Tuan Felix yang hustru merasa canggung dan bingung dengan sikap Mia.


"Kalau kalian mau pergi, pergi saja." Mia memalingkan wajahnya.


Mia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh di hadapan semua orang. Ia cukup merasa lemah saat Rian berhasil merebut dua pria yang seharusnya menyayanginya.


Tuan Felix yang tidak tahu apa-apa tentang test DNA, membuatnya merasa kalau ucapan Mia memang sungguh-sungguh.


Tuan Felix meletakkan tangan kirinya pada pegangan koper dan tangan kanannya membawa koper Rian. Hal itu semakin membuat Mia sakit. Perhatian Tuan Felix untuk Rian benar-benar tidak bisa ditoleransi oleh Mia.


Kepalanya sakit, cemburu itu berhasil membuat hatimya bergejolak. Ia tidak lagi kuasa menyembunyikan perasaannya.


"Cukup! Hentikan! Mia benci ketidakadilan ini," teriak Mia.


Praaaang..


Tangan Mia menyapu gelas yang ada di atas meja hingga membentur lantai. Pecah, hancur dan berantakan. Menghentikan langkah Tuan Felix dan Rian.


" Kak Mia," ucap Rian.


Sosok yang tidak Rian kenali sebelumnya. Ini bukan Mia yang ia tahu.


"Dion, istrimu kenapa?" tanya Tuan Felix saat Dion sibuk menenangkan istrinya.


"Kalian jahat!" teriak Mia.


"Siapa? Aku dan Rian?" tanya Tuan Felix.


"Mia, tenanglah. Kamu jangan begini," ucap Dion.


"Rian, kenapa kamu merebut semuanya? Tidak cukupkah kamu merebut bapak? Dan sekarang Tuan Felix. Tidak bisakah kamu membiarkan aku bahagia dengan ayah kandungku?" ucap Mia disela isak tangisnya.


Semuanya diam saat mendengar ucapan Mia. Suasana menjadi hening. Semua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Termasuk Tuan Felix yang menatap Mia tidak percaya. Setelah diam beberapa saat dan mencerna ucapan Mia, Tuan Felix mendapat kesimpulan.


"Jadi kamu?" tanya Tuan Felix dengan penuh keraguan.


Mia mengangguk dan menyerahkan hasil test DNA pada Tuan Felix. Tangan pria asal Jerman itu bergetar saat menerima kertas dari Mia. Matanya mulai membaca kata demi kata yang tersusun di atas secarik kertas putih itu.


Matanya mulai berkaca. Tuan Felix menatap Mia, meminta penjelasan atas apa yang ia baca. Mia hanya mengangguk dan terus menangis.


"Boleh aku memelukmu, Mia?" tanya Tuan Felix dengan suara bergetar.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..

__ADS_1


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


__ADS_2