Janda Bersegel

Janda Bersegel
Cari!


__ADS_3

"Mia," panggil Kalin setelah ia mengetuk pintu kamar Mia terlebih dulu.


Beberapa kali Kalin memanggilnya, namun tak ada jawaban dari Mia. Kalin membuka pintu kamar Mi yang tidak dikunci.


"Kalin?" ucap Mia terkejut.


"Hey, maaf aku pikir kau kabur. Kau tak menjawab panggilanku. Maaf jika aku lancang," ucap Kalin.


"Eh, tidak begitu. Ini kan rumahmu. Kau bebas masuk ke dalam kamar ini," ucap Mia.


"Kau terlalu baik Mia. Kau terlalu percaya ada siapapun yng kau temui," ucap Kalin. "Ah sudahlah, aku tunggu di ruang makan." Kalin melanjutkan ucapannya setelah melihat Mia ingin mendebatnya.


Setelah lima menit menunggu, Mia datang dengan stelan kantornya. Kalin menggeleng.


"Makanlah!" ucap Kalin.


"Dev, kenapa belum siap?" tanya Mia.


"Siang ini aku ada kunjungan ke luar kota untuk dua hari ke depan, jadi aku tidak ke kantor. Selama aku tidak ada, kau ikuti semua perintah Kalin. Apapun yang Kalin lakukan, semua demi kebaikanmu," ucap Dev.


Mia mengangguk. Meskipun ia belum lama kenal dengan Kalin, tapi ia yakin Kalin adalah orang baik. Selesai makan, Kalin mengajak Mia untuk kembali masuk ke kamarnya.


"Ini kan sudah siang, Kalin. Bukankah kita harus ke kantor?" tanya Mia.


"Kita memang harus ke kantor, tapi aku tidak suka dengan penampilanmu. Kau terlihat norak. Aku harus mengubah penampilanmu dulu," ucap Kalin.


"Bukankah kita jangan menilai buku dari sampulnya? Jadi aku pikir, aku bekerja untuk menjual kemampuanku, bukan penampilanku." Dengan percaya diri Mia meyakinkan Kalin.


"Sekilas ucapanmu memang benar. Bahkan sangat indah untuk didengar. Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Kau memang tidak menjual penampilanmu, tapi satu hal yang harus kamu tahu. Penampilanmu menunjang pergaulanmu, hingga akan berpengaruh pada pekerjaanmu. Aku tahu kau mungkin tidak paham, tapi aku yakin suatu saat nanti kau akan paham." Kalin masih terus memperbaiki make up dan penampilan Mia.


Setelah selesai, Mia mengamati dirinya sendiri dari pantulan cermin. Kalin benar, penampilan barunya memang lebih terlihat menarik. Meskipun dengan baju yang tidak terbuka, tapi Mia terlihat lebih menarik.


"Terima kasih Kalin," ucap Mia.


"Sama-sama. Hargai dirimu sendiri maka orang lain akan menghargaimu," ucap Kalin.


Mia mengangguk dan mengikuti Kalin ke dalam mobilnya. Dalam perjalanan, Mia tak berani bertanya apapun. Kalin mengajarkan untuk melihat situasi. Menurut Mia, kali ini Kalin sedang serius. Mungkin karena Kalin kesiangan setelah merombak dulu penampilan Mia.


"Kamu punya uang?" tanya Kalin memecah keheningan.


"Hah? Uang?" tanya Mia terkejut.


Mia pikir pertanyaan itu terlalu privasi untuk dijawab.


"Ya," jawab Kalin santai sambil tetap fokus melihat jalanan.


Mia diam. Ia tak tahu harus menjawab apa. Ia takut salah menjawab.


"Setelah sebulan kerja, kau harus mandiri. Kau harus menyewa sebuah apartemen dan membeli mobil," ucap Kalin.


"Baik," ucap Mia.


Kalin melihat sekilas ke arah Mia. Tak ada rasa tersinggung sama sekali dengan ucapannya. Kalin semakin yakin kalau Mia memang terbiasa dengan kata-kata yang menyinggung.


"Uangmu cukup?" tanya Kalin.


"Entahlah," jawab Mia yang memang tidak tahu berapa uang yang harus disiapkan untuk biaya apartemen dan mobil.


Kalin tak bertanya lebih banyak dan terus melajukan mobilnya. Tak lama, mobil terparkir di sebuah gedung besar dan tinggi. Memang tidak sebesar milik Tuan Ferdinan, namun untuk ukuran Mia ini gedung yang mewah.


Kalin mengenalkan Mia di kantornya. Mia masih dengan sikapnya yang malu-malu memperkenalkan diri. Merasa sudah cukup, Kalin membawa Mia ke ruangannya.


"Untuk sementara, kau di bagian Ini ya! Ini sama dengan jabatanmu saat di kantor mertuamu," ucap Kalin.


Mertua? Mungkin mantan mertua lebih tepatnya. Karena Nyonya Nathalie sendiri sudah tidak mau dipanggil mami. Bahkan dengan Tuan Ferdinan, Mia belum pernah bertemu lagi.


"Mia, ingat! Aku mengajakmu ke sini untuk bekerja, bukan untuk melamun." Kalin mengingatkan Mia untuk tidak banyak melamun.


Mia mengangguk. Selama bekerja, Kalin sengaja memberikan banyak sekali pekerjaan. Bukan karena tega, tapi karena Kalin tidak ingin melihat Mia melamun meratapi nasibnya. Kalin ingin membuat Mia bangkit dari keterpurukannya.


Kalin mengamati Mia. Benar! Mia memang cerdas. Sebagai karyawan baru, Mia terhitung cekatan dalam menyelesaikan tugasnya. Kalin duduk termenung di ruangannya.


"Mia, kau pasti bisa! Aku yakin kau bisa," gumam Kalin.


Waktu terus berlalu dan kini jam kantor sudah usai. Kalin membereskan mejanya dan menemui Mia. Kalin mengerutkan dahinya saat melihat Mia masih sibuk dengan laptop dan berkasnya. Kalin melihat jam coklat yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah selesai jam kantor tapi Mia masih nampak sangat semangat.


"Mia," panggil Kalin.


"Kalin," jawab Mia. "Kau pulang sekarang?" lanjut Mia.


"Ya, ayo!" ucap Kalin.


"Duluan saja! Pekerjaan Mia belum selesai," ucap Mia.

__ADS_1


"Ini sudah jam pulang. Pulang dulu! Besok kau lanjutkan lagi," ucap Kalin.


"Tapi kau bilang harus semangat kerja," ucap Mia.


Benar, Mia memang harus sibuk bekerja agar bisa melupakan masalah dalam hidupnya. Tapi ini hari pertama Mia bekerja, rasanya Kalin tidam tega juga melihat Mia.


"Rapikan mejamu, ada yang ingin aku bahas." Kalin menutup berkas yang ada di tangan Mia.


Mia mengikuti apa yang Kalin ucapkan. Ia membereskan mejanya. Setelah selesai, Mia menatap Kalin saat memberikan selembar kertas.


"Apa ini?" tanya Mia sambil mengambil kertas yang diberikan Kalin.


"Biaya untuk membeli mobil dan sewa apartemen," jawab Kalin.


Mia membulatkan bola matanya. "Sebanyak ini?" tanya Mia terkejut.


"Ya, itu sudah aku ambil yang paling murah. Uangmu tidak cukup?" tanya Kalin.


Mia diam, sebenarnya uang dari Haji Hamid cukup, tapi tabungannya akan habis.


"Bisakah kita mecari kostan saja?" tanya Mia.


"Kenapa?" tanya Kalin.


"Mi-Mia," ucap Mia gugup.


"Uangmu tak cukup?" tanya Kalin.


"Aku boleh bertanya dulu?" tanya Mia.


"Tentang?" tanya Kalin.


"Apa kau keberatan Mia tinggal di rumahmu?" tanya Mia.


"Sudah kuduga kau pasti akan salah paham dengan maksudku. Dengarkan aku Mia! Perusahaanku bergerak di bidang yang sama dengan perusahaan Tuan Ferdinan. Perlahan aku akan mengenalkanmu padanya. Tapi setelah kau terlihat berbeda dari sebelumnya," ucap Kalin.


Kalin akan berpura-pura untuk tidak mengetahui hubungan Mia dengan Tuan Ferdinan. Ia hanya ingin membuat Nyonya Nathalie menyesal karena telah menyia-nyiakan berlian seperti Mia.


"Untuk apa?" tanya Mia.


"Agar kau bisa tahu tentang suamimu," jawab Kalin.


"Apa hubungannya?" tanya Mia.


"Aku jadi rindu mas Danu," ucap Mia.


"Cari!" ucap Kalin.


"Cari?" tanya Mia.


"Ya, cari!" ucap Kalin.


"Nyonya Nathalie tidak memberi tahu dimana makam mas Danu," ucap Mia sedih.


"Jangan memaksa orang yang tidak mau memberi tahumu. Cari sendiri!" ucap Kalin.


"Aku sudah mencari ke setiap makam, tapi tidak ada makam mas Danu." Mia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Berarti dia masih hidup," jawab Kalin.


Mia membuka tangannya dan menatap Kalin dengan lekat.


"Benarkah?" tanya Mia.


"Tidak ada yang tidak mungkin jika kau sudah mencari makamnya namun tak menemukannya. Seberapa kaya seseorang, tidak mungkin menyimpan makam anaknya di dalam rumah," ucap Kalin.


"Ya, benar. Mas Danu mungkin masih hidup. Aku harus bertahan dan berubah agar bisa menemukan mas Danu," ucap Mia dengan semangat.


Kalin mengangkat jempol tangannya saat melihat Mia begitu bersemangat. Ini yang Kalin mau. Meskipun Kalin sendiri tidak tahu kenyataan yang sebenarnya tentang Mia, tapi ini langkah yang baik untuk Mia. Biarlah waktu yang akan menjawab semua pertanyaan Mia tentang Danu.


Sore ini Kalin mengantar Mia untuk ke apartemen. Sewa apartemen untuk Mia. Tempatnya tidak jauh dari kantor Kalin. Untuk mobil, Kalin menundanya karena Mia belum lancar.


"Uangnya belum aku ambil," ucap Mia.


"Tak apa, tenang saja." Kalin merapikan beberapa barang.


"Ayo!" ajak Kalin.


"Kemana?" tanya Mia.


"Kau akan pindah besok. Sekarang kau istirahat di rumahku lagi. Ada beberapa hal yang ingin aku tahu," jawab Kalin.


Mia tak banyak mendebat. Ia hanya mengikuti apa yang Kalin perintahkan. Hingga akhirnya mereka sampai ke rumah Kalin, Mia tak membuka mulutnya.

__ADS_1


"Dev sudah berangkat?" tanya Mia.


"Tadi jam sepuluh Dev mengabariku saat akan berangkat," jawab Kalin.


"Kau mengenal Pak Haji?" tanya Mia.


Kalin menatapnya dengan tatapan tajam. Mia sama sekali tidak tahu kalau Kalin akan marah saat mendengar nama Pak Haji.


"Maafkan Mia, Kalin. Mia tidak bermaksud untuk menyinggung perasaanmu," ucap Mia.


"Tak apa. Aku hanya tidak ingin membahas masa lalu saja. Aku sedang lelah," jawab Kalin malas.


Bukan tidak percaya pada Dev, hanya saja hubungan tidak sehat antara Dev dan Haji Hamid terjalin cukup lama. Kalin ingin menutup lembaran itu dengan sangat rapat. Tidak ingin sekalipun Dev membuka lembaran masa lalunya. Mia tahu, usaha Kalin untuk menyembuhkan Dev memang penuh perjuangan. Wajar jika Kalin takut perjuangannya sia-sia.


Malam hari tanpa Dev, Kalin mengajak Mia untuk mengobrol.


"Mia, maafkan aku." Kalin memegang tangan Mia.


"Untuk?" tanya Mia.


"Aku sudah memintamu untuk menyewa sebuah apartemen. Selain agar kau bisa mandiri, aku ingin menjauhkan kau dengan Dev." Mata Kalin mulai berkaca-kaca.


"Oh ya ampun Kalin, aku justru yang harus meminta maaf." Mia memeluk Kalin.


Saat melihat Mia sama sekali tidak tersinggung dengan ucapannya, Kalin segera menjelaskan apa maksudnya. Kalin berjanji akan membantu Mia, tanpa membuat Dev kembali ke masa lalunya.


"Jika Dev bertanya, jangan katakan kalau aku memintamu untuk sewa apartemen." Kalin sangat takut jika Dev tahu semua rencananya.


"Janga khawatir Kalin. Mia sangat mengerti. Harusnya Mia berterima kasih karena kau mau mmembantu Mia," ucap Mia.


Malam ini Dev menelepon Kalin dan bertanya tentang Mia. Dev terlihat senang saat melihat Kalin begitu membantu Mia. Bagi Dev, Mia adalah orang yang membuatnya menjadi pria seutuhnya. Kalau saja tidak ada Mia, mungkin Dev akan selamanya tenang dengan dunianya yang salah.


Sebelum Dev pulang, Kalin akan memastikan Mia sudah pindah ke apartemen. Kalau Dev pulang sebelum Mia pindah, Kalin takut Dev akan melarang Mia untuk keluar dari rumahnya. Tapi kalau Mia sudah pindah, Dev tidak akan bisa apa-apa. Itu alasan kenapa Karin meminta Mia untuk sewa apartemen. Kalau Kalin mengikuti keinginannya untuk tinggal di kost, Dev pasti akan marah.


Tentang keuangan, Kalin berjanji akan membantu Mia. Sebenarnya bisa saja Kalin menjamin sewa apartemen untuk Mia. Tapi Kalin tidak ingin kalau Dev akan curiga padanya.


Keesokan paginya, Mia sudah bangun sejak di luar masih sangat gelap. Dengan semangat, Mia membereskan semua barangnya untuk dibawa ke tempat tinggalnya yang baru. Tidak banyak barang yang Mia bawa, karena sebelumnya Kalin sudah menyortir pakaian Mia yang tidak cocok untuk Mia. Padahal bagi Mia, pakaian yang ia bawa semuanya cocok. Namun bagi Kalin, Mia sudah harus berubah. Perihal pakaianpun, Kalin sudah memperhatikannya.


Tanpa protes, Mia mengikuti semua ucapan Kalin, karena sampai saat ini Kalin Membantinya menjadi lebih baik.


"Kalin, terima kasih ya!" ucap Mia saat dalam mobil.


"Kau tidak perlu begitu. Nanti aku ajarkan kamu bawa mobil ya!" ucap Kalin.


Sebenarnya Mia tidak terlalu berminat untuk bisa mengendarai mobil, tapi Kalin meyakinkan Mia kalau suatu saat ia memang membutuhkan itu.


"Mia ikut semua yang Kalin pinta. Mia yakin kalau semuanya untuk kebaikan Mia juga," ucap Mia.


"Mia kau adalah orang pertama yang berinteraksi sedekat ini denganku," ucap Kalin.


"Benarkah?" tanya Mia.


Rasanya Mia tak percaya kalau Kalin yang sebaik ini, kurang berinteraksi dengan yang lain. Kalin yang begitu humble, Mia rasa tak akan sulit untuk mendapat teman.


"Ya, suatu saat kau akan tahu semua tentangku. Tapi tidak sekarang ya!" ucap Kalin.


Rasanya Kalin belum siap menceritakan semua tentang dirinya. Tapi tidak sekarang. Lagipula Kalin ingin Mia bisa berubah Dulu. Kalin ingin fokus pada usahanya untuk membentuk karakter Mia. Sama halnya dengan dirinya yang memiliki masa lalu kelam, ia ingin Mia membuktikan pada mantan mertuanya itu kalau Mia bisa berhasil. Jangan karena Mia dari kampung dan miskin, mereka bisa seenaknya mencaci dan memaki Mia.


Sedikit banyak, Kalin tahu sosok pria yang bernama Tuan Ferdinan itu. Yang ia tahu, pasangan suami istri itu bukan orang yang jahat. Sekalipun Kalin dan Tuan Ferdinan bersaing, tapi mereka bersaing secara sehat.


Kalin akan menyelidiki tentang Danu. Mungkin ia bisa mengorek sedikit informasi tentang keluarga mereka dari beberapa relasinya.


"Kalin, Mia boleh minta tolong?" pinta Mia.


"Tentu. Apa yang bisa kulakukan untukmu?" tanya Kalin.


"Bolehkah Mia meminta beberapa referensi untuk fashion ke kantor? Mia masih punya sisa uang, Mia ingin penampilan Mia sepertimu. Cantik sekali," ucap Mia.


Jujur saja, Kalin merasa tersanjung dengan ucapan Mia. Tak banyak orang yang berinteraksi dengannya hingga tak ada satupun yang membahas dan memuji penampilannya.


"Aku punya bebapa baju yang tidak terpakai untukmu. Tidak usah beli, kau pakai saja punyaku. Uangmu simpan saja untuk kebutuhanmu yang lain," ucap Kalin.


"Benarkah?" tanya Mia dengan sangat senang.


Kalin mengangguk dan kembali fokus ke jalan. Sebelum ke kantor, Kalin membawa Mia untuk menyimpan barangnya ke apartemen barunya.


######################


Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.


Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.

__ADS_1


Terima kasih..


__ADS_2