Janda Bersegel

Janda Bersegel
Bimbang


__ADS_3

"Papa, Dion," panggil Mia saat melihat suami dan ayahnya sudah kembali ke rumah itu.


Mia menyalami keduanya secara bergantian. Tuan Felix bahagia melihat Mia yang sudah kembali ceria. Mia yang dulu sudah kembali.


Belum terlalu malam. Saat Tuan Felix dan Dion sampai, keluarga Dion sedang berkumpul di ruang makan. Tidak terkecuali Rian dan Sindi.


"Ayo langsung makan saja!" ajak Tuan Wira.


"Siap Pah," ucap Dion.


Dion langsung duduk. Dengan sigap Mia mengambilkan piring untuk suaminya. Namun Tuan Felix masih mematung. Ia membiarkan kursinya kosong. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk istirahat di kamarnya.


"Tuan, ayo duduk! Kita makan. Aku merindukanmu," ucap Rian dengan senyum lebar.


Rian? Dia?


"Aku tidak lapar. Aku langsung ke kamar saja ya! Capek," jawab Tuan Felix.


Rian terkejut dengan respon yang ditunjukkan Tuan Felix padanya. Ia tidak menyangka jika kerinduannya bertepuk sebelah tangan. Menyadari banyak sekali yang tidak nyaman dengan sikap Tuan Felix, Dion berusaha menenangkan.


"Biarkan Tuan Felix istirahat, Rian. Tadi dia jatuh berkali-kali di sawah. Sekarang pasti badannya pada sakit," ucap Dion sembari terkekeh.


Berusaha bekata dengan tenang tanpa menunjukkan kepanikanya, Dion berhasil membuat semuanya bersikap wajar, termasuk Rian. Anak itu bisa dengan mudahnya tertawa dan menghapus pikiran buruk tentang Tuan Felix.


Tapi tidak dengan Mia. Ia sangat menyadari perubahan sikap ayah kandungnya itu. Bahkan Mia bisa menebak apa yang membuat Tuan Felix bersikap seperti itu.


Selesai makan, semuanya berkumpul di ruang keluarga. Membahas bagaimana perjalanan Dion dan Tuan Felix saat pergi ke Bandung. Cerita demi cerita Dion sampaikan. Dion menyembunyikan sebagian cerita, seolah tidak terjadi apapun di sana.


Dalam kepala mereka, hanya rasa haru yang dialami oleh Tuan Felix. Bahkan saat Tuan Felix tidak ikut makan malam pun, alasan rasa haru dan belum bisa menerima kenyataan ini menyelamatkan Tuan Felix dari kenyataan yang terjadi.


"Sudah malam, ayo tidur!" ajak Tuan Wira.


Semua bubar dan kembali ke kamarnya masing-masing, mengistirahatkan tubuh karena sudah lelah dengan aktivitas siang hari. Hanya Rian yang tidak bisa tidur. Ia merasa tidak enak dengan sikap Tuan Felix.


"Tuan Felix kenapa ya?" gumam Rian.


Menahan rasa penasarannya tidak semudah itu, Rian semakin gelisah. Ia tidak bisa tidur. Tubuhnya yang sudah direbahkan di atas ranjang, terbangun seketika.


"Apa aku harus ketemu sama Tuan Felix sekarang?" gumam Rian.


Ia turun dari ranjangnya dan menuju kamar Tuan Felix. Ketukan demi ketukan pintu diabaikan oleh si pemilik kamar. Rian menyerah. Ia bersandar di daun pintu kamar Tuan Felix. Kepalanya melayang memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.


"Rian?" sapa Mia.


"Kak Mia?" ucap Rian yang segera menjauh dari kamar Tuan Felix.


"Kamu ngapain di sana?" tanya Mia.


"Gak Kak. Aku cuma lewat aja. Aku permisi dulu ya!" ucap Rian.


Mia tahu Rian menghindar darinya. Percuma Rian mengelak, Mia sudah melihat semuanya dari awal. Bahkan Mia sempat berlinang air mata saat melihat Rian mengetuk pintu dengan wajah yang sangat memelas.


Mia mengikuti Rian, ia mengetuk pintu kamarnya saat baru saja tertutup.


"Rian," panggil Mia.


Rian segera membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


"Ada apa Kak?" tanya Rian.


"Soal Papa, kamu jangan berpikiran buruk ya. Papa cape, jadi tidur lebih awal. Perjalanan Jakarta-Bandung tidak terlalu dekat. Belum lagi jalan ke makam yang lumayan jauh. Papa hanya butuh waktu untuk istirahat," ucap Mia.


Masih dengan raut wajah sedih, Rian mengangguk. Ia berusaha berpikiran positif agar hati dan kepalanya tidak terasa sakit.


"Ya sudah kamu istirahat ya!" ucap Mia.


Mia pamit dan hendak kembali ke kamar. Namun rasa penasarannya membuatnya berbelok ke kamar Tuan Felix. Seperti halnya Rian, Mia mengetuk pintu itu berkali-kali. Namun tidak ada jawaban.


"Pah," panggil Mia saat mengetuk pintu kamarnya.


"Mia, sebentar ya!" jawab Tuan Felix.


Mia memegang dadanya. Ia terkejut dengan sikap Tuan Felix yang berubah begitu cepat. Seolah tidak ada sedikitpun rasa kasih sayang lagi untuk Rian.


Ini tidak bisa dibiarkan. Papa gak boleh menjadikan Rian kambing hitam. Anak itu tidak salah.


Mia ingat bagaimana reaksi Rian saat ia melakukan hal yang sama seperti Tuan Felix. Anak itu benar-benar tertekan. Cukup ia saja yang pernah bertindak bodoh, tapi tidak dengan Tuan Felix.


"Ada apa Mia?" tanya Tuan Felix saat pintu sudah terbuka lebar.


"Mia mau bicara," jawab Mia.


"Ayo masuk!" ajak Tuan Felix.


"Di sana saja!" tunjuk Mia pada ruangan yang biasa digunakan untuk berkumpul.


"Baiklah," jawab Tuan Felix.


Tuan Felix menutup pintu kamarnya dan mengikuti Mia menuju ruangan yang dimaksud. Ia menjatuhkan bokongnya pada kursi tepat di hadapan Mia.


Matanya menyelidik tentang hal apa yang akan dibahas. Dan ternyata benar dugaannya, bahasannya tentang Rian. Tuan Felix yang tengah duduk tegak dengan wajah menghadap Mia, tiba-tiba memalingkan wajahnya malas saat mendengar nama Rian. Duduknya lebih santai dan bersandar.


"Jangan sebut lagi nama dia di hadapanku," ucap Tuan Felix.


Mia tersentak. Sebegitu bencikah Tuan Felix pada Rian? Apa yang membuatnya berubah begitu cepat?


"Pah, ada apa?" tanya Mia.


"Aku hanya tidak ingin membahas tentang dia saja," jawab Tuan Felix.


"Pah, jangan sepertiku. Rian itu tidak salah," ucap Mia.


"Dia memang tidak salah, tapi dalam tubuh dia mengalir darah pria jahat yang menyakitimu bertahun-tahun Mia," ucap Tuan Felix dengan geram.


Tangan Tuan Felix yang mengepal membuat Mia tahu kalau saat ini Tuan Felix sedang dikuasai emosi. Bahkan ayah kandungnya itu tidak sadar dengan ucapannya. Jika masalah darah yang mengalir dalam tubuh Rian, mungkin Tuan Felix lupa kalau dalam tubuhnya juga mengalir darah yang sama.


Tidak! Mia tidak boleh membahas ini. Papa pasti akan sangat marah dan semakin membenci Rian.


"Pah, tapi Rian sangat menyayangi Papa. Dia sangat perhatian, bahkan dia yang selalu membuat Mia cemburu dengan kedekatannya sama Papa," ucap Mia.


"Sudahlah Mia, Papa tidak ingin membahas tentang dia lagi. Masalah semua kebaikannya, Papa bisa membayar semua jasanya. Berapapun itu," ucap Tuan Felix.


"Pah, ada kalanya tidak semua bisa dibayar dengan uang. Papa tidak ingat bagaimana tulusnya Rian merawat Papa dan memotivasi Papa saat Papa belum bisa berjalan? Bahkan Mia yang anak kandung Papa saja tidak melakukan apapun. Tapi Rian," ucapan Mia terhenti saat Tuan Felix memotong ucapannya.


"Sudahlah Mia, aku tidak mau membahas semua ini lagi. Kalau kamu tidak punya bahasan lain, Papa mau kembali ke kamar." Tuan Felix menatap Mia dengan tajam.

__ADS_1


Mia tahu porsinya tidak banyak. Ia juga tidak ingin membuat suasana semakin panas.


"Ya sudah, Papa ke kamar aja. Istirahat ya! Ayo Mia antar!" ucap Mia.


Tuan Felix berdiri dan berjalan menuju kamarnya. membiarkan Mia mengikutinya bahkan hingga ke dalam kamarnya. Hatinya sakit saat mendapati kenyataan, Mia membantunya tidur dan menyelimutinya.


"Mia keluar dulu ya Pah. Selamat tidur Pah," ucap Mia.


Namun saat Mia melangkah menjauh, tangannya ditarik oleh Tuan Felix. Langkahnya terhenti. Mia menoleh ke arah Tuan Felix dan menatapnya penuh tanya. Ada apa lagi? Bukankah ia yang meminta untuk beristirahat?


"Ada apa Pah?" tanya Mia.


"Mia, maafkan Papa. Maafkan Papa," ucap Tuan Felix sembari mengucek matanya.


Mia yakin kalau Tuan Felix sedang menangis. Tapi Mia bingung apa yang membuat Tuan Felix meminta maaf sampai ia harus menangis seperti itu.


"Maaf untuk apa Pah?" tanya Mia.


"Maaf karena Papa bodoh dan tidak berjuang untuk mencarimu. Hingga akhirnya kamu harus hidup bersama iblis yang selalu menyiksamu," ucap Tuan Felix.


Mia mengerti arah pembicaraan ayahnya. Namun ia tidak habis pikir jika Tuan Felix mengetahui semua itu. Siapa yang memberikan informasi itu? Tanpa Mia ketahui kalau warga yang sedang ronda itu informan bagi Tuan Felix.


"Pah, Mia gak pernah disiksa. Mia juga bahagia bisa hidup sama Ibu yang selalu menyayangi Mia," ucap Mia.


"Tapi kamu menderita Mia. Kamu sudah dimanfaatkan dan dianggap sapi perah oleh iblis itu," ucap Tuan Felix.


Mia diam dan tersenyum.


"Papa bisa bayangkan gimana jahatnya Pak Baskoro? Apa Papa melihat sifat seperti itu pada Rian? Rian berbeda Pah. Mia hanya tidak mau Papa menyesal karena bersikap seperti itu pada Rian," ucap Mia mengingatkan.


Tuan Felix tidak mau membahas tentang Rian lagi. Tapi kepalanya seketika memikirkan anak itu. Anak yang sudi mendonorkan darahnya meskipun mereka tidak saling mengenal. Rian juga orang yang berhasil membuatnya bangkit.


Benar kata Mia, Rian adalah orang yang membantunya dari segala sisi saat ia tengah terpuruk. Perhatiannya yang begitu tulus membuat Tuan Felix melemah. Kadar kebenciannya mulai menurun dan rasa iba mulai menyelinap diantara celah kemarahannya.


Mia melihat kalau Tuan Felix sedang menimbang keputusannya terhadap Rian. Ia pamit agar memberikan waktu lebih banyak untuk Tuan Felix. Mungkin saat sendiri, semua bayangan kebaikan Rian akan mampu membuatnya luluh.


Setelah pintu kamar tertutup rapat, Tuan Felix menatap daun pintu kamarnya. Gamabaran kebaikan Rian muncul, terbayang jelas saat anak itu mengetuk pintu, membawa sarapan dan obat dengan wajah yang sangat ceria.


Ah! Entahlah. Saat ini Tuan Felix frustasi. Kepalanya sakit saat membayangkan semua kebaikan itu, namun hatinya menolak saat ingat bagaimana Pak Baskoro memperlakukan Mia tanpa belas kasihan.


"Tuhaaaan. Apa ini? Kenapa sulit sekali menyatukan antara isi kepala dan isi hatiku? Langkah apa yang harus aku ambil? Haruskah aku mengikuti apa yang ada di kepalaku? Atau justru mengikuti isi hatiku?" gumam Tuan Felix.


Tuan Felix memijat kepalanya pelan. Ia bimbang untuk memutuskan langkah ke depannya. Antara berdamai? Atau meminta waktu yang entah sampai kapan.


Melihat jam di dinding yang terus bergerak. Malam pun kian larut, Tuan Felix memejamkan matanya dan berharap kalau ia bisa tidur. Melupakan sejenak beban yang mengganjal dalam hatinya.


Harapannya, saat ia bangun tidur nanti semua kebimbangannya sudah sirna. Tidak ada lagi rasa kecewa dan gelisah yang menguasai dirinya.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍

__ADS_1


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


__ADS_2