Janda Bersegel

Janda Bersegel
Tantangan dari Tuan Besar


__ADS_3

Setelah hasil pemeriksaan dokter baik, Danu boleh pulang. Tentu saja Mia di ajak ke rumahnya untuk dikenalkn pada orang tuanya. Mia sempat menolak, tapi karena Danu menjanjikan akan memberinya pekerjaan, Mia akhirnya mengikuti Danu.


Sesampainya di rumah Danu, Mia terdiam. Mia mengagumi rumah mewah yang akan dimasukinya. Rumah yang jauh lebih besar dari rumah Haji Hamid. Di kampungnya rumah Haji Hamid adalah rumah terbesar dan termewah, tapi tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rumah Danu.


"Ayo masuk!" ajak Danu.


Mia masih diam, berputar dan mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut pekarangan.


"Seperti di film-film ya rumahnya!" ucap Mia polos.


Danu menggeleng. Dari sekian orang yang masuk ke rumahnya, hanya wanita ini yang paling norak. Danu sempat ragu memperkenalkan Mia pada orang tuanya. Ayahnya pasti akan menertawakan Danu saat membawa dan memperkenalkan Mia. Namun apa boleh buat, waktunya sudah mepet dan Danu percaya kalau Mia adalah orang yang tepat.


"Ayo Mia! Kau jangan norak," ejek Danu.


Mia yang sudah biasa dengan ejekan dan hinaan yang lebih pedas, tak menggubris ejekan Danu sama sekali. Mia mengikuti Danu untuk masuk ke dalam rumah mewah itu. Mata Mia membulat sempurna dengan mulut yang menganga. Interiornya membuat Mia sangat takjub. Barang mewah dan sangat indah menghiasi pemandangan di setiap sudut rumah Danu.


"Tutup mulutmu! Jangan sampai mengundang lalat ke rumah ini," ejek Danu menahan tawanya.


"Ah, aku tak percaya rumah semewah ini tidak ada anti lalat." Mia masih saja menatap satu demi satu benda mewah yang tertata di sana. Sangat apik, ketakjubannya tak berhenti sampai di sana. Mia melihat seorang wanita paruh baya namun sangat cantik.


"Siapa dia?" tanya Mia pada Danu.


"Mami," ucap Danu.


"Assalamualaikum Mami, kau sangat cantik sekali. Perkenalkan aku Mia, aku teman barunga Danu. Tadi kita berte--" ucapan Mia dihentikan oleh Danu.


"Dia calon istri Danu mi," ucap Danu.


Mia yang sudah diberi tahu sebelumnya tentang rencana Danu mengangguk canggung. Mia lupa dengan perjanjiannya tadi.


Ibunya Danu justru terkesan dengan sikap Mia yang mudah akrab dan sangat sopan. Belum kenal saja, Mia langsung mencium tangan ibunya Danu dan memanggilnya Mami. Kesan pertama yang sangat mengesankan bagi ibunya Danu.


"Namaku Natalie, Mia." Natalie mengusap kepala Mia dengan rambut kepangnya.


"Kau temukan dimana wanita ini? Kampungan sekalo dia. Kau sepertinya salah memilih calon istri Danu," dengus Tuan Ferdinan.


"Papi, dia pilihanku. Hargai keputusanku," ucap Danu.


Natalie merasa cemas saat mendengar ucapan suaminya. Namun Mia justru terlihat lebih santai. Tak ada raut tersinggung dari wajah cantiknya.


"Maaf Papi, Mia baru sa--" ucapan Mia terhenti saat suara berat Tuan Ferdinan memotong ucapannya.


"Jangan memanggilku Papi, panggil aku Tuan Ferdinan. Kau bukan anakku," ucap Tuan Ferdinan.

__ADS_1


"Baik, Tuan. Maaf atas semua kelancangan saya," Mia langsung bersikap kaku.


Bukan hal sulit bagi Mia untuk menyesuaikan dengan lawan bicaranya. Mia pikir karena melihat Danu sangat humble, kedua orang tuanya juga akan sama. Namun nyatanya Tuan Ferdinan tidak sama dengan Danu.


Danu khawatir dengan perubahan sikap Mia. Danu takut kalau Mia membatalkan semua rencananya. Sikap ayahnya memang selalu seperti itu. Tidak pernah memikirkan perasaan orang lain. Tuan Ferdinan selalu saja terlihat sangat sombong jika berbicara dengan orang beda kasta.


Mia yang sudah terbiasa, sangat memaklumi semua sikap Tuan Ferdinan. Tak ada sakit hati atau kecewa sama sekali. Mia justru melihat raut wajah Mami Natalie. Terlihat sangat cemas dan merasa bersalah.


"Maaf, Nyonya. Saya juga sudah lancang kepada Anda," ucap Mia dengan menunduk hormat.


"Bagus, sudah seharusnya kau bersikap seperti itu." Tuan Ferdinan mendekat ke arah Mia.


"Dari mana asal usul mu?" tanya Tuan Ferdinan.


"Saya berasal dari Bandung, ibu saya Bu Ningsih dan bapak saya Pak Baskoro. Tapi sekarang keduanya sudah bercerai. Saya datang ke Jakarta untuk mencari pekerjaan dan bertemu dengan Tuan muda," ucap Mia.


Tuan Ferdinan tersenyum sinis. Wanita polos. Namun ada sedikit kecurigaan ketika Tuan Ferdinan mengingat nama orang tua Mia. Ningsih dan Baskoro? Nama yang kampungan, tapi wajah Mia terlihat seperti bule. Hidungnya mancung, namun kulitnya terlihat agak hitam jika dibandingkan bule. Mungkin karena dari kampung dan tidak pandai merawat diri.


Rambutnya yang dikepang dan pakaiannya yang sederhana membuat Tuan Ferdinan mengamati Mia dari atas hingga bawah. Tak ada yang mengesankan sama sekali dengan wanita itu. Tuan Ferdinan tak habis pikir bagaimana bisa Danu menyebutnya sebagai calon istri.


"Berapa usiamu?" tanya Tuan Ferdinan.


"22 tahun, Tuan." Mia mengangkat kepalanya kemudian menunduk kembali.


"Saya bisa menyapu, mengepel, membereskan rumah dan memasak, Tuan. Semuanya bisa saya lakukan," ucap Mia.


"Kau mau bekerja sebagai pembantu?" tanya Tuan Ferdinan dengan penuh penekanan.


"Dulu saya memang sempat jadi buruh cuci dan bekerja serabutan, Tuan. Tapi setelah saya kuliah dan memiliki ijazah, saya ingin ada perubahan dalam hidup saya. Saya ingin bekerja di kantor," jawab Mia.


"Apa yang kau kuasai?" tanya Tuan Ferdianan.


"Seputar akuntansi Tuan. Saya mempelajari beberapa bentuk laporan keuangan dan analisa grafik keuangan dalam suatu perusahaan," ucap Mia dengan sangat percaya diri.


"Duduk di sana!" tunjuk Tuan Ferdianan pada sebuah bangku yang didepannya nampak laptop mewah keluaran terbaru. Sangat jauh dengan laptop milik Mia yang ada di kostan.


Mia mengikuti arah telunjuk Tuan Ferdinan. Duduk di sana dan menatap layar laptop. Mia sangat mengagumi semua kemewahan yang ada di rumah Danu. Namun ia tersentak saat Tuan Ferdinan melemparkan sebuah berkas berisi laporan keuangan.


"Analisa dan buat pembaharuan laporannya! Aku ingin melihat kemampuanmu," ucap Tuan Ferdinan dengan sombongnya.


"Bawakan dia makanan dan minuman," teriak Tuan Ferdinan pada salah seorang pelayannya.


"Baik, Tuan Besar." Seorang pelayan menjawabnya.

__ADS_1


Tak lama pelayan itu datang membawa beberapa makanan ringan dan minuman.


"Permisi, Nona." Pelayan itu menyimpan makanan dan minuman di dekat Mia. Mia meliriknya sebentar, mengucapkan terima kasih dan tersenyum hormat pada pelayan itu.


Fokusnya kembali pada berkas yang ada di tangannya. Mia kembali berkutat dengan berkas dan laptop yang ada di depannya. Sementara Danu dan Nyonya Natalie terlihat sangat cemas. Takut kalau Mia gagal. Tuan Ferdinan pasti akan mencacinya habis-habisan. Itulah Tuan Besar yang selalu tak menerima kehadiran orang bodoh. Baginya setiap orang yang berhubungan dengannya harus memiliki tingkat intelektual tinggi. Apalagi Mia, disebut-sebut sebagai calon istri oleh anak semata wayangnya. Ah, tidak! Bukan anak semata wayang bagi Tuan Ferdianan, tapi anak semata wayang bagi Nyonya Natalie. Karena sebenarnya Tuan Ferdinan memiliki anak lain dari wanita yang berbeda.


"Mia, minum dulu! Kau pasti lelah," ucap Danu menghampiri Mia.


"Iya," jawab Mia.


Menggeser sebentar berkas itu dan meminum segelas air putih.


"Kau minum jus dulu biar segar," ucap Danu.


"Terima kasih Tuan Muda, tapi saya lebih suka air putih. Apalagi ketika sedang bekerja, dapat meningkatkan konsentrasi." Mia tersenyum kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya.


"Panggil aku Danu saja," ucap Danu berbisik di telinga Mia.


"Danu, biarkan dia bekerja. Jangan mengganggunya," ucap Tuan Ferdinan.


Danu menjauh dan duduk kembali di dekat Nyonya Natalie.


"Kau tenang saja! Mami yakin Mia bisa menyelesaikan semuanya," ucap Nyonya Natalie menepuk tangan Danu yang sudah dingin.


"Mami menyukainya?" tanya Danu.


"Tak ada alasan untuk membencinya. Dia cantik, baik dan cerdas." Nyonya Natalie mengungkapkan kekagumannya.


"Meskipun kampungan?" tanya Danu.


"Kita punya klinik kecantikan sendiri. Bukan perkara sulit mengubah penampilan Mia. Kau berhasil menemukan berlian," ucap Nyonya Natalie.


Danu tersenyum puas mendengar jawaban Nyonya Natalie.


"Terima kasih," ucap Danu.


Danu kembali menatap Mia. Cantik, wanita yang baru ia temui sehari itu nampak sangat cantik. Tapi sayang sekali, ah sudahlah! Danu tak ingin memikirkan semua itu sekarang. Yang penting Nyonya Natalie sudah menyukai Mia, tinggal keputusan Tuan Ferdinan saja.


Mia semoga kamu bisa membantuku! Berusalah Mia, aku yakin kamu pasti bisa.


################


Jangan lupa like dan votenya kakak...

__ADS_1


Terima kasih...


__ADS_2