Janda Bersegel

Janda Bersegel
Samsudin


__ADS_3

"Dokter, kapan Mia dan cucu kembarku bisa pulang? Aku sudah tidak sabar ingin membawanya ke rumahku," ucap Tuan Wira sembari menepuk-nepuk pelan bayi tampan dalam gendongannya.


Semakin cepat semakin bagus Tuan. Kalau bisa bawa detik ini juga. Biar aku terbebas dari penderitaan ini.


"Nanti malam akan ada pemeriksaan lanjutan. Kalau hasilnya sudah bagus, Nyonya Mia bisa pulang besok pagi. Saya lihat Nyonya Mia juga sudah lebih baik," ucap Dokter.


"Ah baguslah," ucap Tuan Wira.


Sepertinya Tuan Wira jauh lebih menampakkan ekspresinya dibanding dengan Dion. Dokter itu hanya tersenyum dan mengangguk, lalu ia pamit untuk kembali ke ruangannya.


"Pa, udah ditidurkan bayinya di sini!" ucap Nyonya Helen pada Tuan Wira.


Sebuah ranjang bayi ditunjuk oleh Nyonya Helen, agar Tuan Wira menurunkan bayi tampan itu. Namun Tuan Wira malah menggeleng. Ia masih menikmati masa-masa yang sudah lama ia nantikan itu.


"Biarin lah Ma. Kan gak berat. Encok Papa gak bakal kumat. Tenang aja," ucap Tuan Wira.


"Papa percaya diri sekali ya! Siapa yang peduli sama encok Papa. Mama cuma peduli sama cucu Mama yang ganteng. Kasihan dia tidurnya gak nyaman kalau begitu," ucap Nyonya Helen.


"Oh mentang-mentang udah punya cucu, Mama gak peduli lagi sama Papa?" tanya Tuan Wira.


Ingat tanggal, Nyonya Helen berfikir. Ini sudah akhir bulan. Jangan sampai transferan uang bulanan telat masuk. Meskipun nominal di tabungan Nyonya Helen sudah sangat banyak, namun ia tetap tidak rela jika uang bulanannya sampai telat masuk. Kini Nyonya Helen mencari cara agar bayi tampan itu tidur di ranjangnya tanpa menyinggung perasaan Tuan Wira.


"Eh, maksud Mama bukan begitu Pa. Mama cuma gak ingin bayi ganteng itu jadi kebiasaan. Mending kalau Papa lagi libur dan ada di rumah. Kalau Papa lagi kerja? Apalagi kalau Paa di luar kota? Masa Papa gak kasihan sama cucunya sendiri. Bisa-bisa mereka nangis seharian gara-gara gak ada Papa. Papa tega?" tanya Nyonya Helen.


Tuan Wira menatap bayi tampan yang ada digendongannya. Berat rasanya melepaskan gendongannya. Namun benar apa yanh dikatakan Nyonya Helen. Ia tidak mau cucunya jadi rewel hanya karena sudah nyaman dengan pelukannya.


"Ya sudah Mama geser, Papa mau nidurin cucu Papa nih," ucap Tuan Wira.


Ah akhirnya, Papa kalah juga. Begitu dong dari tadi.


"Ingat ya, itu cucu Mama juga!" bisik Nyonya Helen.


"Kalian jangan lupa kalau itu adalah anak aku," ucap Dion.


"Tapi Mama dan Aa juga jadi saksi kan kalau Mia yang melahirkan anak kembarnya," ucap Mia.


Mereka saling tatap secara bergantian lalu tertawa bersama. Tak terkecuali dua perawat yang bertugas menjaga bayi kembar. Seperti biasa, rebutan bayi kembar selalu saja terjadi. Tawa Tuan Wira menggelegar dan paling keras. Kembali membuat bayi kembar yang sudah tidur bangun kembali dengan tangisan yang tak kalah kerasnya.


Tawa itu kini berubah menjadi kepanikan. Mereka sibuk mencari cara agar bayi kembar itu tidur kembali.


"Semua gara-gara Papa," ucap Nyonya Helen.


"Loh kok Papa? Kan kali ini nangisnya karena kita semua yang ketawa. Berisiknya kan sama-sama. Kok cuma Papa yang disalahin?" tanya Tuan Wira.


"Karena ketawa paling keras. Bikin bayi kembarnya kaget," jawab Nyonya Helen sembari menepuk-nepuk bayi cantik yang ada dalam gendongannya.


"Ketawanya Dion juga keras Ma. Tuh salahin Dion," ucap Tuan Wira.


"Tapi kan kalau dibanding Papa, tetap aja ketawa Papa lebih keras dibanding aku." Dion ikut membela diri.


"Sudah, sudah. Kalau kalian semakin ribut, bayi kembarnya gak berhenti nangis. Gimana sih," ucap Nyonya Helen kesal.


"Kan Mama yang mulai," ucap Tuan Wira.


"Kok Papa jadi nyalahin Mama?" tanya Nyonya Helen.


"Kan memang Mama yang mulai," ucap Tuan Wira.


Lagi dan lagi, jika sudah seperti ini maka yang terjadi hanyalah saling menyalahkan versi keluarga Tuan Wira. Membuat dua perawat yang ada di sana hanya bisa menggelengkan kepala mereka.


Waktu terus berlalu. Terasa sangat singkat bagi keluarga Tuan Wira yang tengah bahagia dengan kehadiran anggota keluarga baru. Namun terasa sangat lama bagi kedua perawat yang menemani bayi kembar yang baru lahir itu, karena mereka beberapa kali harus menjadi saksi perdebatan receh di keluarga itu. Termasuk saat mereka mencari nama untuk bayi kembar mereka.


"Kamu sudah punya nama buat bayi kembar ini?" tanya Tuan Wira pada Dion.


Mia menajamkan pendengarannya. Mencari jawaban atas pertanyaan yang sama, namun belum sempat ia tanyakan pada suaminya. Meskipun matanya terpejam, tapi sebenarnya Mia belum tidur. Ia hanya ingin cari aman agar tidak terlibat dalam perdebatan selanjutnya.


"Ada sih. Tapi belum aku bahas juga sama Mia. Mia masih sakit. Biarkan dia sehat dulu," ucap Dion.


"Iya tapi masa dari sebelumnya belum ada obrolan sih?" tanya Nyonya Helen.


"Udah, tapi waktu itu aku sama Mia nyiapin nama itu perempuan dua-duanya atau laki-laki dua-duanya. Makanya pas lahir laki-laki dan perempuan, kita belum ngobrol lagi. Mungkin nanti kalau Mia udah pulang ke rumah. Ngobrol di rumah kan lebih santai," jawab Dion.


"Kamu kan USG. Masa kamu gak tahu kalau anak kamu laki-laki dan perempuan sih?" tanya Nyonya Helen.


"Aku sama Mia sengaja gak nanya dan memang gak mau bahas tentang jenis kelamin. Jadi mau kejutan aja gitu," jawab Dion.


Ya, mungkin bisa dikatakan kalau rencana Tuhan memang jauh lebih sempurna bagi kehidupan Mia dan Dion. Mereka sudah sangat bahagia ketika mendapat anak kembar. Tidak pernah menyangka jika anak kembar itu sepasang. Mia dan Dion memiliki anak laki-laki dan perempuan sekaligus. Hal yang tidak difikirkan sebelumnya oleh keduanya. Saat itu mereka hanya fokus jika kedua bayi mereka laki-laki ataupun perempuan.


"Jadi belum ada namanya nih?" tanya Tuan Wira.


"Ada Pa, tapi mungkin gak segampang kalau keduanya laki-laki atau perempuan. Ya pokoknya nanti lah aku bahas lagi sama Mia," jawab Dion.


"Iya sih kalau sepasang begini agak susah. Beda kalau keduanya laki-laki. Itu lebih gampang. Papa juga sekarang bisa langsung ngasih nama kalau keduanya laki-laki," jawab Tuan Wira.


"Oh ya? Siapa coba?" tanya Dion.


"Gampang Di. Kakaknya Samsul, adeknya Udin. Jadi kalau digabung namanya bisa jadi Samsudin. Kayak Dosen Papa tuh dulu, pinter banget. Bayangkan orang Indonesia bisa jadi dosen di Jerman," jawab Tuan Wira.


Dion membelalakkan matanya dan cemberut mendengar jawaban Tuan Wira.


"Papaaaaa," teriak Nyonya Helen.


"Kenapa sih Ma? Jangan teriak-teriak. Nanti bayi kembar bangun," ucap Tuan Wira.


"Bangun, bangun. Papa tuh nyebelin. Seenaknya bikin nama buat cucu," ucap Nyonya Helen.


"Loh memangnya kenapa?" tanya Tuan Wira.

__ADS_1


"Kenapa, kenapa, Papa nyebelin." Nyonya Helen menggerutu.


"Ma, Pak Samsudin itu keren. Dia orang hebat. Pintar dan sangat berprestasi," ucap Tuan Wira.


"Iya Pak Samsudin memang keren. Tapi kalau namanya dipake buat cucu kita gak keren Papa," ucap Nyonya Helen.


"Tahu nih Papah. Nama itu memang keren pada zamannya. Dan sekarang udah beda zaman," timpal Dion.


"Hah, serba salah Papa. Kayaknya gak ada yang pro sama Papa. Semua yang Papa lakuin selalu aja salah di mata kalian," ucap Tuan Wira.


"Itu karena apa yang Papa lakuin selalu bikin kontra. Jadi gak ada yang bikin pro," ucap Nyonya Helen.


Entah sudah debat yang ke berapa kali dalam keluarga Tuan Wira, kedua perawat itu sudah tidak bisa menghitungnya. Malam ini berbeda dengan malam kemarin yang hanya berisik dengan tangis bayi. Kini yang berisik itu justru bukan bersumber dari bayi kembarnya, melainkan dari Tuan Wira, Nyonya Helen dan Dion.


Mia yang hanya pura-pura tidur sampai akhirnya ketiduran, hanya bangun sesekali ketika jadwal menyusu bayi kembarnya sudah tiba.


"Mi, badan kamu kok anget?" tanya Dion.


"Ya kalau dingin kan mayat," jawab Tuan Wira.


"Pa, bisa gak sih kalau gak ikut campur?" tanya Dion.


"Ya, kan bantu jawab. Marah-marah terus, nanti cepat tua loh," jawab Tuan Wira.


Dion menghela nafas dan mencoba untuk tidak merespon Tuan Wira. Ia kembali fokus pada Mia.


"Sayang, apa kamu sakit?" tanya Dion.


Dion meraba dahi Mia dengan punggung tangannya. Lalu ia memegang kedua pipinya.


"Awas, jangan sampai ke bawah. Udah sampai situ aja. Jangan macam-macam," ucap Tuan Wira.


"Astaga Papaaaaa," ucap Dion geram.


"Ya ampun Dion, kamu udah punya anak malah semakin sering marah. Sebentar lagi juga ubanan nih kayak Papa," ucap Tuan Wira.


Nyonya Helen yang merasa tidak enak dengan sikap Tuan Wira yang mengganggu Dion, akhirnya berusaha mengalihkan perhatian Tuan Wira.


"Eh iya kok uban Papa makin banyak?" tanya Nyonya Helen sembari menyibak kepala suaminya.


"Iya, Papa belum sempat ke salon. Nanti di cat ya Ma. Biar gak putih begini," ucap Tuan Wira.


"Iya. Cat Pa. Pakai warna pink bagus. Biar kayak arumanis," ucap Dion.


Nyonya Helen menggelengkan kepalanya mendengar komentar Dion. Rasanya usahanya untuk mengalihkan perhatian Tuan Wira itu sia-sia. Kini justru Dion yang memulai.


"A," ucap Mia.


Mia yang mengerti respon Nyonya Helen, segera mengalihkan perhatian Dion.


"Hmmm," jawab Dion.


"Boleh, ini?" tanya Dion.


Dion mengangkat potongan buah pepaya pada Mia. Mia mengangguk dan mulai menyuapinya. Tuan Wira dan Nyonya Helen melihat anak dan menantunya dengan perasaan bahagia.


Kriiing,, Kriiing,, Kriiing


"Siapa?" tanya Mia.


"Nomor baru," jawab Dion.


"Selingkuhan Aa ya?" tanya Mia.


"Dih, kok selingkuhan? Mana ada aku selingkuh," jawab Dion.


"Terus siapa?" tanya Mia.


"Gak tahu. Kan nomor baru," jawab Dion.


"Angkat dong. Loudspeaker. Mia mau dengar," pinta Mia.


"Hallo," ucap Dion saat panggilannya sudah ia jawab.


Mia dan Dion mengerutkan dahinya saat menerima panggilan dari seorang pria yang mengaku tim dalam proyek barunya.


"Maaf gimana?" tanya Dion.


Dion tidak begitu yakin mendengar pengakuan dari penelepon itu. Ia sama sekali tidak mengerti dengan maksudnya. Proyek? Proyek mana? Bahkan setelah kegagalan meetingnya saat itu, Dion bahkan belum pernah meeting lagi dengan siapapun.


Kembali menjelaskan tentang hal yang sama dan semakin membuat Dion tidak mengerti.


"Maaf tapi saya tidak mengerti," ucap Dion.


"Oh, jadi asisten Anda belum melaporkan hasil meetingnya?" tanya pria dari balik sambungan telepon.


"Asisten?" tanya Dion.


"Iya. Tuan Reza. Beliau belum mengabari Anda?" tanya pria itu kembali.


Dion menatap Mia mencari jawaban. Mia mengangguk. Dion mengerti maksud istrinya.


"Oh iya, maaf. Saya sedang ada urusan jadi belum sempat menghubungi asisten saya untuk menanyakan proyek ini. Saya akan hubungi dia segera," ucap Dion.


"Baik, saya tunggu kabar selanjutnya Tuan." Kalimat terakhir yang didengar oleh Dion sebelum panggilan itu benar-benar berakhir.


"Mi," ucap Dion saat panggilan telepon itu berakhir.

__ADS_1


"Akhirnya A. Kok Reza gak ngabari ya?" tanya Mia.


"Gak tahu Mi. Aku cari Reza dulu ya!" ucap Dion.


"Iya A," jawab Mia.


Belum sempat Dion keluar kamar, pintu kamar Mia sudah terbuka duluan.


"Di, mau kemana?" tanya Reza.


"Eh, kamu Za. Aku baru aja mau ke ruangan Maya," jawab Dion.


"Gak usah. Kamu tungguin Mia aja. Maya juga udah tidur," jawab Reza.


"Tapi dia udah semakin baik kan?" tanya Dion.


"Baik. Dokter bilang katanya kalau pemeriksaan besok pagi bagus, Maya boleh pulang." Reza tersenyum bahagia.


"Wah, Mia ikut senang. Semoga bisa cepat pulang ya! Mia juga kalau besok hasilnya bagus udah bisa pulang," ucap Mia.


"Wah, selamat ya Mi. Maaf aku baru sempat ke sini lagi," ucap Reza.


"Gak apa-apa. Mia juga minta maaf belum sempat jenguk Maya lagi," ucap Mia.


"Iya Mi," ucap Reza.


"Oh ya Za, aku mau bicara sebentar. Duduk!" ucap Dion.


"Jangankan sebentar, bicara lama juga aku mau kok Di. Tenang aja," ucap Reza sambil duduk.


"Awas hati-hati nanti nyaman," timpal Tuan Wira.


"Sudah terlanjur nih," ucap Reza.


"Aduh bahaya," ucap Tuan Wira sambil tertawa.


"Pelankan suaranya," ucap Nyonya Helen sambil mencubit Tuan Wira.


"Aw, sakit Ma." Tuan Wira mengusap-usap tangannya yang kena cubit.


"Jangan cuma dicubit Ma. Sekalian bungkam aja mulut Papa biar gak ikut-ikutan nih," ucap Dion.


"Mamak sama anak sama aja. Selalu aja Papa yang disalahin," ucap Tuan Wira.


Reza menatap keluarga Tuan Wira yang sedang berdebat. Ada rasa iri dalam hatinya saat melihat Dion berkumpul dengan keluarganya. Ingin ia kembali ke keluarganya dan menjadi Reza yang dulu. Namun seketika bayangan Maya menyeruak dalam fikirannya.


Tidak! Aku sudah menjadi seorang suami. Tanggung jawabku sekarang bukan hanya tentang kebahagiaanku sendiri. Tapi ada orang yang sudah aku pilih dalam hidupku. Maya tidak boleh menjadi korban untuk keegoisanku.


"Hey, Za. Kamu kenapa?" tanya Dion.


Dion yang menyadari kalau Reza sedang melamun, mengibaskan tangannya di depan Reza.


"Eh, gimna Di?" tanya Reza terkejut.


Dion menatap Reza. Ya, kini Dion menyadari kesalahannya. Mungkin ekspresi bahagianya terlalu berlebihan di hadapan Reza. Reza yang tengah bermasalah dengan keluarganya tentu akan merasa semakin rindu dengan kehidupannya dulu. Dengan cepat Dion mengalihkan perhatian Reza.


"Jujur sama aku Za, apa yang kamu lakuin?" tanya Dion.


"Aku lakuin apa emang?" tanya Reza.


"Apa kamu mengaku asistenku saat meeting?" tanya Dion.


"Iya. Aku udah izin kok sama kamu. Tapi kamu gak balas. Karena aku fikir ini mendesak, jadi aku melanjutkan rencanaku tanpa mengabarimu. Apa kamu marah karena aku meminjam bajumu?" tanya Reza.


"Apa? Kamu bahkan meminjamkan bajuku?" tanya Dion.


"Aku juga udah izin," ucap Reza.


Dion segera mengecek ponselnya. Mencari Dion dalam beberapa daftar pesan yang belum sempat ia baca. Benar, Reza izin untuk menjadi asistennya dan menghadiri meeting itu. Karena tidak ada pakaian yang pas, sebelum meeting Reza pergi ke rumah Dion untuk meminjam pakaian Dion.


"Jadi pas kemarin aku ke rumah sakit kamu ke rumah aku?" tanya Dion.


"Iya. Kamu yang bilang kalau ini salah satu impianmu. Aku juga bisa tahu bagaimana kamu bangga dan bahagia saat mendapat kesempatan ini. Tapi karena ada jalan bahagia yang lain, semuanya akan terabaikan. Karena aku yakin, Mia jauh lebih berarti buat kamu. Meskipun aku gak yakin kalau proyek ini jatuh ke tangan kamu, setidaknya aku berusaha untuk mewujudkan salah satu mimpi kamu. Dan ternyata Tuhan memberikan keajaiban padaku," ucap Reza.


Dion tidak menjawab. Ia hanya menatap Reza penuh haru, lalu memeluknya dengan erat


"Za, terima kasih banyak ya! Aku gak tahu apa yang harus aku ucapkan selain terima kasih. Ini benar-benar kejutan. Aku gak nyangka bisa melanjutkan proyek ini. Bahkan aku sudah mengubur dalam-dalam harapanku. Tapi justru tanpa sepengetahuanku, kamu berhasil mewujudkan semuanya. Makasih Za," ucap Dion.


"Kalau bahas jasa, aku justru yang gak bisa balas semua kebaikan kamu. Saat aku sendiri, kau justru datang dan membantuku menata masa depan. Terima kasih juga buat Mia, karena berkat Mia sekarang Maya jadi lebih semangat. Oh iya maaf Maya juga belum bisa melihat bayi kembar kalian," ucap Reza.


"Terima kasih ya Za. Gak apa-apa. Mia juga minta maaf karena gak sempat menjenguk Maya lagi. Semoga besok aku dan Maya bisa pulang ya!" ucap Mia.


Pulang? Kembali kepalanya sakit. Dadanya sesak saat mendengar kata pulang.


Maya aku bawa pulang kemana ya? Mana mungkin aku bawa ke rumah. Sepertinya malam ini aku harus cari rumah kontrakan. Biar besok Maya bisa istirahat di rumah kontrakan. Mia, terima kasih sudah mengingatkan. Eh tapi rumah kontrakan? Bayar dari mana uangnya ya? Jangan patah semangat Za. Kamu pasti bisa. Dion pasti akan bantu kamu kok.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.

__ADS_1


Terima kasih..


__ADS_2