
Tangis Mia pecah saat melihat ibunya terbaring di rumah sakit. Wajahnya yang sudah mulai tidak kencang terlihat sangat pucat.
"Bu, maafin Mia ya bu. Mia sayang ibu. Cepat sembuh," ucap Mia.
Bu Ningsih sama sekali tidak merespon ucapannya. Hati Mia sangat sakit. Tidak seharusnya Mia ada di Jakarta. Kalau saja ia bisa memutar waktu, ia tak akan pernah menghindar dari ocehan tetangga yang selalu memojokkannya dan melupakan semua mimpinya untuk bekerja di kota.
Selama ini, Bu Ningsih selalu berbohong mengatakan kalau dirinya baik-baik saja. Bahkan seminggu terakhir, Bu Ningsih selalu saja tidak mau video call. Banyak alasan, ketika siang ia selalu berkata kalau ia sibuk di sawah. Malam ia sudah ngantuk. Semua hal Bu Ningsih lakukan karena ingin Mia bahagai. Bu Ningsih ingin Mia hidup bahagia seperti cita-citanya.
Mia terlihat sangat lesu dan terus berada di samping ibunya. Keadaan ibunya semakin memburuk. Mia tak bisa menahan tangisnya setiap kali dokter datang untuk memeriksa ibunya.
Malam sudah semakin larut, namun Mia mendengar langkah kaki semakin dekat menuju ruangan ibunya. Mia membuka matanya. Kepalanya menerka, mungkin dokter lagi? Karena setiap waktu, dokter mengontrolnya semakin sering. Karena melihat kondisi ibunya yang semakin memburuk.
"Tuan?" sapa Mia yang tidak percaya dengan siapa yang ada di hadapannya.
"Mia kenapa kau tidak meneleponku?" tanya Danu dengan cemas.
Mia segera berlari dan memeluk Danu. Tangisnya pecah saat berada dalam dekapan Danu. Mia menumpahkan segala rasa keceea dan sakitnya pada Danu. Tanpa mengungkapkan apapun, Mia terus menangis hingga rasa dalam hatinya mereda.
Danu mengerti bagaimana perasaan Mia, ia membiarkan Mia meminjam dadanya yang bidang untuk menenangkan dirinya, hingga akhirnya Mia melepaskan pelukannya. Danu masih bungkam, ia tak ingin kehadirannya menjadi masalah baru untuk Mia.
"Maafkan saya, Tuan." Mia menjauh dari Danu dan kembali mendekat kepada ibunya.
"Aku yang minta maaf karena aku tidak menyadari semua ini lebih awal," ucap Danu menyesal.
Ya, penyesalan itu selalu datang terlambat. Danu memang sempat kesal saat pagi-pagi ia mendapati ruangan Mia kosong. Wanita yang selalu datang lebih pagi dari dirinya, hari itu tidak ada. Sakit? Itu yang pertama ada di kepalanya. Namun ketika ia mendapati surat pengunduran diri dari Mia, rasanya sangat kecewa.
Berpikir kalau Mia pergi karena tidak mau menikah dengannya adalah alasan yang tepat atas kekecewaannya. Alasan itu dipertegas karena Mia tidak menghubunginya sama sekali. Akhirnya Danu frustasi dan terlihat sangat murung. Melihat anaknya seperti itu, Tuan Ferdinan menghubungi anak buahnya untuk mencari Mia. Sekitar sore hari, anak buah Tuan Ferdinan baru menemukan Mia dan memberitahu semus informasi tentang keadaan Mia di sana. Dengan cepat, Tuan Ferdinan memberi tahu Danu.
Danu bahkan tidak percaya kalau ayahnya akan melakukan semua itu Danu pikir, ayahnya adalah orang yang akan sangat bahagia saat mendapat surat pengunduran diri dari Mia. Karena selain Mia tidak akan membuat keributan lagi dengannya, Mia juga tidak akan menjadi menantunya. Bukankah Tuan Ferdinan tidak mau memiliki menantu janda?
Semua pikiran buruk tentang ayahnya enyah ketika sore itu. Danu diperintah untuk segera membawa Mia dan ibunya ke Jakarta. Tuan Ferdinan ternyata sudah berubah. Hanya dengan sebuah kado berisi buku tulis dan sebuah pulen, hatinya yang meras tiba-tiba saja melunak. Kata-kata Mia cukup membuat Tuan Ferdinan berhenti berpikir tentang status Mia.
Bagi Tuan Ferdinan, Mia adalah orang yang tepat bagi Danu. Bukan wanita matre yang hanya menginginkan harta Danu. Tapi Mia peduli dengan dirinya. Padahal selama ini, hubungannya dengan Mia terkesan buruk.
Sebenarnya Tuan Ferdinan sempat dilema karena tidak bisa ikut menemani Danu untuk menemui Mia. Tuan Ferdinan ada urusan yang tidak bisa diwakilkan untuk dua hari ke depan.
Danu juga menyampaikan permintaan maaf dari ayahnya dan harapannya agar Mia mau membawa ibunye ke Jakarta.
"Bukannya Mia tidak mau Tuan. Tapi Mia tidak mau merepotkan. Sudah cukup kebaikan Tuan pada Mia selama ini," ucap Mia.
__ADS_1
"Kau sama sekali tidak merepotkan Mia. Ayolah! Papi menyayangimu dan peduli dengan keadaanmu. Besok aku siapkan semuanya ya!" ucap Danu memaksa.
Mia diam. Ya, memang itu lebih baik. Mungkin penanganan di Jakarta akan lebih baik, karena alat medisnya lebih lengkap dibanding di sana.
Selama Mia ke Bandung, ibunya sudah tidak meresponnya sama sekali. Tapi saat ini, Bu Ningsih nampak menggerakkan tangannya. Danu yang melihat gerakan Bu Ningsih, segera memberi tahu Mia.
Mia segera menoleh pada ibunya untuk memastikan kalau apa yang ia harapkan itu memang sebuah kenyataan. Dan ternyata benar. Danu tidak berbohong. Mia bahagia sekali melihat perubahan itu. Dengan mendengar suara Danu, tangan ibunya bergerak. Mungkinkah ada yang ingin disampaikan?
Mia mendekat pada Bu Ningsih. Dan mencium pipi ibunya. Mia membisikka tentang rasa cinta, rindu dan penyesalannya karena sudah pergi ke Jakarta. Meskipun mata Bu Ningsih tidak terbuka, tapi Mia yakin kalau Bu Ningsih akan mendengar semua yang sudah diucapkannya.
Danu begitu terharu saat mendengar semua ucapan Mia. Betapa besar rasa cintanya pada Bu Ningsih. Wanita yang selama ini ia kenal begitu polos dan menyebalkan ternyata sedang berjuang melawan rindu pada ibunya.
Danu mendekati Mia dan duduk di samping Bu Ningsih. Danu meraih tangan Bu Ningsih dan mencium punggung tangannya.
"Bu, kenalkan saya Danu. Maafkan saya karena saya telat untuk menemui ibu. Ibu bertahan ya! Besok pagi kita ke Jakarta. Aku mau ibu sehat lagi," ucap Danu.
Direspon, Bu Ningsih nampak menggenggam tangan Dany lebih erat. Danu mencoba untuk membangunkan Bu Ningsih dengan mengguncang pelan bahunya.
"Bu, bukalah matamu. Aku ada di sini," ucap Danu.
Matanya memang tidak terbuka. Tapi sebuah senyuman kecil terlintas di bibir Bu Ningsih. Nampak Bu Ningsih menggerakkan bibirnya. Danu segera mendekatkan telinganya pada bibir Bu Ningsih. Tidak jelas sama sekali apa yang diucapkan oleh Bu Ningsih. Danu yang menyerah, kini meminta Mia untuk mendengar apa yang diucapkan oleh Bu Ningsih.
"Ibu mau bilang apa? Ibu bangun, Mia rindu sama ibu." Mia menangis karena menyerah. Tak terdengar apapun dari mulut ibunya.
Di saat yang bersamaan, tangan Bu Ningsih bergerak lagi, Danu melepaskan pelukannya dan kembali fokus pada Bu Ningsih. Masih tetap sama, tak ada respon apapu selain menggerakkan tangannya.
Danu memanggil dokter saat melihat kondisi Bu Ningsih memburuk. Napasnya nampak tersenggal dan cepat. Mia nampak sangat panik. Beruntunglah ada Danu yang setia menemaninya dan menenangkannya, walaupun Danu sendiri tengah menyembunyikan perasaan paniknya.
Seorang dokter yang diikuti dua orang perawat datang dengan langkah cepat. Beberapa alat dan obat sudah disiapkan. Dokter memberikan tindakan dan menyuntikkan beberapa obat pada selang infus. Sesekali dokter mengguncang bahu pasien dan melihat ke arah layar yang menampilkan detak jantungnya.
Mia semakin berdebar saat melihat dokter dan dua perawat itu sibuk di sekitar ibunya. Tubuh Mia semakin lemas hingga Danu memapahnya untuk duduk. Setelah Mia menangis dalam duduknya, Danu justru berdiri dan mendekat ke arah dokter.
"Bagaimana Dok?" tanya Danu.
"Kami masih berusaha Pak. Berdoa saja ya!" ucap dokter itu. Keringat dokter itu nampak bercucuran.
Danu melihat Bu Ningsih terus menggerakkan bibirnya. Masih sangat penasaran dengan apa yang diucapkan oleh Bu Ningsih. Danu meminta izin untuk mendekat ke arah kepala Bu Ningsih.
Dnau mulai mendekatkan lagi telinganya ke arah bibir Bu Ningsih. Terdengar samar. Setelah Danu memfokuskan pendengarannya, Danu mendengar nama Mia di ucapkan oleh Bu Ningsih.
__ADS_1
"Mia ada Bu, Ibu cepat sembuh ya!" ucap Danu.
Tangan Bu Ningsih terasa menggenggam erat tangannya dan bibirnya bergerak kembali. Danu kembali mendengar apa yang akan diucapkan oleh Bu Ningsih.
"Titip Mia," ucap Bu Ningsih cukup jelas. Bahkan dokter dan kedua perawat itu saling menatap lemudian menatap pasien dan segera memberi tindakan kembali.
Dokter segera meminta Danu untuk mejauh dulu. Danu segera mendekati Mia dan memapahnya untuk melihat setiap tindakan yang diberikan oleh dokter.
"Tadi ibu memanggil namamu," ucap Danu.
"Benarkah?" tanya Mia dengan sangat bahagia.
Namun kebahagiaannya berhenti saat suara 'tiiiiiiiiiiiit' terdengar nyaring di ruangan itu.
Danu segera memeluk Mia dengan sangat erat. "Ada aku di sini Mia," ucap Danu.
Mia menangis sekeras-kerasnya dan segera memeluk ibunya yang sudah meninggalkannya untuk selamanya. Dokter mengucapkan bela sungkawa, sedangkan kedua perawat membuka alat-alat yang terpasang di tubuh Bu Ningsih.
Mia nyaris pingsan, namun Danu selalu menenangkannya. "Mia, ingat. Ibu tidak bisa melihatmu lemah begini. Kuatlah demi ibu!" ucap danu berulang kali.
Danu mengurus semua administrasi dan menyiapkan ambulance untuk membawa jenazah ibunya.
"Mia, ayo kita bawa ibu pulang." Danu memapah Mia untuk masuk ke dalam ambulance. Danu berusaha menenangkan Mia sebisanya. Meskipun tangis Mia belum juga mereda.
Danu meminta sopir yang mengantarnya menghubungi Tuan Ferdinan dan mengabarkan semua ini. Danu tidak mau memainkan ponselnya karena takut menyinggung Mia. Danu hanya berada di dekat Mia sambil terus menenangkannya.
Proses penguburan terlihat sangat cepat. Kerja sama mereka sangat jelas terlihat. Mungkin karena daerahnya masih perkampungan, hingga kekeluargaannya masih sangat kental. Danu melihat beberapa orang yang memang sangat tulus dan ada juga beberapa orang yang mencibir keberadaannya di sana.
Danu hampir lupa kalau ini bukan Jakarta. Mereka pasti asing dengan sosoknya. Setelah proses pemakaman itu selesai, ia mendekat dan memperkenalkan diri ke RT setempat. Dengan ramah Pak RT menerima kedatangan Dani di sana.
"Mia memang anak yang memprihatinkan Pak. Dia pasti sangat kecewa karena sudah kehilangan ibunya yang sangat ia cintai," ucap Pak RT.
Danu melihat ke arah Mia yang masih menangis di sebuah kursi. Benar. Dia sendiri. Bahkan setelah pemakaman usai, hanya dua orang wanita yang menemani Mia. Bu RT dan Bu Dian.
"Kasihan sekali kamu, Mia." gumam Danu.
###############
Yuks ahh like, love, vote dan rate5 nya...
__ADS_1
Makasih juga buat yang udah ngsih koin. kalian best!
Happy reading...