
Pagi ini Danu tidak bersiap untuk ke kantor. Ia berniat untuk menemani Mia hari ini. Padahal Mia sudah membaik, tapi Danu enggan meninggalkan istrinya sendirian. Hari ini Tuan Ferdinan akan ke kantor seperti biasanya, dan Nyonya Nathalie akan pergi mengontrol usaha salonnya.
"Aku tidak apa-apa dan bisa sendiri mas," ucap Mia.
"Aku yang apa-apa. Aku tidak mau kamu sendirian saat sakit," ucap Danu.
"Mas," panggil Mia.
"Hmm," jawab Danu.
"Boleh aku bahas tentang mas?" tanya Mia pelan.
Danu yang sedang menyisir rambutnya berbalik badan dan melihat istrinya sedang menatapnya. Danu mengerti arah pembicaraan Mia. Sebenarnya hal yang paling ia benci adalah membahas tentang kekurangannya itu. Tapi Mia berhak tahu tentang semua penyakitnya itu.
"Apa?" tanya Danu.
"Apakah orang tua mas tidak tahu tentang semua ini?" tanya Mia.
Danu paham, Mia pasti tidak mau disalahkan saat pernikahan mereka tidak sesuai dengan harapan orang tuanya. Tentu akan ada yang disalahkan, dan Mia adalah orangnya. Danu sangat mengerti ketakutan Mia, namun ia harus jujur kalau ternyata dirinya belum siap jika ada orang yang tahu tentang penyakitnya. Bahkan termasuk orang tuanya sendiri. Mungkin bukan hanya belum siap, tapi Danu juga tidak siap. Cukup Mia orang terakhir yang tahu penyakitnya itu.
Semakin banyak orang yang tahu tentang penyakitnya, maka Danu akan menjadi semakin tak percaya diri. Itulah alasan Danu bertahan merahasiakan semua itu. Belum lagi ia tak sanggup melihat kekecewaan orang tuanya saat mengetahui semua kenyataan ini. Karena Danu adalah anak satu-satunya. Hanya Danu yang bisa diharapkan oleh orang tuanya untuk bisa mendapat keturunan.
Mia memang kadang sangat norak, tapi Mia tidak bodoh. Mia sangat mengerti maksud suaminya. Tapi Mia sendiri tidak tahu cara menenangkan suaminya selain memeluknya.
"Sayang, Mia minta maaf ya kalau Mia membuat mas sedih pagi ini. Mia janji gak akan bahas soal ini lagi," ucap Mia.
Sayang? Mia memanggilnya sayang? Perasaan Danu berbunga saat bibir Mia yang selalu membuatnya rindu itu mengucapkan kata sayang. Rasa cintanya yang kian membara memang selalu membuat Danu menuntut Mia untuk selalu romantis. Namun semua itu terkendala dengan sikap Mia yang kadang terlalu polos.
Adakalanya sesekali Mia bersikap manis di waktu yang tepat. Mia telah berhasil menghapus bebannya pagi ini. Danu semakin yakin kalau Mia adalah wanita yang harus ia pertahankan apapun yang terjadi.
"Tak perlu minta maaf. Kamu tidak salah. Kamu berhak bertanya apapun tentang aku," ucap Danu memeluk istrinya.
"Mas, kapan jadwal konsul ke dokter?" tanya Mia.
Konsul? Danu memang tak pernah terpikir untuk konsul lagi. Ia seakan sudah pasrah dengan takdirnya. Namun melihat Mia, ia menjadi sedikit berubah. Paling tidak Mia harus tahu kalau ia berusaha untuk sembuh agar bisa memuaskan Mia.
"Mas," panggil Mia saat melihat Danu melamun.
"Iya," jawab Danu.
"Jadi gimana?" tanya Mia.
Danu menggeleng dan tidak tahu harus menjawab apa. Mia memberi ide, karena pagi ini Danu tidak masuk kerja dan orang tua Danu tidak akan di rumah maka ini kesempatan untuk pergi ke dokter. Kalaupun ada yang curiga, Danu bisa jawab membawa Mia berobat. Meskipun akan ada drama karena tidak berobat ke dokter pribadinya.
"Mau ya mas?" bujuk Mia.
Danu melihat semangat Mia. Ia sempat berpikir kalau Mia memang membutuhkan kepuasan itu hingga selalu memaksanya untuk berobat. Namun Mia tidak seperti yang dibayangkan oleh Danu. Mia hanya merasa kalau Danu berhak untuk sembuh. Penyakitnya membuat Danu tidak percaya diri, dan itu tidak baik untuk calon pemimpin perusahaan.
Ya, karena memang Danu adalah anak satu-satunya, bukan hanya harapan mereka tentang cucu, tapi Danu juga adalah harapan orang tuanya yang akan meneruskan perjuangan orang tuanya. Sifat kurang percaya diri itu akan berpengaruh besar pada perusahaannya nanti. Mia bahkan sama sekali tidak memikirkan kepuasannya sendiri.
"Kalau hasilnya?" tanya Danu yang tak sanggup mengatakan kata gagal.
"Bukan tentang hasil, ini hanya tentang usaha. Mas mau ya?" bujuk Mia.
Danu segera meraih ponselnya untuk menghubungi dokter untuk mengatur jadwal pertemuannya. Siang ini jam sepuluh. Danu mengangguk dan menatap Mia. Anggukan dan senyuman dari Mia membuatnya semakin tenang.
Saat sudah jam sembilan, Mia bersiap.
"Mau kemana?" tanya Danu.
"Kan ke rumah sakit. Jangan bilang mas lupa?" ucap Mia.
Tidak! Danu tidak lupa sama sekali. Tapi entah mengapa, Danu tidak mau menemui dokter itu. Danu belum siap menerima segala kenyataan terburuknya. Namun Mia menenangkannya dan membuatnya lebih kuat menghadapi kenyataan hidup.
soal beban hidup, Mia merasa apa yang Danu alami tidak ada apa-apanya. Bagi Mia, setiap orang akan hidup dengan ujiannya masing-masing. Jika Mia bisa melewati ujian hidupnya selama dua puluh dua tahun ini, maka Mia yakin Danu juga bisa.
Akhirnya Danu mau berangkat untuk berobat. Jam sembilan lebih sepuluh menit mereka sudah berangkat. Jam sepuluh sembilan lebih lima puluh menit, mereka sudah sampai. Ini prestasi bagi Danu yang bisa sampai di rumah sakit sepuluh menit sebelum jadwal konsul. Biasanya Danu akan selalu telat. Bukan karena malas, tapi ia selalu mengulur waktu. Bahkan sering tidak jadi konsul dan membatalkannya begitu saja.
Saat itu, Danu ditemani Arumi dan Reki. Enam bulan terakhir ini Danu sempat menggunakan jasa psikiater karena merasa sangat tertekan. Akhirnya saat Arumi dan Reki kembali ke Kalimantan, Danu memutuskan untuk tidak melanjutkan pengobatannya. Rasanya bebam itu terasa sangat besar jika ia harus melakukannya sendirian.
Beruntung sekarang ada Mia bersama Danu. Rasa percaya diri itu mulai naik menyingkirkan sedikit beban dalam dirinya. Kata-kata Mia selalu berhasil membuat Danu lebih tenang.
__ADS_1
Saat pintu ruangan dibuka, Danu berusaha mengontrol detak jantungnya yang semakin tidak teratur. Mia selalu setia mendampingi Danu saat dokter melakukan berbagai pemeriksaan pada Danu.
"Kita coba dengan obat ini dulu ya! Jangan lupa sambil terapi juga. Sentuhan istri akan melatih saraf-saraf yang berhubungan dengan hormon seksual Anda," ucap Dokter.
"Jadi maksudnya harus rajin belajar dokter?" tanya Mia dengan wajah polosnya.
Danu menatap Mia dengan tajam. Mia yang menyadari adanya kesalahan pada ucapannya segera memperbaiki suasana.
"Dokter, Mia akan belajar untuk membantu mas Danu terapi agar cepat sembuh!" ucap Mia.
"Bagus, Nyonya. Memang itu yang harus Anda lakukan. Dukungan dan bantuan Anda akan sangat mempengaruhi kesembuhan Tuan Danu," ucap Dokter.
Setelah selesai, Danu dan Mia pamit. Dalam perjalanan, Mia meminta maaf saat Danu terlihat marah padanya. Danu mengingatkan Mia kembali untuk bersikap lebih dewasa dan jangan terlalu polos.
"Iya maaf mas. Kan Mia spontan. Mia gak bermaksud begitu kok," jawab Mia.
Danu menepi dan menghentikan mobilnya. Ya, hari ini Danu memang membawa mobil sendiri. Ia tidak ingin ada yang tahu kemana ia dan Mia pergi. Danu menatap Mia. Penampilannya sudah banyak berubah. Kini Mia selalu tampil cantik dan bisa menyesuaikan diri. Danu terus menatap Mia, ia memperhatikan istrinya. Setelah Mia mengubah banyak hal tentang Danu, maka giliran Danu mengubah Mia.
"Kamu bisa menyetir?" tanya Danu.
Mia menggeleng. "Kalau bawa motor, Mia bisa mas." Bagaimana mungkin Mia bisa menyetir, kalau naik mobil saja kadang-kadang Mia merasa mual dan pusing.
Tapi ini adalah PR untuk Danu. Ia akan mengubah Mia.
"Turun!" pinta Danu.
"Mas, jangan begitu! Mia gak tahu jalan. Mia juga gak bawa uang. Mia pulang naik apa?" ucap Mia sambil berlinang air mata.
Danu menghela napas panjang. Mia masih sangat polos ternyata. Kenapa ia tidak bisa bersikap lebih tegas untuk bertanya dulu apa maksud Danu. Danu mengajarkan hal itu. Ia meminta Mia untuk bertanya dan dan bersikap tenang dengan lawan bicaranya. Jangan terlalu mudah mengungkapkan kesimpulan meskipun ia sudah memiliki jawaban atas sikap lawan bicaranya.
"Dan satu lagi, jangan mudah menangis! Kamu akan terlihat sangat lemah jika seperti ini. Kau mengerti?" tanya Danu.
Mia mengangguk. Ia mengakui kalau ini adalah kelemahannya yang memang harus ia hilangkan. Benar kata Danu, ketika nanti ia benar-benar fokus dalam pekerjaannya, akan banyak sekali ujian dari teman ataupun atasannya. Sekalipun atasannya adalah ayah mertuanya sendiri, tapi Mia tidak boleh mencampurkan urusan rumah dengan pekerjaan. Ia tidak bisa menganggap atasannya adalah mertuanya saat di kantor.
Sebenarnya bukan itu maksud Danu. Ia hanya berpikir kalau suatu saat Mia berdiri tanpa dirinya lagi, maka Mia akan benar-benar bekerja dengan orang lain. Orang yang mungkin tidak bisa menerima kepolosan Mia itu.
"Mia pikir mas mau ninggalin Mia di sini. Tapi Mia gak punya dasar menyetir, gimana kalau latihannya di lapangan dulu mas?" pinta Mia.
Benar juga. Akan membahayakan Mia kalau sampai mereka langsung latihan di jalan. Akhirnya Danu membawa Mia ke sebuah lapangan untuk mengajarkannya menyetir.
Mobil melaju dengan lurus di lapangan. Mia masih kaku saat harus berbelok dan mengganti gigi. Kaki dan tangannya yang harus bergerak bergantian membuatnya pusing.
"Sebentar mas!" ucap Mia.
Mia berpikir sebentar dan melihat ke arah tuas transmisi. Mia melihat angka-angka pada persneling mobil.
"Mas, ini apa? Kenapa ada angka-angkanya?" tanya Mia.
Danu menjelaskan arti angka-angka yang tertera pada persneling mobilnya. Mia mengangguk-angguk dan mencobanya.
"Gimana?" tanya Danu.
"Ngerti mas. Tapi susah ya!" ucap Mia.
"Susah karena belum terbiasa saja. Nanti juga kamu pasti bisa," ucap Danu.
Melihat matahari semakin terik, Danu menyudahi belajar menyetir hari Ini. Walaupun Mia sempat menolak karena masih ingin belajar, tapi Danu tidak mau Mia kelelahan. Mia baru saja sembuh dan harus banyak istirahat. Setelah Danu menjanjikan kalau ia akan mengajarkannya di lain waktu, akhirnya Mia bersedia untuk Pulang. Danu salut dengan kegigihan yang dimiliki Mia.
Saat sampai ke rumah, mereka mandi dan Mia menyiapkan makan siang untuk Danu. Setelah makan, Mia menyiapkan obat yang diberikan oleh dokter.
Danu meminumnya dan berterima kasih pada Mia yang selalu perhatian dan sangat tulus padanya.
"Mas, besok belajar mobil lagi ya!" pinta Mia.
"Siap! Nanti kita atur waktunya ya," ucap Mia.
Mia dan Danu tidur siang karena merasa cukup lelah dengan kegiatannya hari ini. Saat sore, Mia bangun saat mendengar ketukan pintu kamarnya.
"Mia," panggil Nyonya Nathalie.
"Iya Mi," jawab Mia.
__ADS_1
"Gimana kata dokter?" tanya Nyonya Nathalie saat pintu sudah terbuka.
"Mia baik-baik saja Mi. Mami sudah pulang?" tanya Mia.
"Syukurlah. Sudah, kamu baru bangun? Jam berapa ini?" tanya Nyonya Nathalie.
Mia melihat ke arah dinding yang menunjukkan pukul lima. Mia membulatkan bola matanya. Jam lima? Mia mengangkat jari tangannya untuk menghitung berapa jam Mia tidur siang.
"Ya sudah, cepat mandi. Tidak baik untuk kesehatan tidur sore begini. Eh tapi, Danu gak minta kamu buat itu kan?" tanya Nyonya Nathalie menunjuk ke pabrik pusat milik Mia.
Mia menggeleng dan menutup pabrik pusatnya dengan kedua tangannya. Setelah Nyonya Nathalie pergi, Mia membangunkan Danu dan segera mandi.
Keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih agak basah, membuat Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan menatap penuh curiga.
"Mia gak diapa-apain sama mas Danu kok. Sumpah!" Mia mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Duduk!" pinta Tuan Ferdinan.
Saat itu, Mia menerima wejangan dari mertuanya untuk tidak masuk kantor. Mereka ingin Mia diam di rumah dan istirahat. Apalagi kalau tujuannya bukan untuk membuat Mia cepat hamil. Mendengar alasan itu, Mia menangkap sinyal tidak suka dari Danu segera mengiyakan. Tidak perlu mendebat karena hanya akan memperpanjang bahasan tentang itu.
Malam ini Danu meminum obat dari dokter dan menyandarkan kepalanya di sebuah sofa dalam kamarnya.
"Mas, terapi yuk!" ajak Mia.
Danu mengerti, tapi rasanya ia malu untuk memulai. Melihat Danu mengangguk pelan, Mia mendekat ke arah Danu dan mengecup lembut bibir Danu.
Danu menarik Mia agar semakin dekat dengannya. Pelajaran awal sudah sangat Mia kuasai. Hanya saja, kini Danu menambah ilmu baru untuk Mia. Danu meraih tangan Mia untuk di simpan di atas benda pusakanya yang masih terbungkus.
Dengan ragu Mia menepuk-nepuk benda pusaka Danu. Danu melepaskan bibirnya.
"Bukan seperti itu," bisik Danu sambil memberi contoh pada Mia.
Mia melepaskan tangannya dan terkejut ketika tangannya menyentuh benda pusaka Danu.
"kenapa?" tanya Danu.
"Aneh mas. Kok lembek begitu?" ucap Mia sambil bergidik.
Danu menggelengkan kepalanya dan membungkam mulut Mia dengan bibirnya agar tak mengganggu suasana. Pertama kalinya Mia melihat dan menyentuh benda pusaka. Dada Mia berdebar dan terasa sesak. Ini aneh baginya. Namun Mia harus membiasakan hal ini.
Sudah dua puluh menit, baru benda pusaka itu beraksi. Kelembakan itu perlahan sirna. Semakin lama, semakin tegak berdiri, membuat Mia membelalakkan matanya dan melihat benda pusaka yang ada dalam genggamannya.
"Mas?" panggil Mia.
"Apa lagi Mia?" tanya Danu kesal.
"Ini berubah," ucap Mia.
Danu menghela napas panjang untuk menenangkan dirinya. Danu berharap kalau Mia tidak merusak suasana hatinya, takut kalau benda pusaka itu kembali ke bentuk semula. Danu membungkam kembali Mia, namun Mia berhasil mengelak.
"Mas, seperti persneling mobil ya? Lucu," ucap Mia dengan senyuman polosnya.
Danu mengangkat dagu Mia dan kembali melanjutkan pembelajarannya. Danu menahan tawa dan kesal saat Mia memainkan benda pusakanya layaknya persneling mobil. Ia memajukan dan memundurkan benda pusaka itu layaknya sedang mengoper gigi.
"Mas, muntah." Teriak Mia saat benda pusaka Danu kebanjiran.
Danu melepaskan tubuhnya perlahan. Dengan segera memasukkan kembali benda pusakanya dan masuk ke kamar mandi. Dalam guyuran shower, Danu merasa kesal pada dirinya sendiri. Ternyata obat dan terapi itu tidak berhasil.
Tapi jika Danu ingat-ingat, sebenarnya ada perkembangan. Pertahanan benda pusakanya lebih lama dari biasanya. Meskipun belum masuk ke tempat yang telat, namun sentuhan Mia adalah suasana baru bagi Danu. Walaupun Mia memperlakukan Danu seperti itu, tapi kenyataannya pengalaman pertama itu membuat Danu harus banjir juga.
Sementara Mia sedang membersihkan sisa-sisa banjir dari benda pusaka milik Danu.
"Kok bisa muntah? Apa dia pusing kali ya Mia putar-putar begitu?" gumam Mia.
Mia yang tahu kalau Danu suka banjir saat belajar dengannya, masih bingung ketika melihat langsung proses banjirnya.
######################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
__ADS_1
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..