
"Sin," panggil Mia.
"Iya Mi, sebentar." Sindi keluar dari rumah kontrakannya.
"Ini, makasih ya!" ucap Mia sambil memberikan kunci motor milik Sindi.
"Sama-sama," jawab Sindi.
"Mia pulang ya!" ucap Mia.
"Mi, tunggu. Kamu kenapa? Sakit?" tanya Sindi.
"Sakit? Gak kok, Mia baik-baik saja. Mungkin Mia kecapean kali. Mia pulang ya! Daaaah," ucap Mia langsung pergi meninggalkan Sindi.
Mia segera masuk dan mengunci kontrakannya. Menuju cermin dan menatap wajahnya. Ya, memang terlihat lesu. Tapi bukan sakit, Mia hanya pusing dengan garis hidupnya.
Bu, Mia mau menikah lagi. Mia janji ini pernikahan Mia yang terakhir. Kalau sampai Mia diceraikan lagi, Mia mau ikut ibu saja ah.
Mia menjatuhkan tubuhnya di atas kursi. Menghela napas panjang dan mengusap dadanya.
Dasar sultan sableng. Kenapa ada manusia seperti diaaaa? Mia kesel, kesel, kesel.
Mia memukul-mukul tasnya, mencoba melampiaskan amarahnya.
"Miaaa," panggilan Sindi dan ketukan pintu membuat Mia terkejut.
"Iya Sin," jawab Mia.
"Kamu kenapa sih pintu sampai dikunci segala?" tanya Sindi.
"Gak, gak apa-apa. Kamu ada apa?" tanya Mia.
"Kamu kenapa? Ada masalah? Cerita sama aku. Kita di sini gak punya siapa-siapa. Kita kan teman, jadi kalau ada apa-apa cerita sama aku. Jangan sungkan ya!" ucap Sindi yang terlihat sangat khawatir.
Sin, kamu baik banget sama Mia. Tapi apa perlu Mia cerita? Ini kan aib. Aduuuh.
"Mi, kamu kenapa?" tanya Sindi sambil mengguncang tubuh Mia.
"Eh, gak. Mia gak apa-apa kok. Kamu tenang saja ya! Kalau ada apa-apa Mia pasti cerita kok sama kamu," ucap Mia.
"Ya sudah kalau kamu belum mau cerita, tapi nanti kalau kamu butuh teman cerita, aku siap jadi pendengar yang baik. Ok?" ucap Sindi.
"Asyiaaaap. Makasih ya Sin," ucap Mia.
Setelah Sindi pergi, Mia menutup pintunya kembali. Sindi memang benar-benar tulus berteman dengannya. Mia senang akhirnya ada juga yang benar-benar tulus bersahabat dengannya.
Kriiing.. Kriiiing.. Kriiiing
"Kalin?" ucap Mia.
Kalin memang selalu bak memiliki magnet dengan Mia. Kalin selalu saja menghubunginya di saat yang tepat. Mungkin kali ini, Kalin juga sedang merasakan kegundahan hati Mia.
Panggilan itu terhenti tanpa dijawab oleh Mia. Rasanya Mia belum siap jika harus memberi tahu Kalin tentang semua ini.
Kriiiiing.. Kriiiing.. Kriiiing
Mia menatap layar ponselnya. Kalin kembali menghubunginya.
"Halo Kalin," ucap Mia mengawali percakapan sore itu.
"Kamu kemana saja? Apa kamu sakit?" tanya kalin.
"Tadi aku sedang di kamar mandi. Mia baik-baik saja kok. Kalin sama Dev sehat?" tanya Mia.
"Syukurlah kalau kamu baik. Kami di sini juga baik," ucap Kalin. "Oh ya, kapan ke Jakarta? Aku bener-bener kangen loh sama kamu. Memangnya kamu gak kangen sama aku?" lanjut Mia.
Banyak sekali basa basi yang mereka bahas. Namun Mia masih bungkam tentang pernikahannya yang akan dilaksanakan bulan depan.
"Mi, kamu gak mah menikah lagi?" tanya Kalin.
DEG.
Kenapa tiba-tiba Kalin bertanya itu? Apa dia tahu tentang semua ini?
"Memangnya kenapa? Kok bertanya seperti itu?" tanya Mia.
"Aku dengar, mantan suamimu itu mau menikah lagi. Kalau di sana ada yang tulus menyayangimu, kamu nikah saja. Kamu kan masih muda, cari yang benar-benar tulus mencintaimu. Aku yakin akan ada orang yang benar-benar menyayangimu," ucap Kalin.
Hah? Mas Danu menikah lagi? Kenapa mas Danu begitu cepat melupakan Mia? Apa salah Mia mas?
"Iya Kalin. Nanti kalau aku ketemu jodohnya, aku juga pasti nikah lagi." Mia menyembunyikan perasaan sedihnya.
"Kamu gak sedih kan? Atau jangan-jangan kamu belum move on?" tanya Kalin.
"Eh, gak kok. Mia sih sudah lupa. Tenang saja," ucap Mia.
"Nah, gitu dong." Kalin memberi semangat dan dukungannya pada Mia.
Setelah panggilan Kalin berakhir, Mia segera masuk ke kamar mandi. Berharap, hatinya menjadi adem setelah mandi. Berharap api cemburu dan api amarahnya mati dengan guyuran air yang membasahi seluruh tubuhnya.
Mandi sambil menangis, adalah sebuah usahanya untuk menyembunyikan kesedihannya. Cukup malu pada dirinya sendiri saat menangisi pria yang sama sekali sudah meninggalkannya.
Selesai mandi, Mia melihat wajahnya dalam pantulan cermin. Matanya memerah dan sedikit sembab. Mia menyisir rambutnya dan duduk di tepi ranjangnya.
Tuan Dion, mungkin kamu adalah orang yang sudah Tuhan kirimkan untuk jadi penyembuh luka. Hah? Penyembuh luka? Ah tidak. Sultan sableng itu pasti hanya akan menyiksaku. Tapi tidak apa-apa. Paling tidak akan ada yang membelaku kalau Nyonya Nathalie menghinaku lagi. Eh tapi, apa mungkin Tuan Dion akan membela Mia di hadapan Nyonya Nathalie? Ah bodo ah.. Pusing.
__ADS_1
Mia merebahkan tubuhnya. Mungkin tidur akan membuatnya sedikit tenang. Mia mengambil mencoba memejamkan matanya.
Tok.. Tok.. Tok..
"Permisi, permisi," suara panggilan dari seorang pria terdengar berulang-ulang.
"Siapa?" tanya Mia.
Mia membuka gorden dan melihat dua orang pria bertubuh kekar ada di luar rumah kontrakannya.
Siapa mereka? Apa mungkin mereka mau nagih utang? Tapi kan Mia gak punya utang.
"Nona, jangan takut. Kami diperintah oleh Tuan Dion untuk menjemput Anda," ucap salah seorang pria itu.
"Ada apa? Apa salahku? Aku tidak melakukan kesalahan pada Tuan Dion," ucap Mia. ketakutan.
"Nona keluarlah. Tuan Dion tidak akan memarahi Anda. Katanya ada yang perlu dibicarakan," ucap pria di luar.
Mia melihat jam yang menempel di dinding kamarnya. Sudah jam sembilan malam.
"Tidak mau. Kalian pulang saja! Katakan pada Tuan Dion, besok saja." Mia tetap tidak mau membuka pintunya.
"Tuan Dion meminta Anda menemuinya sekarang. Tolong kerja samanya Nona," ucap pria itu.
"Besok saja ya!" ucap Mia.
"Baiklah jika Anda memaksa, kami akan mendobrak pintu Anda dan membawa Anda secara paksa. Permisi Nona, jangan ada di balik pintu jika tidak ingin terluka." Pria itu berusaha mengancam Mia.
Hah? Mendobrak? Bisa rusak nih pintu. Bayar kontrakan bisa double kalau sampai pintunya rusak. Mending Mia keluar deh.
"Eh, jangan, jangan. Jangan didobrak," ucap Mia sambil membuka pintu kontrakannya.
"Terima kasih untuk kerja samanya Nona. Mari silahkan ikut dengan kami," ucap salah seorang pria itu mempersilahkan Mia untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Tapi nanti Mia diantar pulang lagi ya!" ucap Mia.
"Tuan Dion akan memerintahkan kami kembali jika itu yang diinginkannya," jawab salah seorang pria itu.
"Kalau tidak?" tanya Mia.
"Itu urusan Anda, Nona. Kami tidak bisa membantah perintah Tuan Dion," jawab pria yang duduk di depan kemudi.
Ah sudahlah. Percuma saja Mia bicara dengan orang-orang yang kaku seperti mereka. Untung Mia sudah makan tadi, jadi Mia bisa pulang jalan kaki. Eh, tapi jauh gak ya rumah Tuan Dion itu? Kalau deket sih bisa jalan. Nah kalau jauh, bisa gempor Mia.
"Pak, masih jauh gak ya?" tanya Mia.
"Sebentar lagi Nona," jawab salah seorang pria.
"Silahkan turun Nona," seorang pria membuka pintu mobil dan mempersilahkan Mia untuk keluar.
"Terima kasih, Pak." Mia menunduk hormat sebagai ucapan terima kasih.
"Masuk!" teriak Dion.
Mia terkejut dan segera menghampiri Dion.
Hah apa ini maksudnya?
"Kenapa?" tanya Dion.
"Ah tidak!" ucap Mia yang segera mencium tangan Dion yang sudah terulur dan melengkung.
Ah, kenapa jadi senang begini saat dia mencium tanganku. Ini norak tapi menggemaskan. Dion tidak begitu. Stop!
"Duduk," ucap Dion.
Mia mengangguk dan segera duduk dan menunduk.
"Angkat wajahmu," ucap Dion.
Hening. Mia menunggu apa yang ingin dikatakan oleh Dion. Lima menit berlalu, Dion tidak berkata apapun. Ia hanya melihat Mia dengan sangat dalam.
"Tuan, Tuan," ucap Mia melambaikan tangannya di depan Dion.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Dion terkejut.
"Tuan kenapa? Tuan tidak sakit kan? Mia hanya khawatir pada Tuan dari tadi hanya melamun dan senyum-senyum sendiri," ucap Mia.
Sial! Danu apa yang kamu lakukan? Jangan sampai menunjukkam kegilaanmu di depan janda aneh. Bisa kepedean dia.
"Aku hanya lucu saja melihat penampilanmu yang norak itu," ucap Dion.
Terserah Anda sultan sableng. Terserah. Bodo amat.
"Tuan memanggil Mia hanya karena merindukan penampilan Mia yang norak ini? Aduh, besok Mia mau ke salon ah. Mau mengubah penampilan Mia," ucap Mia.
"Pede borooos. Mau berubah jadi apa? Jadi superwomen?" ejek Dion.
"Mau jadi incesss. Bahaya soalnya kalau Mia norak terus. Mia baru tahu kalau selera Tuan Dion ternyata yang norak seperti Mia," ucap Mia.
"Heyy, jangan macam-macam kamu! Kamu punya kaca kan? Jangan terlalu percaya diri, ngaca sana!" ucap Dion kesal.
"Ah sudahlah Tuan, jangan marah begitu. Jujur saja." ucap Mia.
"Jujur apa? Aku tidak mungkin berselera melihat penampilanmu yang norak itu. Kamu itu sudah 23 tahun, masa masih pakai baju tidur doraemon begitu? Ish norak," ucap Dion.
__ADS_1
"Wahh, Tuan sampai tahu usia Mia. Hebaaaat," ucap Mia bertepuk tangan.
"Berhenti Mia!" bentak Dion.
Mia menunduk dan meminta maaf.
"Antarkan dia pulang!" teriak Mia.
Mia seketika mengangkat kepalanya.
"Jadi Tuan benar-benar memanggil Mia hanya untuk bertemu? Apa sebegitu naksirnya Tuan sama Mia? Aaaaah, Mia jadi terharu." Mia masih berusaha menggoda Dion agar kapok.
"Mia, stop! Jangan terlalu percaya diri kamu. Pulang sana!" ucap Dion.
"Katanya mau ada yang dibicarakan? Gak jadi nih? Apa memang cuma modus saja ya biar Mia mau ke sini?" ucap Mia.
Seorang sopir yang siap mengantarkan Mia terlihat menahan tawanya.
"Keluar kamu," teriak Dion menunjuk sopir itu.
"Baik Tuan, saya minta maaf." Sopir itu berlari meninggalkan Mia dan Dion.
"Jadi Mia pulang gak nih?" tanya Mia.
"Tidak. Ada yang mau aku bicarakan dengaunmu," ucap Dion.
"Yakin Tuan?" tanya Mia.
"Apa maksudmu?" tanya Dion.
"Ya, Mia hanya meyakinkan kalau Tuan benar-benar mau bicara dengan Mia. Bukan menahan Mia untuk pulang karena masih merindukan Mia," ucap Mia dengan senyum lebarnya.
Dengan wajah merah Dion pergi meninggalkan Mia. Entah karena marah atau justru malu sendiri dengan ucapan Mia yang polos itu.
Hahaa... kesel kan? Suruh siapa macam-macam sama Mia. Ganggu Mia aja. Ini belum seberapa Tuan. Kalau Anda sampai mengganggu Mia lagi, Mia jamin akan membuat Tuan lebih kesal dari ini.
"Tuan mau kemana?" tanya Mia.
"Bukan urusanmu," jawab Dion sambil terus berlalu meninggalkan Mia.
"Loh, terus Mia gimana?" tanya Mia.
"Bukan urusanku," teriak Dion dan membanting pintu kamarnya.
Bukan urusanmu, bukan urusanku, Jadi ini urusan siapa, Tuan? Membuat Mia pusing saja.
Mia menghampiri kamar Dion dan berteriak di depan kamarnya.
"Mia pulang dulu Tuaaaan. Besok kalau Tuan rindu sama Mia, Tuan saja yang datang ke kontarakan Mia ya! Jangan malu-malu begitu," teriak Mia di depan pintu kamar Dion.
"Pergi kamu," ucap Dion yang tiba-tiba leluar membawa raket nyamuk.
"Ampuuuun, ia pulang Tuan." Mia berteriak sambil berlari ke luar.
"Ayo pak!" ajak Mia.
"Kemana Non?" tanya sopir.
"Pulang. Masa kencan?" jawab Mia kesal.
"Maaf Nona, tapi Tuan belum memberi intruksi." Ada raut takut yang tergambar dalam wajahnya.
"Tuan Dion menyuruhku untuk pulang. Urusan kami sudah selesai. Ayo cepat! Aku mau pulang. Ini sudah malam," ucap Mia.
"Baik Nona, mari." Sopir itu mempersilahkan Mia untuk masuk ke dalam mobilnya dan mengantarnya pulang.
Memangnya enak dibikin kesel? Akhirnya Anda kalah kan Tuan? Paling tidak, satu sama. Kita sama-sama kesel malam ini. Ayooo, besok mau buat Mia kesel lagi? Masih mau coba-coba sama Mia?
Sementara di kediaman Dion, ia memastikan kalau mobil itu sudah berlalu meninggalkan rumahnya. Dion kembali ke dalam kamarnya dan duduk di tepi ranjang.
Mia, apa yang sudah kamu lakukan?
Dion tersenyum lebar saat mengingat semua tingkah dan ucapan Mia. Lagi-lagi Mia sukses membuat Dion tak bisa melupakan kekonyolannya.
Orang miskin tapi tidak tertarik dengan uang. Janda aneh dan langka. Patut dibudidayakan.
Dion masuk ke kamar mandi dan mencuci wajahnya. Tak lama ia melihat ke wajahnya yang masih basah pada pantulan cermin. Mia. Ya, bayangan Mia jelas terlihat dalam pantulan cermin itu.
Dion mengucek matanya dan bergidik. Dion segera naik ke atas ranjangnya saat melihat sudah hampir jam sebelas malam. Tidur dengan posisi terlentang membuat Dion tidak bisa melupakan Mia. Dion memiringkan tubuhnya ke kiri, ke kanan, namun bayangan Mia masih memenuhi kepalanya.
Dion membenamkan wajahnya pada bantal. Berharap bayangan Mia segera enyah dari kepalanya. Namun nihil. Bayangan Mia tak bisa pergi dari kepalanya.
ARGHHH..
Danu bangun dari tidurna dan duduk di tepi ranjangnya. Mengusap wajahnya dengan kasar dan mengacak rambutnya.
Kegilaan apa lagi ini? Aku bahkan menyuruh orang untuk menjemput Mia malam-malam hanya untuk melihat wajahnya? Apa aku benar-benar merindukan Mia? Tidak. Ini gila Dion. Ini gila. Sangat gila. Semuanya karena Reza. Gara-gara dia ini. Gara-gara kamu Reza, aku sampai gila begini.
Mungkinkah Dion gila karena ulah Mia? Atau justru Dion tergila-gila dengan kepolosan Mia?
###################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
__ADS_1
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..