Janda Bersegel

Janda Bersegel
Uangnya?


__ADS_3

Rian mendekat pada Tuan Felix yang masih berdiri di ambang pintu kamarnya.


"Ada apa Tuan?" tanya Rian.


"Ayo masuk!" ajak Tuan Felix.


"Masuk?" tanya Rian.


Rian memastikan apa yang didengar oleh telinganya. Pasalnya sejak kemarin Tuan Felix tidak mau bicara dengannya. Bahkan ia sampai menunggunya di depan kamar, pintu kamar itu tidak pernah terbuka untuknya. Tapi saat ini, Tuan Felix sendiri yang memintanya untuk masuk ke dalam kamar itu.


"Kenapa? Kamu tidak mau?" tanya Tuan Felix.


"Ah, bukan seperti itu. Tapi," ucap Rian menggantungkan jawabannya.


"Tapi kenapa?" tanya Tuan Felix.


"Tuan sudah tidak marah sama aku?" tanya Rian.


"Masuklah! Aku mau jelaskan semuanya," ucap Tuan Felix.


Rian mengangguk dan masuk ke dalam kamar Tuan Felix.


"Duduk!" ucap Tuan Felix.


Tuan Felix mempersilahkan Rian untuk duduk di hadapannya. Masih dengan keraguan, Rian menjatuhkan bokongnya untuk duduk berhadapan dengan Tuan Felix.


Canggung, mungkin karena sudah sempat tercipta jarak diantara mereka berdua. Hal itu membuat Rian tidak bisa basa basi seperti dulu. Ia hanya duduk menunggu pertanyaan atau topik yang akan dibahas oleh Tuan Felix.


"Aku akan kembali ke Jerman sekitar satu minggu ke depan. Kamu siapkan barang-barang yang penting saja ya!" ucap Tuan Felix.


"Hah?" tanya Rian tidak percaya.


Seujung kuku saja ia tidak percaya kalau Tuan Felix akan membahas masalah ini lagi. Bahkan Rian sudsah berniat akan kembali ke rumahnya setelah Tuan Felix kembali ke negaranya.


"Kamu kenapa jadi loading begitu sih?" tanya Tuan Felix.


Dari cara bicaranya, Tuan Felix sudah kembali menjadi Tuan Felix yang dulu. Namun semakin semua yang diinginkan Rian itu menjadi nyata, Rian justru tidak percaya dengan semua ini.


"Rian," panggil Tuan Felix.


"Eh iya," jawab Rian.


"Kamu sepertinya sudah lelah. Kembalilah ke kamarmu, kita bicara besok. Saat kamu tidak lelah seperti ini," ucap Tuan Felix.


Rian menatap Tuan Felix semakin tidak mengerti. Namun saat Tuan Felix menatapnya kembali, ia tahu apa yang harus ia lakukan.


"Ba-baik Tuan. Saya permisi," ucap Rian gugup.


Setelah pamit dan menunduk hormat, Rian keluar dari kamar Tuan Felix. Ia memegang dadanya. Rasa tidak percaya itu masih menyelimuti dirinya.


Namun tidak munafik, rasa bahagia yang Rian rasakan jauh lebih besar. Ingin rasanya ia berjingkrak saat tahu Tuan Felix sudah kembali.


Saat melewati kamar Sindi, tidak sengaja ia melihat Sindi yang tengah tersenyum dengan mengangkat uang seratus ribu di depan wajahnya. Uang itu ia peluk dan cium dengan penuh rasa bahagia.


"Kak Sindi," panggil Rian.


Sindi segera meremas uang seratus ribu itu dan mengamankannya dalam kepalan tangannya.


"Apaan sih? Ngintip kamu ya? Hati-hati bintitan," ucap Sindi.

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban Rian, Sindi segera menutup pintu kamarnya.


"Kamu istirahat!" ucap Sindi.


Rian yang masih berdiri di depan pintu kamar Sindi hanya bisa mengernyitkan dahinya dan menggelengkan kepalanya.


"Hati-hati Kak. Biaya masuk RSJ mahal. Kalau gak ada yang jamin siap-siap aja kakinya kapalan," ucap Rian sebelum akhirnya meninggalkan kamar Sindi.


BRUGHH...


"Sembarangan!" ucap Sindi setelah memukul daun pintu.


Nyatanya, setelah pintu kamarnya tertutup, Sindi masih menyandarkan tubuhnya di sana. Dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya, ia berharap Rian tidak berpikiran macam-macam tentangnya.


"Aduh, kenapa pakai acara lupa tutup pintu sih?" gerutu Sindi pada dirinya sendiri.


Sindi menggigit bibir bawahnya dan menutup wajahnya yang memerah karena malu yang melanda.


"Uangnya?" ucap Sindi.


Sindi segera membuka uang yang sudah kisut karena ulahnya sendiri. Ina meringis saat melihat uang dari Danu menjadi sangat lusuh.


Padahal ini satu-satunya kenangan dari monster galak itu. Mungkin ini pertanda kali ya kalau aku sama dia gak berjodoh? Benar kata Rian, kalau berekspektasi itu jangan ketinggian. Ah, ayo Sindi! Lupakan semua kehaluanmu. Tapi dia ganteng Tuhaaaan..


Sindi menyimpan kembali uang itu ke dalam tasnya. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Memejamkan matanya dan berharap semua harapan konyol itu musnah.


Belum sempat ia tidur, matanya kembali terbuka saat dering ponselnya terdengar nyaring. Nomor baru, ia mengabaikannya.


"Iseng banget malam-malam gangguin anak gadis lagi tidur. Jangan-jangan tukang kreditan," gumam Sindi.


Ia menyimpan kembali ponselnya dan kembali memejamkan matanya. Ia peluk guling yang ada di sampingnya dan menarik selimut.


"Mi, ini udah malam. Mami tidur aja," ucap Danu.


"Mungkin kalau besok pagi bisa kali ya?" tanya Nyonya Nathalie.


"Iya. Besok pagi di telepon lagi ya!" ucap Danu.


Setelah melihat ibunya tidur, Danu keluar dan meminta dibuatkan secangkir teh hangat untuk menemani malam ini.


"Berani-beraninya dia gak jawab telepon Mami. Dia pikir dia siapa," gerutu Danu.


"Tuan ini teh hangatnya," ucap pelayan.


"Oh iya. Terima kasih," ucap Danu.


Danu menerima teh hangat itu dan kembali menggerutu. Entah ia benar-benar kesal atau sebenarnya ia sedang berusaha mengingat setiap kejadian yang berhubungan dengan Mia.


Sial! Ini gak bisa dibiarin. Bahaya!


Danu segera pergi dan masuk ke kamarnya. Ia membuka laptop dan mulai mengerjakan beberapa pekerjaan yang sempat terganggu hari ini. Sedangkan berkas itu harus selesai karena besok ada meeting penting dengan beberapa perusahaan besar lainnya.


Tidak terkecuali dengan perusahaan Dion. Sama halnya dengan Danu, Dion juga tengah mempersiapkan berkas yang akan digunakan besok.


Ini adalah pertemuan pertama setelah beberapa bulan Dion dan Danu tidak bertemu. Keduanya memang tidak pernah berharap untuk bertemu, namun apa daya jika pekerjaan yang memaksa mereka untuk bertemu.


"A, tidur! Udah malam," ucap Mia.


"Sebentar lagi," jawab Dion.

__ADS_1


"A, kan di kantor udah kerja, masa di rumah masih kerja. Istirahatnya kapan?" tanya Mia.


"Iya tapi aku harus tampil maksimal. Jangan sampai besok aku kalah saing dari mantan suamimu," ucap Dion.


Mia mengernyitkan dahinya. Bahasan yang paling malas bagi Mia. Karena ujung-ujungnya Dion sendiri yang marah-marah. Padahal jelas-jelas dia juga yang memulai.


"A, Mia tidur duluan ya! Mia udah ngantuk. Aa semangat ya kerjanya!" ucap Mia.


Mia merangkak ke atas ranjangnya dan berpura-pura tidur. Dion menatap Mia dengan penuh rasa heran.


Kamu kenapa sih? Orang lagi ngomong, main tidur aja. Kebangetan.


Dion tidak mengerti jika itu adalah salah satu cara Mia untuk menghindar dari satu masalah yang selalu memojokkannya. Mia tidak mau semuanya jadi panjang dan berbelit.


Selesai bekerja, Dion menutup laptopnya dan menyimpan di atas nakas. Ini hal langka bagi Dion, saat mengerjakan tugas kantor di dalam kamar. Biasanya ia selalu mengerjakannya di ruangan kerja khusus.


Malam ini, ia hanya ingin menatap puas Mia. Ini adalah caranya agar besok ia tidak perlu kesal pada Danu. Karena Mia sudah menjadi miliknya. Hanya ia yang berhak atas Mia saat i ini dan seterusnya.


Dion benar-benar menghabiskan malamnya dengan menatap Mia. Ia bahkan tidak ingat jam berapa ia mulai tidur.


"Pagi," sapa Mia saat melihat Dion sudah membuka matanya.


Dion mengucek matanya dan melihat jam. Masih pagi, tapi istrinya sudah rapi dan sangat cantik.


"Kamu mau kemana?" tanya Dion.


"Katanya hari ini ada teman Mama main ke sini. Gak enak kalau Mia kelihatan kucel A. Kan yang malu nanti Aa juga," ucap Mia.


"Ya tapikan gak mungkin ke sini sepagi ini, Mia. Kamu tuh ya Mama yang mau kedatangan temannya, tapi kok kamu yang heboh sendiri. Jangan macam-macam ya!" ucap Dion mengancam.


"Ya ampun A. Kan sekalian mandi ya udah Mia dandan aja," ucap Mia.


"Memangnya yang mau ke sini siapa aja sih?" tanya Dion.


"Mana Mia tahu," jawab Mia.


Dion turun dari ranjang dan mandi. Ia harus bertemu dengan Nyonya Helen lebih cepat. Ia harus memastikan jika tidak ada pria yang akan main ke rumahnya. Jangan sampai Mia dilihat oleh pria lain saat ia sedang benar-benar dandan dengan cantik.


Sebenarnya kecemburuan Dion selalu membuatnya cape dan heboh sendiri. Tapi apalah daya Dion yang sangat mencintai Mia. Ia takut kalau sampai kehilangan wanita yang sangat ia cintai.


"Mia, ingat ya! Aku tidak akan memaafkanmu kalau kamu sampai mengkhianatiku," ucap Dion mengingatkan.


Ada rasa tidak enak saat Dion selalu mencemburuinya secara berlebihan. Apalagi jika membahas tentang masa lalunya. Padahal Mia sendiri tidak ingin mengalami jalan hidup seperti itu.


"Jangankan selingkuh A. Mia keluar rumah aja jarang. Mau selingkuh dimana? Di ponsel?" tanya Mia.


"Ya mana aku tahu," jawab Dion.


"Aa tuh yang hati-hati. Tiap hari keluar rumah, ketemu sama wanita-wanita cantik, seksi dan pintar. Tapi Aa harus tahu kalau cuma Mia yang sayang dan tulusnya paling luas dan tak terbatas," ucap Mia.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍

__ADS_1


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


__ADS_2