Janda Bersegel

Janda Bersegel
Putar balik


__ADS_3

"Geser," ucap Sindi.


Danu yang berdiri di depan kamar Sindi menggeser hingga hanya bengong menatap Sindi yang berjalan melewatinya. Sindi duduk dan mengabaikan keberadaan Danu.


"Aku boleh duduk?" tanya Danu.


Sebelum menjawab, Sindi menatap Danu yang masih berdiri di depannya. Ia senang saat Danu jauh lebih sopan dan menghargainya.


"Boleh. Tapi janji ya pintunya dibenerin," ucap Sindi.


Masih soal pintu. Ya ampun, sebegitu berharganya pintu ini dibanding kehadiranku jauh-jauh dari Jakarta.


"Iya. Gimana kalau kita ngobrol di taman X aja. Biar aku suruh orang buat benerin pintu ini," ucap Danu.


Sindi mengiyakan. Mereka menuju taman X yang letaknya tidak jauh dari rumah kontrakan Sindi. Sementara orang suruhan Danu sudah siap untuk memperbaiki pintu yang rusak akibat ulah Danu.


"Wah, indahnya." Sindi tersenyum kagum saat melihat taman tempat ia dan Danu berada.


Danu menatapnya dengan dahi yang berkerut. Ia merasa aneh dengan sikap Sindi.


"Kamu baru ke sini?" tanya Danu.


"Iya," jawab Sindi singkat.


Sindi kembali mengamati taman yang begitu indah baginya.


"Kamu serius?" tanya Danu.


Sindi hanya mengangguk, bahkan tidak melihat wajah Danu sekalipun. Ia hanya sibuk menikmati keindahan taman tempatnya berdiri saat ini.


"Kamu ngapain aja selama ini? Kok bisa sampai gak tahu taman ini sih? Padahal gak jauh loh dari kontrakan kamu," ucap Danu.


"Ya ampun, mana sempat aku main-main ke sini. Aku kan kerjanya tuker shift. Kalau pagi kerja, ya malam tidur. Kalau malam kerja ya pagi tidur," jawab Sindi.


"Tapi kan ada waktu libur kerja," ucap Danu.


"Libur kerja biasanya aku pakai buat ngobrol sama Mia," ucap Sindi.


Bibirnya tersenyum lebar, kepalanya menunduk sesaat setelah mengucap nama Mia. Rasa bersalah itu kembali memenuhi ruang dadanya. Sesak.


"Kamu tahu takdir?" tanya Danu.


Sindi diam. Ia belum berani mengangkat kepalanya. Membiarkan cairan bening itu berjatuhan tanpa terlihat oleh Danu.


"Takdir yang membuat aku mengejar kamu hingga ke sini," ucap Danu.


Danu mendekap tubuh Sindi. Membiarkan kepalanya bersandar di dadanya. Isak tangis itu semakin terdengar nyata di telinga Danu.


"Aku jahat," ucap Sindi dengan suara bergetar.


"Mia sudah bahagia dengan Dion. Suami yang sangat mencintainya. Aku rasa Mia tidak akan mempermasalahkan hubungan kita," ucap Danu.


"Tapi Tuan Dion," ucap Sindi.


Belum selesai Sindi mengungkapkan ketakutannya, Danu segera menenangkan Sindi.


"Dion hanya takut jika Mia kembali padaku. Sementara aku tahu hati Mia hanya untuk Dion. Dan hati aku, kini sudah menjadi milikmu." Danu tersenyum saat ia malu dengan apa yang sudah diucapkannya.

__ADS_1


"Aku gak bisa melanjutkan semua ini," ucap Sindi.


Sindi berusaha melepaskan pelukannya. Ia duduk di sebuah bebangkuan yang ada di taman itu. Danu melepaskannya dan membiarkan Sindi melakukan apapun yang ia mau. Danu rasa Sindi tidak bisa dipaksa saat ini.


"Terserah apapun yang kamu mau. Aku hanya ingin bertanya satu hal padamu," ucap Danu.


Nada bicara Danu sudah pasrah. Ia bingung dengan sikap Sindi yang terus-terusan memikirkan Mia tanpa memikirkan perasaannya sendiri.


"Apa?" tanya Sindi.


"Apa kamu mencintaiku?" tanya Danu.


Sindi terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia sama sekali tidak menyangka jika Danu akan bertanya tentang hal itu padanya. Jawabannya memang sudah ada tanpa perlu ia siapkan sebelumnya. Namun lidah Sindi kelu. Ia tak mampu mengucapkan apapun.


"Jawab! Apapun jawabanmu, aku akan terima. Kamu tidak perlu memikirkan perasaanku," ucap Danu.


Sindi hanya bisa menatap Danu yang tengah duduk pasrah. Namun saat mata Danu menatap tajam mata Sindi, Sindi harus memalingkan wajahnya. Ia tidak bisa jika harus bersitatap seperti itu.


"Kamu gak mau jawab?" tanya Danu lagi.


"Aku," ucap Sindi.


Berhenti, ia tak bisa melanjutkan jawabannya. Rasanya serba salah. Ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya dan memejamkan matanya.


"Aku apa?" tanya Danu.


Sindi bungkam kembali.


"Jadi kamu mencintaiku atau tidak?" tanya Danu.


Seharusnya kamu tidak perlu bertanya hal itu lagi Danu. Tidak bisakah kamu merasakan hati ini? Hati yang mulai berdebar saat bertemu denganmu?


"Tidak penting? Berarti kamu tidak mencintaiku?" tanya Danu.


"Bukan seperti itu Danu," ucap Sindi.


"Lalu?" desak Danu.


Aku tahu kamu mencintaiku. Tapi aku ingin mendengar sendiri dari mulutmu. Katakan jika kamu mencintaiku. Biar kita bisa berjuang bersama untuk mewujudkan apa yang kita inginkan.


"Aku gak tahu," jawab Sindi.


"Aku hanya butuh jawaban iya atau tidak saja. Tidak ada pilihan jawaban selain itu," ucap Danu.


Sindi dan Danu sebenarnya sudah tahu jawaban yang mereka maksud. Namun semua tidak bisa dengan mudah Danu dengar, karena rasa takut Sindi yang menurut Danu terlalu berlebihan.


"Ya sudah jika tidak mau menjawab. Tapi aku masih berharap jika aku bisa mendengar jawabannya. Iya ataupun tidak, semua akan aku terima. Kalau hari ini kamu masih ragu, masih ada hari besok. Sebelum aku pulang, besok aku tunggu kamu menjawabnya di sini. Sampai jam sembilan pagi kamu tidak datang, aku anggap kamu tidak mencintaiku. Tapi jika kamu datang, kamu masih punya kesempatan juga untuk menolakku. Ayo pulang!" ucap Danu.


Sindi melihat Danu yang sudah berjalan meninggalkannya.


"Ayo!" ajak Danu setelah beberapa langkah namun Sindi tidak mengikutinya.


"Iya," jawab Sindi.


Kini Sindi mulai mengikuti Danu. Berjalan meninggalkan taman yang indah dengan perasaan kacau yang menyelimutinya.


"Pintunya sudah bagus. Kamu tidur. Pikirkan jawaban terbaikmu. Aku tunggu jawabanmu," ucap Danu.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Sindi.


Danu hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan rumah kontrakan Sindi.


Kriiiing..Kriiing


Dering ponsel membuat Sindi tersadar dari lamunannya. Ia segera meraih ponselnya dan tersenyum melihat nama si pemanggil.


"Rian," ucap Sindi.


Tombol hijau ditekan oleh Sindi dengan senyum lebar yang menghiasi bibirnya. Mulai obrolan basa basi hingga akhirnya Sindi menceritakan semua yang terjadi antara dirinya dengan Danu. Tak terkecuali pertanyaan yang belum ada jawabannya tadi.


Meskipun usia Rian lebih muda, namun ia sangat bijaksana dan dewasa dalam menyikapi hal ini. Bahkan Sindi menjadi tahu apa yang harus ia lakukan besok. Rian membuatnya yakin dengan keputusannya besok.


Hal yang dilakukan Rian tentu karena Rian juga sudah berbicara banyak hal dengan Mia. Mia yang yakin jika Rian tahu hubungan Sindi dan Danu, segera meyakinkan Rian bahwa dirinya sama sekali tidak keberatan dengan hubungan keduanya.


Rian tersenyum. Sama halnya seperti Mia, kini PR Rian adalah meyakinkan Nyonya Helen agar menerima hubungan Sindi dan Danu. Tapi sayangnya, hubungan buruk yang sempat terjalin dengan Nyonya Nathalie tidak bisa dengan mudah membuat Nyonya Helen menerima kehadiran Danu.


"Rian, kamu masih anak kecil. Jangan urusin mereka." Nyonya Helen mengakhiri bahasan tentang Danu dan Sindi.


Sekeras apapun Rian dan Mia berusaha menjelaskan, namun Nyonya Helen belum melunak. Ia masih tidak terima dengan kenyataan itu.


Setelah Sindi pergi dari rumah Mia, Rian lebih sering menghubungi Mia dan Nyonya Helen. Berusaha agar Sindi bisa bahagia, meskipun jalannya cukup terjal.


"Mama kenapa sih cemberut begitu?" tanya Tuan Wira.


"Nih si Rian. Jauh-jauh dari Jerman nelepon cuma bahas Sindi sama Danu. Kan kesel," jawab Nyonya Helen.


"Harusnya Mama lihat perjuangan mereka. Sindi yang rela pergi karena takut mengecewakan Mama. Mia dan Rian yang rela membujuk Mama tanpa lelah agar Mama bisa menerima hubungan Danu sama Sindi. Masa Mama gak bisa ikut bahagia sih melihat Sindi bahagia? Katanya Sindi udah dianggap anak sendiri," ucap Tuan Wira.


"Pah, masalahnya kenapa harus Danu? Memangnya gak ada orang lain?" ucap Nyonya Helen.


"Namanya juga cinta Ma. Banyak cowok ganteng dan sukses lebih dari Papa, tapi Mama bertahan sama Papa. Karena apa coba? Semua karena cinta. Udah mentok Ma kalau urusannya udah cinta," ucao Tuan Wira.


"Halah, mentok-mentok. Ya kalau mentok putar balik. Cari yang lain kan bisa. Danu itu kan mantan suaminya Mia," ucap Nyonya Helen.


"Ma, kan cuma mantan. Sindi gak ngerebut Danu dari Mia. Sindi juga gak ngerebut kebahagiaan Mia. Mia udah gak ada hubungan apa-apa lagi sama Danu. Menurut Papa sih gak ada masalah," ucap Tuan Wira.


"Masalahnya selain Danu mantan suami Mia, Danu juga anaknya si wewe gombel. Masa Papa mau sih besanan sama dia?" ucap Nyonya Helen.


"Loh, masa cuma karena itu Mama ngancurin kebahagiaan Sindi sih? Kasihan Sindi dong," ucap Tuan Wira.


Nyonya Helen diam. Ia kembali memikirkan Sindi. Membayangkan wajah Sindi yang mungkin sedang bersedih bahkan menangis karena tidak bisa menikah dengan Danu.


Apa aku jahat sama Sindi? Tapi masa iya sih harus besanan sama dia? Ah, gak mungkin. Wewe gombel itu pasti makin nyebelin. Sindiiii, Mama harus gimana ini?


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.

__ADS_1


__ADS_2