Janda Bersegel

Janda Bersegel
Singapura


__ADS_3

"Dari sekian banyak cafe, kenapa dia milih di sini sih? Gak tahu apa kalau aku mau ke cafe ini?" gerutu Dion.


Mia hanya tersenyum menanggapi kelakuan suaminya. Memang seperti anak kecil, namun Mia memaklumi semua itu. Karena jika ia ada di posisi Dion, mungkin ia akan melakukan hal yang sama.


"Kok kamu malah tertawa sih? Seneng ya ketemu sama dia?" tanya Dion.


"Gak A, Mia cuma lucu aja lihat ekspresi Aa." Mia tersenyum santai.


"Kamu senang lihat aku cemburu begini?" tanya Dion kesal.


"Siapa sih yang gak senang dicemburuin sama suaminya? Berarti Aa sayang dan gak mau kehilangan Mia. Iya kan?" goda Mia.


"Jangan mentang-mentang aku cemburu kamu bisa seenaknya begitu ya!" ucap Dion mengingatkan.


Mia hanya tertawa. Ia kembali mengingatkan jika Dion masih menganggap Danu saingan bahkan musuh, maka tempat ini akan sempit. Akan terasa sering berjumpa dengan dia.


"Jadin kamu mau aku menganggap dia apa?" tanya Dion.


Mobil berhenti tiba-tiba. Tatapan tajam Dion mampu membuat Mia sedikit takut.


"Apapun. Kecuali musuh," jawab Mia.


Mia berusaha tersenyum dan bersikap tenang. Padahal hatinya begitu kacau dan takut jika Dion marah.


"Sahabat?" tanya Dion.


Salah sudut bibirnya yang terangkat menandakan jika ia tidak mengharapkannya sama sekali. Mia sudah bisa menebak jawaban apa yang diinginkan suaminya.


"Tidak usah. Cukup jangan jadikan musuh saja. Aa ingat kan kalau punya musuh satu aja terlalu banyak?" ucap Mia mengingatkan.


Dion tidak menjawab. Ia hanya kembali menginjak gas dan mobil melaju. Kali ini hening, Dion tidak berdebat lagi. Ia hanya sedang meyakini ucapan Mia. Memang benar, saat ini Danu adalah musuh baginya. Meskipun Danu akan menikah dengan Sindi, tapi ketakutan kehilangan Mia justru semakin besar.


"Di sini gak apa-apa?" tanya Dion.


Mia menatap Dion dengan perasaan tidak percaya.


"Gak mau? Ya udah jalan lagi," ucap Dion saat Mia tidak menjawab pertanyaannya.


"Eh, eh, eh. Di sini aja." Mia menepuk tangan Dion.


"Ayo!" ajak Dion.


Jajanan pinggir jalan yang Mia rindukan. Akhirnya Dion untuk ke sekian kalinya mau makan di tempat sederhana seperti itu.


"Bikin 50 porsi ya!" ucap Dion.


"Hah? A, jangan banyak-banyak!" ucap Mia.


"Biarin aja. Kan murah," ucap Dion.


Jika dibandingkan dengan harga makanan di cafe memang jauh lebih murah. Hanya saja jika pesan sampai 50 porsi begitu itungannya tetap mahal.


"Tapi A," ucap Mia.


"Udah duduk!" ucap Dion.


Dion menarik tangan Mia agar duduk dan jangan banyak protes. Mia hanya mengikuti pa yang diucapkan Dion, karena mengancam untuk tidak jadi makan di tempat itu.


"Mi, udara malam begini segar ya!" ucap Dion.


"Iya A. Udah lama Mia gak menikmati suasana begini," ucap Mia.


"Kamu senang?" tanya Dion.


"Iya A," jawab Mia.


Dion menggenggam tangan Mia. Ia senang saat melihat istrinya tersenyum begitu.


"Mi, nanti sehari setelah lamaran Sindi, aku ke Singapura. Ada urusan kerja," ucap Dion.


"Singapura?" tanya Mia terkejut.


"Kenapa? Gak boleh ya?" tanya Dion.

__ADS_1


Dion berpikir jika Mia tidak mau ia tinggalkan ke luar negeri. Pasalnya ini adalah perjalanan kerjanya ke luar negeri yang pertama setelah menikah dengan Mia.


"Bu-bukan seperti itu. Boleh kok, boleh." Mia segera minum segelas teh hangat yang ada di mejanya.


Dion menatap Mia yang terlihat gugup.


"Kamu kenapa?" tanya Dion.


"Gak A," jawab Mia.


Tangannya memainkan gelas yang ada di hadapannya. Meskipun Mia berusaha terlihat tenang tapi Dion tahu Mia sedang tidak baik.


"Kamu jujur aja Mi. Ada apa? Mau ikut?" tanya Dion.


"Ikut?" tanya Mia.


"Mau sekalian bulan madu kan?" goda Dion.


Ya, tentu. Tentu Mia ingin ikut ke Singapura. Tapi bukan untuk bulan madu. Mia hanya ingin menjenguk Haji Hamid.


"Boleh A?" tanya Mia.


"Boleh banget dong. Nanti aku pesan tiket ya! Kita atur jadwalnya," jadwal Dion.


Mia bahagia? Belum. Mia masih cemas jika ternyata ia ke Singapura tapi tidak bisa menjenguk Haji Hamid.


"Tapi Mia boleh menemui seseorang gak di Singapura?" tanya Mia.


"Maaf, apakah semuanya dibungkus?" tanya penjual aym bakar.


Mia menghela napas panjang saat bahasannya terganggu karena pertanyaan dari penjual ayam bakar.


"Yang dua disini. Sisanya dibungkus," jawab Dion.


Tidak lama dua porsi ayam bakar dan nasi sudah tersaji di meja mereka.


"Ayo makan Mi!" ucap Dion.


"Iya A," jawab Mia.


Selesai makan, Dion membayar dan membawa bungkusan 48 porsi ayam bakar. Mia tidak banyak bertanya. Bukan ia tidak peduli mau dibawa kemana. bungkusan sebanyak itu. Ia hanya sedang memikirkan nasib pertanyaannya yang digantung.


"Masih mau jalan-jalan?" tanya Dion.


"Udah cukup A. Kita pulang aja," jawab Mia.


"Yakin?" tanya Dion.


"Yakin," jawab Mia.


"Jarang loh kita jalan-jalan malam begini. Kalau kamu mau, kita bisa pulang lebih lama lagi," ucap Dion.


"Pulang aja A. Stok ASI gak banyak. Mia takut nanti Narendra dan Naura kehausan," ucap Mia.


"Ya udah ayo pulang!"ajak Dion.


Mia mengangguk karena ia memang ingin segera pulang. Setidaknya saat bertemu dengan kedua anaknya, Mia bisa bahagia. Melupakan rasa kecewa yang sudah menguasai dirinya.


"Dek, sini dek." Dion memanggil beberapa anak kecil yang masih berkeliaran di jalanan.


Mia sempat bingung saat Dion memanggil anak-anak di jalanan itu. Namun Mia sangat senang ketika Dion membagikan bungkusan ayam bakar itu untuk anak-anak di jalanan.


"A kenapa gak dikirim ke panti aja?" tanya Mia.


"Panti yang mana?" tanya Dion.


"Yang mana aja," jawab Mia.


"Kalau panti, mereka punya dana. Mereka bisa makan setiap hari. Tapi kalau mereka yang di jalanan begini, belum tentu bisa makan tiap hari." Dion menjelaskan alasannya untukmembagikan makanan ke anak di jalanan.


Mia mengangguk. Ia mengerti maksud Dion.


"Mia boleh bantuin gak A?" tanya Mia.

__ADS_1


"Boleh dong," jawab Dion.


"Kalau bukan ke anak-anak boleh?" tanya Mia.


"Siapa aja yang di jalanan. Pokoknya ini semua buat yang kurang beruntung seperti kita. jadi bukan cuma kita, mereka juga makan enak malam ini." Dion tersenyum dan kembali memacu mobilnya.


Di beberapa titik, mobil berhenti untuk kembali membagikan bungkusan itu. Dion menyadari jika makan di pinggir jalan itu menyenangkan. Selain ia bisa makan enak, ada banyak orang yang kebagian juga makanan itu. Uang yang seharusnya digunakan untuk membayar makan dua orang di cafe mahal, bisa berbanding dengan puluhan box yang Dion pesan di pinggir jalan.


Sebelum pulang, Dion mampir ke salah satu supermarket.


"Mau beli apa A?" tanya Mia.


"Susu formula buat Narendra sama Naura," jawab Dion.


"Kok susu formula?" tanya Mia.


"Mi, ASI kamu gak sebanyak dulu. Kamu jangan egois. Yang penting kamu udah berusaha untuk memberikan ASI. Tapi kan Narendra sama Nauda juga kasihan kalau asupan susunya tidak tercukupi," ucap Dion.


Mia diam. Ucapan Dion memang benar. Rasanya tidak adil jika Mia memaksakan keinginannya. Mia mengambil dua kaleng susu untuk kedua bayi kembarnya.


"Udah dong. Jangan sedih begitu. Kan ini juga persiapan kita ke Singapura. Jadi kita bisa tenang kalau mereka bisa minum susu formula," ucap Dion lagi.


"Jadi Narendra dan Naura gak dibawa?" tanya Mia.


"Gak lah Mi. Kasihan mereka kalau dibawa. Inikan urusan kerja. Aku di sana gak la dan akan sibuk," jawab Dion.


"Terus buat apa Mia ikut?" tanya Mia.


"Katanya kamu mau ketemu sama seseorang. Oh iya, aku sampai lupa nanya. Siapa orang yang kamu maksud?" tanya Dion.


Dion sudah kembali membahas apa yang ingin Mia tuntaskan. Seharusnya Mia bahagia, namun sayangnya Mia justru takut. Ia takut Dion marah. Namun Dion yang sudah terlanjur ingin tahu terus mendesaknya, membuat Mia akhirnya jujur.


"Kamu masih berhubungan dengan mantan suamimu?" tanya Dion.


Dari raut wajahnya Mia yakin Dion sudah mulai kecewa. Mia harus meluruskan semua ini agar tidak salah paham. Ia menjelaskan semua jasa Haji Hamid yang luar biasa untuk kehidupannya, hingga ia berada di titik ini.


Dion sempat tidak terima. Namun saat ia ingat jika ia adalah orang yang mendapat kehormatan Mia, Dion diam. Ia mengamati cerita Mia. Terlebih saat menikah dengan Mia, Haji Hamid tidak tertarik sama sekali dengan Mia, Dion mulai melunak.


"Asal jangan lama-lama ya!" ucap Dion.


"Boleh A?" tanya Mia tidak percaya.


"Katakan terima kasih dariku. Terima kasih kasih karena sudah menyelamatkan istriku dari siksaan Baskoro," ucap Dion.


"Terima kasih A," ucap Mia sangat bahagia.


Sebagai wujud terima kasihnya, Mia memeluk Dion dan menciumnya berkali-kali. Membuat Dion mengacak rambut Mia dengan penuh kasih sayang.


Dion tidak cemburu pada Haji Hamid setelah mendengar semua cerita Mia. Perbedaan usia yang terpaut tiga puluh tahun membuat Dion yakin jika Mia tidak mungkin selingkuh dengan mantan suaminya itu.


Pak Haji, Mia mau jenguk Pak Haji. Satu minggu lagi. Nanti kalau lamaran Mas Danu dan Sindi sudah selesai. Pak Haji yang kuat ya! Cepat sehat. Tunggu Mia Pak Haji.


Malam ini Mia pulang dengan sangat senang. Senyum lebar tidak pernah lepas dari bibirnya.


"Mi," sapa Sindi saat Mia sudah kembali ke rumahnya.


"Eh, kamu udah pulang Sin?" tanya Mia.


"Udah satu jam yang lalu Mi," jawab Sindi.


Melihat Mia dan Sindi masih asik bercerita, Dion pamit untuk beristirahat di kamarnya.


#####################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.

__ADS_1


__ADS_2