Janda Bersegel

Janda Bersegel
Acting PMS


__ADS_3

Sindi gelisah saat melihat Dion sudah pergi. Hatinya terus berpikir, ia juga harus bisa pergi seperti Dion. Tapi apa alasannya? Saat Dion bisa pergi dengan mudah, itu karena alasannya ada urusan bisnis.


Tiba-tiba kepalanya mendapat ide cemerlang. Bibirnya tersenyum saat ide itu muncul di kepalanya.


"Aduh," ucap Sindi.


"Kenapa?" tanya Mia.


"Sakit Mi," jawab Sindi.


"Sakit? Kamu telat makan ya?" tanya Mia.


"Gak, gak," ucap Sindi.


"Kita ke dokter ya!" ajak Mia.


"Gak usah. Aku mau pulang aja ya! Ini lagi PMS," ucap Sindi.


"Ya sudah aku bilang sama sopir ya!" ucap Mia.


"Gak perlu!" tolak Sindi.


"Loh kenapa?" tanya Tuan Felix yang sudah memperhatikan percakapan keduanya sejak tadi.


"Biar sendiri aja. Kasihan nanti sopirnya bolak balik," ucap Sindi mencari alasan.


"Terus kamu pulang sama siapa?" tanya Nyonya Helen yang ikut menimpali.


"Naik grab aja Nyonya," ucap Sindi.


Masih beracting. Sindi memegang perutnya sambil sesekali meringia untuk meyakinkan semuanya.


"Ya udah sama aku aja ya?" ucap Rian.


"Gak usah," tolak Sindi.


Mereka semua menatap Sindi dengan tatapan heran. Merasa dicurigai Sindi segera mencari alasan lain agar ia bisa lolos dengan aman.


"Ini kan perpisahan dengan Tuan Felix. Aku gak mau kalau sampai acaranya berantakan cuma gara-gara aku. Aku bisa sendiri kok. Beneran," ucap Sindi.


"Ya sudah Kak Sindi hati-hati ya!" ucap Rian.


Saat yang lain tidak merespon, Rian adalah satu-satunya yang mendukung keputusan Sindi untuk pulang sendiri. Setelah mendebat ini dan itu, Sindi akhirnya bisa lega karena ia bisa pergi dari sana.


Dengan memegang perutnya, Sindi pamit dan berlalu. Saat itu ia membuka ponsel dan melihat alamat yang sempat dikirimkan Danu padanya.


Ah ada.


"Pak ke alamat ini ya!" ucap Sindi menunjukkan alamat yang dimaksud pada sopir grab.


Dalam perjalanan ke rumah Danu, ponselnya kembali berdering. Panggilan dari Danu, namun ia tidak berniat menjawab panggilannya. Membiarkan Danu kesal, sama seperti ia kesal dengan tingkah Danu yang suka seenaknya.


"Pak, di depan berhenti dulu ya!" ucap Sindi.


Sindi turun dan masuk ke toko kue. Ia memesan sebuah kue sederhana sesuai dengan uang yang ia kantongi.


"Mau ditulis apa Mba di kuenya?" tanya pelayan toko.


"Selamat ulang tahun Ibu cantik," ucap Sindi.


"Ditunggu ya Mba," ucap pelayan kue.


"Iya," jawab Sindi.


Saat ia menunggu kuenya, Danu kembali mengirimi ia pesan.

__ADS_1


'Aku tidak percaya jika ada manusia yang hatinya keras seperti kamu.'


Salah satu sudut bibir Sindi terangkat. Ia masih tidak percaya jika ia bisa jatuh cinta pada pria seperti Danu.


Sindi mengabaikan pesan Danu. Malas jika harus berdebat panjang lebar dengan orang yang mau menang sendiri dan selalu merasa paling benar.


"Ini mba!" ucap pelayan kue menyerahkan kantong kresek pada Sindi.


"Terima kasih," ucap Sindi.


Lamuyannya seketika buyar dan ia segera masuk ke dalam grab. Tak lama, ia berhenti di depan toko bunga.


"Pak, di depan berhenti lagi ya!" ucap Sindi.


Sindi segera turun dan membeli bunga mawar putih. Tidak banyak, hanya satu tangkai saja. Uangnya tidak cukup jika harus membeli bucket bunga yang tersedia di sana.


Suka atau tidak suka, ini yang aku mampu.


Kembali ke dalam grab dan melanjutkan perjalanannya menuju rumah Danu. Semakin dekat, hatinya semakin berdebar tak karuan. Ia takut. Ah tapi tidak! Ia akan pergi setelah mengantarkan kue dan bunga itu. Tidak harus menunggu Danu marah-marah padanya.


"Sudah sampai," ucap sopir grab.


Sindi turun setelah membayar ongkos grab. Lumayan mahal jika dibandingkan dengan kebiasaan dirinya naik angkot.


Kakinya sudah menapaki pekarangan rumah Danu. Luas, walaupun tidak seluas rumah Dion. Walaupun sempat ditolak untuk masuk ke rumah mewah itu, tapi akhirnya Sindi bisa masuk. Mudah saja, Sindi menunjukkan chattingan antara dirinya dengan Danu. Sindi menguatkan niatnya dan segera masuk.


"Permisi," ucap Sindi.


Sama seperti semula. Sindi sempat ditahan untuk masuk ke dalam rumah itu. Masih dengan modal chattingan dengan Danu, akhirnya Sindi bisa masuk.


Ini kenapa sih aku dikawal begini? Udah berasa di ikutin pelayan toko kalau kagi liat-liat barang.


"Sindi," teriak Nyonya Nathalie.


Pelukan hangat antara dua wanita itu membuat Tuan Ferdinan dan Danu merasa terharu.


"Aku pikir kamu gak datang. Terima kasih buat kejutannya," ucap Nyonya Nathalie dengan sangat senang.


"Oh ya Bu, selamat ulang tahun. Aku gak bawa apa-apa. Cuma bawa ini aja," ucap Sindi dengan malu.


Insecure rasanya saat ia akan memberikan sebuah kue sederhana, sedangkan di meja sudah tersedia kue mewah yang baru tersentuh sedikit saja.


"Ah, apa ini?" tanya Nyonya Nathalie.


Dengan wajah bahagia dan senyum yang tak lepas dari bibirnya, Nyonya Nathalie segera menerima apa yang Sindi berikan.


"Terima kasih Sindi," ucap Nyonya Nathalie.


Setangkai mawah putih mendarat di hidung mancung Nyonya Nathalie.


"Wangi sekali," ucap Nyonya Nathalie.


Sindi senang saat Nyonya Nathalie benar-benar menghargai pemberiannya, walaupun ada dua bucket bunga berukuran besar dan sangat cantik.


Nyonya Nathalie juga membuka kue ulang tahun yang diberikan oleh Sindi. Memakannya dengan lahap dan menyuapi Sindi. Belum lagi ia memaksa Danu dan Tuan Ferdinan untuk ikut memakan kue sederhana yang Sindi bawa.


Danu hanya tersenyum bahagia saat mengamati ibunya begitu bahagia. Tawa lepasnya membuat Danu merasa ibunya sudah kembali. Tawa yang sempat hilang itu selalu muncul saat ada Sindi di dekatnya.


"Bu, sudah sore. Sindi pulang dulu ya!" ucap Sindi.


Sempat ada drama karena Nyonya Nathalie tidak mau ditinggalkan oleh Sindi, namun akhirnya ia bisa pulang. Drama kedua terjadi saat Danu dipaksa untuk mengantarkan Sindi pulang namun Sindi menolaknya.


"Minta ongkos saja," ucap Sindi tanpa malu-malu.


Di depan Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan, Sindi menengadahkan tangannya pada Danu. Meminta ongkos untuk bayar grab. Bukan dinilai matre, kedua orang tua Danu malah berpikir jika Sindi adalah wanita yang apa adanya.

__ADS_1


"Nih," ucap Danu.


Selembar uang seratus ribu mendarat sempurna di tangan Sindi. Kernyitan dahi Nyonga Nathalie dan Tuan Ferdinan mengantarkan Sindi meninggalkan rumah mereka.


Setelah kepergian Sindi, Danu menjadi sasaran kemarahan kedua orang tuanya. Semua ini gara-gara Danu hanya memberikan selembar uang seratus ribu rupiah pada Sindi.


"Malu-maluin keluarga kamu! Siapa yang ngajarin jadi laki-laki pelit?" ucap Nyonya Nathalie.


"Pantas saja susah dapat jodoh. Ternyata kamu pelitnya lebih parah dari Korun," timpal Tuan Ferdinan.


"Mami sama Papi gak lihat reaksi Sindi? Apa dia protes? Marah?" tanya Danu.


Kedua orang tuanya hanya menggelengkan kepalanya.


"Itu karena aku tahu Sindi. Hal ini juga pernah terjadi sebelumnya. Dan Sindi malah menyebutku sombong saat memberi uang diluar keinginannya," ucap Danu.


Akhirnya Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan menyadari jika Sindi adalah wanita yang berbeda. Mereka semakin gencar menjodohkan Danu dengan Sindi.


Orang yang sedang dibicarakan dalam keluarga Danu ternyata sedang mengusap-usap telinganya yang terasa panas.


Duh ini pasti sekeluarga lagi pada gibahin aku. Makanya telinga sampai panas begini.


Sebelum Sindi pulang ke rumah Dion, ternyata rombongan Mia sudah sampai lebih dulu. Sindi menepuk dahinya pelan saat menerima panggilan dari Mia.


"Halo Mi," ucap Sindi dengan suara lemah.


"Kamu dimana Sin?" tanya Mia panik.


"Aku di jalan. Sebentar lagi sampai. Kamu udah pulang?" tanya Sindi.


"Kamu kemana dulu? Kok belum sampai juga?" tanya Mia.


"Tadi aku ke apotek dulu. Berhenti dulu sebentar. Soalnya sakit banget," jawab Sindi.


"Sakit banget ya?" tanya Mia.


"Tapi sekarang udah mendingan Mi. Tadi udah minum obat," jawab Sindi.


"Harusnya kamu jangan minum obat sembarangan. Aku punya dokter pribadi biar obat yang kamu minum itu benar-benar aman," ucap Mia.


Sindi terharu saat mendengar Mia begitu khawatir padanya. Ia jadi merasa bersalah karena sudah membohongi Mia.


Maaf ya Mi. Tapi aku belum siap kalau harus jujur tentang semua ini.


"Ya sudah kamu dimana? Nanti sopir jemput kamu ya!" ucap Mia.


"Aku udah naik grab. Ini sebentar lagi juga sampai kok Mi," ucap Sindi.


"Oh begitu ya. Kamu hati-hati ya! Aku tunggu kamu di rumah!" ucap Mia.


"Iya, sampai ketemu di rumah ya!" ucap Sindi.


Panggilan itu sudah berakhir. Namun Sindi masih memeluk erat ponselnya. Malu rasanya ia sudah membohongi Mia yang sudah sangat percaya padanya. Sindi menyesali perbuatannya yang penuh dengan kebohongan. Ia juga berjanji untuk tidak akan melakukan kesalahan yang sama.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.

__ADS_1


__ADS_2